RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
HARGA YANG HARUS DIBAYAR


__ADS_3

Tanpa pikir panjang, Vee langsung mengambil payung dan segera menuju pasar dekat dermaga yang memang tidak jauh dari kediamannya.



Pikirannya sudah sangat kacau sekali saat itu.


Genangan air mata mengganggu pandangannya.


Meskipun kaki gemetaran, dia terus memaksakan diri berlari secepat yang dia bisa.


...***...



Yunna segera mengambil sim card dari dalam ponsel lalu mematahkannya.


Dengan gerakan yang tidak kentara, dia melemparkan ke tumpukan keranjang sampah di bahu jalan.


Gadis itu kembali menoleh ke belakang, dengan sengaja memperlihatkan kepada para preman jika dia tengah membuang ponselnya ke lautan.


Deburan ombak cukup kuat, semoga bisa mengulur waktu!


Gumamnya di dalam hati.


"Dia membuang handphonenya?" tanya preman berambut gondrong kepada temannya.


"Sepertinya begitu," mengernyitkan dahi.


"Cepat ambil! Cari sampai dapat, dia baru saja menelepon seseorang. Kita harus membereskan seluruh barang bukti!"


"Tapi ombaknya sangat deras!" protes si kepala botak mengeluh melihat arus air.


"Apa yang kamu takutkan! Kita bisa saja mati di bunuh Mr. Bald jika tidak mendapatkan ponselnya itu!"


"Oke ... oke! Aku akan mencarinya!" pria botak itupun akhirnya mengalah.


"Kalau begitu aku akan mengejar dan menangkap wanita itu beserta bayinya!"


Si kepala botak mengangguk, dan keduanya berpisah di sana.


Yunna berhenti berlari.


Bukan karena dia berhasil meloloskan diri, tapi dia terpojokkan saat ini.


Dia tersenyum mencemooh pada dirinya sendiri, “Cih!”


Lautan yang tampak tidak ramah terbentang dihadapannya.


Tidak ada jalan lain lagi untuk melarikan diri.


Dengan santai dia membalikan badan di ujung dermaga, melihat Preman yang semakin mendekat ke arahnya.


"Hahahaha!" pria itu terkekeh puas melihat Yunna yang tampak tidak berkutik mendekap bayi palsu dalam gendongannya.


"Mau kemana lagi? Serahkan bayi itu dan lebih baik kamu juga menyerah saja!" gertak Preman sembari menyibakkan rambut gondrongnya yang juga sudah basah kuyup.


"Cih! Jangan pernah bermimpi!" tersenyum mencibir.


"Dasar ****** sialan!" umpat si Preman semakin geram.


Vee, aku takut sekali. Semoga kamu segera bisa menemukan Yve!


Yunna kembali bergumam dalam hati sembari menoleh kebelakang.


BYUUURRR


Deburan ombak kembali menghantam.


Kali ini suaranya terdengar jauh lebih mengerikan.



"Bukankah akan selalu ada harga yang harus dibayar kontan?” Yunna memejamkan mata, menguatkan dirinya sendiri.


Preman itu jelas tidak memahami kalimat Yunna, “Sudahlah jangan banyak basa-basi lagi. Toh kamu juga akan segera mati!”


Selangkah dia hendak maju melangkahkan kaki, lalu tiba-tiba langkahnya terhenti dengan mata membelalak lebar melihat ke depan.


Yunna kembali tersenyum mengejek sebelum akhirnya memutuskan melompat ke dalam lautan.



BYUUUUURRRR!!!!


"Wanita gila! Ombak seganas ini dia masih saja senekat itu!" gumam si Preman langsung mundur dan berniat kembali menemui rekannya.


Si botak baru keluar dari dalam air, "Aku menemukannya!" dengan senyum lebar dia memperlihatkan handphone di tangan kanan yang diangkat ke atas.


"Cepat ayo kabur!" membantu temannya naik melewati pembatas.


Menyipitkan mata, "Panik sekali. Apa yang terjadi?"


"Dia dan bayinya melompat kedalam lautan!"


"Hah?" tersenyum mencibir, "Memilih bunuh diri?"


"Mereka tidak akan selamat, lihat saja ombak malam ini!"


"Bagaimana dengan mayatnya?"


"Sudah jelas akan terbawa arus sangat jauh dari tempat ini! Dan menurut dugaanku, tidak akan ditemukan dalam waktu dekat, terlebih selama badai ini masih berlanjut!"


Tersenyum mencemooh, "Heh, alam pun mendukung kita! Dengan begini, pekerjaan kita akhirnya selesai dengan mulus tanpa harus susah payah mengotori tangan!"


"Ayo cepat kita laporkan kepada Boss!"


Temannya mengangguk, dan keduanya segera meninggalkan lokasi.


...***...


Vee mengobrak-abrik seluruh pasar.


Dia sangat panik, pikirannya sudah begitu kacau.



Diusapnya wajah yang terlihat frustasi memikirkan bagaimana keadaan sahabatnya saat ini.


Dia tidak bisa mengejar Yunna karena harus mencari bayi yang ditinggalkannya.

__ADS_1


Oeeee … oeeee …


Samar-samar dia mendengar suara tangis bayi.


Vee segera mendatangi sumber suara.


“Tumpukan keranjang!” dia mengingat petunjuk yang Yunna berikan.



Begitu melihat tumpukan keranjang di depan ruko, Vee langsung berlari mendekat, menyingkirkan keranjang-keranjang lain dengan hati-hati.


Ada sedikit kelegaan begitu menemukan bayi malang itu di dalam kerajaan paling bawah.


Air mata Vee jatuh menuruni pipi, sembari mengangkat bayi dan sebotol susu di sampingnya, dia mencoba menenangkan bayi itu dalam dekapannya.


Dengan kelembutan, Vee menaruh ujung botol susu ke mulut mungilnya.



Bayi itu berhenti menangis dan mulai menyedot susu dengan manisnya.


Vee mengusap wajah baby Yve, dia berniat membawanya kembali ke rumah sebelum bayi ini kedinginan.


Tepat saat hendak keluar dari pintu utama gedung pasar, Vee melihat bayangan dua orang yang berjalan mendekat.


Dia kembali mundur, sembunyi di balik ruko sambil mengintip ke arah jalan.


Dua pria berpenampilan sangar berjalan dengan langkah cepat di bawah guyuran hujan sambil terkekeh senang.



"Bonus kita akan segera cair!" memainkan handphone Yunna yang dilempar ke atas lalu ditangkap kembali.


Vee membelalakkan mata, melihat samar dari remang lampu pasar yang tidak cukup terang.


Handphone Yunna!


Tegasnya dalam hati.


"Tentu saja! Kita sudah menyingkirkan kedua ibu dan anak itu!"


"Boss pasti akan memuji kita! Hahahaha!"


"Ya! Itu benar! Hahahaha!"


Keduanya terkekeh mengobrol bersama sambil terus berjalan menjauh.


Vee mengepalkan tangan mengatupkan bibirnya geram.


Gemuruh api membakar dadanya.


Sekarang dia paham, apa yang sedang dia hadapi saat ini.


Handphone Yunna ada di tangan para Preman. Itu artinya, dia tidak aman jika terus berada di sini.


Yunna meminta untuk menyelamatkan bayinya agar jangan sampai jatuh ke tangan mereka.


Satu kalimat yang masih mengganjal dalam kepalanya.


Mereka bilang, mereka sudah berhasil menyingkirkan ibu dan anak.


Apakah yang kedua preman maksud itu adalah Yunna?


Yunna tidak meninggalkan gendongan bayi! Jangan-jangan …


Vee mulai menerka-nerka.


Ada dugaan yang menguat di dalam benaknya.


Tapi jujur, dia sendiri takut untuk menguatkan prasangkanya.


Apakah Yunna sengaja mengorbankan diri, dan menipu mereka tentang bayinya?


Seketika gundah gulana memenuhi relung hatinya.


"Semoga tidak terjadi apa-apa kepada Yunna!" desisnya lirih.


Yang paling penting untuk saat ini adalah, menyelamatkan baby Yve, seperti yang Yunna inginkan.


...***...


1 TAHUN SEBELUMNYA.



Seorang pria sudah terlihat sangat mabuk di depan meja bar.


Sembari terus minum, dia kembali mengingat kejadian yang baru dialami.


Dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat kekasihnya baru saja check out dari hotel yang akan dijadikan tempat meeting dengan klien dari luar kota.


Dan yang lebih membuatnya terpukul adalah, pria yang bersama kekasihnya merupakan rival bisnis terbesarnya.


Begitu melihat Yazza di lobby resepsionis, Berliana segera menyingkirkan lengan Gerry yang merangkulnya mesra.


Sementara Gerry hanya tersenyum mencibir saat melihat ekspresi wajah Yazza.


Pak Ardi yang merupakan tangan kanan Yazza langsung memahami situasi.


Dengan penuh hormat dia memohon maaf kepada para klien. Karena masalah yang tidak terduga ini, pertemuan mereka harus ditunda.


Para klien hendak berpamitan, Yazza sama sekali tidak menggubris karena fokus pada sepasang kekasih yang terlihat bahagia sehabis memadu kasih bersama.


Beberapa orang mulai berbisik membicarakan mereka.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Yazza kaku di hadapan Berliana.


Gadis itu terlihat salah tingkah, "A-aku ..."


"Jangan marah, aku hanya membantumu menemaninya saat kamu sibuk ... aah, benar! Kamu memang selalu sibuk setiap hari sampai menyiakan gadis secantik ini!" nadanya mengejek.



"Diam kau!" tegas Yazza menarik kerah baju Gerry.


"Yazza! Jangan membuat keributan!" Berli menyingkirkan tangan Yazza, sambil melihat ke sekeliling.


Dia merasa sangat malu ketika orang-orang mulai berkerumun melihat ke arah mereka.

__ADS_1


"Aku bertanya sekali lagi ... kenapa kamu di sini?" geram Yazza di sela giginya yang bergemeretak.


Mulai tidak bisa menahan amarahnya.


Berliana kembali salah tingkah menatap Gerry yang semakin pongah menatap Yazza.


"Kita bicara di tempat lain!" Berliana menarik lengan Yazza.


Dengan tegas, Yazza menghentakkan tangan Berli hingga membuatnya nyaris jatuh.


Dengan sigap Gerry menangkap Berliana, membantu menyeimbangkan tubuh agar bisa berdiri dengan tegak kembali.


"Hei, santai Man!" menarik Berli ke sisinya, "Kasar sekali kepada wanita!"


Berliana langsung mewek menatap ke arah Yazza.


Dia merasa sangat dipermalukan sekali di hadapan orang-orang.


Yazza menarik lengan Berliana.


Giliran Berli yang menghentakkan tangan Yazza mentah-mentah.


"Cukup Yazza!" sentak Berliana.


"Aku sudah lelah bersamamu. Dari dulu kamu tidak pernah berubah! Lebih mementingkan pekerjaan dan selalu mengabaikan aku!" sergah Berliana setengah berteriak.


"Aku tidak mengerti kenapa ada pria seperti dirimu, yang saat ada diacuhkan dan saat hendak ditinggalkan malah ditahan!" melihat ke arah Gerry, "Ya! Aku berselingkuh dengannya! Dia pria yang sangat lembut, perhatian dan penuh kasih sayang. Tidak sepertimu!" lanjut Berli dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Tapi kamu sadar 'kan? Siapa pria itu! Dia saingan bisnisku!" tegas Yazza menunjuk wajah Gerry.


Tersenyum mencibir pada dirinya sendiri, "Lihat! Masih saja mengaitkannya dengan bisnis!" Berliana kesal.


"Pria macam dia, mana bisa memahami tentang artinya mencintai!" Gerry memegang kedua bahu Berliana untuk menguatkannya, “Bukankah aku lebih baik sayang?” sengaja memancing amarah Yazza.


Yazza menarik bahu Gerry, menjatuhkannya ke lantai.


Berliana langsung memasang badan, berdiri di hadapan Yazza.


"Apa kamu pikir, aku benar-benar mencintaimu?" Berliana menggeleng, "Aku mendekatimu saat SMA, karena aku tahu kamu orang kaya!"


"Aku berasal dari keluarga yang biasa saja, dan aku butuh biaya untuk bertahan hidup. Jika bukan karena kemewahan yang terus kamu berikan, aku pasti sudah akan meninggalkanmu sejak lama!” mendengus.


“Mengingat sikapmu yang terus saja seperti ini, membuatku semakin muak. Apa kamu pikir, uang saja cukup?" ujarnya terus memojokkan Yazza.


"Aku juga butuh diperhatikan, setidaknya luangkan waktu juga untukku. Bukan hanya saat kamu butuh, baru kamu datang padaku!" tuntut Berli mengakhiri.


"Kamu ingin aku berubah?" tanya Yazza lembut.


Mencibir, "Cih! Aku tidak yakin, kamu akan bisa berubah!" Berliana menggandeng Gerry, "Seharusnya aku mendengarkan Gerry untuk segera meninggalkanmu! Sudah sejak satu tahun yang lalu kita menjalin hubungan. Aku masih tidak bisa meninggalkanmu karena kasihan saja!"


Kening Yazza makin mengkerut, "Satu tahun?"


"Ya! Dan bahkan, aku berselingkuh selama itu, kamu tidak pernah peka ataupun curiga sedikitpun!" mengangguk-anggukkan kepala, "Baik! Karena sudah ketahuan, aku tidak akan memakai topeng lagi! Aku lebih bahagia dengan Gerry. Dia berjanji akan membahagiakanku selamanya. Kita akhiri saja hubungan kita. Aku tidak mau lagi diperlukan seperti sampah!"


Mendengar semua perkataan yang terucap dari bibir Berliana, membuatnya sangat terluka.


"Aaaaaaaarrrgggghhhh ...!"



Yazza berteriak keras sambil melempar gelas ke arah pria peracik minuman di depannya.


"Aduh!" Pramutama bar itu memegang kepalanya yang berdarah.


"Security! Tolong!"


Pekerja lain segera menolong peracik minuman dan penjaga keamanan menyeret Yazza, mengusirnya dari dalam bar.


Yazza malah terkekeh sembari mengumpat tidak jelas.


Dia sudah benar-benar hilang kesadaran meski masih bisa berjalan sempoyongan.


...***...



Vee keluar dari stasiun bus kota.


Dia membawa koper kecil dan ransel sambil menelepon sahabatnya.


"Aku sudah sampai. Kamu di mana?" tampak celingukan.


Yunna yang sebenarnya sudah melihat Vee, hanya bisa menahan tawa cekikikan dari dalam mobil.


"Aku di dalam mobil yang terparkir di depan. Kamu di mana?" Yunna senang sekali melihat temannya linglung dan kebingungan.


"Aku sudah di depan! Mobil kamu yang mana? Warna? Nomor plat kendaraannya?"


"Aduh, lupa platnya. Hehe! Maklum, mobil pinjaman dari kantor!" Yunna cengengesan.


Vee menghempaskan nafas kesal, "Hya! Jangan bercanda! Aku sendirian di depan sini! Mustahil sekali jika kamu tidak melihatku!" sentak Vee.


"Ahh, itu kamu yang membawa koper pink? Kukira orang lain. Kamu makin cantik saja ya!" goda Yunna sok polos.


"Hya! Wanita gila! Kita bertemu seminggu yang lalu. Sengaja mengerjai 'kan?" selidik Vee mulai curiga.


Yunna terkekeh, "Hahaha! Iya-iya maaf, buruan ke sini!"


"Iya kamu di mana! Ada banyak mobil di depan!"


Yunna melihat jauh ke depan lalu melihat ke belakang melalui kaca spion, "Kamu lihat mobil merah?"



"Ya, hanya satu mobil merah di sini!" matanya mengarah ke mobil berwarna merah yang terparkir parallel.


"Nah, buruan. Langsung masuk saja!" Yunna kembali cekikikan menjauhkan ponsel dari bibirnya.


Vee segera menarik koper mendekat, "Iya, bawel!"


Seperti yang Yunna katakan, Vee langsung membuka pintu mobil.


Seketika tubuhnya mengejang kaku.


Seorang pria muda menatapnya menyipitkan mata meski matanya sudah sangat sipit.



“Shit! Wanita sialan itu!” gumam Vee lirih memejamkan mata geram sembari menahan malu.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))>°……..°<((((<...


__ADS_2