RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
HIDDEN POWER


__ADS_3


Vee tersenyum balas menggenggam tangan Berli.


“Tidak kok! Tidak ada yang salah! Hanya saja … aku teringat pada seseorang.”


Menyipitkan mata, “Siapa?”


“Sahabatku … tapi sayang … usia tidak panjang!”


“Upsss … maaf Vee!” Berli merasa bersalah.


Sekali lagi Vee tersenyum untuk membuat Berli merasa lebih baik, “Bukan salahmu kok!”


Wanita itu masih manyun menundukkan kepala, “Sahabatmu itu pasti sangat baik sekali ya?”


“Yeah … kami bahkan sudah seperti saudara!”


“Setelah aku pikir-pikir … sepertinya aku tidak pernah memiliki sahabat!” masih tidak mengangkat kepalanya, “Teman cuma tiga … dan mereka tidak benar-benar tulus berteman denganku,” ucapnya sedih.


Dengan lembut Vee mengelus bahu lengan Berli, “Bukankah sekarang ada aku?” tersenyum manis menatap Berli, “Mulai sekarang, kamu bisa mengandalkan aku!”


Perlahan garis bibir Berli terangkat, dia mendongak menatap wanita di hadapannya, “Benarkah boleh seperti itu?”


“Tentu saja!” sahut Vee tersenyum mengelus punggung tangan Berli.


“Tapi banyak yang tidak menyukaiku,” kembali menunduk muram.


“Hya … itu karena mereka tidak mau melihat sisi lain dari dalam dirimu!”


“Emb … apa menurutmu aku bisa menjadi orang baik?”


“Kamu itu tidak pernah jahat … hanya perlu merubah sikap!”


Tersenyum kembali menatap Vee takjub, “Aku janji akan selalu mendengarkan nasehatmu!”


Mendengar kalimat itu membuat Vee kembali cekikikan, “Benar-benar mirip!”


Tanpa dia sadari, meski bibirnya tersenyum tapi pandangan matanya tampak buram oleh selaput air mata yang hanya tertahan di sana.


Yunna, aku sangat merindukanmu!


...***...



Tasya terlihat masam dengan kening mengkerut melihat rekaman video yang baru saja dia terima.


“Siapa nyonya?” tanya Mr. X menyipitkan mata penasaran.


Gerry yang juga ada di sana langsung menoleh ikut menyipitkan mata.


“Pak Hirza!” memberikan handphone kepada Mr. X.


Dengan seksama pria itu memperhatikan.


Gerry yang penasaran ikut menonton.

__ADS_1


“Apa-apaan lagi ini?” protes Gerry seketika.


Video yang Hirza kirim adalah potongan video yang team Bayangan Mata dapatkan, ketika mereka memfokuskan gambar ke arah pita merah keluarga Nirwana.


“Aku tidak mengerti … kita sedang di jebak atau memang sekejam ini hukuman dari surga?” gumam Tasya lirih.


“Sepertinya kita memang salah karena telah berurusan dengan pak Hirza,” Mr. X menaruh handphone Tasya di atas meja.


“Dari dulu aku memang lebih memilih untuk tidak berurusan dengannya! Entah apa yang ada di pikiran Tisya waktu itu … kekacauan yang dia buat bisa saja menghancurkan apa yang sudah keluarga besar ku bangun selama ini!” geram Tasya.


“Karena sudah terlanjur masuk … apa kita perlu menemui beliau lagi?”


“Ini adalah video dari Shadow … mari kita lihat dahulu … aku penasaran, langkah apa yang akan mereka ambil setelah ini,” ucap Tisya mencoba menenangkan dirinya sendiri.


“Orang-orang yang berada di posisi tertinggi memang memiliki power yang luar biasa. Bahkan anak SMA yang waktu itu kita lihat sepertinya juga bukan orang sembarangan!” celetuk Gerry kembali mengingat tentang Hans.


“Dia lebih licin dari belut dan lebih berbahaya jika dibandingkan dengan bisa ular beracun,” sahut Mr. X, “Meski usianya sangat muda, lebih baik juga tidak menyinggungnya … mengingat dimana dia di besarkan!”


“Aku semakin yakin … sepertinya memang pak Hirza-lah yang menduduki posisi paling tinggi itu! Meskipun yang kita lihat … justru pak Rudi yang bekerja keras selama ini!” ucap Tasya menerawang.


Mr. X mengangguk-anggukkan kepala, “Saya sependapat!”


“Intinya kita jangan salah langkah lagi kali ini!” tegas Tasya kembali melihat ke layar handphone yang tidak menyala.


...***...



Kantor Pusat Paradise.


Hans dan Ozzy masih duduk di depan layar komputer.


Hans menoleh ke belakang, “Mas kenapa malah memberitahukan kepada mereka sih?”


“Agar mereka juga bersikap waspada setelah ini! Jika mereka masih berpikir kita tidak adil … bukankah mereka akan kembali di posisi sulit? Paling tidak kita sudah memberitahukan tentang ini kepada Strom!” jawab Hirza santai.


“Haiz … kita susah payah meretas jaringan Bayangan Mata hanya untuk memberikan informasi kepada orang lain!” gerutu Hans lirih.


“Eh … tapi saya salut sama pak Hirza! Bagaimana bisa pak Hirza memprediksi dengan tepat, jika ide pita merah itu akan terendus juga oleh team Bayangan Mata,” puji Ozzy.


“Sudah berulang kali aku mengatakan … kita tidak akan pernah bisa menyembunyikan bayangan selama masih ada tempat yang memiliki cahaya!”


“Jadi itu alasan kenapa selama ini kita juga selalu bermain dalam gelap?” tanya Ozzy menyipitkan mata.


“Selain menghindari cahaya … ada hal lebih besar yang harus membuat kita tetap waspada! Kita tidak pernah tahu … mata siapa yang melihat ke arah kita … dan telinga siapa yang sedang mendengarkan pembicaraan kita!”


...***...


Seorang wanita duduk seorang diri di dalam ruang gelap.


Hanya dari celah jendela atas berbentuk kotak kecil, cahaya menembus teralis jeruji penghalang.



Dengan tenang wanita itu menggerakkan jemari lentiknya ke atas permukaan kanvas di hadapannya.


Banyak lukisan yang tergantung dan banyak juga yang hanya tergeletak di bawah.

__ADS_1


Semuanya nampak berwarna-warni bertema keluarga bahagia dengan latar ceria.


Setelan seragam berwarna biru yang dia kenakan tampak sangat bersih tanpa setitik noda cat warna sekalipun.


Dari luar, seorang pria berseragam dokter datang mendorong troli makanan.


Cahaya silau seketika menerangi ruangan ketika pintu di buka lebar.


Tanpa bergerak sedikitpun, wanita itu masih tidak merubah posisinya.


Seolah seperti tidak menyadari kehadiran orang lain, dia tetap acuh dan fokus pada lukisannya.


Dokter itu kembali menutup pintu, dengan santai dia mendorong troli mendekati si wanita.


“Nyonya … sudah waktunya makan,” ucapnya datar.


“Aku dengar dia mau mengirimnya ke luar negeri?” tanyanya tanpa memperdulikan ucapan dokter.


Nada wanita itu sangat datar, bahkan dia enggan menatap lawan bicaranya. Jemarinya terus bergerak anggun di atas kanvas.


“Saya masih kurang yakin, tapi sepertinya kakak ipar anda tengah mempersiapkan segala sesuatunya!” jawab dokter sesopan mungkin.


Wanita itu tersenyum sinis, “Apa dia masih melakukan hal-hal yang aneh?”


“Entah apa lagi rencananya, dia membuat banyak perubahan baru-baru ini!”


“Memang sulit untuk memprediksi isi kepalanya!”


“Yeah … bahkan dia sangat berhati-hati dalam segala hal!”


“Aku juga mendengar laporan tentang teman lamanya. Siapa wanita itu?”


“Jika anda masih ingat, dia adalah salah satu temannya semasa kuliah.”


“Ahh … apakah orang yang dia sukai?” gumamnya menyipitkan mata.


Dia tampak berpikir sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.


“Tidak mungkin! Wanita itu sudah mati!” lanjutnya menyangkal ucapannya sendiri.


“Sepertinya anda tidak perlu terlalu khawatir! Dia sudah bersuami!”


Wanita itu kembali tersenyum, “Apakah pamanku tidak akan datang hari ini?”


“Saya belum bertanya … apakah anda ingin saya meminta beliau datang sekarang juga?” tanya dokter masih dengan nada sopan.


Masih tanpa menatap lawan bicaranya, dia menggelengkan kepala, “Pasti dia sedang sibuk mengumpulkan informasi.”


Dokter membuka penutup makanan, “Anda harus minum obat sekarang,” ucapnya sembari menyiapkan makanan.


Dengan santai lengan wanita itu meraih frame foto di atas meja sampingnya.


Dengan senyum manis dia menatap gambar Xean yang tengah berpose menggunakan kacamata dan jaket hitam.



...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2