RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
GAUN KUNING


__ADS_3


Begitu Vee menutup pintu lalu membalikan badan, Yazza langsung melempar sesuatu ke arah Vee.


Dengan sigap menangkap sembari menatap tajam ke arah Yazza.


“Apaan sih! Nggak jelas banget!” melihat kunci mobil ditangannya.


“Mobil baru untukmu! Punya sim dan bisa menyetir kan?”


“Mobil baru?” Vee menyipitkan mata.


“Heh, aku tidak mau setiap hari harus berbagi mobil dengan anak itu. Ribet sekali harus selalu menjemputnya! Sekarang kamu punya mobil dan mulai sekarang kamu sendiri yang akan menjemputnya!”


Menghela nafas panjang, “Aku menerima pemberian ini hanya karena demi kepentingan Yve! Jangan pikir aku mau dengan mudah menerima hal-hal seperti ini!”


“Apa yang kamu bicarakan? Kamu akan menjadi nyonya Gionio. Semua yang aku miliki juga akan menjadi bagian dari milikmu. Kenapa masih saja berkata seperti itu?”


“Terdengar mengerikan di telingaku!” cibir Vee berjalan melewati Yazza untuk mengambil koper.


“Hya! Dasar!” bertolak pinggang melihat ke arah koper kecilnya, “Eh, dalaman abu-abu milikku benar-benar tidak ada!”


“Tersalip di suatu tempat kali! Makanya kalau mau ‘gituan’ jangan asal lempar sembarangan!”


“Namanya juga keburu nafsu!” cibir Yazza mencoba mengotak-atik isi kopernya lagi.


“Cih!” cibir Vee mengambil pakaian dari dalam almari.


Vee memegang gaun kuning yang jarang dia kenakan.


Hanya saat ada acara pesta kantor yang penting saja, baru dia akan mengenakan gaun itu.


Mengendus, “Wangi banget!”


Yazza menoleh melihat ke ujung gaun, “Kamu tidak mencucinya saat terakhir menggunakannya ya?”


“Aku tidak jorok seperti itu!” protes Vee, “Tapi ini bau parfumku, dan aku tidak mungkin menyemprot parfum jika tidak menggunakannya!”


“Cih! Kamu pikun kali! Bilang saja tidak mau dituduh jorok, padahal buktinya sudah jelas, lihat ujungnya!” menunjuk ke bawah.


Vee mengangkat gaunnya, “Eh, kok kotor sih! Aneh deh!”


“Cih, dasar jorok! Tidak dicuci setelah dipakai,” ejek Yazza.


Vee menyipitkan mata.


Dia sangat yakin, terakhir dia mengenakannya adalah saat acara dinner kantor di kantor cabang yang sebelumnya. Dan sejak pindah ke sini, dia belum pernah memakainya lagi.


“Aku sungguh sudah mencucinya dengan sangat bersih!” gumam Vee yakin.


Keningnya mulai berkerut.


Apa Yve bermain-main dengan gaun ini?


...***...



Kek Gio menyambut Vee dan Yve.


“Eh! Kok sedikit bawaannya?” tanya kek Gio.

__ADS_1


“Hanya pakaian kek, tidak banyak juga kok!” Vee tersenyum.


“Lha ini siapa?” menunjuk Dania.


“Pengasuh Yve, sebagai pengganti madam Lia untuk sementara,” jawab Yazza singkat.


Mengangguk-angguk, “Ya sudah masuk dulu gih. Makan malam sedang dipersiapkan!”


“Emb, kalau begitu Vee bantu nyiapin masakan aja deh!”


Terkekeh, “Hahaha, sudah tidak usah! Beresin saja dulu barang-barang kamu.”


“Aku sudah membeli satu lemari khusus untukmu!”


Mengernyit, “Dan padahal kamu sudah punya tiga almari. Ckkk …,” berdecak mencibir, “kenapa pria malah lebih banyak membutuhkan almari?”


Menghempaskan nafas panjang, “Kalau masih kurang bilang saja, lagipula di apartemen mu saja cuma ada satu almari kan? Sampai aku harus menumpuk baju dan celana menjadi satu!”


Kek Gio terkekeh, “Hahaha, sudah-sudah! Yazza dari dulu memang suka menaruh baju, celana dan pakaian formal di almari yang berbeda-beda.”


Sebenarnya Vee sudah tahu, dia pernah melihat isi kamar mandi dan ruang ganti Yazza.


Bahkan sampai, jam tangan, kaus kaki, dasi dan ikat pinggang juga di taruh di almari kaca khusus.


“Pantas saja dalaman ku ada yang hilang, semua kamu tumpuk jadi satu di apartemen mu!” cibir Yazza.


“Hya! Kenapa itu dibahas terus sih?” Vee mencibir kesal.


Kek Gio justru terkekeh semakin keras, “Hahaha! Jadi dia berulah lagi karena kehilangan barangnya?”


Dania tampak salah tingkah pura-pura mengelus rambut Yve.


Vee menyipitkan mata, “Maksud kakek?”


Vee mencibir menatap Yazza, “Sepertinya memang sangat seusai sekali dengan karakternya!”


Yazza balas mencibir membuang muka.


“Ya gini nih! Kalau barangnya belum ketemu pasti bakal di ungkit terus!” goda kek Gio.


“Ya sudah, nanti biar Vee carikan dalaman yang sama lalu menaruhnya diam-diam di almarinya, dengan begitu masalah beres dan dia tidak akan lagi mengungkitnya kan kek?” Vee cengengesan.


“Hya, kalau mau merencanakan sesuatu yang curang seperti itu, setidaknya jangan di hadapanku juga!” protes Yazza.


Kek Gio dan Vee terkekeh menertawakan.


Vee menatap putrinya, “Sayang ajak mbak Dania naik duluan gih, biar mbak Dania bantuin Yve beres-beres!”


Yve mengangguk, “Yuk mbak Dania! Kamar Yve besar dan luas banget loh! Banyak boneka yang lucu-lucu!” menarik tangan Dania.


Dania tersenyum, “Yuk!” mengikuti Yve sambil menarik koper.


“Kek, kalau begitu kita juga naik dulu ya?”


Mengangguk, “Nanti kalau makan malam sudah siap, kakek akan minta bi Imah memanggil kalian untuk turun!” Melihat ke arah dapur, “Kurang lebih satu jam lagi deh! Mereka baru mulai masak tadi soalnya.”


Vee mengangguk, “Kalau Vee sudah beres merapikan pakaian, nanti Vee turun dan membantu memasak deh!”


Terkekeh, “Hahaha, kamu ini! Dari dulu masih saja sama, tidak bisa kalau disuruh untuk diam saja!”


Tersenyum, “Hya, kakek sudah setua itu kenapa tidak pikun sih?” goda Vee.

__ADS_1


“Hya!” memukul kepala Vee.


Vee justru tersenyum cengengesan mengelus kepalanya sendiri, “Ini yang paling Vee rindukan!”


Bertolak pinggang terkekeh pelan, “Dasar anak ikan! Sudah sana! Kakek mau lihat berita dulu!”


Vee mengangguk, melihat ke arah Yazza berisyarat untuk membawakan kopernya.


Yazza mendengus tapi menyahut koper Vee.


Dengan senyuman yang berusaha disembunyikan, Vee berjalan mendahului.


...***...



Hirza, Xean dan Hans tengah berkumpul di meja makan.


“Pa! Tante Vee sekarang serumah sama paman itu. Xean nggak suka!”


PRANG!


Semua mata melihat ke arah Hans yang menjatuhkan sendok ke piring.


“Kamu kenapa sih? Berisik sekali!” tegur Hirza.


“Mas bro! Memangnya benar seperti itu?”


“Mereka akan menikah, memangnya kenapa jika tinggal bersama?” Hirza santai.


“Pa!” sentak Xean.


“Mas bro yakin? Memangnya mas bro tidak berencana menggagalkan pernikahan mereka?” Hans sedih menatap Hirza.


Hirza hanya menghela nafas panjang.


Sengaja dia diam tidak menjawab dan cuek melanjutkan makannya.


“Xean sudah kenyang!” meletakan sendok di piring.


Kursi berdecit saat Xean berdiri.


“Hya bocil mau ke mana?” tegur Hans.


Xean acuh melangkah meninggalkan ruang makan.


Hans melihat ke arah Hirza.


Pria itu hanya diam tidak bereaksi apa-apa.


“Mas, katakan sesuatu! Apa mas sungguh akan berdiam saja dan membiarkan mereka hidup bersama?”


“Hans, kalaupun aku membuat mereka gagal menikah, lantas bagaimana nanti masa depan Vee? Kamu juga tahu kan? Aku tidak mungkin bisa dekat dengan wanita manapun! Bahkan jika aku sangat mencintainya, aku harus tetap memendamnya dalam-dalam! Orang sepertiku, tidak pantas mendapatkan balasan cinta!”


Hans menghela nafas panjang sedih mendengarnya.


“Tapi ini tidak adil! Xean juga menyukai nona Vee kan?” bantah Hans.


“Dia hanya masih belum paham dengan situasi yang sebenarnya,” kembali menunduk melihat makanan di piring.


Dengan tatapan kosong, Hirza hanya mengacak-acak makanannya.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2