RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PERI DARI PESISIR


__ADS_3

Malam terjadinya kecelakaan kapal berpuluh-puluh tahun sebelumnya.



Yazza baru berusia 11 tahun waktu itu.


Awalnya semua terlihat normal, sampai tiba-tiba ada badai datang membuat air laut menjadi tidak stabil.


Angin kencang mulai berhembus dan ombak membuat kapal menjadi terombang-ambing tidak karuan.


Yazza dan kedua orang tuanya tengah menikmati pemandangan langit malam berbintang di tengah lautan.


Mengetahui keributan yang terjadi, tentu membuat mereka menjadi takut.


"Mama, apa yang terjadi?" Yazza memeluk erat ibunya.


Mendekap erat putranya, "Sepertinya badai yang tidak terduga!"


"Kita masuk kedalam saja!" ajak Ayahnya.


Satu langkah mereka hendak menuju ke dalam, justru suara histeris kepanikan semakin menjadi-jadi saat orang-orang berbondong naik ke dek atas.


"Kapalnya akan tenggelam!" pekik seseorang begitu ketakutan.


"Aaaa …."


"Apa yang terjadi?" tanya ibu Yazza pada salah seorang.


"Di lantai bawah air menggenang sampai semata kaki!" jawabnya.


"Cari sekoci! Selamatkan diri kita!" salah seorang berlari ke pinggir kapal.


Cuaca menjadi semakin buruk, pihak kru kapal mulai kewalahan menenangkan para penumpang.


Mereka kesulitan untuk menghubungi bantuan. Signal alat komunikasi mereka terputus.


"Lihat itu sekoci!" teriak seseorang.


Tanpa disadari, teriakannya itu membuat semua orang berlari ke arahnya.


Kapal menjadi semakin tidak stabil dan miring ke arah kiri.


"Pa … lihat itu!" Yazza ketakutan melihat air yang menggulung tinggi di belakang mereka.


Ibu Yazza meneteskan air mata, mendekap putranya makin erat.


Suaminya tampak pasrah dengan keadaan.


Dia mendekap kedua orang yang dia sayangi. Memunggungi ombak yang semakin mendekat.


Ombak menerjang dari arah kanan langsung menghantam kapal.


Kapal yang sudah miring, akhirnya menjadi terbalik.


Teriakan histeris terdengar di mana-mana.


Ketika sadar, Yazza sudah melihat semua orang terombang-ambing di tengah dinginnya air laut.


Kapal perlahan mulai tenggelam.


Yazza begitu ketakutan, panik berpegangan pada sebuah balok kayu yang mengambang.


"Ma … pa!" dia berteriak memanggil ayah dan ibunya, tapi suaranya kalah dan hanyut oleh suara-suara kepanikan orang-orang lainnya.


Rasanya, itu akan menjadi saat-saat terakhir baginya.


Berjam-jam dia terombang-ambing dalam dinginnya lautan.


Bahkan dia merasa, mati sepertinya lebih baik ketimbang harus merasakan kesakitan itu.


Seluruh syaraf sudah mati rasa, tulang rasanya remuk.


Kebas dan sesak.


Yazza melihat kapal mendekat.



Orang-orang dari kapal itu mulai terjun ke lautan untuk menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan.


Di antara pria-pria dewasa itu, ada satu gadis kecil yang ikut terjun ke lautan.


Yang Yazza lihat, gadis itu terbang dengan sayap lalu membawanya ke daratan.

__ADS_1


Yazza sempat tidak sadarkan diri.


Vee berusaha menekan-nekan dada Yazza dan memberinya nafas buatan, sampai Yazza kembali membuka mata menggigil kedinginan.


"Dia masih hidup!" pekik Vee lega menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya ke telapak tangan Yazza.


Di tengah kekacauan dan kepanikan yang terjadi.


Vee membuat Yazza tenang dan merasa terselamatkan.


Yazza melihat dengan jelas, tatapan mata Vee yang terus menggosokkan tangannya, sambil sesekali meniup.


Gelombang ombak kembali menerjang.



"Awas berpegangan!" teriak salah seorang pelaut.


Vee membelalakkan mata terkejut, menoleh ke belakang.


"Tidak … ayah!" Vee bergegas berlari ke pembatas kapal.


Paman Mail dengan sigap menahan tubuh kecil Vee yang terus berontak hendak melompat dan histeris memanggil ayahnya.


"Ayah ...."


Pekik Vee menderu lemas melihat ke arah lautan.


Peri kecil yang Yazza lihat, tiba-tiba menghilang.


Kesan terakhir yang terekam jelas dalam ingatan Yazza adalah, tatapan mata gadis yang tampak penuh amarah.


Kesedihan, ketakutan dan kekecewaan juga bercampur di sana.


Dan tatapan Vee itulah yang terus membekas setiap kali dia hendak memejamkan mata.


Tatapan yang sulit di artikan dan tidak mudah ditebak.


Yazza yang merupakan satu dari banyaknya korban selamat, sempat di wawancara oleh media berita.


Dengan polos dia menceritakan tentang peri kecil yang menyelamatkan hidupnya.


Memang setelah kejadian itu, para pelaut yang menjadi korban maupun yang masih selamat, termasuk Vee, telah mendapatkan penghargaan dari pemerintahan.


Dan sejak berita wawancara Yazza di terbitkan, orang-orang mulai ikut memanggil Vee dengan sebutan 'Peri'.



Yazza menceritakan kisah itu kepada Yve.


Gadis kecil itu tampak berbinar bangga melihat ke arah mamanya.


“Wah … sungguh kebetulan yang luar biasa!” dia sangat antusias begitu mendengar cerita singkat papanya, “Jadi, mama dan papa sudah dipertemukan sejak lama?”


“Bisa dikatakan begitu!” Yazza tersenyum, “Em … tapi siapa itu kakek Mail? Ayah dari mamamu kan sudah gugur sebagai pahlawan?”


“Mantan pelaut! Satu-satunya orang yang sering mama telepon kecuali orang kantor!” melihat ke arah mamanya, “Mungkin itu kakek Mail yang menelepon ...,” tapi Yve tampak menyipitkan mata, “sepertinya bukan! Mama bilang, handphone kakek Mail rusak karena terjatuh ke air beberapa waktu yang lalu!“


Yazza terdiam.


Dia langsung bisa menebak, pasti Daniel yang berbicara dengan Vee saat ini.


Membuatnya merasa semakin tidak tenang.


Sepertinya dia harus segera mencari cara agar Vee setuju menikahinya.


Dengan begitu, tidak akan ada laki-laki lain yang bisa mendekati Vee lagi.


Bagaimanapun juga. Kamu harus menjadi milikku!


Yazza menatap lekat ke arah Vee.


 


...***...


 



“Ke pesisir?” pak Ardi menyipitkan mata menanggapi permintaan Yazza, “Kenapa tiba-tiba anda ingin ke pesisir?”


“Ada satu orang yang dia anggap seperti keluarga di sana. Mungkin, jika aku bisa baik pada orang itu … aku akan menarik perhatian Vee!”

__ADS_1


“Ah, saya paham. Jadi, anda akan membuat nona Vee terkesan karena anda juga bisa menerima orang-orang terdekat nona Vee?”


“Ya! Yve memanggilnya kek Mail. Cari tahu tentang dia! Setelah kembali dari sini, kita bisa langsung menemuinya.”


“Baik tuan!”


“Oh iya … bisakah kamu bilang pada madam Lia untuk membawa Yve pergi bermain? Atau kamu bawa mereka berdua ke rumah kakekku lagi. Kakek sangat menyukai Yve, anak itu juga tampak nyaman saat di sana.”


Pak Ardi tersenyum nakal melirik Yazza.


Yazza melirik tegas, “Apa?”


Pak Ardi cengingisan, “Tuan terlihat sangat cerah sekali sejak pagi tadi!”


Tersenyum, “Bagaimana mungkin aku tidak sebahagia ini! Sudah bertahun-tahun!”


Menutup mulut menahan tawa.


“Haiz! Jangan membuatku malu!” melihat jam tangan, “Mumpung masih siang, pergilah segera!”


“Apa kami juga perlu menginap di sana saja?”


“Tergantung bagaimana maunya Yve. Tapi, jika kalian bisa membujuk agar dia mau menginap, aku akan memberikan bonus kepada kalian!”


“Siap tuan!” pak Ardi bersemangat, “perlu saya suruh seseorang menghias kamar?” goda pak Ardi.


Yazza mendengus tersenyum, “Tidak perlu mencolok seperti itu. Takutnya Vee justru tidak akan mau masuk kamar karena hal seperti itu!”


“Bagaimana dengan herbal kuat?”


“Ckk … hya!” Yazza kesal, “Anda meremehkan saya?”


Pak Ardi justru cengingisan, “Kalau begitu selamat berduaan!” masih sambil cengingisan, dia berjalan meninggalkan tuannya.


... ***...


Yazza meminta Vee untuk pergi ke pantai membelikannya jagung bakar.



Dengan terpaksa dan penuh kejengkelan, Vee menurut.


Saat itulah, madam Lia dan pak Ardi membawa Yve pergi.


Tentu Yve sangat antusias saat madam Lia mengajaknya ke rumah kakek buyutnya lagi.


Yve tertidur saat di perjalanan, madam Lia menidurkan dalam pangkuan sambil membelai lembut rambut Yve.


“Pak Ardi!”


Menoleh ke belakang, “Ya?”


“Tiba-tiba saja saya teringat sesuatu!”


Menyipitkan mata, kembali fokus melihat ke jalanan.


“Kenapa nada bicaramu tampak tidak tenang?”


“Pak Ardi ingat dengan wanita yang membawa bayi waktu itu?”


“Yang pernah menuntut tuan Yazza?”


“Ya!”


“Sudah kubilang, jangan lagi membahasnya! Semua sudah dibereskan.”


“Masalahnya, gadis kecil ini sangat mirip dengan bayi itu.”


“Apa?” terkejut, lalu pak Ardi berusaha berpikir logis, “Dia juga putri kandung tuan Yazza. Jika terlihat mirip, mungkin masih wajar.”


“Beberapa hari ini saya mencoba memikirkan dan memendam dalam hati. Saya sendiri juga mencoba tidak mempercayainya. Tapi masalahnya, tanda lahir anak ini sama dengan tanda lahir bayi yang waktu itu.”


Menoleh terkejut, “Maksudmu?”


“Saya selalu di samping bayi itu dahulu. Jadi saya tahu dan masih sangat ingat jika bayi itu juga mempunyai tanda lahir di bahu kananya. Persis dengan yang nona Yve miliki!”


Pak Ardi menggenggam erat setir mobil, “Kenapa baru menceritakannya!”


“Karena saya masih kurang yakin juga!”


“Lalu, siapa sebenarnya nona Vee ini!” pak Ardi tampak berpikir dalam diam.


 

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2