
Leo tampak malu untuk berkontak mata secara langsung dengan Hirza di sebelahnya.
“Jadi kelas memasak?” tanya Hirza tersenyum melihat banner yang tergantung di atas pintu masuk lobby gedung.
Berli mendekatkan kepala ke belakang telinga Vee, “Hya … kenapa bisa ada Leo?” desisnya lirih.
“Dia teman yang aku tunggu!” jawab Vee santai.
“Hya … kamu sengaja ya?” protes Berli tersipu malu.
Vee tersenyum cengengesan sengaja semakin menggoda Berli, “Jadi … apakah sekarang kamu sudah bisa untuk tidak lagi berwajah muram?”
Dengan senyum sipu Berli menyenggol pelan lengan temannya.
Vee kembali tersenyum sembari berjalan menghampiri Leo dan Hirza yang langsung di ikuti Berli di belakangnya.
“Hya … kamu lama sekali!” cibir Vee menatap protes Leo lalu bergantian menatap Hirza, “Dan kenapa bisa ada senior buaya bersamamu?”
“Senior buaya?” ulang Leo menyipitkan mata.
“Ahh … maksudku Hirza!” jawab Vee tersenyum meringis menatap Hirza yang juga tersenyum padanya.
“Oh … pak Hirza,” Leo menoleh sebentar dan kembali menatap Vee, “Maaf, tiba-tiba mobil saya mogok. Untung ada pak Hirza yang mau membantu dan mengantarkan saya ke sini!”
“Ahh … jadi pahlawan kesiangan ya?” cibir Vee menggoda Hirza.
“Hanya kebetulan … siapa sangka aku justru melihatmu saat di dalam mobil tadi … jadi aku ikut turun saja!”
“Dia siapa Vee?” tanya Berli berbisik lirih.
“Ahh iya … perkenalkan, teman lamaku semasa masih kuliah, Hirza!” jawab Vee memperkenalkan Berli kepada Hirza.
“Hi … Berli!” wanita itu mengulurkan tangan.
Hirza tersenyum membalas berjabat tangan, “Hirza!”
“Emb … sepertinya orang-orang sudah masuk. Bagaimana jika kita juga langsung masuk saja!” sela Leo menggeser berdirinya di samping Berli yang langsung menarik kembali tangannya.
Vee melihat ke sekeliling yang sudah mulai sepi, “Eh … benar juga!”
“Boleh aku ikut?” tanya Hirza datar.
Sontak Leo membelalakkan mata terkejut menatap pria itu.
Gawat!
Kenapa dia malah mengajukan diri!
Pak Yazza pasti akan marah jika tahu kalau kami dekat-dekat dengan orang dari Paradise … terlebih dia adalah pemimpinnya!
Vee mendengus mencibir menatap Hirza, “Jangan bercanda! Ini kelas memasak!”
“Memangnya kenapa? Aku single father … kurasa aku juga sudah biasa memasak!”
“Hya … tidak punya kesibukan lain?” cibirnya lagi sembari bertolak pinggang.
“Tidak ada hal penting hari ini. Cukup merasa bosan juga beberapa hari terakhir … bukankah hal ini mungkin saja bisa jadi hiburan?”
“Emb … saya justru khawatir anda akan jadi bosan!” sahut Leo.
“Ahh tidak! Ayo masuk!” dengan senyum cuek Hirza malah mendahului.
__ADS_1
“Hya … kamu yakin?” Vee mengejar berjalan mengimbanginya.
Leo tampak semakin gelisah sekarang.
“Emb … ayo!” ajak Berli tersipu malu-malu menata Leo.
Pria itu menoleh, menghela nafas panjang lalu menganggukkan kepala.
...***...
Markas Strom.
Kids playground set yang terbuat dari bahan plastik sengaja di tempatkan di dalam ruang kerja pemimpin kelompok.
Tasya tersenyum melihat baby Cessa yang asik bermain diantara banyaknya boneka dan juga bola-bola.
Melihat Gerry yang tampak terdiam muram sedari tadi tentu membuatnya jadi bertanya-tanya.
“Mbak … awasi Cessa, jangan sampai menelan sesuatu yang tidak di inginkan,” ucapnya lembut kepada pengasuh putrinya.
Wanita itu tersenyum menganggukkan kepala, “Baik nyonya!”
Perlahan Tasya berdiri, dengan langkah anggun dia berjalan mendekat ke arah Gerry yang duduk menopang dagu di atas kursi putar.
“Kamu kenapa lagi?” tanya Tasya lembut sembari membelai mesra rambut Gerry.
Wanita itu berdiri tepat di samping adik iparnya.
“Hanya sedang memikirkan sesuatu tentang Berli!”
Tasya mendengus kesal menarik tangannya, “Wanita itu lagi?”
“Semakin lama, dia semakin aneh! Mencurigakan sekali!”
“Ini berbeda … seolah dia sudah tidak membutuhkan aku lagi!”
Tasya teringat saat dia melihat Berli menggelayut erat lengan pengacara Shadow di malam terror bom hotel Teratai Putih.
“Mungkin dia jatuh pada pria lain!” celetuk Tasya masih dengan nada ketus.
“Apakah pria yang waktu itu?”
“Hya … itu tidak penting! Bukankah bagus jika dia bisa lepas darimu?”
“Kamu lupa kalau dia juga membawa banyak rahasia dari G Corporation?”
“Atau kamu saja yang memang tidak bisa melepaskannya!” cibir Tasya kesal menyilangkan tangan di depan perut.
“Rasanya aku tidak rela jika dia harus bersama pria lain! Awas saja kalau dia sampai berselingkuh di belakangku!” geram Gerry mengepalkan tangan.
Tasya mendengus tersenyum menurunkan kedua tangannya, “Jadi kamu tidak mau kalau dia berselingkuh … sementara kamu selalu tidur dengan wanita lain di luar sana?”
“Dia itu kekasih ku … wajah keduaku! Apa yang akan orang katakan jika ternyata wanitaku tidak setia?”
“Aku sudah sering menyarankan … singkirkan saja dia … kenapa masih banyak berpikir ulang?” Tasya merangkul kan sebelah tangannya sembari mendesal duduk manja di atas pangkuan Gerry.
“Tidak semudah itu!”
Dengan tatapan menggoda, Tasya menggerakkan jemarinya di atas bibir Gerry.
“Mudah saja jika kamu mau mengikuti caraku!”
__ADS_1
Gerry sedikit tidak nyaman karena ada pengasuh Cessa di dalam ruangan itu.
“Tidakkah kamu merasa malu?” Gerry berusaha mendorong pelan.
Tasya justru semakin mempererat pegangannya, sembari mendekap kan kedua tangannya ke tengkuk leher Gerry, “Kenapa harus malu?”
Perlahan kepala Tasya mendekat.
KREEEKKK!
“Kak!”
Pintu terbuka, membuat Gerry melonjak terkejut berusaha menyingkirkan Tasya dari pangkuannya.
Tasya yang masih tidak mau beranjak hanya memejamkan mata dengan hembusan nafas kekecewaan. Dia masih tetap menahan erat Gerry dalam jerat lengannya.
“Emb … maaf!” Tisya jadi salah tingkah sendiri.
“Biasakan ketuk pintu terlebih dahulu!” Tasya menoleh, masih duduk manja di atas pangkuan Gerry yang semakin tidak nyaman.
Tisya melihat ada Cessa dan pengasuhnya juga, “Lagian … ada orang lain juga … bisa-bisanya kalian masih bermesraan seperti itu!” gerutunya berjalan mendekat.
“Sepertinya kamu hendak menemui ku bukan karena ingin mengomentari ku kan? Kenapa tidak bicara langsung pada intinya saja?”
“Kakak masih marah ya?” cibir Tisya berdiri menundukkan kepala.
“Aku hanya masih sedikit kecewa padamu!” Tasya kembali menggerakkan jemarinya di wajah Gerry.
“Maaf!” Tisya masih tidak berani mendongak.
“Katakan saja tujuanmu? Masih ada yang harus aku lakukan setelah ini!”
“Pihak pak Hirza sudah menghubungi … katanya dia sudah menemui wanita itu. Kita di suruh menunggu di tempat yang sudah di tentukan. Katanya, wanita itu juga masih bimbang. Datang atau tidak … kita tetap harus menunggu!”
Tasya tersenyum kali ini, “Secepat itu?”
Tisya mendongak ikut tersenyum, “Bukankah pak Hirza memang tidak pernah mengingkari janjinya?”
“Tetap saja lebih baik tidak usah terlalu ikut campur dengan urusannya! Kita masih tidak tahu … apa kita di jebak lagi … atau dia memang serius membayar jasa yang sudah kamu berikan!”
“Kakak jangan khawatir … aku akan lebih berhati-hati menghadai dia mulai dari sekarang!”
“Bagus jika kamu sudah mau belajar dari kesalahan-kesalahan mu yang sebelumnya!”
“Aku tidak akan mengecewakan kakak lagi!” janji Tisya terdengar sungguh-sungguh.
“Ahh benar … pergilah ke tempat orang pesisir itu menginap … ajak dia untuk ikut!”
“Aku malas menemuinya!”
“Kamu baru saja berjanji tidak mau membuatku kecewa kan?”
Tisya menghempaskan nafas menundukkan kepala, “Kalau begitu aku akan mengajak Mr. X untuk ikut bersamaku!”
Tasya tersenyum mengangguk, “Gadis pintar!” Tasya kembali membelai wajah Gerry yang hanya bisa terdiam sedari tadi, “Bisa kamu pergi sekarang?”
Dengan sinis dia mencibir menatap Gerry penuh kekesalan, “Baik kak!”
“Mbak … ajak Cessa jalan-jalan bermain di taman luar!” perintah Tasya tanpa melihat ke arah pengasuhnya.
Wanita itu hanya terpaku fokus menatap mata Gerry dengan tatapan menggoda sembari menggigit bibir bawahnya sendiri.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...