
Semalaman Tisya dan Mr. X mempelajari file-file berkas dan beberapa foto tangkap layar dari rekaman video CCTV.
Beberapa temuan paling krusial sudah mereka rangkum dan mereka simpulkan sedetail mungkin.
Meskipun hasil yang mereka dapatkan cukup memuaskan, tapi Tisya justru tidak bahagia dengan hasil akhirnya.
“Mr. X yakin … dua Preman ini orang-orang dari Shadow?”
“Meski tidak nampak begitu jelas … dari tato mereka saja sudah bisa di tebak! Kalau tidak salah ingat, mereka adalah elite veteran yang saat ini mungkin sudah naik jabatan menjadi pemimpin wilayah.”
“Dua elite Shadow mengejar seorang wanita yang tampaknya menggendong bayi di sekitar Pesisir … tidak lama setelahnya, ada kabar wanita tenggelam tanpa identitas yang membawa gendongan bayi … tapi isi gendongannya hanyalah tumpukan sampah!” Tisya terdiam sejenak tampak memikirkan sesuatu, “Bukankah masuk akal jika bayi yang sebenarnya masih hidup dan sekarang anak itu di asuh oleh istri Yazza?”
“Sudah jelas bukan? Sepertinya ini memang ada campur tangannya pak Yazza!” Mr. X memutar rekaman CCTV yang gambarnya masih sangat jadul dan buram.
“Kalau saja kita berhasil menemukan dua orang ini dan mendesak mereka untuk mengaku … kita bisa menjatuhkan pak Yazza dengan sangat mudah!”
“Mr. X!” sentak Tisya langsung berdiri memprotes. “Itu bukan yang saya mau! Jangan berani-beraninya berpikir untuk menjatuhkan Yazza seperti itu!”
“Nona! Kenapa anda masih saja memihak nya?” Mr. X menatap memprotes, “Bahkan jika anda menolongnya dari dalam jurang sekalipun … belum tentu pak Yazza akan berbalik dan melihat anda!”
“Mau dia melihat atau tidak … itu urusanku!” dengus Tisya kesal.
“Nona … bukti-bukti ini akan jadi peluang bagus bagi nona untuk kembali mendapat kepercayaan dari kakak anda!”
“Dengar Mr.! Jika sampai anda membocorkan ini pada kakakku atau siapapun … aku tidak mau lagi berbicara padamu!”
Deg!
Itu bukan yang di inginkan Mr. X.
Sejak Tasya dan Tisya kecil, Mr. X lah yang sudah menjaga mereka layaknya kakak yang melindungi adik-adiknya.
Karena Tisya yang paling kecil diantara ketiganya, anak itu yang paling manja dan dekat dengan Mr. X.
Dari kedekatan itu pula Mr. X mulai memendam rasa yang berbeda seiring dengan berjalannya waktu.
Dia sadar akan siapa dirinya dan dia tidak mungkin mengungkapkan itu di hadapan Tisya. Yang bisa dia lakukan selama ini adalah tetap memendam perasaannya dan terus berusaha untuk melindungi Tisya dengan sepenuh hatinya.
Jika Tisya tidak mau lagi berbicara padanya, lalu bagaimana dia bisa tetap dekat dengan pujaan hatinya?
Mr. X menarik nafas dalam lalu menghempaskan, dia mendongak menatap datar ke arah wajah Tisya yang masih berdiri di sulut emosi.
“Lalu … usaha yang sudah kita lakukan ini akan jadi sia-sia?”
“Tidak akan jadi sia-sia jika kita kembali berusaha untuk merahasiakannya lagi!”
“Bagaimana jika pak Gerry maupun kakak anda bertanya tentang masalah ini?”
“Bilang saja pada mereka jika kita tidak menemukan apa-apa!”
“Baiklah jika memang itu yang anda kehendaki,” Mr. X mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Karena aku sudah tinggal di rumah baruku … biar aku saja yang menyimpan berkas-berkas ini!”
“Ah … jadi nona sudah mau pindah rumah?”
“Yeah … siang ini mungkin!”
“Kalau begitu biar saya bantu!”
“Itu tidak perlu … Mr. boleh melanjutkan tugas utama Mr. X! Lagi pula … sudah ada Daniel!”
Deg!
Meski seharusnya dia tidak memendam rasa terlarang ini, tiap mendengar Tisya bersama pria lain, rasa sesak dan tidak rela masih saja menguasai hati.
“Kalau begitu baiklah,” ucap Mr. X yang nampak kehilangan semangat.
Tisya tersenyum ketika tiba-tiba teringat Daniel dalam bayangannya.
“Aku akan meneleponnya terlebih dahulu!” Tisya berjalan menjauh membawa handphonenya.
Selama masih bisa melihat senyum kebahagian nona … tidak masalah jika hanya hatiku yang berdarah-darah dan terluka!
Gumam Mr. X melihat punggung Tisya dari belakang.
...***...
Sekolah Dasar.
Zoe duduk di toilet khusus guru begitu mengunci pintu dari dalam salah satu bilik.
Zoe mengeluarkan handphone dari dalam tas, dia langsung membuka aplikasi yang menunjukan gambar rekaman CCTV di ruang Kepala Sekolah.
“Jika benar … semoga dia tidak bisa mengenaliku!”
Seorang pria dan wanita tampak memasuki ruang Kepala Sekolah begitu ibu Kepsek mempersilahkan.
Zoe membelalakkan mata terkejut memperhatikan dengan seksama, “Benar! Dia adalah Yazza!” pandangannya bergeser melihat wanita yang menggandeng lengannya, “Jadi dia istrinya?” tampak berpikir sejenak, “Lalu … gadis kecil tadi adalah putri mereka?”
Zoe mendengus tersenyum kembali memikirkan sesuatu.
“Kurasa putraku memang cerdas! Dia bahkan pandai dalam memilih teman! Setidaknya … teman putraku berasal dari keluarga yang jelas! Tapi … akan jadi masalah juga jika aku ketahuan dan Yazza masih mengenali wajahku!”
Zoe menghempaskan nafas frustasi.
“Huft! Kalau begitu aku harus bermain kucing-kucingan juga dengannya!”
Tiba-tiba, sesuatu terlintas dalam kepalanya.
“Eh … istrinya kan tidak mengenalku? Dia sepertinya juga asyik di ajak bicara!”
Zoe tersenyum, kembali melihat ke layar handphonenya.
__ADS_1
“Karena dia adalah ibu dari teman dekat putraku … mungkin aku juga bisa lebih akrab dengan istri Yazza ini!”
...***...
“Hah? Di sekolah Xean? Memangnya apa yang mereka lakukan?” tanya Ozzy berbicara pada seseorang dalam panggilan telepon.
“Kami juga belum tahu,” jawab seorang pria di ujung panggilan.
“Apakah pengawasan di sana masih sangat ketat?”
“Yeah … rasanya seperti tidak ada celah!”
“Kalau begitu tetap waspada, jangan sampai ketahuan! Berperilaku sewajarnya saja agar tidak menarik perhatian!”
“Siap!”
“Oke … kalo begitu aku akhiri dulu!” pungkas Ozzy mematikan panggilan.
Hans yang masih duduk santai di samping Hirza tampak menatap penuh tanda tanya ke arah Ozzy yang masih berdiri di dekat jendela.
“Ada laporan apa?” tanya Hans penasaran.
Ozzy kembali mendekat, duduk di atas sofa.
“Seseorang melapor … katanya dia melihat Yazza dan keluarganya datang ke sekolah Xean!”
“Hah? Yazza?” ulang Hirza, “Dengan Vee juga?”
Ozzy mengangguk, “Sepertinya … karena temanku bilang dia datang bersama keluarganya!”
“Mau apa mereka ke sekolah itu lagi?”
“Nah itu dia … penjagaan tuan Margo masih tidak bercelah … mereka juga tidak bisa sembarangan bergerak untuk mencari tahu,” Ozzy menurunkan kedua bahu, frustasi.
“Kalau begitu … kita hanya bisa mengandalkan informasi dari Xean! Semoga dia bertemu dengan Vee dan menyapanya di sana!”
“Ah … benar juga! Anak itu pasti akan menyapa nona Vee begitu melihatnya … kita tunggu saja sampai dia pulang nanti!” sahut Hans menimpali kalimat kakaknya.
“Aku heran … apa yang sebenarnya paman Margo lindungi dari tempat itu? Rasanya kurang masuk di akal jika hanya karena alasan ingin melihat perkembangan Xean di bawah didikan ku!”
“Mas … aku punya ide deh!” sela Hans menoleh menatap kakaknya.
“Apa?” tanya Hirza menyipitkan mata.
“Bagaimana jika kita menyisipkan seorang satpam atau penjaga kebun?”
“Bukankah mereka akan curiga dan waspada pada orang baru?”
Dengan senyum licik Hans menerawang jauh ke depan.
“Serahkan saja padaku … bukan Hans namanya kalau tidak bisa bermain rapi!”
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...