RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
REKAN KEJUTAN


__ADS_3

Meski hujan mengguyur semalaman, pagi ini matahari bersinar cerah.


“Kamu yakin sudah siap bekerja kembali?” tanya Vee memastikan sembari membantu Yazza mengenakan dasi.


Pria itu menghela nafas berat, “Entahlah … aku pikir seniormu itu masih punya sisi baik … ternyata tidak sama sekali!”


“Eh … kenapa malah menyalahkan dia?”


“Seharusnya aku masih mengambil cuti … tapi tiba-tiba dia ingin mengadakan meeting penting,” Yazza membelai lembut rambut istrinya.


“Ah … memangnya tidak bisa di wakilkan? Atau kamu mau aku yang pergi bersama pak Ardi?”


“Apa itu alasan supaya kamu bisa bertemu dengan pria lain?” tanya Yazza menggoda.


“Hya!” protes Vee mencibirkan bibir.


Yazza mendengus tersenyum, “Aku rasa dia menyukaimu!”


“Dia menyukai banyak wanita!” sangkal Vee merangkul kan kedua tangannya ke belakang tengkuk leher Yazza begitu selesai membenarkan dasi.


“Apa kamu tahu kalau dia sebenarnya masih punya istri?”


Vee mengernyitkan dahi sembari menggelengkan kepala, “Tapi aku tidak pernah melihatnya bersama istrinya!”


“Bukankah dia temanmu … kenapa kamu sama sekali tidak tahu tentang dirinya?”


“Aku juga baru bertemu lagi dengannya baru-baru ini!”


“Istrinya mengalami gangguan jiwa … dan lebih parahnya, dia tidak pernah mengenalkan istrinya pada anaknya sendiri!”


“Hah? Maksud kamu?” Vee menyipitkan mata menatap penasaran.


“Entah malu untuk mengakui, atau memang sengaja ingin menjaga perasaan anaknya … sahabatmu itu tidak pernah mengenalkan putranya pada ibu kandungnya … itu sebabnya anak itu tidak pernah tahu … siapa ibu kandungnya yang sebenarnya.”


“Astaga … kasihan sekali!”


Yazza tersenyum, “Itu sebabnya aku memperingatkan padamu … jangan genit-genit! Dia masih berstatus suami orang!”


Vee yang masih merangkul kan tangannya hanya tersenyum menatap pria yang saat ini ada di hadapannya.


“Kenapa?” tanya Yazza menyipitkan mata.


“Sejak kapan kamu terlihat setampan ini!”


“Hya … caramu ini sudah tertebak! Pasti ada sebuah keinginan kan?”


Wanita itu tersenyum meringis, “Bagaimana dengan restauran ku?”


“Cuih … apa ku bilang!” dengus Yazza mencibir.


“Rasanya kurang pas jika membukanya dalam waktu dekat ini … mengingat belum lama kakek meninggal!” ucap Vee muram.


Dengan lembut Yazza mengusap rambut istrinya, “Sembari menunggu waktu yang tepat … aku akan meminta pak Ardi untuk mengurus persiapannya.”

__ADS_1


“Sepertinya pak Ardi sudah sibuk mengurus banyak hal!”


“Dia akan menyuruh orang lain lagi untuk mengerjakannya! Oh iya … aku akan bicara pada pak Karno nanti … apa kamu ada persyaratan atau permintaan lain?”


Vee menggeleng, “Aku pasti akan membuat pak Karno kesusahan!” dengus nya tersenyum menggoda.


“Hmmm … kurasa aku harus memperingatkannya tentang ini nantinya!” ucap Yazza balas menggoda.


“Aku jadi teringat saat pertama datang ke tempat ini!”


“Kamu pasti sangat kesal setengah mati waktu itu!” cibir Yazza kembali menggoda.


“Hmph … aku selalu mencari kesempatan bagaimana untuk menghajar mu sampai kamu tidak bisa bergerak lagi!”


“Kenapa harus mencari cara … aku tidak akan pernah membalas bahkan jika kamu mengacungkan pedang di hadapanku!”


“Haiz … itu terlalu berlebihan! Sudahlah … pak Ardi akan menunggu lama jika kamu tidak segera turun!”


“Kamu jadi pergi ke Rumah Sakit untuk menjemput Yve?”


Vee menganggukkan kepala, “Aku akan bilang padanya jika kamu tidak bisa ikut karena harus bekerja!”


“Apa dia akan kecewa lagi padaku?”


“Aku akan membuat dia mengerti … jangan khawatir!” Vee tersenyum menenangkan.


“Boleh minta jatah sebentar?” tanya Yazza menatap gemas.


“Hya … jangan merusak dandanan mu lagi!” gerutu Vee mencibirkan bibir, “Akan jadi percuma karena kamu sudah terlihat serapi ini!”


Vee mendengus tersenyum, dia menarik tengkuk leher Yazza untuk mendekat, “Akan aku tunjukan apa itu menggoda!”


Yazza hanya tersenyum mengikuti ketika Vee mulai mengecup bibirnya.


...***...


Kantor Pusat Paradise.


Daniel duduk tidak tenang, dia selalu gelisah melihat ke arah pintu.


“Tenangkan dirimu!” bisik pak Didik yang duduk di sebelahnya.


“Apakah ini adalah keputusan yang tepat?” gumam Daniel mendesis.


“Tentu saja … perusahan kita akan semakin melambung tinggi setelah ini.”


“Lalu bagaimana dengan pak Yazza?”


“Haiz … lagipula kenapa kamu mencari gara-gara sih!”


Hirza datang di ikuti Hans di belakangnya.


Pak Didik dan Daniel langsung berdiri menyambut.

__ADS_1


“Oh … pak Yazza belum datang?” tanya Hirza melangkah ke dalam.


“Emb … belum pak!”


“Ahh … silahkan duduk kembali!” Hirza mempersilahkan.


“Terima kasih pak!”


Baik Daniel maupun pak Didik, keduanya kembali duduk bersamaan dengan Hirza dan Hans.


Di saat bersamaan, Yazza datang bersama pak Ardi dan seorang resepsionis wanita yang mengantar mereka ke ruang meeting.


Betapa terkejutnya Yazza melihat sudah ada Daniel di sana.


Langkahnya terhenti dengan tatapan tajam yang dia layangkan ke arah pria itu.


Daniel yang sadar jika Yazza melihatnya, langsung menunduk menciut melihat pahanya sendiri. Di hentak-hentak kan kakinya untuk menutupi perasaannya yang sudah tidak karuan.


“Ah … pak Yazza! Akhirnya datang juga! Silahkan … rekan bisnis baru kita sudah menunggu!” Hirza tersenyum menyambut.


Pak Ardi yang sadar akan perubahan sikap tuannya langsung cepat tanggap memberi isyarat menyentuh lengan pria itu.


Yazza menoleh menatap pak Ardi.


“Anda harus bisa menjaga sikap tuan!” desis pak Ardi.


“Apa yang sebenarnya direncanakan pria ini!” gumam Yazza ikut mendesis.


“Saya juga tidak tahu … kita ikuti saja dulu skenarionya kali ini!”


“Loh … kenapa kalian malah berbincang sendiri di sana! Mari … silahkan duduk!” Hirza tersenyum, tapi bisa terlihat jelas jika ada makna lain dalam senyumnya itu.


Tanpa banyak basa-basi, Yazza dan pak Ardi berjalan menuju kursi di deretan sebelah kanan Hirza.Sementara Daniel dan pak Didik ada di hadapan mereka, tepat di sebelah kiri Hirza yang duduk di tengah.


“Jadi bagaimana kabar kalian semua?” Hirza melihat ke semua orang, “Baik-baik saja kan?”


“Aa … emb … i … iya pak!” Jawab Daniel gelagapan.


“Saya tidak bisa mengatakan jika saya baik-baik saja untuk saat ini!” jawab Yazza masih menatap tajam Daniel yang masih tidak berani membalas tatapannya.


“Ah … benar! Maafkan saya karena terburu-buru mengundang anda yang masih dalam masa berkabung! Saya turut beduka cita! Semoga kek Gio di terima di sisinya!”


Yazza mengangguk tipis, “Terima kasih pak!”


“Emb … langsung saja! Perkenalkan … ini pak Daniel dan pak Didik dari White Purple! Mereka akan menjadi supplier furniture untuk proyek kita … saya tidak tahu, apa pak Yazza juga sudah mendengar gosip tentang pak Daniel yang akhir-akhir ini banyak di puji dan di perbincangkan oleh pebisnis lain … tapi saya cukup tertarik untuk menggandeng White Purple dalam proyek ini!”


“Saya sudah mengenalnya!” jawab Yazza ketus, masih menatap Daniel.


“Astaga … benar juga! Aku lupa jika istri anda pernah bekerja di White Purple sebelumnya! Itu artinya … pak Daniel juga mengenal Vee dengan baik kan?” celetuk Hirza dengan sengaja.


Deg!


Baik Yazza maupun Daniel, keduanya kali ini menatap Hirza begitu pria itu menyinggung tentang Vee.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2