
Sesenggukan Berli menatap Yazza dengan tatapan pilu.
Matanya berlinang air mata, “Yazza please … tolong aku,” ucapnya di sela bibir yang kelu.
“Mau apa kamu ke sini!” sentak Yazza.
Vee melihat koper Berli, “Apa terjadi sesuatu padamu?” merasa iba.
“Aku diusir mas Ganny dari rumah Gerry! Semua kartu kredit dibekukan, dan sekarang aku tidak tahu lagi harus tinggal di mana!” mengisak tangis menatap Yazza. “Aku tahu kamu pasti tinggal di sini. Jadi, aku langsung saja ke tempat ini. Kamu satu-satunya yang bisa menolongku sekarang!”
Vee menatap Yazza dan Berli bergantian.
“Apa kamu sudah tidak punya muka datang padaku dengan keadaan seperti ini?”
Memegang lengan Yazza, membuat Vee mundur ke belakang.
“Yazza, aku tahu aku salah. Seharusnya aku tidak pernah meninggalkanmu!”
Menyentakkan tangan Berli, “Jangan pernah menyentuhku lagi!”
“Yazza, aku mohon! Aku tidak tahu lagi harus ke mana,” rengeknya.
“Berli, kita naik ke atas dulu ya! Kita bicarakan di atas,” Vee menyentuh lengan Berli.
Melirik Vee memicingkan mata, “Kamu pasti sedang menertawakan aku saat ini bukan?”
“Apa-apaan sih!” sentak Yazza.
“Yazza!” Vee menarik lengan Yazza agar mengontrol emosinya.
“Sudahlah kita pergi saja! Jangan pedulikan dia!” menarik lengan Vee.
Menghentakkan, “Yazza, kasihan Berli!”
“Kenapa harus memikirkan tentangnya! Kamu lupa dengan semua yang sudah dia lakukan padamu? Dia pernah menyewa pembunuh untuk melenyapkan kamu!” sentak Yazza kesal sendiri.
“Memangnya kenapa? Apa bedanya denganmu? Ini apartemenku, terserah aku mau menerima tamu manapun yang sudah aku ijinkan untuk masuk!”
Mendengus kesal melotot tajam ke arah Vee, “Bagaimana jika itu hanya akal bulusnya?”
Vee mengingat sikap keluarga Ganny kemarin, “Entah itu berniat baik atau buruk, sebaiknya jangan pernah mengesampingkan rasa kemanusiaan kita. Berli sedang dalam kesulitan! Jika sebelumnya dia memang jahat, kita tidak boleh ikut menjadi jahat dengan pura-pura menutup mata seperti ini!”
“Aku nggak paham deh dengan yang kamu pikirkan! Bahkan dia masih sombong dan angkuh seperti itu terhadapmu! Kenapa kamu malah bersikap baik kepadanya?” cibir Yazza bertolak pinggang menatap Vee tajam.
Berli langsung memegang lengan Vee, “Emb, aku tahu aku salah. Aku minta maaf! Kamu mau kan menolongku?”
“Katakan berapa yang kamu butuhkan! Aku akan memberimu uang, tapi jangan pernah datang ke sini lagi. Kamu bisa menggunakannya untuk menyewa kostel ataupun penginapan!” sentak Yazza yang makin muak dengan ulah sok baik Berli.
Vee merangkul kan tangan ke punggung Berli, “Jangan dengarkan dia. Kita ke atas dulu saja, kita bicarakan baik-baik!”
“Vee!” Sentak Yazza geram.
Berli tersenyum menatap Vee, “Terima kasih!”
“Ayo,” membimbing Berli berjalan menuju lift.
Yazza mendengus membuang muka memegang keningnya sendiri.
“Astaga! Kenapa dia selalu membuatku merasa menjadi sangat gila!”
__ADS_1
...***...
Madam Lia baru teringat akan sesuatu begitu Yazza dan Vee pergi.
Ada hal yang ingin dia sampaikan ke Yazza sejak beberapa hari kemarin.
Karena musibah yang menimpa putranya, madam Lia jadi lupa sampai tidak sempat memberitahukan pada Yazza.
“Apa aku telepon pak Ardi saja ya?” melihat handphonenya, “Ya, sebaiknya aku bilang saja kepada pak Ardi!”
Segera menelepon pak Ardi.
“Halo madam?” sapa pak Ardi begitu panggilan masuk.
“Pak Ardi, maaf sebelumnya karena saya mengganggu!”
“Tidak apa-apa. Kebetulan saya sedang bersantai untuk menunggu tuan Yazza.” Menyipitkan mata, “Tapi apa yang membuat madam menelepon saya? Bukankah kita baru saja bertemu?”
“Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan. Saya takut kelupaan lagi jika menundanya,” madam Lia duduk di kursi tunggu.
“Apa itu madam?”
“Saya tidak tahu ini akan bermanfaat atau tidak. Tapi, saya sedikit khawatir dengan nona Yve.”
“Nona Yve?” ulang pak Ardi.
“Beberapa waktu lalu, saya menemani nona Yve bermain ke rumah temannya. Dan sangat mengejutkan … teman nona Yve itu ternyata anak bu Tasya dari Nirwana!”
“Apa!” pak Ardi sangat terkejut, “Kenapa baru sekarang memberitahukannya!”
“Awalnya saya pikir anak-anak tidak akan tahu tentang masalah orang dewasa. Mereka terlihat berteman dengan sangat baik. Sepertinya tidak akan menimbulkan pengaruh besar pada persaingan bisnis Teratai Putih!”
Merasa bersalah, “Aduh bagaimana dong pak Ardi! Apa saya akan dimarahi?”
Menghela nafas panjang, “Karena madam sudah memberitahukannya, sepertinya madam memang tidak bermaksud apa-apa. Mungkin karena madam juga harus disibukkan mengurus putra madam, jadi sampai lalai dalam hal ini. Semoga saja tuan Yazza bisa memaafkan dengan alasan musibah yang menimpa putra madam!”
“Sungguh pak Ardi … saya tidak bermaksud menyembunyikannya. Saya memang terlalu khawatir pada putra saya. Sampaikan permintaan maaf saya kepada pak Yazza.”
“Baik akan saya sampaikan!”
“Terima kasih pak Ardi dan sekali lagi saya meminta maaf!” pungkas madam Lia mengakhiri panggilan.
Dia merasa sangat bersalah karena tidak segera menyampaikan informasi itu jauh-jauh hari.
...***...
Dania memicingkan mata melihat Berli.
Sembari mendandani Yve, Dania terus saja melirik dan menguping pembicaraan.
Berli menceritakan segalanya kepada Vee.
Karena Vee sudah mendengar secara langsung tentang kebencian Ganny terhadap Berli, tentu saja Vee sedikit memahami dengan apa yang terjadi.
“Alasannya itu tidak masuk akal! Kenapa mau mengosongkan rumah?” Berli mendengus kesal.
Yazza hanya berdiri kesal di dekat pantry sedari tadi.
__ADS_1
Vee tidak mau mendengarkan Yazza, malahan dia membiarkan Berli masuk ke dalam apartemennya.
Seperti sebuah kebodohan yang di sengaja.
“Emb, mungkin pak Ganny mau merenovasi rumah itu!” Vee berusaha menghibur Berli.
“Kenapa dia tidak mengatakan begitu? Aku tahu mas Ganny itu memang tidak menyukai aku dari awal. Dan Gerry tidak pernah bisa benar-benar melawan perintahnya. Cih … itukan hidup Gerry, kenapa mas Ganny selalu ikut campur!” marah-marah sendiri.
Mengelus punggung Berli, “Sabar dulu. Aku yakin, itu hanya emosi sesaat pak Ganny.”
“Tapi dia sudah menyuruhku mengemas barang dan mengosongkan rumah Gerry!” menghentakkan kaki kesal, “Ih sebel deh!”
“Begini saja, kamu mau kembali ke Gerry bukan? Kalau begitu, kamu harus bisa menarik hati pak Ganny. Jika dia tidak menyukaimu, maka carilah sesuatu yang bisa membuatnya berubah dan merestui kalian.”
Tampak berpikir menatap Vee, “Apa itu akan berhasil?”
“Misalkan saja pak Ganny tidak menyukai pemborosan, maka tunjukan pada mereka jika kamu juga bisa menabung, berinvestasi supaya menghasilkan uang,” Vee tersenyum memberi saran.
“Benar juga ya!” tersenyum menerawang.
“Bagaimana jika kamu tinggal di sini untuk sementara. Gerry pasti akan mencari kamu kok!” hibur Vee.
“Hya! Jangan sembarangan seperti itu!” sentak Yazza.
Menunduk sedih, “Sepertinya aku tidak diterima di sini!”
Mengelus tangan Berli, “Ini apartemenku. Jangan hiraukan dia!”
Yazza mendengus geram membuang muka.
Apa dia benar-benar ingin menyimpan duri di dalam rumahnya sendiri?
Apa sih yang dia pikirkan?
Orang ini sudah berkali-kali berusaha mencelakainya!
Gumam Yazza dalam hati.
Tersenyum balik menggenggam tangan Vee, “Ternyata kamu baik sekali ya. Padahal aku sudah selalu jahat. Bahkan di pesta kemarin, aku mempermalukan kamu!”
“Pesta?” Yazza langsung menoleh menyipitkan mata menatap Vee penuh tanda tanya.
Vee salah tingkah, dia menatap Berli berisyarat agar tidak membahasnya.
Eh, apa Yazza tidak tahu tentang pesta ulang tahun yang dihadiri putrinya dan calon istrinya ini?
Berli tersenyum licik bergumam dalam hati.
Itu artinya … Yazza juga tidak tahu jika putrinya berteman dengan anak mbak Tasya?
“Emb, waktu itu Berli sedang mengadakan pesta bersama teman-temannya. Tidak sengaja kami bertemu!” dalih Vee.
Berli menyipitkan mata, tersenyum sinis.
Vee berusaha menutupi tentang ini?
Wuih … pasti seru jika mereka ribut setelah Yazza tahu tentang masalah ini!
Aku akan memberitahukan kepada Yazza saat Vee tidak ada!
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...