RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PUNISHMENT


__ADS_3


Gerry dan Mr. X baru keluar dari penginapan yang masih satu area dengan restaurant Jepang.


Mereka berdua terlihat lemas dan seperti kurang tidur.


Pak Rudi berdiri di depan pintu.


Gerry dan Mr.X menunduk hormat sebelum mereka kembali berjalan menuju parkiran mobil.


13 JAM SEBELUMNYA


19:16


RESTAURANT JEPANG


Gerry dan Mr. X turun disambut bawahan pak Rudi.


“Sepertinya ini memang bukan hal yang sepele!” bisik Mr. X.


“Apa kita dalam bahaya?” tanya Gerry lirih.


“Apapun yang terjadi di dalam, tunjukan rasa hormat anda! Jangan membantah dan jangan menjawab yang tidak perlu dijawab!”


Gerry mengangguk.


Mereka di arahkan menuju privat room yang berada di paling ujung belakang.


Pak Rudi sudah duduk bersila sembari melihat para penari di dalam ruang tertutup tersebut.


Dengan senyum tipis dia tampak bersantai menikmati pertunjukan.



“Malam pak Rudi!” Gerry dan Mr. X memberi salam hormat.


“Silahkan duduk! Santai saja, kita lihat dulu pertunjukan ini,” tersenyum mempersilahkan tamunya untuk ikut duduk bersila.


Pak Rudi memang terlihat tenang. Tapi justru ketenangannya yang membuat kedua tamu undangan ini semakin tidak tenang.


Gerry dan Mr. X ikut duduk lesehan melihat ke arah para geisha yang sedang menari.


Dengan dandanan khas make up tebal, tentu sulit mengenali wajah asli mereka.


Salah satu diantara mereka tampak melihat ke arah Gerry dengan tatapan memohon pertolongan.


Gerakannya kaku dan sering melakukan kesalahan.


Gerry menyipitkan mata menatap ke arahnya.


Apa dia bukan penari asli?


Batin Gerry.


Pak Rudi tersenyum menatap ke arah Gerry, “Bagaimana? Diantara mereka semua … apa ada yang menarik hati kalian? Katakan saja, akan aku suruh mereka tinggal!”


Gerry salah tingkah, “Ah … anda tidak perlu serepot itu!”


Terkekeh, “Hahaha, santai saja! Kalau begitu, biar aku yang pilihkan bagaimana?”


Gerry melirik Mr. X.


Mr. X berisyarat menganggukkan kepala.


“Emb, baiklah. Terima kasih atas kebaikan anda!”


Pak Rudi kembali terkekeh melihat ke arah para penari, “Kamu!” menunjuk wanita yang sedari tadi melihat ke arah Gerry. “Yang lainnya boleh pergi sekarang!”


Para penari mengangguk, satu-persatu keluar dengan langkah anggun.


Tanpa disengaja, Gerry melihat ke arah meja.


Itukan handphone Raya!


Ada apa ini?


Gerry melihat satu-satunya penari yang tertinggal dengan seksama.


Raya menatapnya dengan bibir kelu.

__ADS_1


“Raya!” desisnya mulai gemetar.


“Pak Gerry mengenal jaalaang ini?” tersenyum menatap Gerry.


Gerry langsung mundur bersujud mencium lantai, “Maafkan saya pak Rudi!”


“Hahaha!” terkekeh lepas, “Langung menyadari kesalahan anda?”


Mr. X yang baru menyadari kesalahan Gerry langsung ikut bersujud di hadapan pak Rudi.


“Saya mohon pak Rudi! Ampuni nyawa kami!”


Raya mewek sekarang, “Gerry!” desisnya memanggil, “selamatkan aku!”


“Dia berani merayu adikku! Jelas ini kesalahan yang tidak termaafkan!”


“Saya mohon! Saya bersedia melakukan apapun supaya anda mau memaafkan kami!”


“Buat surat pernyataan pembatalan kontrak! Proyek Paradise akan ku berikan kepada Teratai Putih!”


Mendongak, “Tapi pak Rudi!”


Mr. X mengangkat kepalanya sedikit untuk kembali berisyarat memperingatkan Gerry agar tidak membantah.


Begitu memahami maksud Mr. X, Gerry kembali menyembunyikan wajah, “Ah … maaf!”


“Jadi mau atau tidak untuk membatalkan kontrak?”


“Siap pak! Saya akan mengundurkan diri dari proyek itu!”


Terkekeh, “Hahaha! Bagus!”


Suasana seketika hening, hanya suara jari pak Rudi yang terdengar tengah mengetuk-ngetuk meja.


“Well … diantara kalian berdua … aku hanya mengijinkan salah satu diantara kalian yang boleh keluar dari tempat ini!” menatap Mr. X, “Aku menyukai kerja kerasmu di Strom, jadi aku akan menyelamatkanmu di awal!”


Mr. X sedikit mendongak, begitu melihat pak Rudi berbicara dengannya, dia langsung kembali menunduk, “Terima kasih pak Rudi!”


“Bangunlah!”


Mr. X menurut, dia kembali duduk seperti semula.


Dengan panik dia menoleh ke arah Gerry.


Raya langsung bersujud menangis memohon, “Kumohon selamatkan saya!”


“Kalian berdua duduk dengan normal terlebih dahulu!” ucap pak Rudi santai.


Gerry langsung bangun dan kembali duduk di atas lantai, bertumpu pada dua kakinya.


Raya juga kembali duduk, berusaha menghapus air mata yang melunturkan make up tebalnya.


Pak Rudi melihat ke arah dua gelas teh kecil, “Aku sudah repot menyiapkan teh ini. Kalian harus meminumnya!” Melihat ke arah Gerry, “Karena anda bosnya, anda boleh memilih terlebih dahulu!”


Mr. X melihat ke arah Gerry.


“Ah … Mr. X!” memberikan gelas ke hadapannya, “Anda harus menuang sendiri … yang dua itu khusus untuk mereka.”


“Pak Rudi!” Mr. X tampak memohon.


Terkekeh lagi, “Tenang saja! Akan aku beritahu kebenarannya … yang kanan teh biasa dan yang kiri ada racunnya. Silahkan pak Gerry pilih dahulu!”


Raya ternganga terkejut mendengarnya.


“Gerry, aku mohon!” menatap Gerry.


Gerry tampak tertekan, dia mencoba menguatkan diri.


Dengan berani, dia langsung mengambil gelas di sebelah kanan, meneguknya tanpa keraguan.


“Gerry!!!” Raya menangis semakin histeris.


Pak Rudi mengeluarkan pistol dari bawah meja, “Jalaang! Mau minum atau aku akan bunuh bos kesayanganmu ini?” mengacungkan ke arah Gerry.


Gerry terperangah menatap pak Rudi tanpa bisa bergerak sedikitpun.


Mr. X semakin tegang.


Raya menghapus air matanya, “Saya tidak mau minum! Anda boleh menembaknya, jika itu bisa menyelamatkan nyawa saya!”

__ADS_1


“Raya!” sentak Gerry geram menatap Raya.


“Aku juga mau hidup Ger!” sentak Raya.


“Dasar tidak tahu malu!” geram Gerry.


“Hahaha!” tawa pak Rudi menggelegar, “Bagaimana ini pak Gerry? Sepertinya dia sudah mengkhianati anda!”


“Jika saya berhasil membuat dia meminum teh dari anda … apakah anda benar-benar akan menyelamatkan saya?” tanya Gerry.


“Tentu, aku tidak berbohong dengan kata-kataku!”


Mengangguk-angguk, “Baiklah!” menatap tajam ke arah Raya.


“Ger! Gerry apa yang sedang kamu pikirkan!” beringsut mundur.


“Mr. X! Tahan dia!”


“Gerry!” pekik Raya hendak berdiri melarikan diri.


Dengan sigap Mr. X langsung menahan Raya.


“Lepaskan!” Raya berusaha berontak.


Dengan geram Gerry memegang gelas teh, berdiri mendekat ke arah Raya.


“Gerry! Aku tidak akan pernah memaafkan mu!” pekik Raya.


Gerry langsung mencengkram mulut Raya.


“Gerry!!!” pekik Raya tidak jelas sembari berontak.


Gerry memaksa mencekokkan teh ke mulut Raya.


Raya tidak mau menelan, membuat Gerry terpaksa membekap hidung dan mulut Raya.


Wanita itu masih berkeras, sampai akhirnya Mr. X menjatuhkan, membanting tubuhnya ke lantai.


Saat itulah, dengan tidak sengaja, teh itu tertelan juga.


Raya langsung kejang melotot tajam ke arah Gerry.


Mulutnya berbusa dan semakin lama tubuhnya menjadi kaku.


Gerry tersungkur lemas melihat ke arah Raya, matanya masih melotot penuh kilat amarah.


Kedua tangannya gemetar.


“Jangan sampai anda mengompol di sini! Jangan khawatir … kalian akan akan aman! Selanjutnya serahkan saja padaku,” tersenyum, “kalian hanya perlu menutup mulut dan menganggap ini tidak pernah terjadi!”


Gerry masih gemetaran tidak berani berkata-kata.


Mr. X yang masih terlihat tenang menunduk memberi hormat kepada pak Rudi.


“Aku sudah menyiapkan tempat penginapan untuk kalian. Beristirahatlah sambil melihat pertunjukan ini sampai selesai! Dengan begitu kalian akan yakin jika kalian akan aman selama kalian bisa menutup mulut!”


“Terima kasih atas kebaikan pak Rudi!” Mr. X kembali bersujud memberi penghormatan.


Celana Gerry sudah basah.


Sepertinya dia benar-benar ketakutan sampai mengompol.


Dari layar Tv di dinding, Hirza menyaksikan semua kejadian di ruangan khusus yang masih berada di kawasan restaurant.



Tujuan pak Rudi mengundangnya tentu untuk menyaksikan pertunjukan ini.


Kakaknya ingin Hirza melihat, apa yang bisa dia lakukan pada wanita yang mencoba dekat dengannya.


Dengan tatapan sedih dia mematikan layar.


Pikirannya melayang jauh meratapi nasib.


Sepertinya … aku memang tidak akan pernah bisa bersanding dengan wanita yang aku cintai!


Vee … aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu!


Ini sumpahku dalam kehidupan ini!

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2