
Seorang wanita menuangkan teh ke cangkir kecil melalui poci yang terbuat dari tanah liat.
Suara gemericik air mancur buatan terdengar menenangkan, terlebih beberapa ikan koi juga ikut meramaikan menari kesana-kemari di dalam kolam.
Meski tidak terlalu luas, taman di belakang rumah itu terlihat hijau dan penuh bunga yang bermekaran indah.
Margo melihat ke sekeliling, “Kamu memang sangat menyukai keindahan ya? Hahaha,” dia terkekeh sebelum menghisap rokoknya.
Zoe tersenyum kalem, keduanya duduk di gazebo kecil yang berada di tengah kolam ikan buatan.
“Apa kamu nyaman tinggal di sini?” tanya Margo menatap Zoe kali ini.
“Sepertinya terlalu lama di dalam ruangan gelap membuatku merasa lebih nyaman jika aku tidak bersama orang-orang!”
“Zoe, kamu tidak sakit! Kenapa harus sekeras itu untuk menghukum dirimu sendiri?” Margo menatap khawatir.
Wanita itu tersenyum tipis, “Bahkan suamiku sendiri ketakutan saat melihatku! Bukankah memang lebih baik jika aku terus bersembunyi?”
“Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ayahmu berpesan padaku untuk terus menjagamu! Bukankah itu artinya ayahmu saja sudah memaafkan mu?”
“Tetap saja aku masih terlihat seperti monster di mata Hirza,” Zoe menunduk sedih memainkan air teh di dalam gelas kecilnya.
“Well … semalam aku mengikutinya seperti permintaanmu! Dia dan orang-orangnya … termasuk Xean, mereka pergi ke cafe.”
Zoe tampak menyipitkan mata, “Cafe? Tapi saat dia menelepon putraku, sepertinya ada hal yang sangat mendesak! Lalu kenapa hanya ke cafe?”
“Ada seorang wanita yang dia temui!”
Seketika rahang wanita itu mengeras dengan tangan mengepal erat.
“Wanita?” ulangnya geram, “Siapa?”
“Kalau tidak salah … dia putri kedua Strom!”
“Sudah berkeluarga?” Zoe menyipitkan mata, sedikit memiringkan kepala.
Margo menggelengkan kepala, cukup hati-hati menatap Zoe, “Masih single … jangan berpikir berlebihan terlebih dahulu! Bahkan kita semua selalu tidak bisa menebak apa yang sedang Hirza rencanakan! Bisa saja pertemuan itu hanya pertemuan bisnis.”
“Lalu kenapa mengajak Xean?” Zoe masih tampak geram.
“Aku juga tidak tahu jelasnya. Yang aku lihat, mereka sangat lama di sana!”
__ADS_1
“Apa Xean tampak akrab dengan wanita itu?”
“Mmm … entah … aku ragu untuk mengatakannya!”
“Apa ada yang paman sembunyikan?”
“Masalahnya belum jelas Zoe! Takutnya kamu malah salah paham!”
“Katakan saja paman!” desak Zoe meninggikan nada.
“Awalnya mereka duduk terpisah, Hirza dan wanita itu bicara berdua. Lalu Hans bergabung, setelah cukup lama berbincang bertiga, Hirza memanggil Xean untuk datang ke mejanya. Dari yang aku lihat, mereka baru berkenalan saat itu …-“
“Xean dan wanita itu?” potong Zoe memastikan.
“Yaps, dan Xean terlihat menyukai wanita itu. Dia bersikap manis dan ramah.”
“Manis dan ramah?” ulang Zoe tertegun menurunkan kedua bahu, “Xean bilang dia tidak suka di sentuh orang asing!” gumamnya lirih mengingat perkataan putranya.
“Setelah perkenalan itu, Xean dan Hans kembali ke meja lain. Meninggalkan Hirza dan wanita itu berduaan.”
Zoe semakin geram mencengkram ujung meja.
“Apakah wanita itu cantik?”
“Orang-orang dalam dunia bisnis menyebutnya seperti putri salju. Dia cantik, anggun, bertata karma, santun dan sikap lemah lembutnya membuat para pria mudah jatuh hati. Emm … tapi Zoe … sekali lagi jangan terlalu berpikir berlebihan terlebih dahulu! Akan aku tanyakan pada Rudi nanti!” Margo mulai khawatir melihat perubahan ekspresi yang Zoe tunjukkan.
“Zoe …-“
“Kalau sampai aku tahu ada wanita lain di hatinya … akan aku pastikan kalau aku sendiri yang akan melenyapkannya!” potong Zoe semakin berapi-api.
“Zoe! Tenang!” sahut Margo tegas. “Jangan terbawa suasana yang belum jelas kebenarannya!”
Wanita itu langsung menatap pria tua di hadapannya.
Perlahan dia mengendurkan otot lengannya.
“Tarik nafas panjang … dan keluarkan perlahan!” ucap Margo menginstruksikan dengan lembut.
Zoe mengikuti perkataan Margo, dia mulai menarik nafas dan menghempaskan.
Diraihnya cangkir teh sebelum akhirnya dia buru-buru meneguknya.
“Maafkan aku paman,” ucap Zoe berusaha menenangkan dirinya sendiri.
__ADS_1
“Kamu tidak perlu berpikir sejauh itu! Bukankah kamu juga tahu … selama ini Hirza tidak dekat dengan wanita manapun kecuali urusan bisnis. Dia masih setia padamu Zoe!”
Wanita itu kembali mendongak menatap Margo, “Paman! Katakan padaku dengan jujur! Apa ada yang mengancam atau menindas dia? Bagaimana jika dia bersikap seperti itu hanya karena takut padaku?” Zoe menggeleng-gelengkan kepala, “Jangan mengancam suamiku! Aku takut jika dia semakin membenciku!” kembali menunduk sedih.
“Zoe! Kamu itu pemegang kuasa! Kenapa justru kamu yang begitu takut padanya? Kamu terlalu mendewakan dia Zoe!”
Wanita itu tersenyum tanpa mendongakkan kepala, “Aku sudah melakukan segala hal untuk membuat Hirza mencintai aku! Bahkan aku juga sudah membunuuh orang yang begitu berarti dalam hidupku hanya untuk tetap bisa bersamanya … tapi apa? Hirza justru semakin ilfill terhadapku!”
“Zoe … maaf karena waktu itu kami ingin menyingkirkan dia. Ayahmu hanya tidak mau melihat putrinya terus-menerus bersedih!”
“Paman!” panggil Zoe menyela, “Jika Hirza tiada … lebih baik aku juga mati saja!”
“Zoe! Jangan berkata begitu! Ayahmu memintaku untuk melindungi mu! Apapun yang terjadi … aku juga tidak akan membiarkan kamu menderita!”
Wanita itu tersenyum lega, “Selama masih bisa melihat senyum Hirza dan putraku … berjalan di atas tajamnya paku saja tidak akan membuatku menderita!”
“Yeah … kami sudah menuruti kemauan mu Zoe! Hirza mendapatkan posisi yang paling tinggi dan tidak ada seorangpun lagi yang berani menyentuhnya! Bukankah sekarang saatnya kamu juga membebaskan dirimu sendiri?”
“Aku belum siap melihat responnya ketika melihatku lagi!” Zoe menatap Margo lekat, “Bagaimana jika dia masih jijik dan takut padaku?”
Pria tua itu menghempaskan nafas panjang, “Sampai kapan kamu akan menutup jati diri? Apa kamu tidak ingin membesarkan putramu? Dia sudah di depan matamu Zoe!”
Wanita itu menggeleng gelisah, “Dia pasti akan takut juga jika tahu kalau dia mempunyai ibu seperti aku!”
“Apa yang salah darimu Zoe?” Margo meninggikan nada, “Kamu cantik, lembut, dan berbakat dalam berbagai bidang! Xean pasti bangga punya ibu sepertimu!”
Bayangan kejadian ketika Xean selalu berusaha menghindari sentuhannya tiba-tiba terlintas dalam pikirannya.
Wanita itu merasa sekujur tubuhnya mulai berubah, meski hanya ada dalam bayangannya sendiri, tapi dia cukup yakin jika ada tanduk yang tumbuh di kepalanya.
Zoe menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan, “Jangan! Jangan melihat ku!”
Dalam pikirannya, mulutnya seakan melebar sampai telinga dengan gigi taring yang tidak beraturan.
Zoe terlihat semakin tidak tenang, dia menggelengkan kepala mulai insecure dengan keadaan sekitar, “Apa ada yang memberitahukan padanya? Paman … aku ini adalah seorang monster!”
Margo kembali menghela nafas panjang, dia tampak frustasi melihat tingkah Zoe yang makin tidak terkendali.
Dengan gerakan santai, dia memanggil Suster yang sedari tadi berdiri tak jauh dari sana.
Suster itu mendekat, mengambil jarum suntik dari dalam sakunya.
“Zoe … kamu sehat Zoe! Jangan terus-menerus seperti ini!” ucap Margo sedih.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...