
“Ckk … kenapa sih Gerry masih saja mengencani wanita itu!” Ganny tampak kesal.
Melihat Berliana, membuat Vee harus menghela nafas panjang membuang muka seolah enggan.
“Ah … yang itu adik ipar aku dan kekasihnya!” Tasya kembali memperkenalkan.
Tersenyum, “Saya tahu mereka.”
“Kak …,“ desis Tisya, “kakak lupa tentang kabar ulah Berli yang hendak mencelakai calon istri pak Yazza ini?” Tisya sok polos.
“Apa? Ulah Berli yang hendak mencelakai nyonya Gionio?” Ganny terkejut mengulang pernyataan Tisya.
“Oh iya benar … maaf …,“ Tasya mengelus lengan Vee, “aku lupa tentang kejadian itu!”
Menoleh menatap suaminya, "Panjang ceritanya mas, nanti saja aku ceritakan!"
"Intinya Berli sakit hati karena nyonya Gionio ini pernah berani melawannya. Padahal dia duluan yang mencari masalah," imbuh Tisya adik ipar Ganny.
“Wanita itu sungguh tidak punya otak! Sudah banyak masalah yang dia ciptakan … kenapa Gerry bodoh sekali sih!”
“Mas, jangan memarahi adikmu! Ini acara anak kita, jangan merusaknya dengan amarah!” dengan lembut Tasya menenangkan suaminya.
“Gadis itu sungguh tidak punya muka!” Menatap Vee, “Nyonya Gionio maafkan kami ya!”
Vee tersenyum, “Lagipula kalian tidak bersalah … kenapa meminta maaf?”
“Mungkin akan tidak nyaman bagi anda untuk bertemu orang yang hendak berniat jahat kepada anda di sini!” Ganny terdengar sangat tulus.
Tersenyum, “Itu urusan pribadi kami. Jangan sampai masalah itu merusak acara pesta kalian!”
Tasya tersenyum hangat, “Terima kasih karena sudah mau memahami kami!”
Vee mengelus lengan Tasya, “Anda bilang kita berteman bukan?”
Tasya tersenyum lepas menatap Vee.
Gerry dan Berli mendekat.
Berli memicingkan mata melihat ke arah Vee, “Ngapain janda ini di sini!”
“Berli! Jaga ucapanmu!” sentak Ganny.
Gerry mendengus kesal menatap Berli.
Berli menunduk menciut.
“Ma-maaf mas,” ucap Berli gelagapan.
“Emb, mas … maafkan kami!” Gerry merasa bersalah.
Tasya mengelus lengan suaminya.
Ganny mendengus membuang muka kesal.
Xean melihat Yve dan Caesar, dia segera berlari kecil untuk menghampiri.
“Kak Xean?” sapa Yve.
“Halo dik Yve,” balasnya menyapa Yve.
Caesar menatap aneh Xean dengan wajah muram.
“Selamat ulang tahun Caesar!” Xean memberikan hadiah pada Caesar, “Ini hadiah dari kakak!”
Caesar tersenyum menerima dan langsung di berikan pada bibi Nanny untuk disimpan.
__ADS_1
“Eh, kostum kalian mirip sekali!” Yve tersenyum.
“Eh benar!” Xean ikut tersenyum menatap Caesar.
Tapi Caesar terlihat sedikit tidak suka karena merasa memiliki kesamaan, dan itulah alasan kenapa dia tiba-tiba menjadi muram.
“Kak Xean kemari deh! Memancing ikan di sini seru sekali … kalau beruntung dapat banyak hadiah … coba deh!”
“Sungguh? Sini … kakak mau coba,” Xean mendekat.
Yve memberikan pancingannya kepada Xean.
Caesar terlihat semakin tidak suka melihatnya.
Hans terus mengawasi Xean dan juga Vee secara diam-diam.
Tugas lain yang Hirza bebankan dalam acara ini tentu saja untuk melihat apakah mereka menjebak Vee dalam bahaya atau tidak.
Meskipun masuk ke sarang musuh, sepertinya mereka tidak langsung memangsa korbannya.
Sampai acara selesai, semua tampak normal dan baik-baik saja.
Justru Vee terlihat makin dekat dengan Tasya sepanjang acara.
Hans tidak bisa menebak, Tasya tulus bersikap baik atau hanya topeng belaka.
Selama mereka tidak berulah, Hans juga tidak akan menganggap mereka berbahaya.
Mungkin karena banyak orang saat ini, mereka tentu tidak mungkin membuat jelek image keluarga mereka sendiri dengan melakukan hal-hal yang konyol.
Begitu acara usai, Vee berpamitan kepada keluarga Caesar.
Sama sekali tidak ada yang bertingkah mencurigakan.
Semuanya bersikap hangat dan ramah.
Kecuali Berli tentunya.
“Tante ini mas Hans! Si monyet yang pernah kita bahas waktu itu!” Xean memperkenalkan Hans pada Vee.
Mereka berempat keluar menuju parkiran.
“Enak saja monyet!” protes Hans mencibir.
Vee terkekeh pelan, “Hahaha … jangan begitu! Mas Hans tampan loh!”
“Terima kasih!” Hans tersenyum ramah lalu menjulurkan lidah mengolok-olok Xean.
Xean menendang kaki Hans.
Vee tersenyum, “Kalian berdua manis sekali,” menatap Hans dengan seksama, “kenapa aku merasa tidak asing melihatmu ya?”
Menggaruk rambut sembari nyengir salah tingkah, “Mungkin wajahku sangat pasaran dan mudah di lihat di mana-mana!”
Menggeleng, “Bukan begitu …,” tersenyum, “rasanya kita sudah saling mengenal dalam waktu yang lama!”
“Ah … nona ini bisa saja! Hahaha,” Hans terkekeh pelan
“Nona? Hei … kamu juga bisa memanggilku tante!”
Menggeleng, “Itu tidak sopan … anda terlihat masih sangat muda dan cantik!”
Tersipu, “Astaga … sepertinya semua orang di dekat senior buaya sudah di pengaruhi olehnya!”
“Hahaha …,” Hans terkekeh lepas kali ini, “nona pasti sangat mengenali karakter mas Hirza ya?”
Mengangguk, “Tentu saja!”
__ADS_1
“Emb … karena nona dan mas Hirza berteman … bagaimana jika saya panggil nona dengan sebutan ‘mbak Vee’ saja?”
Tersenyum, “Boleh!”
Namun detik berikutnya senyumnya perlahan memudar dengan dahi mengkerut.
“Eh … tunggu! Aku belum memperkenalkan diri … dan bagaimana kamu tahu aku teman Hirza?”
Deg!
Sepertinya Hans terlalu terbawa suasana mengobrol dengan Vee.
Astaga … aku kelepasan!
Pasti aku terlihat sangat mencurigakan!
Sok kenal, sok dekat!
Batin Hans dalam hati.
Vee semakin mengerutkan kening menatap Hans.
Sebelum Vee semakin curiga ….
Hans tersenyum meringis kembali menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Hehe … kemarin saya melihat anda ngobrol dengan anak ini,” merangkul Xean. “Dalam perjalanan pulang, saya bertanya kepadanya karena kalian terlihat akrab. Lalu Xean bercerita tentang anda yang ternyata adalah sahabat lama mas Hirza!”
Tersenyum, “Ahh … jadi begitu!”
Xean tersenyum mengangguk ikut mengimbangi akting Hans.
“Lihat … mas Hans itu sebenarnya sayang sekali sama kamu,” Vee kembali mengelus wajah Xean.
Anak itu mengernyitkan dahi, sedikit memiringkan kepala dengan tatapan penuh tanda tanya.
Vee tersenyum gemas, “Kamu bilang mas Hans malu karena harus menjemputmu … tapi meskipun dari jauh, dia masih mengawasi dan peduli padamu! Pasti mas Hans khawatir jika kamu berbicara pada orang asing yang tidak di kenal!”
Sebenarnya, itu yang Hirza dan Hans lakukan juga untuk Vee.
Hans tersenyum meski ada sesuatu yang membuat perasaannya kembali tidak senang.
Seketika dia kembali teringat akan sosok Hirza dan perjuangan kakak angkatnya selama ini.
Xean sepertinya menyadari perubahan wajah Hans.
Dia mengalihkan pandangan menatap Vee.
Jika mas Hans terus seperti itu … bisa-bisa papa akan marah padanya!
Batin Xean.
Sebelum tante ini curiga, sebaiknya aku melakukan sesuatu!
Xean terkekeh menatap Vee, “Hahaha … itu bukan karena mas Hans peduli … mas Hans pasti hanya takut pada omelan papa jika terjadi sesuatu padaku!”
Vee ikut terkekeh, “Astaga … kamu ini!” gemas mencubit pipi Xean.
Tersipu malu-malu, “Emb … tante mau pulang bareng kita?”
“Eh … maaf! Tapi tante sudah ada yang menjemput!” jawab Vee merasa bersalah.
“Papa ya ma?” sahut Yve bertanya.
Vee tersenyum melihat ke arah depan.
Daniel tersenyum melambai ke arah mereka.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...