
Hans celingukan salah tingkah.
“Apa nona Vee bisa melihatku?” gumamnya gelisah.
“Tapi tidak mungkin! Kaca ini gelap dan tidak tembus pandang!” berusaha menenangkan diri.
“Kenapa Xean berlama-lama di sana? Apa anak itu sedang mencari perhatian?” lanjut Hans menyipitkan mata curiga.
...***...
Xean terus saja menatap wajah Vee dengan binar bahagia.
“Kenapa yang menjemput kamu parkir jauh sekali dari gerbang sekolah?” tanya Vee masih melihat ke arah mobil Hans.
“Karena yang menjemputku itu pasti si bodoh!”
“Hah?” Vee mengernyitkan dahi.
Menatap Xean kembali kali ini.
“Dia adik angkat papa! Tapi dia seperti kakak bagiku … sudah biasa kami saling mengolok-olok satu sama lain,” tersenyum ramah.
Terkekeh pelan, “Hahaha … tante paham sekarang! Kalian pasti sangat akrab!”
Menggeleng, “Hmm … kita justru sering berdebat dan berantem!”
“Mungkin hanya untuk bercanda sayang,” kembali membelai wajah Xean.
Xean tersenyum lalu menoleh ke arah mobil Hans parkir.
“Orang itu pasti malu untuk turun! Menjemputku sepertinya adalah tugas paling berat dalam hidupnya!” cibir Xean cengengesan.
“Pasti menyenangkan mempunyai seseorang untuk di ajak bertengkar,” ucap Vee muram.
Dia teringat pertemanannya dengan Yunna.
Menyipitkan mata, “Tante baik-baik saja?”
Tersenyum, “Hanya teringat teman tante! Dulu kita juga sering bertengkar, tapi kami saling menyayangi satu sama lain. Seperti kamu dan orang yang ada di dalam mobil itu,” menatap jauh ke depan.
Xean tersenyum ikut melihat kea rah Vee melihat.
“Kalau begitu sampai jumpa lagi lain waktu! Aku harus segera ke sana sebelum dia mengomel!”
Vee tersenyum mengangguk.
Tepat saat Xean melangkah, Yve baru terlihat berlari mendekat.
“Mama sayang,” langsung memeluk Vee.
Vee balas memeluk putrinya, “Aaaa … sayangnya mama … ih … bau asem!”
Terkekeh geli, “Tadi ada jadwal olahraga,” menarik diri.
Tersenyum, “Tapi anak mama masih tetap terlihat manis!”
“Mama ish!” Yve tersipu.
“Yuk pulang!” menggandeng Yve.
Tersenyum, “Tumben tidak diikuti lem tikus?”
“Kenapa? Kamu kangen padanya?” tanya Vee sembari berjalan.
“Yve kangen kakek dan nenek!”
Mengerutkan kening tampak memikirkan sesuatu.
“Maksud kamu mama dan papanya lem tikus kan?”
Mengangguk, “Yve kangen bermain sama kakek! Yve juga kangen masak bareng nenek!”
“Kalau begitu akhir pekan kita ke sana!” Vee bersemangat.
“Sungguh? Yeay!” bersorak gembira.
Vee tersenyum gemas untuk dirinya sendiri.
Kesempatan yang bagus!
Gumamnya dalam hati.
Akhirnya ada kesempatan bisa bertemu Daniel dengan menggunakan Yve sebagai alasan.
...***...
__ADS_1
Yazza sudah duduk santai menonton Tv saat Vee dan Yve masuk.
“Papa!” Yve gembira sekali melihat Yazza.
Vee mencibir acuh.
“Sayang mandi dulu! Habis ini kita harus pergi untuk mencari hadiah,” ucap Vee mengingatkan.
Yve menoleh menghempaskan nafas, “Ah benar!”
Yazza melirik, “Hadiah apa?”
“Teman Yve ada yang ulang tahun,” jawab Vee ketus.
“Ah!” kembali melihat ke layar Tv dengan cuek.
“Papa antar kami ya?” Yve bersemangat.
“Papa kan baru keluar dari rumah sakit. Biarkan papa beristirahat saja,” sahut Vee.
Yve melihat perban kecil dibelakang kepala Yazza, “Ah benar!”
“Tidak apa-apa. Nanti papa antar!” ucap Yazza datar.
Vee memicingkan mata melirik Yazza.
“Apa tidak suka?” cibir Yazza melihat ke arah Vee.
“Kurasa dokter di rumah sakit itu benar-benar bagus. Bisa menjinakkan seseorang,” sindir Vee.
“Cih!” Yazza cuek membuang muka kembali menatap layar Tv.
“Sayang cepat mandi dan segera bersiap. Takutnya toko itu keburu tutup nanti!”
“Oke ma!” Yve berlari kecil menuju kamarnya.
“Hya … kamu bersiaplah juga!” Vee menatap Yazza.
Menoleh, “Bersiap apa?”
“Hya … kamu bilang akan mengantar kami!”
Tersenyum mencibir, “Lalu kita harus mandi barengan? Wah, semakin genit saja ya?”
Membanting pintu dari dalam.
Yazza mendengus tersenyum.
...***...
Hans dan Xean baru sampai di rumah.
Hirza juga tampak baru turun dari dalam mobil.
“Loh … mas pulang awal?”
Mencibir, “Berkat kamu dan masalah yang kamu bawa, aku jadi harus sibuk menyelesaikan masalahmu di luar kantor!”
Hans meringis menggaruk kepala, “Seharusnya biar aku saja yang membereskan!”
“Haiz … sepertinya aku harus bisa memaklumi, kamu memang masih sangat muda!”
Manyun, “Mas sudah mulai tidak mempercayaiku ya?”
“Bukan begitu … aku hanya tidak mau jika mas Rudi mencurigai hal lain jika kamu kembali melakukan kesalahan kali ini. Jadi biarkan aku saja yang membersihkan namamu!”
Tersenyum, “Mas memang the best brother ever!”
“Hya … menjilat?” cibir Xean.
“Haiz … anak ini!” melirik ke arah Xean, “Hya … bukankah kamu tadi yang sepertinya menjilat nona Vee?”
Hirza langsung menyipitkan mata, terdiam dan memperhatikan.
“Mas … tadi anak ini caper sama nona Vee di sekolahnya!” Hans mengadu.
“Hya … kami hanya berbicara dan menyapa!” bantah Xean.
Mencibir, “Cih … kenapa bocil bisa bermuka dua sih?”
Xean menendang kaki Hans kesal.
“Hya!” Hans mengelus kakinya, meringis kesakitan.
__ADS_1
“Tante Vee kebingungan mencari toko hadiah untuk ulang tahun temannya Yve … aku hanya membatu merekomendasikan took hadiah yang sesuai keinginannya!”
“Tunggu … hadiah ulang tahun?” tanya Hirza menyela.
“Eh … iya! Aku baru ingat … ada undangan ulang tahun dari Nirwana untuk Xean,” menatap Hirza.
Semakin menyipitkan mata, “Xean … apa teman Yve yang ulang tahun itu adalah pria yang kemarin menjadi saksi dalam masalahmu di sekolah?”
Mengangguk, “Bagaimana papa tahu?”
Hans ikut penasaran menatap kakak angkatnya.
Hirza tersenyum sinis menatap Hans.
...***...
Keluarga Gionio sampai di toko yang di ceritakan Xean sebelumnya.
Yazza turun dengan wajah masam.
Dia mengenakan kacamata dan topi untuk menutup perban kecil di belakang kepala.
“Ngapain sih ke tempat kekanakan seperti ini,” cibirnya.
“Namanya juga mau mencari hadiah ulang tahun anak-anak!” jawab Vee mencibir.
“Mama, lihat itu ada kostum Mermaid. Kata mama itu bagus untuk aku kan?” melihat di etalase kaca.
“Wah … ayo cepat masuk! Kita lihat!” Vee antusias.
“Cih … Mermaid? Sungguh konyol,” desis Yazza lirih.
“Lebih konyol orang yang menganggap peri itu sungguhan ada!” balas Vee mencibir lirih.
Yazza melirik kesal mencibirkan bibir.
Yve dan Vee mulai memilah-milah aksesoris yang cocok untuk di gabungkan dengan kostum Mermaid.
Yazza hanya duduk diam melihat keduanya.
Pandangan Vee tiba-tiba terfokus pada satu titik.
Kostum bajak laut bermata satu.
Dia tersenyum kecil lalu menunduk mengimbangi Yve.
“Eh … sayang, bukankah papa sangat cocok mengenakan kostum ini? Lihat wajah suramnya itu,” bisik Vee melirik Yazza.
Yazza hanya mencibir membuang muka menyilangkan tangan di perut.
“Ma! Papa Yazza itu cocoknya pakai kostum seorang pangeran! Lihat, dia sangat tampan sekali bahkan saat tidak tersenyum seperti itu,” Yve bertolak pinggang mendebat mamanya.
Mengernyit mencibir, “Cih … jadi kamu lebih memihak papa ketimbang mama?”
Mengangguk dengan yakin, “Hmm … tentu saja!”
Menyilangkan tangan di perut seolah marah.
“Yve tidak lagi sayang sama mama!”
Langsung memeluk Vee, “Ah … sayang kok! Yve juga sayang sekali sama mama!”
“Hya … cepatlah! Kenapa malah bermain drama di sini!” cibir Yazza.
“Lihat … dia pemarah seperti itu mana cocok menjadi pangeran!” cibir Vee melirik Yazza mencibirkan bibir.
“Papa Yve tetap ganteng dan keren! Dia lebih tampan dari pangerannya Barbie!” debat Yve.
“Cih! Kenapa membela papa lagi?” Vee berpura-pura manyun.
Cengengesan, “Ya sudah … Yve membela mama dan papa! Papa genteng, mama cantik!”
Dengan gemas Vee mencubit pipi Yve.
“Aaaa … anak mama pandai menjilat ya?”
Yazza tersenyum mencibir membuang muka melihat ke arah pintu.
Seseorang baru masuk ke toko.
Perlahan senyumnya memudar.
Yazza tampak sangat terkejut menyipitkan mata.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...