RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
DALIH


__ADS_3


Vee tersenyum lega begitu mendapat pesan dari Leo.


“Bagaimana?” tanya Daniel ikut melihat ke layar handphone.


“Sudah beres!” tersenyum meletakan handphone ke meja, “Aku yakin jika Berli tidak bersalah!”


Menyipitkan mata, “Wanita itu yang jadi otak dari kasus sabotase truk pengiriman kita waktu itu kan?”


Mengangguk, “Sebenarnya dia hanya terlalu polos!” mengingat karakter Berli, “Dan itu membuatnya tampak lucu!”


“Hya! Kamu memuji dia seolah kamu menyukainya!” cibir Daniel memicingkan mata.


“Hya! Apa kamu juga akan cemburu pada wanita?”


“Cih! Aku tidak suka kamu terlalu mengagumi orang lain!”


Terkekeh geli, “Tapi dia wanita juga!”


Manyun, “Pokoknya aku tidak suka!”


Vee makin terkekeh gemas, “Ya ampun astaga!”


...***...


Berli berjalan berusaha mengimbangi Leo di area gedung parkir.



“Tugas saya selesai! Sebaiknya anda segera pulang!” ucap Leo cuek tanpa melihat ke arah Berli.


Tersenyum berbinar, “Aku sangat berterima kasih padamu!”


“Berterima kasih saja kepada Nyonya Gionio!”


Tersenyum berjalan mundur sembari menatap Leo, “Emb … boleh aku ikut pulang dengan mu?”


Leo langsung berhenti melangkah, menatap Berli datar.


Berli ikut berhenti.


“Aku tidak memelihara Barbie di rumahku!”


Berli tersipu memegang pipi dengan kedua telapak tangan, “Apa aku secantik Barbie?”


Leo mendengus kembali melangkah acuh.


“Hya!” Berli langsung mengejar, “Haiz … aku hanya bercanda!” tersenyum sipu kembali berjalan mundur, “Jujur saja! Aku tidak punya uang untuk ongkos pulang!”


“Itu bukan urusanku!” tegas Leo cuek.


“Hya!” Berli berhenti secara tiba-tiba di hadapan Leo.


Membuat Leo terpaksa ikut berhenti.


“Tadi pas aku mau minta ganti rugi uang, kenapa kamu malah melarang?” sentak Berli meninggikan nada.


Menghempaskan nafas, “Apakah mendapat berlian gratis masih tidak cukup?”


Berli memegang kalung berlian yang sempat dia inginkan.


Sebagai permintaan maaf dan upaya damai agar mereka tidak menuntut atas pencemaran nama baik, pihak toko bersedia memberikan berlian itu kepada Berliana secara gratis.


“Tapi akhirnya aku jadi nggak punya uang buat ongkos!” manyun membuang muka.


“Kalau begitu jual saja kalung itu!” melangkah ke samping dan kembali berjalan mengabaikan Berli.


“Shhh! Pria ini manusia atau patung bernyawa sih!” gumam Berli lirih.


Leo mengeluarkan kunci mobil dari saku jasnya.


“Hya!” Berli menahan lengan Leo, “Aku ikut ya!”


“Nggak!”


“Shhh! Kalau aku kenapa-napa di jalan bagaimana?”


Menyingkirkan tangan Berli, “Itu diluar tanggung jawab saya!”


“Hya … kira-kira, kedua teman busukku itu sudah ditangkap belum ya? Pasti mereka berpikir jika mereka sudah berhasil dengan tipuan itu! Biar saja! Aku tidak mau lagi berteman dengan mereka!”


Leo memejamkan mata memegang telinganya, “Shhh,” mengambil uang dari dompet.

__ADS_1


“Kamu tahu … dari dulu mereka yang bergantung padaku …-“


Leo memberikan selembar uang seratus ribu ke Berli, membuat Berli langsung berhenti bicara.


“Ini sudah sangat cukup untuk ongkos ke apartemen nyonya Gionio!” dengan dingin Leo berjalan menuju mobilnya.


Berli mencibir tersenyum melihat uang di tangannya.


“Baru kali ini merasa jika uang seratus ribu ternyata sangat banyak dan begitu berarti!” gumamnya.


Dia mendongak, melihat Leo dari belakang.


“Menarik!” tersenyum gemas.


...***...


Amel dan Ellen terkekeh puas di apartemen mereka.



“Dasar si bodoh itu! Dia gampang sekali di manfaatkan!” Amel memegangi kalung berlian curiannya.


“Hahaha! Kamu lihat tidak tadi? Mukanya itu loh! Cupu banget!” Ellen ikut melihat kalung yang di pegang temannya, “Kalau di jual di black market pun, sepertinya masih sangat mahal?”


Mengangguk, “Bagaimana? Aku cerdas dalam memilih kan?”


“The best pokonya!”


Ting Tong!


Bel pintu berbunyi.


Amel dan Ellen menyipitkan mata saling tatap satu sama lain.


“Siapa?” tanya Amel.


Mengangkat bahu, “Entah!”


“Cek gih!”


Ellen berdiri dan berjalan menuju pintu.


Dia melihat dari layar CCTV.


Amel ikut berdiri mendekat, “Hah?”


“Satpam apartemen tower kita!”


“Mau apa malam-malam gini?” tanya Amel.


“Mungkin ada hal penting, buka aja Mel!”


Amel mengangguk, langsung membuka pintu.


Betapa terkejutnya mereka, begitu pintu di buka, polisi yang tadi bersembunyi langsung muncul berdiri tepat di hadapan keduanya.


“Selamat malam! Kami kemari membawa surat penangkapan atas tindak pencurian berlian di Mall malam ini!” Polisi menegaskan.


“Apa? Ta … tapi … tapi kami tidak bersalah!” Amel salah tingkah menatap Ellen.


“Pak! Pelakunya teman kami! Kami tidak terlibat!” Ellen berusaha membela diri.


Menoleh melihat rekannya, “Geledah di dalam!”


“Baik pak!” sahut salah seorang polisi.


“Pak! Apa-apaan ini!” Amel meninggikan nada.


Polisi yang menerobos masuk langsung menemukan bukti di atas meja, “Lapor pak! Kami sudah menemukan buktinya!”


“Borgol keduanya!”


“Pak!” Amel dan Ellen berusaha mengelak, “Kami di jebak!”


“Kalian jelaskan di kantor saja nanti!”


“Tapi pak ….”


...***...


Vee dan Daniel sudah selesai berkemas.


Jam lima pagi sekarang.

__ADS_1



Daniel memeluk Vee seolah enggan untuk berpisah, “Kenapa tidak pulang sore saja sih?”


“Aku akan pulang sore, tapi kamu harus pulang sekarang juga!”


“Cihh, diusir! Pulang barengan aja ya? Agak sore nanti!”


“Tidak! Kamu harus ke kantor! Kasihan pak Didik!”


“Lalu kamu bagaimana?” menciumi bahu Vee.


“Aku akan mulai masuk besok, dan kamu harus langsung ke kantor setelah ini! Biar tidak menimbulkan kecurigaan,” mengangkat bahu sedikit risih, “Aku harus menemui paman Mail lagi!”


“Curang!” cibir Daniel manyun.


“Jangan manja deh!”


Terkekeh pelan, “Hehehe .. lalu kapan bisa seperti ini lagi?”


“Jika kamu bertanya tentang itu, aku juga tidak tahu jawabannya.”


Tersenyum, “Kalau begitu jangan dipikirkan! Selama hati kita masih ada cinta, kita akan selamanya bersatu!”


Mendengus, “Sungguh deh, kata-katamu itu seperti ABG saja!”


Berdiri di hadapan Vee sembari menggenggam tangannya, “Namanya juga sedang jatuh cinta!”


“Sudah pergi sana!”


Manyun mencibir, “Kenapa sih berusaha mengusirku terus?”


“Kalau matahari sudah terlihat, nanti macet!”


Menghela nafas, “Ya sudah deh … cium dulu!” rengek Daniel manja.


Vee tersenyum melingkarkan kedua tangan ke belakang leher Daniel, menariknya mendekat.


...***...



Dania membantu menyiapkan sarapan.


Kek Gio dan Yazza sudah di meja makan.


“Di mana Yve?” tanya kek Gio.


“Nona Yve masih bersiap tuan!” jawab Dania.


“Ah, coba lihat! Kalau sudah selesai suruh segera turun untuk sarapan!”


Mengangguk, “Baik tuan!”


“Tunggu!” Yazza menyela.


Dania berhenti melangkah tersenyum menatapnya, “Ya pak Yazza?”


“Apa Yve masuk ke kamarku semalam?”


Dania terkejut salah tingkah.


“Memangnya ada apa?” tanya kek Gio.


“Ada bau parfum Vee saat aku masuk ke kamar!”


“Ah, itu … emb … nona Yve merindukan ibunya! Dia bilang, dengan mencium aroma parfum ibu Vee, Yve bisa sedikit tenang!”


Yazza berdiri kesal, “Dasar anak itu! Tidak di didik sopan santun atau bagaimana! Sembarangan masuk ke kamar orang!” hendak melangkah.


“Yazza!” panggil kek Gio, “Mau ke mana?”


“Memberinya pelajaran!” Yazza geram.


Dania tampak gusar menunduk salah tingkah.


Gawat!


Bagaimana jika aku ketahuan!


Yve pasti tidak akan mengakui sesuatu yang tidak pernah dia lakukan!


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2