
PHMC.
Paradise Hospital & Medical Center.
Pak Ardi masuk ke ruang rawat tuannya.
Yazza yang sedari tadi memang sudah menunggu langsung menoleh ke arah pintu.
Celingukan melihat ke belakang pak Ardi, “Di mana Vee?” tanyanya tanpa basa-basi.
Pak Adri cukup takut untuk menjawab, “Umb … nyonya Vee ingin mengobrol dahulu dengan teman lamanya!”
Menutup pintu dengan sebelah tangan.
“Apa … apakah pak Hirza yang anda maksud?” mendengus kesal semakin gusar.
Mengangguk, “Sepertinya mereka memang pernah bersahabat dengan baik sebelumnya!”
Melihat ke sekeliling, “Bahkan kita berada di rumah sakit miliknya!” mencibir pada dirinya sendiri.
“Pak Hirza sudah membantu kita hari ini, seharusnya kita juga mengucapkan terimakasih secara resmi kepada beliau,” pak Ardi menyarankan.
“Maksud pak Ardi, aku harus menemuinya?”
Mengangguk, “Kita harus menunjukan rasa hormat kepada beliau.”
“Cih … kenapa juga mau menerima bantuan dari pria itu!” membuang muka.
“Pak Gerry sangat terpukul dan kecewa pada hasil akhir lelang hari ini,” tersenyum mencibir mengingat wajah Gerry.
“Jika aku di sana, aku pasti sudah akan puas menertawakan kekalahannya!”
“Bahkan dia tidak menyadari jika dia berani menaikan harga melawan Paradise. Kurasa G Corporation akan berada dalam masalah,” duduk di kursi dekat ranjang Yazza.
Tersenyum sinis, “Justru aku khawatir jika Vee hanya dimanfaatkan untuk alasan itu!”
Menyipitkan mata, “Maksud tuan?”
“Paradise memang punya rencana ingin menjatuhkan G Corporation … bukankah dengan alasan ini, secara tidak langsung Paradise telah memancing agar semua pengusaha tahu jika G Corporation sudah mendeclare war terlebih dahulu kepada mereka?”
“Shhh … tapi tuan … bukankah Paradise tidak suka mencampuri urusan luar? Kenapa tiba-tiba mereka ingin menjatuhkan G Corporation?” tanya pak Ardi.
“Baru-baru ini, Nirwana menyinggung pak Rudi. Ganny membatalkan kontrak bisnis dengan Sky Light, tentu itu membuat kerugian yang sangat besar. Meskipun Sky Light tidak begitu mempermasalahkan, tapi pak Hirza sepertinya masih tidak terima dan menyimpan bara di hatinya!”
“Tunggu … saya tidak mengerti … apa hubungannya dengan G Corporation dan Paradise?”
Kembali tersenyum sinis, “Bukankah kita baru saja membicarakan tentang pak Hirza pagi ini … dia itu tidak bisa ditebak dengan mudah!”
“Itu benar!” tapi pak Ardi masih terlihat cukup penasaran.
“Pak Rudi adalah kakak kandung pak Hirza, dan Sky Light adalah anak perusahaan Paradise. Jika Nirwana menyinggung Sky Light, Paradise ingin menunjukan cara yang sama, yaitu menggunakan G Corporation yang berada di bawah Nirwana dengan membuat masalah dengan mereka … pembalasan tidak terduga dari surga!”
“Semacam penghakiman! Ckkk … ckkk … ckkk,” pak Ardi menggeleng berdecak kagum, “tidak disangka, seorang yang bahkan terlihat seperti budha … ketika membuat pembalasan, ternyata sangat mengerikan!”
“Yeah … itulah kenapa semua pengusaha takut kepada ‘Hukum Karma Dari Surga’ … tidak paham apa yang sebenarnya dia pikirkan, Nirwana bisa saja tidak peduli dengan G Corporation, tapi pak Hirza masih saja memilih cara ini untuk menyinggung Nirwana.”
Pak Ardi menghela nafas panjang, “Dunia bisnis bisa saja jauh lebih mengerikan dari semua ini!”
“Yeah … perang dingin selalu terjadi meski tidak diperlihatkan secara terang-terangan,” cibir Yazza, “bukankah kita juga sudah kebal dengan segala teror dan ancaman dari orang-orang yang ingin menjatuhkan kita?”
Mendengar tentang teror dan ancaman, pak Adri jadi teringat sesuatu.
Seketika wajahnya berubah gelisah.
“Tuan Yazza … ada hal yang harus saya beritahu!”
Menyipitkan mata, “Sepertinya hal yang tidak baik?” tebak Yazza begitu melihat ekspresi pak Ardi.
__ADS_1
Mengangguk, “Tisya sudah kembali ke sini … dia bahkan datang dalam acara lelang untuk mewakili Nirwana!”
“Apa?” terkejut mengerutkan kening.
“Dia terus mengawasi gerak-gerik nyonya Vee sepanjang acara!”
Mengepalkan tangan geram, “Aku semakin mengkhawatirkan Vee sekarang!”
“Tapi dilihat dari karakter nyonya Vee, sepertinya Tisya tidak akan mampu mempersulitnya.”
Menghela nafas panjang, “Berli dan Tisya sudah tidak akur sejak SMA. Berli sudah sangat hafal dengan teror yang Tisya berikan, sementara Vee … dia baru saja masuk ke dalam kehidupanku! Takutnya … dia tidak terbiasa dengan semua ini!”
“Saya lihat, Tisya jauh berbeda dari sebelumnya. Dia lebih tenang, sangat mirip seperti Tasya!”
“Justru itu yang lebih berbahaya!”
Yazza tampak memikirkan sesuatu.
Seperti kata pepatah, air tenang menghanyutkan.
Dia terdiam, melihat ke arah vas bunga dengan bunga lily putih yang masih segar di sana.
...***...
Seseorang menggeser vas bunga untuk membersihkan meja yang penuh piring dan gelas.
Orang yang sebelumnya duduk di sana baru saja meninggalkan cafe.
Daniel masih terdiam tidak berani mengatakan sepatah katapun bahkan tidak berani menatap ke arah Vee di hadapannya.
Pelayan selesai membereskan meja tepat di samping keduanya.
Daniel menghempaskan nafas panjang, melihat ke arah bunga di dalam vas.
“Hya … jangan seperti ini!” sentak Vee.
“Jadi … apakah kamu akan resign setelah ini?”
Dari sekian banyak daftar pertanyaan yang ingin Daniel bicarakan, kenapa justru hal ini yang keluar dari mulutnya untuk pertama kali.
Vee menghempaskan nafas panjang, “Tidak! Saya tidak akan meninggalkan White Purple!”
Menatap Vee, “Sungguh?”
“Apakah saya masih boleh bekerja di White Purple?” Vee balik bertanya.
“Tentu saja!” sahut Daniel cepat.
Tersenyum mendengus, “Jadi menyuruh aku datang hanya untuk bertanya aku masih akan bekerja atau tidak?” mencibir, “Wah … sepertinya pak Daniel begitu khawatir jika harus mencari sekertaris baru lagi ya?” goda Vee sengaja ingin mencairkan suasana.
“Bukan begitu!” Daniel manyun menatap Vee.
“Lalu?”
“Hya! Kenapa kamu mengkhianati perasaanku dan tiba-tiba ada kabar akan menikah dengan orang lain!” meninggikan nada.
Vee mendengus tersenyum menyilangkan tangan di perut, “Mengkhianati?”
Sedikit salah tingkah, “Ya … itu maksudku ... emm … pokonya kamu menyakiti perasaanku!” mendengus membuang muka.
“Cih!” cibir Vee menahan senyum.
“Apa?” Daniel melotot, “Hya … ini kedua kalinya aku merasa di dahului oleh orang yang sama!” cibir Daniel.
Vee semakin gemas menahan tawa.
__ADS_1
“Bisa tidak … kali ini tidak usah memilih untuk menikah dengannya?” sedikit ragu ketika mengucapkannya.
Menggeleng, “Saya tidak punya pilihan!” jawab Vee terus terang.
“Hy … tidak punya pilihan artinya kamu terpaksa! Benar ‘kan?” desak Daniel.
“Jadi pak Didik tidak mengatakan apa-apa padamu?” menyipitkan mata.
“Apa memangnya yang harus dia katakan?” justru Daniel malah balik bertanya.
Itu artinya, pak Didik masih menjaga rahasia dan belum memberitahukan tentang perasaan Vee yang sebenarnya terhadap Daniel.
Tersenyum, “Tidak penting … lupakan!”
“Hya … kamu hanya sedang mengalihkan pembicaraan saja kan?”
“Memangnya apa yang harus dibicarakan?” cengengesan.
“Vee … apa tidak ada cara lain selain menikah dengan pak Yazza?”
Menunduk sedih, “Ini kemauan Yve!”
“Kenapa tidak memberitahukan ini kepadaku sebelumnya?”
“Saya sudah sempat beberapa kali berniat memberitahukannya. Tapi saya sendiri bingung, bagaimana cara saya untuk memberitahukan kepada pak Daniel!”
Menarik tangan Vee.
Menggenggamnya.
“Kenapa kamu tidak berterus terang kepadaku sejak awal. Seharusnya kamu bilang saja, jika tidak ingin menemui pak Yazza karena alasan masa lalu! Aku masih merasa sangat bersalah sampai saat ini!”
“Kenapa pak Daniel harus merasa bersalah … yang terjadi memang seharusnya terjadi. Cepat atau lambat, Yve tetap akan mempertanyakan tentang siapa ayah kandungnya.”
“Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu sungguh ingin menikah dengannya?”
“Sudah aku bilang … aku tidak punya pilihan!”
“Vee … jangan memaksakan diri!” mengelus tangan Vee.
“Pak Daniel, jika Yve sudah tidak menginginkan Yazza … saya pasti juga bisa pergi tanpa harus memikirkan perasaan Yve!”
Menunduk sedih, “Bagaimana ini!”
Menarik lengannya, “Hya … kenapa malah anda yang bersedih!”
“Aku takut sekali jika harus kehilanganmu lagi!”
“Cih … aku akan menikah! Masih saja berani berkata seperti itu!”
“Aku tidak peduli! Bahkan kamu sendiri terpaksa dengan pernikahan ini!”
Menyipitkan mata, “Pak Daniel … anda tahu apa yang anda katakan ini bisa saja menjadikan anda sebagai orang jahat?”
“Bahkan jika memang harus menjadi orang jahat … aku tidak keberatan! Tapi Vee … aku mohon! Jangan menghindari aku lagi setelah ini!” Daniel memohon dengan sungguh-sungguh.
Deg!
Vee terdiam menatap Daniel.
Hatinya terasa sakit dan pedih mendengar perkataan itu.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1