RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
DONOR DARAH


__ADS_3

Yazza, kek Gio dan orang-orang di dalam rumah ikut terkejut mendengar pekik histeris Vee.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Yazza segera berlari keluar.


Kek Gio dengan susah payah berjalan cepat dengan tongkatnya.


...***...


“Mas! Apa yang terjadi?” Hans menarik lengan kakak angkatnya yang masih bersandar santai di punggung sofa.


“Apa?” menegakkan duduknya, untuk melihat ke layar lebih dekat.


“Kenapa tiba-tiba semua orang berlari panik?”


“Hah?” Hirza menyipitkan mata, “Coba putar rekaman ke belakang!”


Hans segera menjalankan perintah kakaknya.


“Teriakan nona Vee!” Hans membelalakkan mata fokus mendengarkan.


“Apa?” Hirza jadi ikut gelisah, “Apa yang terjadi?”


Hans segera melepas headphone nya, dia mengambil handphone dan bergegas menelepon seseorang.


“Akan aku suruh Ozzy mencari tahu!”


Hirza langsung berdiri merapikan jasnya, “Terlalu lama! Bagaimana jika Vee terluka lagi?”


Menahan lengan Hirza dengan sebelah tangan masih memegang handphone di telinga, “Mas jangan membuat masalah … apa mas lupa jika para generasi lama Paradise sedang mengawasi mas dengan ketat akhir-akhir ini?”


Hirza menghempaskan nafas sesak, dia kembali duduk lemas menatap layar.


“Apa yang terjadi?” desisnya lirih. “Vee, semoga tidak terjadi apa-apa denganmu!”


...***...


Darah mulai menggenang di jalanan.


Seorang pengemudi mobil turun dengan raut kepanikan tergambar jelas di wajahnya.


“Astaga! Saya tidak sengaja! Anak ini tiba-tiba muncul di tengah jalan,” pria itu tampak panik mencoba menjelaskan kepada dua Satpam rumah Yazza yang berjalan menghampirinya.


“Yve! Sayang … kenapa jadi begini? Bertahanlah!” Vee yang tersungkur lemas langsung memangku putrinya.


“Cepat kita bawa ke rumah sakit dulu,” pria pengemudi itu hendak mendekat.


Yazza membelalakkan mata melihat apa yang terjadi.


Dengan geram dia langsung menarik pria yang membawa mobil, mencengkram kerah kemejanya dan melayangkan pukulan keras ke wajahnya.


“Pak Yazza!” Satpam berusaha menahan tuannya.


“Saya minta maaf! Saya akan bertanggung jawab!” ucap pria itu ketakutan, merasa sangat bersalah dan bingung bercampur jadi satu.


Sudut bibirnya berdarah karena pukulan yang Yazza berikan, tapi dia memilih untuk tidak membalas dan tidak mempermasalahkan tetang amarah yang sudah pasti di tunjukan oleh keluarga korban.


“Dasar brengseekk! Di mana matamu! Ini jalanan kompleks … bagaimana bisa menabrak seseorang?” Yazza berusaha berontak dari dekapan Satpam yang menahannya dari belakang.


“Pak … kita harus segera membawa anak itu ke rumah sakit!” dengan sadar diri, pria itu mundur berusaha menghindari Yazza sambil melihat ke arah Yve.


Kek Gio terkejut memegang dadanya, “Yve!”


Pak Karno dengan sigap menahan kek Gio yang nyaris jatuh tersungkur ke tanah karena lemas melihat apa yang terjadi.


Pak Ardi langsung berlari mengangkat Yve.


Vee mendongak menata pak Ardi.


“Nyonya, jangan buang-buang waktu!” pak Ardi berdiri membawa Yve dalam bopongannya.


Pria tadi membuka pintu mobil belakang, “pak cepat!”


Yazza menarik pria tadi, “Kamu tidak bisa mengemudi dengan baik! Bagaimana bisa kamu akan membawa mereka bersamamu!”


“Tuan, mobil ini yang paling siap!” pak Ardi berusaha meyakinkan Yazza.


Dengan kasar, Yazza mendorong pria tadi ke arah Satpam, “Amankan dia! Biar aku yang menyetir!” masuk lewat pintu depan.

__ADS_1


Pak Ardi masuk membawa Yve, disusul Vee yang masuk dari pintu lain.


“Yve bangun! Buka matamu sayang!” Vee menderu sambil mengelus pipi Yve yang penuh darah.


Pak Ardi menarik dasinya, menekan ke sumber luka di kepala Yve.


Dia masih memangku Yve di bangku belakang.


“Saya tidak akan lari pak! Saya akan mempertanggung jawabkan ini!” Pria itu sudah sangat lemas karena terlalu takut.


Pak Satpam tampak mengangguk, sambil memegangi lengan pria itu, “Bapak ikut kami dulu ya!”


“Jangan bawa saya ke Polisi! Kita damai saja! Saya akan bertanggung jawab,” ujar pria itu gelagapan salah tingkah.


Yazza tidak lagi memperdulikan pria itu, dengan kesal dia langsung menjalankan mobil, melaju cukup kencang meski di jalanan kompleks.


...***...


Sekolah Xean.


Beberapa anak masih berada di sekolah meski sudah jam pulang sekolah.


Kebanyakan mereka adalah anak-anak yang mengikuti jam extra tambahan.


Xean yang tidak begitu tertarik mengikuti jam tambahan seni lukis hanya bisa manyun kesal berjalan di belakang Ziya.


Tepat saat guru barunya membuka pintu ruang kesenian, handphone Xean berbunyi.


Wanita itu langsung menoleh dengan satu tangan masih memegang handle pintu.


Xean gelagapan salah tingkah mencoba mencari handphonenya di dalam tas.


“Maaf … saya lupa mengaktifkan mode senyap,” ucap Xean tersenyum meringis.


Ibu Ziya tersenyum lembut, “Tidak apa-apa, mungkin itu telepon penting dari ayahmu! Angkat saja dulu!”


Xean melihat layar.


Benar saja, ayahnya yang mencoba melakukan panggilan.


“Xean, bisa tidak kamu menunda jam extra mu? Papa mau mengajak kamu ke suatu tempat! Ini mendesak,” ucap Hirza tanpa banyak basa-basi begitu panggilan di angkat.


“Hah? Bukankah papa sendiri yang memintaku untuk ikut ekstra?”


“Iya … tapi kali ini ada hal yang lebih penting! Papa akan menelepon ibu Kepala Sekolah nanti, tapi kamu ijin sendiri ke guru les kamu bisa kan?”


Xean menoleh ke belakang, bu Ziya tampak menyipitkan mata menatapnya.


“Baiklah,” jawab Xean lirih.


“Oke … papa tutup dulu! Ozzy sudah menunggu di depan gerbang sekolah!”


“Oke,” jawab Xean mengakhiri panggilan.


Dia kembali menaruh handphone ke dalam tas sembari berbalik menghadap ibu Ziya.


“Kenapa sayang? Ada masalah?” tanya bu Ziya ramah.


Xean mengangguk, “Maaf bu, Papa mengajak saya pergi. Sepertinya saya tidak bisa ikut jam tambahan hari ini!”


Lagi-lagi Ziya tersenyum, “Kalau begitu pergilah! Kalau papamu yang meminta pasti itu hal yang sangat penting!”


Xean mengangguk, “Sekali lagi saya minta maaf bu!”


“Tidak apa-apa sayang! Masih ada hari esok,” tersenyum sembari mengulurkan tangan kanan ke depan hendak menyentuh Xean.


Dengan sigap Xean mundur satu langkah untuk menghindar, “Emb … kalau begitu saya pergi dulu!”


Buru-buru Xean membalikan badan, melangkahkan kakinya meninggalkan guru seni baru di sekolahnya.


Ziya tersenyum kecewa menurunkan lengan, tapi dia tidak sakit hati ataupun marah dengan kelakuan putranya.


Mungkin karena dia tidak pernah melihatku … bagus juga kalau dia bersikap waspada pada orang asing!


Batin Ziya melihat kepergian Xean yang berjalan semakin menjauhinya.


Sesekali Xean menoleh ke belakang.

__ADS_1


Ibu guru ini aneh sekali!


Tunggu!


Kenapa dia tahu yang akan meneleponku adalah papaku?


Kenapa dia berbicara seolah sangat mengenal diriku?


...***...


Vee tampak sangat panik berjalan mondar-mandir di depan ruang IGD.


Sementara Yazza, dia hanya duduk berdiam memejamkan mata dengan tangan menyilang di depan perut.


Pak Ardi pergi untuk mencarikan pakaian ganti.


Pakaian Vee dan pakaiannya sudah penuh oleh noda darah.


Bahkan Vee sampai tidak memikirkan untuk membersihkan wajah dan tangannya.


Suster keluar dari dalam ruangan.


“Suster! Bagaimana putri saya!” Vee langsung menghampiri.


“Ibu, kami membutuhkan donor darah untuknya,” melihat ke arah Vee dan Yazza bergantian, “Kalian berdua adalah orang tuanya kan? Siapa yang bergolongan darah AB di sini?”


Yazza langsung membuka mata, menatap Suster begitu wanita itu menyelesaikan kalimatnya.


Vee yang seolah sudah memahami situasi langsung menoleh ke arah Yazza.


Dia ayah kandungnya.


Sudah pasti darah mereka memiliki kecocokan!


Yazza membuang muka begitu sadar Vee menatap aneh ke arahnya.


Wanita itu langsung mendekat, duduk di sebelah suaminya.


“Golongan darahmu sama dengan Yve kan?” tanya Vee mendesis lirih.


“Aku tidak mau disuntik jarum dan melihat darahku diambil keluar!” jawab Yazza ketus.


“Yazza!” sentak Vee meninggikan nada.


Suster merasa tidak enak hati melihat pasangan di hadapannya itu.


“Emb … Ibu, Bapak, saya akan menunggu di depan! Kita membutuhkan darah itu segera,” Suster berjalan salah tingkah meninggalkan keduanya.


“Yazza … please! Aku mohon … berikan darahmu untuk Yve,” kali ini Vee memohon dengan derai air mata.


Pria itu hanya mendengus, kembali membuang muka.


“Yazza … dia putrimu! Selamatkan dia,” pinta Vee memegang lengan Yazza yang masih menyilang di perut.


“Apa peduliku? Bukankah aku memang sudah berniat menyingkirkannya sejak awal!”


Vee semakin geram menatap pria di sebelahnya.


“Aku sangat kesal dengan apa yang sudah dia lakukan terhadap nama baikku! Kenapa aku harus menyelamatkannya?” cibir Yazza berucap sinis, “Lagipula kamu juga bukan ibu kandungnya! Kenapa harus memikirkan keselamatannya?”


Vee menarik kembali kedua tangannya, tatapannya nanar menatap pria yang saat ini sudah menjadi suaminya.


“Kamu sungguh tidak mau menyelamatkan putri kandungmu sendiri?” geram Vee mengepalkan tangan dengan rahang mengeras.


Pria yang dia ajak bicara tidak menjawab dan hanya membuang muka.


Dengan kekesalan yang semaki n meluap, Vee mengatupkan bibir rapat-rapat.


Dia menarik nafas panjang melalui hidung, dan menghempaskan kembali.


“Baiklah!” dengusnya geram, “Kalau begitu aku juga tidak akan mempertahankan janin dalam perutku ini!”


Yazza membelalakkan mata terkejut menatap istrinya.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2