RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
KEBEBASAN UNTUK MEMILIH


__ADS_3

Mendengar nada suara Hirza yang terdengar panik membuat Hans langsung menoleh, begitupula dengan Xean.


“Ada apa mas?” Hans menyipitkan mata mendekat berdiri di samping kakaknya.


“Kenapa papa bertanya seperti itu? Bukankah jelas-jelas papa yang mau aku ikut extra lukis … tentu saja guru lukis ku yang mengajari.


Hans yang ikut melihat ke arah bola mata Hirza melihat langsung membelalakkan mata terkejut.


“Paradise!” desis Hans mengepalkan tangan dengan bibir mengatup rapat.


“Eh … mas juga bisa membacanya?” tanya Xean polos.


Sontak Hirza dan Hans langsung menoleh menatap Xean begitu mendengar pertanyaannya.


“Xean! Aku serius … siapa guru yang mengajarimu itu?” tanya Hans penasaran.


Hirza ikut mengepalkan tangan dengan rahang mengeras dan bibir yang mengatup rapat. Dia lebih memilih diam dan tidak bisa banyak berkata-kata.


Xean menyipitkan mata dengan dahi mengerut, “Kenapa kalian terlihat panik?”


“Kenapa gurumu itu mengajarimu melukis dengan kode?” cecar Hans lagi.


“Ya … karena … karena dia bilang dia suruhan papa!”


“Apa?” sahut Hirza mendengus mencibir.


“Siapa nama gurumu itu?” tanya Hans lagi.


“Mas Hans ini kenapa sih? Tiba-tiba jadi bawel banget!”


“Xean ini penting! Jawab saja!”


“Ibu Ziya … dia guru baru!” jawab Xean manyun mencibirkan bibir.


“Ziya?” desis Hirza lirih mengernyitkan kening.


“Mas … apakah mas berpikir sama sepertiku?” desis Hans lirih, berbisik pada Hirza.


“Tidak … itu tidak mungkin orang itu!” sangkal Hirza menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Apa ini maksud Ozzy waktu itu? Yang katanya dia bilang … si Kepala Sekolah berisyarat aneh dan bertingkah mencurigakan.”


“Besok kita datang ke Sekolah Xean!” tegas Hirza meski masih mendesis.


“Kenapa kalian malah berbisik-bisik berdua?” tanya Xean menyipitkan mata.


“Heh bocah … bisa ceritakan sedikit tentang guru lukisan itu?” Hans bertolak pinggang.


“Hah?” Xean kembali mengernyit, “Dia bukan suruhan papa? Apa dia suruhan paman Rudi?”


“Hya … dengar ini … kami memang ingin supaya kamu bisa melukis … tapi kami tidak pernah mengirim guru yang paham tentang rahasia dan kode dalam seni lukis!”


Xean mengangguk-angguk, “Itu artinya … dia bukan orangnya papa? Tapi dia sering bertingkah aneh!”

__ADS_1


“Maksud kamu?” tanya Hirza memiringkan kepalanya.


“Dia sepertinya sangat mengenal kita dengan sangat baik … bahkan ibu Ziya sepertinya selalu bisa menebak tentang apa yang akan aku lakukan,” Xean tampak berpikir, “jika dia bukan orangnya papa, berarti aku harus berhati-hati?”


“Yeah … selalu ingat untuk berhati-hati kepada siapapun!” tegas Hans.


“Padahal aku sudah mulai suka dan tertarik berlatih melukis dengan kode,” ucap Xean lirih meletakkan kuas ke atas plate cat.


“Papa tidak akan melarang mu berlatih melukis dengan kode … bagaimanapun juga … memang itu tujuan papa! Hanya saja … papa memang sengaja tidak memberitahukan tentang ini terlebih dahulu! Karena papa pikir, kamu masih terlalu muda … siapa sangka justru gurumu yang selangkah lebih maju untuk memberitahukan tentang ini,”Hirza kembali melihat lukisan buah-buahan.


Pria itu menarik nafas panjang, lalu menghempaskan nya.


“Bahkan ibu Ziya juga mengatakan hal yang sama seperti yang pernah ayah katakana sebelumnya!”


“Apa itu?” sahut Hirza kembali menatap putranya.


“Tentang keturunan Paradise yang di wajibkan untuk bisa melukis!”


Deg!


Hans kembali mengejang tegang, “Mas … perkara ini sepertinya jauh lebih serius dari yang kita bayangkan!”


“Apakah benar dia adalah wanita itu?” desis Hirza lirih.


...***...


Yve tersenyum riang duduk di atas kursi roda sembari melihat jam tangan barunya.


“Apa kamu suka dengan hadiah itu?” tanya Vee duduk di bangku taman.


Terik matahari pagi terasa cukup hangat meski rumput yang mereka pijak masih lembab.


“Aku selalu ingin memiliki smartwatch yang seperti ini … terima kasih papa!”


Vee menyenggol pinggang Yazza dengan sikunya, “Stttt!”


Yazza menoleh kembali salah tingkah, “Ah … iya … kalau tidak suka warnanya, bisa di tukar kok!”


“Tidak kok pa! Yang ini sudah sangat bagus … aku menyukainya!”


“Emb … bagus deh,” melihat perban di kepala Yve, “Kepalamu masih sakit?” tanya Yazza masih canggung.


“Kadang-kadang masih terasa agak nyeri … tapi sudah tidak apa-apa sih!” jawab Yve tersenyum hangat.


“Oh iya … aku sudah berjanji pada mamamu untuk tidak lagi memaksa kamu harus bersekolah di mana … dan kamu juga boleh berteman dengan siapapun yang kamu mau … asalkan, kamu harus selalu meminta ijin dan berkata jujur pada kami jika hendak pergi bermain.”


“Sungguh?” Yve tersenyum antusias.


Yazza menganggukkan kepala, sementara Vee tersenyum lega dengan pernyataan yang di lontarkan suaminya. Dia sendiri juga tidak menyangka akhirnya Yazza terbuka hatinya untuk memberikan kebebasan bagi Yve untuk bersosialisasi dengan lingkungan yang dia inginkan.


“Yve janji … Yve akan selalu bilang jika hendak pergi! Yve juga tidak akan pergi bolos-bolos lagi … maafkan Yve karena sudah membuat kalian khawatir sebelumnya!”


Vee tersenyum merengkuh wajah putrinya sembari menyandarkan kepalanya ke bahu Yazza, “Selama Yve berkata jujur kepada kami … itu sudah lebih dari sekedar cukup!”

__ADS_1


“Ma-maafkan papa juga,” ucap Yazza masih dengan kegengsian nya.


“Di sini masih ada mama, ada apa, dan juga ada Madam Lia yang akan selalu mendengarkan Yve … jadi apapun masalahnya … cari kami terlebih dahulu sebelum datang ke orang lain,” tutur Vee lembut.


Gadis kecil itu tersenyum menganggukkan kepala, “Akan selalu Yve ingat pesan mama!”


“Unchhh … manisnya putri mama,” Vee gemas mencubit pipi Yve.


“Ish … mama kebiasaan deh! Yve sudah besar ma!”


Vee mendengus tersenyum gemas melihat putrinya yang tampak menggerutu kesal.


“Iya … iya … maaf!” ucap Vee masih menyandar manja di bahu Yazza.


“Emb … jadi bagaimana? Apakah kamu mau kembali ke sekolah sebelumnya atau sudah nyaman dengan sekolah baru?”


Yve menunduk muram, “Sebenarnya … lingkungan dan orang-orang di sekolah baru membuatku sedikit tidak nyaman!”


Yazza menyipitkan mata, “Kenapa? Apa ada yang jahat sama kamu?”


Yve menggelengkan kepala, “Bukan aku … tapi justru aku di paksa ikut jadi jahat kepada orang lain!”


“Maksud kamu?” tanya Yazza masih tidak memahami.


“Ada kelompok yang berkuasa, dan mereka hanya berteman dengan orang-orang kaya. Mereka mengenal papa, dan mereka mengajakku ke dalam kelompok mereka … jika Yve menolak, mereka juga akan menjahili Yve … dan karena papa memintaku agar tidak membuat masalah … mau tidak mau aku terpaksa berteman dan mengikuti apa yang mereka lakukan!”


“Itu sebuah pertemanan yang tidak sehat!” tegas Yazza ikut geram.


“Itu sebabnya Yve tidak betah di sana! Meski sekolahnya bagus dan nyaman … tapi murid-muridnya kurang bersahabat!”


“Kalau begitu kamu pindah lagi saja!” saran Yazza.


Yve tersenyum antusias, “Bolehkah?”


Yazza mengangguk dengan senyuman kali ini, “Yeah!”


“Ke sekolah yang sebelumnya?” tanya Yve meminta ijin.


“Kemana pun kamu mau,” sahut Yazza masih dengan senyuman.


“Yeay … akhirnya aku bisa kembali satu sekolah dengan Caesar!” sorak riang Yve dengan wajah yang tampak lebih bersemangat dari sebelumnya.


Vee ikut tersenyum senang melihat kebahagian di wajah putrinya yang pada akhirnya kembali bersinar dengan terang.


“Terima kasih,” desis Vee lirih masih menyandar manja dengan sebelah tangan melingkari belakang pinggang Yazza.


Dania yang tengah menyapu halaman terlihat menatap tajam dengan rahang mengeras.


Bibirnya mengatup rapat disertai cengkraman erat meremas gagang sapu.


Lihat saja!


Kebahagian mereka … tidak akan berlangsung lebih lama lagi!

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2