RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
TELAT


__ADS_3

Semua orang sudah bersiap pagi ini.


Vee juga harus pergi ke rumah sakit untuk check up.


“Kamu yakin bisa mengemudi sendiri?” tanya Yazza memastikan, “Shhh! Aku jadi tidak tenang … pesan taksi online saja ya?”


Vee masih sibuk memakai eyeliner mata, duduk di depan meja rias.


“Aku juga tidak yakin sih sebenarnya! Kalau macet parah, pasti akan sangat merepotkan,” ucap Vee santai.


“Ya sudah … aku pesankan taksi online saja!” Yazza mengambil handphonenya.


“Kakek dan pak Karno jadi ikut meeting ke kantormu hari ini kan?” tanya Vee melihat Yazza melalui cermin.


“Yeah! Beliau mau mengecek kinerjaku,” jawab Yazza masih fokus menatap layar handphone.


“Emb … bagaimana dengan proposal ku?” tanya Vee masih Yazza melihat melalui pantulan cermin.


“Akan aku carikan tempat yang bagus dan sesuai dengan konsep mu itu,” ujar Yazza datar.


“Sungguh?” tersenyum menolehkan kepala, “Yes! Kapan kamu akan mencari? Boleh aku ikut?”


Vee begitu antusias dengan rencananya ini.


“Aku akan mengurus semuanya terlebih dahulu! Setelah mendapatkan tempat dan semua perencanaan sudah matang, baru kita memilih furniture yang sesuai dan keperluan lainnya! Aku tidak mau membuatmu capek-capek ikut pusing memikirkan tentang design interior,” menatap Vee sedikit memiringkan kepala. “Tidak apa-apakan jika hanya melibatkan mu saat finishing saja?”


Vee mengangguk senang menatap Yazza dengan binar bahagia, “Yeah … terima kasih!”


“Jangan mulai lagi! Tatapan mu seperti kucing yang sedang minta makan,” cibir Yazza mengejek.


Wanita itu mendengus mencibir membuang muka, “Cih! Aku benar-benar sedang berterima kasih! Tulus dari dalam hatiku!”


Yazza tersenyum, mengelus kepala istrinya, “Aku harus turun dahulu untuk menemui kakek!”


“Emb … kalian langsung berangkat saja! Biar Yve sekalian ikut satu mobil denganku nanti,” ucap Vee dengan nada riang.


“Tapi itukan taksi online!” Yazza mengingatkan.


“Nanti setelah pengemudinya sampai sini, aku akan bilang padanya untuk menyewa dia seharian. Dia pasti mau kok … kan banyak yang seperti itu? Anggap saja seperti sedang merental mobil!”


“Haiz … kurasa aku perlu mencarikan seorang supir yang khusus mengantar dan bisa mengawal kemanapun kamu pergi!”


“Hya … maksudmu seperti pak Ardi dan pak Karno gitu?”


Yazza menganggukkan kepala, “Kurang lebih begitu!”


“Hya … tidak perlu! Aku tidak suka di ikuti. Lagian setelah sembuh, aku sudah bisa melakukan semuanya seorang diri kok!”


“Cih … sudah kuduga akan menjawab seperti itu,” cibir Yazza setengah tersenyum menatap istrinya yang masih duduk di kursi depan meja rias.


“Karena hanya akan menyiakan uang! Aku bisa menjaga diriku sendiri!”


“Hya … menjaga diri dengan cara menghajar orang lain?” Yazza bertolak pinggang, “Kamu lupa … pernah ada orang yang sampai kehilangan nyawa gara-gara kamu?”


Vee menatap memprotes dengan bibir mengerucut, “Itu bukan kesalahanku! Dia sendiri yang memutuskan mengakhiri hidup!”


Entah kenapa, tiba-tiba terlintas pemikiran tentang pelaku bom bunuh diri beberapa waktu yang lalu.


“Aku masih tidak mengerti, kenapa ada orang yang mau bunuuh dirii padahal hidup itu sangat berarti!”


“Bukan urusanmu! Jangan berpikir terlalu jauh,” tegas Yazza yang sebenarnya tidak ingin jika Vee ikut terlibat dalam masalah-masalah berbahaya.


Cih ….


Kalian pikir aku bodooh!


Aku tahu kek Gio dan pria ini memang sengaja menyembunyikan sesuatu!


Terlebih tentang kasus itu!


Cibir Vee bergumam dalam hati.

__ADS_1


“Jadi bagaimana? Mau aku pesankan taksi online lain saja untuk Yve?” tanya Yazza berusaha membawa pembicaraan, kembali ke topik sebelumnya.


“Tidak! Jangan khawatir, nanti aku bilang ke drivernya mau rental satu hari. Dia tidak akan rugi juga kok!”


“Sungguh bisa seperti itu?” Yazza masih ragu dengan keputusan Vee.


“Iya! Percaya saja padaku!”


Pria itu menghempaskan nafas panjang, “Oke deh kalau begitu,” menunduk untuk mengecup kening istrinya, “Kalau begitu kami langsung berangkat dulu!”


“Hati-hati … jaga kakek! Dia sudah sangat sepuh, seharusnya tidak perlu khawatir lagi dengan urusan pekerjaan,” Vee mengkhawatirkan kek Gio.


“Hmph … tentu aku akan menjaganya! Lagipula meski dia sudah setua itu … tenaganya masih sama seperti usia lima puluhan!” Yazza berjalan santai menuju pintu.


Mendengarnya, membuat Vee terkekeh lepas, “Hahaha! Valid sekali! Pukulannya juga masih sangat bertenaga!”


Yazza tersenyum menoleh dengan satu tangan sudah membuka pintu, “Kabari aku begitu kamu sudah sampai rumah sakit!”


Vee mengangguk tersenyum.


Bahkan ketika Yazza melangkahkan kaki keluar dari kamar dan kembali menutup pintu, Vee masih tersenyum menatap ke arah yang sama.


Sebenarnya dia tidak seburuk seperti yang aku pikirkan sebelumnya!


Seandainya dia lebih bisa menerima Yve … aku pasti akan memberi nilai sepuluh untuk Yazza!


Sekali lagi Vee tersenyum sipu menundukkan kepala.


...***...


Kediaman keluarga Paradise.


Xean berjalan santai menuju meja makan.


Pandangannya langsung tertuju pada Hans yang mengenakan pakaian kemeja resmi.


“Heh … jika sudah memakai pakaian itu, pasti mas Hans mau bolos kan?”


“Hya! Papa curang lagi! Mas Hans mau papa ajak jalan-jalan kan?” protes Xean menatap papanya.


Hirza menoleh menatap datar, “Ada urusan penting, mas Hans harus ikut!”


“Kalau begitu aku juga ikut dong!” ucap Xean merajuk.


“Kamu masih kecil! Ini urusan orang dewasa!”


“Mas Hans juga masih sekolah!” cibir Xean kesal sembari duduk membalikkan piring.


“Papa mendapat laporan jika nilai mu di bidang seni sangat jauh dari harapan. Kenapa bisa begitu?”


“Itu tidak penting pa! Lagian masih banyak cabang seni lain selain seni menggambar! Membosankan!”


“Kepala sekolah merekomendasikan agar kamu mengikuti kelas tambahan. Kebetulan ada guru kesenian baru yang akan mengajar di sekolahmu,” menatap Xean mendalam, “Seni itu penting … generasi pewaris Paradise harus bisa menggambar dengan sangat baik. Kelak itu akan sangat berguna saat kamu dewasa!”


“Cih … kelas tambahan lagi!” cibir Xean kesal sembari mengambil nasi dan lauk yang sudah di sediakan di meja.


“Papa akan menghubungi kepala sekolahmu lagi dan memintanya mengatur jadwal untukmu!”


“Baiklah … oke! Terserah papa saja!” Xean pasrah, tidak lagi berani menentang keputusan papanya.


...***...


Yve tampak sedang menata buku di meja belajarnya saat Vee masuk ke kamar anak itu.


“Eh … mama!” sambut Yve dengan senyuman hangat.


“Loh … kok baru mau beres-beres?” tanya Vee berjalan mendekat.


“Yve salah melihat jadwal Ma, malah pelajaran untuk esok hari yang Yve siapkan!”


Vee tersenyum mengelus kepala putrinya dengan lembut, “Astaga kamu ini!”

__ADS_1


“Ibu Vee jadi mau ke rumah sakit ya?” tanya Dania sopan.


“Iya nih! Nanti kalian sekalian barengan sama aku ya!”


“Oke ma!” sahut Yve.


“Kami tidak diantar pak Karno?” tanya Dania menyipitkan mata.


“Mereka akan pergi meeting ke kantor Yazza hari ini.”


“Oh … begitu,” Dania tampak menunduk salah tingkah, seolah ingin menyampaikan sesuatu. Tapi dia sendiri cukup ragu untuk mengatakannya.


“Emb … buk, sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan.”


“Hmm? Apa itu?” tanya Vee santai.


“Saya tidak enak hati untuk mengatakannya! Tapi sepertinya saya harus ijin satu hari lagi,” ucap Dania tanpa menatap ke arah Vee.


“Loh … kenapa mbak?” tanya Vee.


“Ada ujian susulan yang masih harus saya kejar hari ini.”


“Oh ya sudah tidak apa-apa! Kalau memang sangat penting, tidak perlu mengantar Yve ke sekolah. Lagipula jika itu tentang pendidikan, aku pasti akan mendukung kok!” Vee tersenyum ramah menatap gadis muda di hadapannya.


“Tapi saya tidak enak! Mengantar dan menjaga nona Yve adalah tugas saya!”


Sekali lagi Vee tersenyum lembut, “ Dia kan sudah sama saya. Mbak Dania boleh langsung pergi saja ke kampus! Semangat ya mbak Dania, semoga ujiannya lancar!”


“Sungguh buk? Ya ampun, jadi tidak enak! Terima kasih ya buk!” Dania tersenyum menatap bosnya.


“Tentu saja! Bekerja memang penting, tapi pendidikan lebih penting!” Vee mengelus bahu lengan Dania.


“Kalau begitu … sekali lagi saya mengucapkan terima kasih buk!” Dania tersenyum dengan gaya lemah lembutnya.


Vee menganggukkan kepala, “Mau pergi sekarang?”


“Nanti sih, jam sepuluh ujiannya!”


“Ahh … oke! Mbak Dania bisa belajar dulu sekarang.”


Gadis muda itu kembali tersenyum, “Iya buk! Saya jadi punya waktu untuk belajar sebelum jam ujian.”


“Belajar yang baik! Mbak masih muda, semangat mbak Dania juga luar biasa!” puji Vee sembari melihat gambar di dinding.


Vee tersenyum tipis melihat kertas-kertas yang tertempel.


Yve sendiri yang menggambarnya semua gambar di sana.


Tidak sengaja mata Vee berhenti ke arah kalender dengan gambar kucing lucu.


Wanita itu jadi terdiam dengan mata menyipit.


Ehh!


Tanggal berapa ini?


Kenapa aku belum juga datang bulan?


Atau jangan-jangan?


Vee membelalakkan mata masih fokus menatap kalender.


Ahh tidak!


Itu tidak mungkin!


Tanpa Vee sadari, tangannya menyentuh perutnya sendiri.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2