
Melihat Hans yang terlihat panik, Xean justru tersenyum mengejek.
“Sepetinya akan mendapat ceramah yang panjangnya sepuluh kali lipat dari ini,” godanya cengengesan.
Menggaruk kepala yang tidak gatal, “Hari ini aku ada ulangan … tidak bisa bolos," dalihnya berusaha menghindar.
“Hya … bahkan kamu bolos di saat UAS!” Hirza bertolak pinggang.
“Hya … papa kenapa pilih kasih sih? Mas Hans boleh bolos, kenapa aku tidak boleh?” protes Xean menatap Hirza.
“Heh … sebentar lagi kamu akan masuk SMP! Belajar yang benar biar bisa tamat SD!”
“Mas Hans juga lulus SMA tahun ini ‘kan? Papa tidak adil!” cibir Xean membuang muka.
“Heh … bocah! Turuti saja perintah orang tua!” Hans memukul pelan kepala Xean.
Xean tidak berani membantah dan hanya berdecak kesal menyilangkan tangan di perut.
“Kamu juga! Turuti saja perintahku!” Hirza menyahut.
Tersenyum meringis, “Tapi … apa aku akan baik-baik saja nanti?”
“Woah, tapi ... jika disuruh bolos untuk menemui paman Rudi sih … aku juga lebih mending masuk sekolah meskipun ada ulangan Matematika!” goda Xean, sengaja membuat Hans semakin gusar.
Menutup mulut Xean, “Haiz … anak ini menambah panik saja!”
“Jangan khawatir! Mas Rudi tidak akan berani menghukum kamu … dia tahu jika kamu adalah orang yang paling aku percaya,” jawab Hirza mengabaikan polah tingkah Hans dan putranya.
“Kalau mas bro berkata begitu … baiklah, aku akan ke sana setelah mengantar anak ini,” melepaskan tangan dari mulut Xean.
Xean langsung mengusap, mendongak menatap Hans, “Siapkan mental!” ejeknya lagi.
Hans melirik protes, “Hya … mas bro! Boleh tidak aku menurunkan anak ini di pinggir jalan saja?”
Tersenyum geli, “Xean benar … siapkan saja mentalmu!” Hirza membuka pintu mobilnya.
“Hya … tadi mas menguatkan aku! Kenapa sekarang malah ikut-ikutan menjatuhkan mentalku sih?” cibir Hans menyilangkan tangan.
“Makanya jangan bandel! Sok-sokan ikut tawuran!” cibir Xean.
Yang Xean tahu, pamannya akan marah karena Hans ikut tawuran beberapa hari lalu.
“Itu namanya darah muda!” Hans balas mencibir membuang muka.
“Jangan jadi contoh buruk, “ tegur Hirza datar.
“Hya jangan di contoh!” Hans menatap Xean, menegaskan.
Mengangkat bahu, “Siapa juga yang mau mencontoh! Aku sih males banget jika harus berhadapan dengan paman Rudi juga!”
Hirza menghempaskan nafas, tersenyum masuk ke dalam mobil.
“Mas … aku harus menjawab apa nanti?” tanya Hans masih ragu-ragu.
Hirza yang sudah masuk ke dalam mobil menatap santai dari dalam melalui jendela mobil yang diturunkan.
__ADS_1
“Aku percaya kamu bisa menghadapi mas Rudi,” tersenyum datar.
Dari situlah Hans tahu jika Hirza sedang berisyarat padanya untuk melakukan apapun yang dia mau guna menyelamatkan dirinya sendiri dari mas Rudi.
Apapun yang akan Hans katakan nantinya, Hirza sangat percaya jika Hans tidaklah bodoh.
Hans pasti sudah memiliki alibi.
"Mas, aku tahu ke mana aku akan membawa masalah ini. Masalahnya, bisa jadi menciptakan drama yang sedikit panjang," Hans menatap lekat kakak angkatnya, "Mas yakin sudah siap melibatkan nona itu?"
Hirza melihat ke arah putranya.
Xean yang tadinya ikut mendengarkan langsung membuang muka salah tingkah.
Hirza menghela nafas panjang lalu menghempaskan perlahan, "Bagaimanapun juga, aku juga sudah melakukan kesalahan ... jika benang merahnya mengarahkan ke sana ... tidak ada pilihan lain!"
Hans mengepalkan tangan melihat kesedihan kakak angkatnya.
"Mas tidak usah khawatir! Aku akan membuat mas Rudi percaya jika keterkaitan kita dengan Teratai Putih hanya untuk memanfaatkan mereka!"
"Yeah, memang hanya itu satu-satunya cara agar aku tetap bisa lebih dekat juga dengan dia!"
"Terima kasih karena mas selalu mendukung dan mempercayaiku," tersenyum berusaha menghibur.
Hirza ikut tersenyum, "Kalian berdua adalah harta yang tak ternilai dalam hidupku ... bagaimana mungkin aku lepas tangan begitu saja?"
Menatap lekat ke arah Hans.
"Meskipun aku memberimu kebebasan, bukan berarti aku tidak peduli ... aku sudah sepenuhnya percaya padamu!" tandas Hirza melanjutkan.
Mendengar kata-kata itu, Hans menjadi semakin percaya diri untuk menghadapi mas Rudi.
“Cih!” cibir Xean membuang muka.
Hans tersenyum menganggukkan kepala, “Cie sekolah baru,” mengacak-acak rambut Xean.
“Mas Hans … aku sudah bukan anak kecil lagi!” Xean menghentakkan tangan Hans, manyun kesal.
...***...
Daniel turun dari lantai atas, dia sudah berpakaian sangat rapi.
“Mau ke kantor hari ini?” mamanya menyambut.
“Kasihan pak Didik harus mengurus segala sesuatu sendirian dua hari terakhir,” duduk di kursi samping meja makan.
“Papa masih kurang sehat … maaf papa juga tidak bisa membantu pekerjaan kalian!”
Daniel tersenyum, “Lagipula memang sudah saatnya papa beristirahat saja di rumah. Biarkan Daniel yang sekarang bekerja keras untuk kalian,” mengambil makanan.
Bu Risma menyipitkan mata, “Mood kamu terlihat bagus hari ini?”
Tersenyum sipu, “Daniel sudah bertemu Vee kemarin! Dia bilang tetap akan bekerja di White Purple!”
Pak Fauzan tampak menghela nafas panjang.
__ADS_1
Bu Risma menyenggol lengan suaminya.
Berisyarat agar tidak memperburuk mood putranya lagi.
Tapi sepertinya Daniel cukup paham dengan yang kedua orang tuanya maksud.
“Kalian pasti khawatir tentang pak Yazza ya?” Daniel sedikit muram.
“Bagaimanapun juga, Vee akan menikah dengan beliau! Papa cuma khawatir padamu,” pak Fauzan menatap Daniel sedih.
Tersenyum, “Asalkan masih tetap bisa melihat senyum Vee … Daniel sudah merasa cukup kok!”
Hati bu Risma seakan teriris mendengarnya, kenapa nasib putranya begitu menyedihkan seperti ini.
“Jika kalian terlalu dekat, pak Yazza akan curiga juga! Orang-orang pasti akan mulai menggosipkan tentangmu lagi,” pak Fauzan tidak lagi menatap putranya sekarang.
“Daniel tidak peduli apa kata orang … mereka hanya tidak tahu penderitaan yang Vee pendam! Daniel tidak akan tinggal diam dan membiarkan Vee menghadapi masalah ini sendirian!”
Bu Risma tampak mengepalkan tangan, menunduk dengan genangan air mata.
“Lalu … apakah kamu akan selamanya seperti ini? Papa dan mama sudah kepingin sekali melihat kamu menikah dan mempunyai keturunan,” suara pak Fauzan menjadi semakin pilu sekarang.
Daniel menunduk, “Daniel tidak tahu!”
“Daniel sayang … jangan jadi perusak rumah tangga orang!” hanya itu yang keluar dari mulut mamanya.
Bu Risma berdiri, membalikan badan.
Menyeka air mata.
“Mama cuci piring dulu,” pamitnya tanpa kembali menoleh ke belakang.
Dia hanya berusaha menghindar karena tidak kuasa melihat kepedihan putranya.
Daniel menunduk sedih.
Pak Fauzan tersenyum menyentuh lengan Daniel, berusaha menguatkannya.
“Papa tidak akan melarang kamu dekat dengan Vee. Kamu sudah cukup dewasa untuk bisa berpikir, mana yang benar dan mana yang salah,” mengelus penuh kasih sayang lengan Daniel.
Daniel tersenyum balas mengelus lengan papanya, “Maafkan Daniel!”
Pak Fauzan mendongak, berusaha menahan air mata agar tidak jatuh menuruni pipi.
...***...
Vee tampak asal-asalan memilih kartu undangan pernikahan.
Yazza membawa infus yang digantung ke penyangga, duduk di sofa tepat di samping Vee.
“Hya … pilih yang benar! Kamu akan menikah dengan Yazza Gionio, kenapa pilihanmu buruk semua!”
“Kalau begitu kamu saja yang pilih! Lagipula aku tidak punya teman … semua undangan pasti juga untuk kolega-kolegamu ‘kan!” cibir Vee membanting sample ke meja.
Pria dan wanita dari pihak Wedding Organizer tampak saling tatap, meringis salah tingkah.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...