
Yeah, itu adalah suara pak Lohan.
Ayah Logan.
“Dia maju untuk balas dendam mengenai putranya?” gumam Vee bertanya-tanya.
Yunna tidak bisa menahannya lagi.
Dia meringis kesakitan kembali memegangi perutnya.
Melihat ke arah Yunna, “Kamu kenapa?” jongkok panik.
“Rasanya aku sudah mau melahirkan!” Yunna memejamkan mata mencoba menahan diri.
“Hah?”
Vee menjadi semakin panik.
“Astaga! Sudah kubilang sedari tadi. Seharusnya kita langsung ke rumah sakit. Kenapa kamu tidak mengatakan sejak awal sih!”
“Kamu terlihat lelah, dan siapa yang akan mengobati lukamu jika aku mengatakannya!”
“Astaga Yunna!” Vee mendengus kesal.
Tapi ini bukan waktunya untuk saling menyalahkan.
Tok ... tok ... tok!
“Adik!” suara pak Lohan yang sengaja dibuat-buat manja.
Vee segera membantu Yunna berdiri.
Pak Lohan terkejut melihat Vee memapah Yunna keluar dari pintu.
“Loh! Dik Yunna mau melahirkan?"
“Jika ingin menyelesaikan masalah, kita bertarung nanti saja!” tegas Vee tanpa basa-basi.
“Abang kesini justru mau minta maaf. Bukan mau bertarung! Kan abang sudah sering encok, mana bisa bertarung!” cengingisan.
Vee mengernyit jijik, “Minggir deh! Kami buru-buru!” sentak Vee.
“Eh, ya sudah! Abang antar saja ya?”
Tidak ada pilihan lain.
Keadaan terlalu mendesak.
Vee melihat sedan pak Lohan di depan rumahnya.
“Cepat buka mobilnya!” tegas Vee.
“Tunggu! Tunggu!” dia segera menuju mobilnya untuk membukakan pintu.
Beberapa kali Yunna mengalami kontraksi di dalam mobil dan itu membuat Vee ketakutan saat melihat Yunna kesakitan.
“Dik Yunna, abang siap jadi bapaknya nanti. Sekalian dek Vee, mau ya jadi istri keempat setelah dek Yunna!”
Dalam kondisi seperti ini, masih saja!
“Mau kutenggelamkan di tengah lautan?” sentak Vee.
“Dik Vee ini selalu saja galak seperti itu,” cengengesan, "Membuat abang makin gemas aja!"
“Diam! Cepat sedikit jalannya!” Vee memegangi lengan Yunna, “Bertahanlah Yun!”
“Vee, sakit sekali rasanya!” Yunna meremas lengan sahabatnya.
“Sebentar lagi kita sampai,” Vee menahan sakit karena cengkraman Yunna.
Tapi hatinya jauh lebih sakit ketika melihat Yunna terlihat begitu menderita.
Berjam-jam Yunna berada di ruang persalinan.
Vee terus saja berjalan mondar-mandir menunggu dengan panik.
“Dik Vee, tenang. Abang sering juga kok nemenin istri-istri abang saat lahiran!”
“Bisa diam nggak!” sentak Vee kasar.
Salah tingkah, “Em, tentang anak abang tadi, abang akan menghukumnya. Abang juga akan bertanggung jawab atas semua pembiayaan persalinan dik Yunna. Dik Vee tidak marah sama abang kan?”
Melotot, “Heh! Kami tidak melaporkannya ke polisi saja itu sudah cukup. Tidak usah merendahkan harga diri kami lagi dengan uang anda!”
“Itu dia masalahnya dik Vee. Saya juga sekalian mau memohon agar kalian tidak melaporkan Logan.”
“Sudah cukup! Aku tidak mau membahas ini lagi!”
__ADS_1
“Abang pasti akan mengurus administrasinya.”
“Sudah kubilang kami tidak butuh! Sebaiknya anda pergi sebelum saya membuat anda bernasib sama seperti anak anda!”
Menciut ketakutan, “Hehe, ampun dik Vee! Baiklah kalau begitu. Abang akan pergi.”
Vee membuang muka.
“Kalau dik Vee butuh sesuatu, telepon abang saja!”
Dengan kesal Vee mengangkat tangannya yang sudah di kepalkan.
Mundur ketakutan, “Baiklah-baiklah! Abang pergi dulu. Dadah dik Vee!” melambai manja.
Vee hanya mendengus membuang muka menahan kekesalannya.
...***...
Oeee ...
Oeee ...
Seorang bayi perempuan lahir secara normal.
Dia sangat cantik sekali.
Terlihat tenang dan menggemaskan.
Yunna merasa terharu saat pertama melihatnya.
Air mata kelegaan dan kebahagian menetes menuruni pipinya.
Vee segera berdiri di depan pintu sembari menutupi senyuman dengan kedua telapak tangannya.
“Akhirnya dia akan melihat dunia!” tidak sadar air mata menetes menuruni pipinya.
Bu Bidan keluar sambil tersenyum, “Ibu dan bayinya sehat. Jangan khawatir!”
“Bisakah saya masuk sekarang?” Vee tidak sabar sambil mengusap air matanya.
Tersenyum, “Mereka akan dibersihkan dan tunggu sampai mereka dipindahkan ke ruang rawat.”
Vee mengangguk senang, “Terima kasih bu Bidan!”
...***...
Yunna tersenyum, “Dia sangat cantik bukan?”
“Ya, imut sekali,” memainkan jarinya di pipi si bayi, “Sudah memikirkan nama?”
“Yve Lesyanna.”
“Hya itu menggunakan namaku! 100%!” protess Vee.
Terkekeh pelan, “Hehe! Yunna dan Vee. Karena aku tidak punya nama belakang, jadi namamu saja!”
Tersenyum, “Baiklah aku mengijinkan menggunakan namaku!”
“Vee, terimakasih sudah selalu menemaniku selama ini,” Yunna terharu menatap ke arah sahabatnya.
“Apa yang kamu bicarakan. Cepatlah sembuh dan jangan buat anak ini melihat ibunya yang lemah!”
“Cih!” Yunna mencibir.
Sekali lagi Vee mengusap dengan lembut pipi Yve, “Nak, dunia ini indah. Kehidupan di luar sana juga sangat luar biasa. Hanya saja, nasib selalu mempermainkan kita. Jadilah anak yang hebat, anak yang cerdas dan anak yang kuat. Karena semua kesialan sudah diambil ibumu, maka keberuntungan dan nasib baik seharusnya selalu berpihak padamu!” butir bening kembali menuruni pipi Vee.
Begitu pula Yunna yang mendengarnya.
Yeah, dia memang gadis yang selalu sial dan bernasib buruk. Dan dia berharap, kesialan itu tidak menurun ke putrinya.
“Semoga Tuhan mendengar doamu Vee!” tersenyum haru dengan bibir kelu dan air mata yang berurai.
...***...
3 bulan kemudian.
H-2 Hari kejadian.
Vee yang masih memakai legging dan sport bra yang ditutup dengan cardigan tipis tampak berjalan memasuki toko kelontong di dekat pesisir.
Headset masih menempel di telinganya.
Dia berencana membelikan susu formula sebagai tambahan makanan untuk baby Yve.
__ADS_1
“Eh, si Peri! Mau beli susu neng?” tebak penjaga toko.
Melepas headset, “Hai mas Antok ... tumben? Mana Ibu?”
“Biasa masuk angin. Cuaca lagi nggak menentu.” Melihat pakaian Vee, “Abis ikut tournament jalanan lagi?”
Tersenyum, “Kali ini bonusnya lumayan. Sayang kalo dilewatkan.”
“Pantas saja tidak ikut melaut rombongannya paman Mail.”
“Eh, mereka sudah berangkat?”
“Ya, sekitar sejam yang lalu sih.”
“Cih!” mencibir kesal. “Paman Mail pasti sengaja meninggalkanku lagi! Pantas saja tidak mau menjadi asistenku malam ini!”
Terkekeh, “Hahaha! Paman Mail pasti khawatir neng. Cuaca benar-benar tidak bersahabat. Lihat saja ombak di sana. Suaranya saja terdengar tidak ramah sampai ke sini.”
Tersenyum mencibir, “Cih! Dia sudah tua! Seharusnya aku yang lebih mengkhawatirkannya.”
Antok terkekeh mendengarnya, “Hahaha! Si Peri ini bisa saja! Jadi mau ambil susu atau apa nih?”
“Susu seperti biasa!” jawab Vee santai melihat ke arah luar.
Dari dinding full kaca di toko, dia bisa melihat sebuah Taxi yang terlihat gelap terparkir di ujung jalan.
“Kenapa beberapa Taxi masih saja ngetem di sekitar sini. Padahal pintu utama dermaga sementara dialihkan ke sebelah Timur!” gumam Vee.
“Mungkin supirnya orang sini. Dia hanya mampir pulang untuk makan dan memarkirkan sementara di sana neng.”
“Ah…, I see!" Vee mengangguk-anggukan kepala.
...***...
Anak 9 tahun yang waktu itu terlihat lusuh dan kotor, kali ini terlihat begitu rapi, bersih dan semakin tampan.
Dia hanya berdiam melihat pria dewasa di sebelahnya.
Sembari memangku anaknya yang tertidur lelap, matanya terus tertuju ke arah toko kelontong di sebrang jalan.
“Sebentar lagi adalah hari peringatan ayahnya. Lautan sedang tidak ramah dan dia akan selalu berlayar di hari itu. Semoga tidak terjadi apa-apa!” gumam pria itu dengan nada tenang.
“Mas masih belum mau menemuinya?”
Pria itu tersenyum. Dan hanya menggeleng tanpa memalingkan wajah.
Pandangannya fokus melihat Vee yang berjalan sendirian keluar dari toko.
...***...
Sesampainya rumah, dia tidak melihat Yunna dan Yve di sana.
“Kemana meraka!” dengan gelisah dia segera mencari keluar rumah.
Dia takut jika terjadi apa-apa lagi kepada Yunna.
Ponselnya juga tidak aktif. Berkali-kali Vee mencoba menghubunginya.
“Astaga, anak ini selalu saja membuatku khawatir!”
Vee mulai panik.
Dia sudah mencari ke beberapa tempat dan dia masih tidak menemukan mereka.
Seseorang melihat Yunna menggendong bayinya sambil membawa tas besar.
Vee segera kembali ke rumah, dan dia menemukan selembar surat di meja yang di tindih gelas berisi air putih.
‘Teruntuk malaikat penolong hidupku, Peri Vee.
Aku memutuskan untuk menemui ayah dari bayiku.
Dia pasti akan sangat senang melihat putrinya yang begitu cantik dan menggemaskan ini.
Bagaimanapun juga, ikatan darah itu sangat kental.
Jangan menyusul, aku akan menghubungimu nanti jika sudah sampai. Dan ingat janjimu untuk tidak ikut campur!
Yunna.’
“Wanita gila!” Vee menghempaskan surat itu.
Dia hanya bisa terduduk lemas khawatir memikirkan tentang Yunna.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))>' '<((((<...