
Berli tampak gelisah berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya.
Handphone masih dia pegang, berkali-kali dia menatap layar dengan pertimbangan juga keraguan.
Kenapa aku tidak bisa tidur setelah melihat sikap Leo kemarin!
Gumamnya dalam hati.
Bukankah aneh jika aku tiba-tiba menuntut dan meminta penjelasan padanya?
Berli kembali melihat layar, menyalakan dan kembali mengunci layar.
Ahh … nggak!
Kenapa aku harus terus kepikiran!
Dia juga sudah bertunangan!
Wanita yang ada di Rumah Sakit waktu itu benar!
Jika sampai tunangan Leo tahu kalau ada pesan masuk dari wanita lain, terutama membahas hal pribadi … bukankah akan menimbulkan masalah?
Atau aku tanya pada Vee saja?
Berli cukup ragu memikirkannya.
Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat!
Kek Gio meninggal dan putrinya di rawat karena kecelakaan … dia pasti sedang tidak baik-baik saja!
Pintu terbuka, Gerry menyipitkan mata melihat kegelisahan yang Berli tunjukkan.
“Kamu kenapa?” tanyanya sembari menutup pintu kembali.
Salah tingkah Berli menaruh handphonenya di meja, “Ahh … emb … tidak!”
Melihat ke arah handphone Berli, “Apa ada masalah?”
“Tidak kok!” tersenyum menatap Gerry, “Kamu sudah kembali? Apa ada pekerjaan untukku?” tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Ahh … aku harus pergi lagi setelah ini!” berjalan mendekat.
“Harus menginap di luar kota dan tidak pulang lagi?”
Menggeleng sembari melingkarkan tangannya ke pinggang Berli, “Aku harus melaporkan hasil perjalanan bisnisku kemarin ke kantor Nirwana!” Dia memutar badan, setengah duduk di ujung meja kerja.
Berli yang harus mengikuti memutar badan kini berdiri di hadapan kekasihnya yang masih menahan pinggangnya.
“Emb … kamu pasti lelah! Mau aku buatkan kopi?” dengan gerakan halus, Berli mencoba menarik diri.
Gerry menarik pinggang Berli membuat wanita itu semakin dekat dalam dekapannya, “Yang aku butuhkan hanya suntikan semangat darimu!” sebelah tangannya mulai turun, menyusuri paha Berli, menyusup ke dalam rok pendek yang wanita itu kenakan.
“Emb … ini di kantor!” Berli menyingkirkan tangan Gerry, lalu menarik diri mundur ke belakang.
Gerry tampak mengernyit menatap Berli yang terlihat berbeda dari sebelum-sebelumnya.
Melihat perubahan wajah Gerry, membuat Berli harus berpikir untuk menghindar dari sana secepatnya.
Wanita itu meringis memegang perutnya, “Aduh … sepertinya aku terlalu banyak makan-makanan pedas! Aku ke toilet dulu!” pamitnya sembari meraih handphone lalu bergegas membalikan badan berjalan menuju toilet.
Gerry menatap sinis melihat kepergian kekasihnya.
Akhir-akhir ini dia sering sekali menolak kemauanku!
Apa benar sudah ada yang lain di hatinya?
Tangan Gerry mengepal dengan rahang mengeras, menatap tajam punggung Berli dari posisinya yang masih duduk di ujung meja.
...***...
__ADS_1
Tisya masih saja merasa tidak tenang menunggu kedatangan Daniel kembali ke ruangan itu.
Begitu pula Vee.
Meski dia gelisah, tapi dia tidak ingin menunjukan perasaan itu di hadapan semua orang.
Dengan tenang dia duduk di sebelah Yve sambil mengupas buah.
Handphone Tisya berbunyi.
Seseorang meneleponnya.
Begitu melihat ke layar, dia merasa enggan dan malas untuk menjawabnya.
Terlebih dia di tempat yang tidak tepat untuk menjawab panggilan tersebut.
Vee menoleh ke arah Tisya dan hanya menyipitkan mata.
Handphone Vee juga berbunyi, membuatnya melonjak kaget.
“Yazza?” desisnya.
“Aku menunggu di parkiran,” ucap Yazza tanpa basa-basi begitu Vee menerima panggilannya.
Melihat Vee dan madam Lia, “Ahh … oke!”
Telepon langsung ditutup.
“Apa yang terjadi?” tanya Tisya penasaran.
Vee berdiri menenteng tas, “Sepertinya saya harus pergi sekarang.”
“Ma … lem tikus baik-baik saja?” tanya Yve khawatir.
Vee tersenyum menatap putrinya, “Mama dan papa pergi dulu ya sayang,” dengan sengaja dia tidak menjawab pertanyaan putrinya.
Karena tidak mau menerka-nerka dan membuat semua orang gelisah, dia lebih baik menghindar saat ini.
“Mama!”
Madam Lia mengelus lengan Yve, “Mamanya Yve kan harus buru-buru memeriksakan dedek bayi di dalam perutnya … Yve senang kan kalau mau punya adik?”
Mengangguk meski masih memanyunkan bibir melihat mamanya yang acuh berjalan menuju pintu keluar.
Vee berpapasan dengan Daniel di depan pintu.
Keduanya saling diam menatap satu sama lain.
Daniel tidak terluka meski wajahnya terlihat suram.
Itu sudah membuat Vee cukup lega.
Sudut bibir Daniel terlihat kelu, dia hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang bisa keluar.
Melihat Daniel menggenggam gelang yang dulu sempat dia berikan padanya, membuat Vee tercekat kesulitan bernafas sembari membelalakkan mata menatap lekat ke arah Daniel.
“Bagaimana bisa ada padamu?” desisnya lirih dengan nada penuh kepanikan.
Vee ingat dengan jelas, dia sudah membuangnya.
Atau jangan-jangan Yazza yang menemukannya?
Vee menggelengkan kepala, berdebat pada dirinya sendiri.
Tidak!
Bagaiman Yazza bisa tahu jika gelang itu gelang pemberian Daniel?
Sebenarnya apa yang sudah mereka bicarakan?
__ADS_1
Gawat!
Aku harus segera menemuinya!
Vee berbalik dan segera berlari meninggalkan Daniel.
“Vee!” panggil Daniel masih berdiri terpaku di tempat yang sama. Rasanya berat dan sulit untuk melangkahkan kaki.
Wanita yang dia panggil tidak lagi menyahut atau bahkan memperdulikannya.
Hati dan perasaan Daniel masih begitu kacau sejak pembicaraannya dengan Yazza berakhir.
Mendengar suara Daniel di depan pintu, membuat Tisya maupun Yve tersenyum lega.
Tisya segera menuju ke arah pintu untuk memastikan jika di luar sana itu memang suara kekasihnya.
Sampai langkah Tisya harus terhenti saat handphonenya kembali berdering.
Daniel masuk ke dalam ruangan dengan langkah gontai tepat saat Tisya melihat muram ke arah layar handphonenya.
“Kenapa tidak dijawab?” tanya Daniel menyipitkan mata.
Tisya kebingungan.
Dia melirik melihat madam Lia yang tampak memperhatikannya.
Kenapa sih orang ini terus saja mengusikku!
Mana sekarang sedang berada di sarang musuh pula!
“Jika itu penting, kamu bisa mengangkatnya saja terlebih dahulu!” Daniel menyarankan.
Panggilan di akhiri, dan notifikasi pesan masuk langsung berbunyi.
Tisya segera membuka pesan dari Hans.
^^^‘Bawa Daniel untuk menemui mas Hirza sekarang juga!’^^^
Tisya melihat ke arah Daniel yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.
“Apa ada hal yang harus kamu urus?” tanya Daniel datar.
Tidak biasanya Daniel seperti ini.
Dia seseorang yang begitu periang!
Yazza juga langsung mengajak wanita itu pergi.
Sepertinya memang terjadi sesuatu yang tidak bagus saat mereka berbicara!
Meski aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, sepertinya aku cukup memahami situasinya saat ini.
Bisa saja Yazza sudah mengintimidasinya!
Tisya kembali melihat ke layar handphonenya.
Mungkin mereka ingin menepati janji untuk menyelamatkan Daniel dari bahaya!
Tisya melihat ke arah Caesar.
Akan aku suruh seseorang untuk menjemputnya!
Aku tidak punya pilihan lain selain menuruti permainan bocah SMA ini!
Terlebih demi keselamatan Daniel!
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1