
Vee menatap Yazza dalam diam.
“Apa maksud dari perkataanmu itu?” tanya kek Gio menyipitkan mata.
Vee mendengus membuang muka.
Jika saja aku tahu, orang yang pernah aku selamatkan akan menghilangkan nyawa sahabatku … lebih baik aku tidak menolong Yazza saat itu!
Gumam Vee dalam hati.
Ada penyesalan yang saat ini dia rasakan.
“Apakah ini gadis kecil yang sering kakek banggakan waktu itu?” tanya Yazza mendekap Yve dalam pangkuannya.
Anak itu tampak terdiam malu-malu.
“Ya! Tepat sekali!”
Yazza tersenyum menatap Vee, “Meski kakekku sering membanding-bandingkan aku dengan kamu. Jujur, aku sungguh tidak pernah bertemu lagi denganmu sejak kejadian malam itu.”
“Tidak penting juga bertemu denganmu!” desis Vee masih enggan melihat Yazza.
“Tapi aku masih tidak mengerti … maksudku, bagaimana kakek bisa semakin dekat dengannya? Bukankah dia sulit untuk dijinakkan?”
Kali ini Vee melirik tajam memprotes.
“Hya … bagaimana kamu bisa menebak dengan benar kali ini! Hahaha!” kek Gio terkekeh menatap cucunya.
“Kakek!” sentak Vee kesal.
“Itu memang benar! Kamu sulit sekali dijinakkan!” kek Gio sok polos menatap Vee.
“Ckkk … aku bukan binatang liar!”
“Lihat! Dia sangat pemarah sekali bukan?” kek Gio mencibir sekali lagi.
Yazza terkekeh pelan, “Dia bahkan masih bisa lebih parah dari itu!”
“Hya … haiz!” Vee mendengus kesal menyilangkan tangan di perut sembari membuang muka.
“Hahaha! Dasar anak ini!” kek Gio mengelus kepala Vee.
“Jadi, bagaimana kakek bisa lebih dekat dengannya?” tanya Yazza sekali lagi.
Mengingat masa lalu, “Setiap tahun di hari malang itu, kami akan berlayar ketengah lautan dan menabur bunga bersama,” menatap Vee sedih, “Dia kehilangan ayahnya karena berusaha menyelamatkan orang lain, dan karena kami memiliki kesamaan, yaitu sama-sama kehilangan orang yang kami sayang … kamipun menjadi semakin dekat.“
Vee menunduk sedih teringat ayahnya.
Sudah lama sekali dia tidak menabur bunga di lautan lagi.
“Kakek sangat berterima kasih padanya karena dia adalah penyelamatmu. Dan sejak saat itu, aku sudah menganggapnya seperti cucuku sendiri. Sampai pada akhirnya, kakek harus pindah ke Bali. Sesekali saja kakek akan datang, tapi entah apa yang terjadi, semua orang di pesisir seolah menutupi kepergiannya. Kakek kehilangan kabar tentang anak ini setelah itu!”
Vee mengelus punggung tangan kek Gio, “Kakek sama sekali tidak berubah. Awet tua!” Vee terkekeh menggoda, mencoba mencairkan suasana.
Kembali menjitak Vee, “Haiz … masih saja suka bercanda!”
“Kakek … aku bukan anak-anak lagi!” Vee mengelus kepalanya.
Terkekeh, “Hahaha! Ehh tunggu … kenapa kalian mengalihkan pembicaraan sedari tadi! Aku bertanya kenapa kalian bisa datang bersamanya?” menunjuk Yve, “Dan siapa gadis kecil ini?”
“Putri kami!” sahut Yazza.
“Apa!” pekik kek Gio.
Vee menarik tangannya sendiri.
Membuang muka menunduk terdiam.
__ADS_1
Yazza menarik nafas panjang, memberanikan diri menatap mata kakeknya.
“Beberapa tahun lalu, aku membuat kesalahan yang tidak pernah kusadari … Vee marah dan pergi tanpa memberitahukan jika dia sudah hamil keturunanku. Aku baru saja menemukan kenyataan tentang ini, jadi aku langsung membawa mereka ke sini untuk bertemu dengan kakek juga!” terang Yazza cukup percaya diri.
Kek Gio menarik tangan Vee, membuatnya harus kembali menoleh ke arahnya.
Menatap Vee dalam, “Apa benar seperti itu?”
“Aku tidak tahu jika hal seperti ini akan terjadi … maaf kek!” Vee kembali menunduk takut.
Kek Gio memukul kaki Yazza dengan tongkatnya.
“Pria macam apa yang tega menghancurkan masa muda seorang gadis!” sentak kek Gio tegas.
Yazza meringis mengelus kakinya.
Yve terlihat ketakutan.
“Baru menemukannya … kamu membiarkan penyelamatmu menderita selama bertahun-tahun? Sungguh kebaikan yang dibalas dengan air tuba!” kek Gio terlihat sangat geram.
“Yazza tidak sengaja … sungguh aku juga tidak pernah tahu!” melihat Vee, “Tapi bukankah Tuhan memang sudah berencana menyatukan kita dengan cara seperti ini?” seolah tanpa berdosa, Yazza tersenyum menatap Vee penuh kedamaian.
Vee memicingkan mata tajam.
Apa Yazza mencoba memanfaatkan situasi lagi?
Kek Gio menghela nafas panjang melihat Yve yang terus menunduk tanpa sepatah katapun, “Nak kemarilah!”
Yve dengan ragu-ragu turun.
Malu-malu dia menghampiri eyang buyutnya.
“Manis sekali,” memeluk pinggang Yve, “Siapa namamu?”
“Oh, nama yang cantik,” melihat Yve, “Jika kamu putrinya Anak Ikan. Lalu kamu adalah Ikan Teri?” menyipitkan mata tampak berfikir.
Yve tercengang, “Apa itu kode untuk Mama?”
“Eh, kamu juga tahu?” kek Gio terkejut menatap Yve.
Mengangguk, lalu melihat mamanya, “Jadi mama adalah Anak Ikan?”
“Ya … mamamu mengajarimu?” kek Gio terkekeh, “Hahaha!”
Mengangguk tersenyum lalu melihat Yazza, “Kode!”
Kek Gio menyipitkan mata sambil tersenyum, “Sandinya?”
Yve membisikan pada kek Gio.
“Heh … kenapa begitu?” terkejut menyipitkan mata.
Yve menunjuk mamanya, “Mama yang membuatkannya!”
Yazza mengernyit, menyipitkan mata. Dia sama sekali tidak memahami pembicaraan Yve dan kakeknya.
“Benar begitu?” kek Gio menatap Vee.
Vee mengangguk tersenyum tipis.
Kek Gio mengangkat tongkatnya lagi lalu memukulkan ke kepala Yazza.
“Aww! Kakek … apa-apaan ini!” protes Yazza mengelus kepalanya.
Yve dan Vee cengingisan menertawakan.
__ADS_1
“Mesin ekskavator jahat? Dasar cucu kurang ajar! Tidak tahu diri!” maki kek Gio.
“Mesin ekskavator … ikan teri … anak ikan … apa maksdunya?” Yazza mengangkat kedua tangannya sebatas bahu.
Kek Gio mencibir berdiri, “Ayo ikut eyang buyut! Akan ku perlihatkan sesuatu yang bagus. Kamu pasti suka!” menggandeng Yve.
Vee ikut berdiri menggandeng kek Gio, “Apa koleksi kerang kakek bertambah?”
“Huuu … tahu saja!” terkekeh, “Hahaha! Kamu pasti akan sangat terkagum!”
Vee mengangguk antusias menatap Yve, “Sayang, kita akan melihat kerang yang sangat cantik-cantik!”
“Sungguh?” Yve tampak bahagia sekali.
"Hahaha!" kek Gio kembali terkekeh, “Dia mirip sekali denganmu sewaktu masih kecil!”
Yazza ikut berdiri.
“Jangan ikut, tetap di sana dan renungkan kesalahanmu itu!” sentak kek Gio.
Yve mengelus tangan eyang buyutnya, “Papa tidak sejahat itu bagi Yve. Nyatanya, papa mengajak kami menemui eyang buyut!”
Menatap Vee tersenyum, “Anak ini benar-benar salinanmu!” mengelus rambut Yve, "Gemasnya!"
Vee tersenyum mengelus punggung kek Gio.
“Kenapa masih diam saja? Suruh pak Karno membukakan ruang koleksiku!” menatap Yazza.
Yazza mengangguk patuh , “Baik kek!”
Yazza tersenyum lega sekaligus senang.
Dia tidak menyangka, ternyata tidak sesulit yang dia bayangkan.
Justru kakeknya malah sudah sangat menyukai Vee sejak lama.
Dan selama yang dia tahu, kakeknya tidak pernah seriang ini selama hidup bersamanya.
Justru saat bersama Vee, dia malah menunjukan sisi lain yang tidak pernah dia kira.
Kakeknya bisa bercanda dan tertawa lepas seperti itu.
Sebuah keajaiban di mata Yazza.
***
Seusai melihat koleksi kek Gio dan makan siang, Yve bermain-main ditaman melihat burung-burung kek Gio ditemani madam Lia dan tangan kanan kek Gio, pak Karno.
Vee, Yazza dan kek Gio bersantai menikmati teh sambil melihat Yve.
“Jadi kalian memang tidak pernah menikah?” tanya kek Gio.
Vee menggeleng.
“Jika saja kakek tahu dari awal, kakek tidak akan membiarkan Anak Ikan malang ini menderita sendirian!”
“Kek, karena aku sudah menemukan mereka. Aku sudah berniat untuk menebus kesalahan dan mempertanggungjawabkan segala kesalahanku selama ini!”
Vee melirik tajam, “Pak Yazza!”
Menatap Vee, “Aku berniat menikahinya!”
Terkekeh, “Hahaha! Itu bagus sekali! Aku akan menyiapkan pesta yang sangat meriah jika kalian merayakannya di sini!” kek Gio terlihat senang.
“Aku tidak mau menikah kek!” bantah Vee berdiri mengepalkan tangan geram.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@- ...
...>))))> ' ' <((((<...