
Vee memakaikan pakaian untuk Yve setelah mandi pagi.
Sementara itu, Yazza duduk santai sambil mengecek pekerjaan melalui laptop di pangkuannya.
Vee yang masih jongkok meminta Yve memutar badannya untuk merapikan pakaian bagian depan.
Yve menyipitkan mata begitu melihat sesuatu yang aneh pada mamanya.
Menyingkirkan rambut Vee yang sengaja di urai ke depan bahu, “Mama digigit nyamuk?” menarik baju mamanya sembari melihat ke dalam, “Atau mama alergi karena makan sesuatu? Kenapa banyak bintik merah?”
"Uhuuk!" Yazza langsung tersedak begitu mendengarnya.
Dia mencoba menahan senyum, melirik Vee yang melotot tajam ke arahnya.
“Jawab!” Yazza hanya berisyarat bibir tanpa bersuara.
Sengaja mengejek wanita itu.
“Iya nyamuknya besar sekali! Suka menggigit orang!” Vee kembali menutup lehernya dengan rambut.
“Kamar Yve aman! Yve tidak digigit nyamuk!”
“Itu karena Yve tidak mandi dan langsung tidur semalam,” mencolek hidung Yve dengan jarinya sambil tersenyum menggoda.
“Kalau begitu jangan mandi biar tidak digigit nyamuk!” Yve cengingisan.
“Eh, ide bagus!” Vee terkekeh.
Yazza berdiri, “Cih … kalau kalian malas mandi, papa akan memaksa kalian masuk ke bak mandi!” tersenyum, “Ayo pergi sarapan!”
Yve tersenyum mengangguk langsung berlari ke arah Yazza. Menggandeng dan menarik papanya penuh semangat.
Yazza menoleh ke arah Vee, tersenyum mencibir mengejeknya sekali lagi.
Vee yang kesal, rasanya ingin melempar sisir di tangannya.
“Haiz! Papa rasa, nyamuk besar itu pasti jantan.”
“Hah?” Yve mendongak menyipitkan mata.
“Karena hanya mamamu yang di gigit!” jawab Yazza cengengesan.
“Hya!” sentak Vee berdiri bertolak pinggang.
“Kenapa mama marah?” Yve semakin tidak mengerti.
Vee langsung tersenyum menatap putrinya, “Mama tidak marah sayang!”
“Oh … mengerikan! Berubah dalam sepersekian detik!”
Melirik Yazza tajam, “Sebaiknya kita bergegas pergi makan! Orang bisa menjadi sangat menyebalkan saat dia lapar!”
Yazza tersenyum gemas, membuang muka mengajak Yve kembali berjalan.
***
Mereka berpapasan dengan Berliana dan dua temannya.
“Yo … ketemu lagi!” Berliana menyilangkan tangan di perut dengan angkuh, “Sepertinya kamu sengaja sekali mengikutiku! Masih segitu cintanya hingga tidak bisa move on hah?”
Vee menyipitkan mata melihat Berliana.
“Papa dia siapa?” tanya Yve polos.
Mendengar anak memanggil Yazza dengan sebutan ‘papa’ membuat Berliana jadi terdiam kaku.
“Berli … anak itu putrinya?” bisik Amel teman Berliana.
Ellen menatap Vee, “Apa dia istrinya?” ikut berbisik ke telinga Berli.
Yazza tersenyum pongah, “Dia hanyalah seorang wanita yang suka memainkan dramanya sendiri!”jawab Yazza menatap Yve.
“Artis?” Yve menyipitkan mata.
__ADS_1
“Ya, hanya saja tidak pernah muncul di layar kaca!” menggendong putrinya, “Ayo sayang … kalian pasti sudah lapar!”
Yve tersenyum antusias mengangguk.
Yazza menarik tangan Vee, menggandengnya dengan tangan yang lain.
Berliana kesal sekali melihatnya.
Dia menghentakkan kaki jengkel lalu melangkah pergi.
Segera dia mengambil handphone dari dalam tas.
Yazza bukan orang yang suka membuang waktu untuk liburan atau hal-hal yang tidak penting lainnya.
Terutama hal-hal di luar pekerjaan.
Melihat kehangatan Yazza kepada Vee dan Yve tentu membuatnya sangat iri.
Dulu ketika mereka masih bersama, Yazza tidak pernah seperhatian tadi.
Dan yang paling aneh adalah, bagaimana bisa tiba-tiba Yazza memiliki anak dan juga seorang wanita di sisinya.
"Hallo … Gerry … sayang …"
Berliana merajuk langsung menelfon kekasihnya.
***
Yve dan Yazza tengah membuat istana pasir saat Daniel menelepon Vee kembali.
“Ramai sekali?” tanya Daniel.
Melihat sekeliling, “Padahal sudah menjauh dari keramaian.”
“Di mana memangnya kalian saat ini?”
Yazza tampak memperhatikan dari kejauhan.
“Pantai!”
“Video call ya? Aku ingin melihat Yve!”
Tidak mungkin dia akan sengaja menunjukan kedekatan Yve dengan Yazza.
“Jika aku di sana, aku akan membuat istana pasir yang lebih bagus sampai dia iri setengah mati.”
Vee mendengus tersenyum, “Cih … siapa yang dewasa dan siapa yang masih anak-anak!”
Daniel terkekeh, “Aku sudah sangat merindukan kalian. Kapan pulang?”
“Sungguh tidak ada sesuatu yang bisa dikerjakan?” Vee mencibir, “Cih … merindukan kami? Berlebihan sekali!”
“Ckk … ckk … ckk! Sudah berjemur di bawah panas matahari pantai Bali masih saja seperti balok es!”
Menahan tawa, “Besok kami akan pulang kok!”
“Pak Yazza tidak berbuat macam-macam?”
Mendengar pertanyaan itu, Vee langsung terdiam untuk beberapa saat.
“Hya … Vee? Kamu masih di sana?” Daniel menyipitkan mata karena Vee terdiam.
Mengingat yang sudah Yazza lakukan padanya, “Rasanya aku ingin menyeret orang itu ke tengah lautan agar dia tenggelam di sana!”
“Hya! Masih saja berotak kriminal!”
Tersenyum pedih, “Andai waktu bisa diulang!”
“Maksudmu?” Daniel tidak memahami apa yang Vee katakan, “Atau jangan-jangan itu karena aku tidak memberikanmu ijin di hari itu?” menghela nafas.
“Bukan itu yang kumaksud!” sangkal Vee.
Dia menyesal karena tidak melarang Yunna bertindak gegabah waktu itu.
“Lalu?” Daniel semakin muram.
“Aku tidak akan menarik perhatian sampai harus menebus kesalahan seperti ini!” Vee menghela nafas panjang, “Haah … sudahlah! Yang terjadi biar terjadi!”
__ADS_1
“Ckk … aku kembali merasa bersalah jika kamu terus berbicara seperti itu!” Daniel merenung.
“Hmmm … tapi bagus juga membuat anda menjadi merasa bersalah!” goda Vee.
“Hya aku ini bosmu!”
“Kalau begitu beri saja surat peringatan atau pecat segera!”
“Tidak!” sahut Daniel cepat, “Mana ada pekerja yang merekomendasikan untuk memecat dirinya sendiri! Cih …,” Daniel mencibir, “hya … setidaknya aku ingin melihatmu, angkat video callku!”
Vee tersenyum, merapikan rambut, “Baiklah! Satu menit!”
Daniel bersorak girang dan langsung melakukan panggilan video.
Yazza melempar sekop plastik kecil membuat bangunan menara yang mereka buat runtuh.
Yve terkejut ketakutan melihat ekspresi ayahnya.
“Apakah papa baik-baik saja?” Yve sungkan bertanya sembari ikut melihat ke arah Yazza memusatkan perhatian.
Vee tampak melakukan panggilan video call dengan seseorang.
Wanita itu tampak begitu riang bercanda tertawa menatap layar handphone.
“Apa mamamu selalu seperti itu saat menelpon temannya?”
Menggeleng, “Mama tidak pernah memiliki teman. Jika dia mendapat telepon dari kantor, mama akan menjadi orang yang paling serius di dunia!”
“Tidak pernah memiliki teman?” menyipitkan mata.
“Ya … mama selalu melakukan apapun seorang diri.”
“Kenapa begitu?” Yazza makin penasaran.
“Mama selalu bilang kepada Yve, untuk tidak mempercayai siapapun. Terutama laki-laki!”
Yazza menatap ke arah Vee.
Bagaimana bisa dia sudah mendoktrin anak sekecil ini untuk menjauhi pria!
Sebegitu kecewa itukah dia kepadaku!
Yazza menghela nafas panjang bergumam dalam hati.
Dia kembali menatap Vee dengan tatapan frustasi.
“Mama selalu menceritakan padaku tentang sahabatnya. Tapi, sahabatnya itu meninggal diusia muda … ditipu seorang pria, sampai pada akhirnya harus bunuh diri karena dikecewakan.”
Yazza memegang kepalanya dengan sebelah tangan, “Seharusnya dia tidak menceritakan kisah mengerikan kepadamu!”
Yve memegang lengan ayahnya, “Mama selalu mengajariku tentang pelajaran hidup. Dia hanya ingin agar Yve tidak salah jalan. Papa jangan memarahi mama setelah ini.”
Mengelus kepala putrinya, tersenyum tenang, “Tetap saja … seharusnya mamamu tidak menceritakan hal-hal yang mengerikan.”
“Itu tidak mengerikan. Kata mama yang paling mengerikan itu adalah monster berwujud manusia!”
“Astaga! Pantas saja, kamu terlihat lebih dewasa dari usiamu!” menghela nafas panjang, “Haah … baiklah! Dengarkan papa, tidak semua pria itu jahat … mamamu hanya marah dan membenci papa … itu sebabnya dia menganggap semua lelaki sama saja.”
Yve menunduk, “Yve tahu. Itu sebabnya mama akan marah besar tiap kali Yve menanyakan tentang papa.”
“Tapi papa sudah menemukan kalian kembali sekarang. Dan papa ingin kalian selalu di samping papa. Papa akan melindungi kalian berdua dan tidak akan membuat kalian kesepian lagi!” tersenyum, “Bagaimana jika setelah ini kita tinggal bersama kembali?”
Tersenyum riang, “Benarkah boleh seperti itu!”
Mengangguk, “Masalahnya, mamamu akan setuju atau tidak?”
“Papa jangan khawatir! Mama memang terlihat galak, tapi sebenarnya dia adalah mama yang paling baik sedunia!”
Tersenyum, “Benarkah?”
“Ya! Kakek Mail sering menceritakan tentang kehebatan mama di pesisir … papa tahu julukan mama di sana?”
“Peri dari pesisir!” ucap Yazza tersenyum lembut.
Yve terkejut mendengarnya, “Wuih … bagaimana papa bisa tahu?”
Yazza tersenyum mengingat masa lalu.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...