
Vee dan Yazza tengah makan saat Dania ke dapur.
Pak Ardi dan pak Karno ikut makan bersama di meja makan kali ini.
“Eh … mbak Dania, Kebetulan ada yang ingin saya bicarakan,” Vee menoleh ke arah gadis itu.
Dania tampak was-was melihat ke arah Vee, “Iya ibu?”
“Em … begini, madam Lia sudah kembali, jadi mbak Dania tidak perlu di sini lagi. Masalah gaji, kami akan membayar penuh sesuai kontrak dan kamu tidak perlu mengkhawatirkan tentang hal itu!”
Sontak gadis yang masih belia itu membelalakkan mata terkejut, “Tapi buk … saya akan jadi tidak enak hati nantinya!”
“Tidak perlu sungkan, mbak juga sudah melakukan yang terbaik untuk Yve sejauh ini. Saya sudah pasti akan sangat berterima kasih.”
Sialan!
Apa aku akan dipecat wanita ini!
Jika aku sudah tidak bisa bekerja di sini … bagaimana bisa aku lebih dekat lagi dengan pak Yazza!
Dania semakin ketar-ketir bergumam dalam hati.
“Eh … bukankah alasan kamu mau bekerja supaya bisa bayar kuliah?” tanya pak Ardi.
“Benar pak! Saya mohon … jangan berhentikan saya! Saya bisa melakukan apapun … emb … tidak menjadi pengasuh juga tidak apa-apa! Saya juga bisa bersih-bersih di sini kok,” pinta Dania memohon.
Pak Ardi melihat ke arah Vee, “Nyonya Vee … bukankah kita baru saja kehilangan satu pembantu? Bi Imah pasti akan kesulitan jika mengurus rumah sendirian. Bagaimana jika tetap memperkerjakan Dania? Daripada harus mencari pembantu lagi di luar sana!”
Vee menyipitkan mata seolah tampak sedang berpikir, “Emb … apa itu tidak merendahkan harga diri mbak Dania? Dia mahasiswi loh! Masa iya jadi pembantu sih?”
“Saya bersedia kok! Ibu Vee … saya mau jadi asisten rumah tangga di rumah ini! Asalkan saya masih bisa bekerja, saya sudah sangat cukup berterima kasih.”
Vee menyipitkan mata, “Mbak Dania yakin?”
Gadis itu tersenyum mengangguk antusias, “Apapun akan saya lakukan untuk menyelesaikan biaya kuliah saya buk!”
Kali ini Vee tersenyum bangga, “Saya suka semangat anak muda yang seperti ini,” menatap Dania mendalam, “Kalau begitu … baiklah! Mbak Dania boleh tetap bekerja di sini!”
“Terima kasih buk!” sahut Dania sembari tersenyum memberi hormat.
Well … tidak apa-apa menjadi pembantu untuk sementara.
Tunggu saja sampai aku menjadi nyonya di rumah ini!
Akan aku injak-injak kalian semua!
Yazza tampaknya tidak terlalu peduli dengan keributan di sekelilingnya.
Dia tetap cuek melanjutkan makan.
__ADS_1
Pak Ardi tersenyum tipis menatap ke arah Vee.
Begitu pula Vee, dia tersenyum lalu melirik ke arah Dania.
Bagus!
Karena jaring sudang terpasang … sekarang tidak akan ada lagi ikan yang bisa lolos dari dalam rumah ini!
...***...
Jemari Hirza mengetuk meja dengan gerakan lambat, matanya tertuju pada layar laptop di hadapannya. Sementara, tangan kirinya menutup bibir yang hanya bungkam sedari tadi.
“Kenapa mbak Vee terlihat semakin mencurigakan sih mas?” tanya Hans yang sudah mengenakan seragam SMA nya.
Hirza hanya menggeleng tipis, dia masih tidak bersuara.
“Padahal ada kesempatan untuk membuat wanita itu keluar dari kediaman Gionio, tapi kenapa justru malah merekomendasikan agar dia jadi assisten rumah tangga?” Hans menyipitkan mata, “Apa orang-orang di rumah itu dungu semuanya? Pak Ardi dan pak Karno cukup terkenal kan di masa kejayaannya? Kenapa mereka sama sekali tidak menaruh curiga pada keanehan wanita itu!”
“Justru aku khawatir jika kenyataanya justru berbanding terbalik dengan apa yang sedang kamu pikirkan itu,” ucap Hirza santai masih tidak mengubah posisi duduknya.
“Maksud mas?”
“Mengingat tentang acara pertemuan yang Vee dan orang-orang Shadow adakan … dan juga keputusannya menyembunyikan orang yang di duga pelaku ke tempat yang aman … apa kamu pikir yang di lakukan Vee ini sesimpel itu?”
Hans mengernyitkan dahi memikirkan kalimat kakak angkatnya.
“Aku semakin yakin jika Vee pasti sedang merencanakan sesuatu kali ini!”
Hirza hanya mengangguk dan kembali tidak mengucapkan sepatah katapun.
Hans ikut menatap layar laptop, “Wanita itu lebih licin dari belut dan lebih berbahaya dari ular berbisa! Meski aku tidak setuju dengan keputusan yang mbak Vee ambil kali ini, tapi akan aku pastikan jika tidak akan ada satu orangpun yang bisa menyakiti mbak Vee!”
“Hans … aku tahu kamu merasa memiliki hutang budi kepada Vee. Tapi ingat satu hal … jangan karena emosimu, kamu merusak pertahanan yang sudah kita bangun selama ini! Tetap bermain aman dan jangan terlalu menunjukkan diri!”
“Yeah … mas memang sudah mengajari aku banyak hal. Aku tahu apa yang harus aku lakukan! Mas tidak perlu khawatir!”
“Kamu masih muda … jiwamu juga masih labil! Meski aku sudah menanamkan sikap mawas diri sejak kamu masih kecil, tetap saja manusia itu seperti air! Mudah berubah warna dan selalu mengikuti bentuk wadahnya.”
“Dalam hal ini aku akan selalu mengingat dengan semua yang mas sudah tekankan! Hutang yang aku tanggung … mungkin tidak akan terbayar meski aku yang kali ini berdiri di depan ketika peluru menghujam ke arah mbak Vee. Bahkan jika aku mati … arwahku akan terus mengikuti dan menjaga mbak Vee sampai kapanpun!”
“Jangan berkata seperti itu Hans!” potong Hirza menatap khawatir ke arah adik angkatnya.
“Mas Hirza dan mbak Vee adalah orang yang paling berarti dalam hidupku! Kalau sampai terjadi sesuatu pada kalian … bagaimana mungkin aku hanya tinggal diam?”
“Kamu masih muda! Usia mu juga masih panjang! Kamu adalah satu-satunya orang yang aku percaya untuk menjaga Xean! Lalu … jika terjadi sesuatu padamu … bagaimana juga aku hanya tinggal diam? Hans … hutang yang kamu bawa, biar aku saja yang menanggung semuanya!”
“Mas …-“
“Sudahlah! Pergi ke Sekolahmu,” potong Hirza melihat jam tangan, “sebelum terlambat!”
__ADS_1
Hans terdiam, dia hanya menghela nafas panjang, menatap punggung kakak angkatnya.
...***...
Daniel kembali datang menjenguk Yve ke rumah sakit siang ini.
Dia tidak sendiri, Tisya dan Caesar juga datang bersamanya.
Yve tentu sangat senang dengan kedatangan Caesar.
Tapi tidak dengan madam Lia.
Dia merasa tidak tenang karena Tisya juga berada di sana.
“Tante Tisya baik sekali sudah membawakan Yve sekotak coklat,” ucap Yve tersenyum senang memegang kotak berwarna pink berisi tumpukan coklat di dalamnya.
“Hya itu ideku! Kenapa cuma berterima kasih pada tante Tisya?” protes Daniel mencibirkan birbir.
“Cih … kemarin saja cuma membawa buah-buahan!” Yve balas mencibir memicingkan mata melirik Daniel.
Tisya tersenyum menatap kekasihnya, “Sepertinya Yve memang sudah tidak percaya padamu,” ucapnya sembari mengelus bahu Daniel dengan lembut.
Daniel kembali mencibir, “Dia memang selalu seperti itu!”
Caesar yang berdiri di dekat ranjang rawat Yve tampak fokus melihat boneka di dekapan Yve, “Itu boneka baru kamu ya?”
Gadis kecil itu melihat ke arah boneka beruang di tangannya, “Ah … ini dari kak Xean!”
Seketika wajah Caesar terlihat muram, “Ah … jadi kak Xean sudah ke sini terlebih dahulu?”
Daniel mengelus rambut Caesar, “Hya … kamu kenapa? Kok tiba-tiba muram begitu? Cemburu ya?” goda Daniel cengengesan.
Tisya menyenggol pelan lengan Daniel, “Hush … apaan sih! Mereka masih kecil,” desis Tisya lirih.
Daniel meringis tersenyum menggaruk kepala melihat ke arah wanita di sebelahnya.
“Yve … maaf! Aku tidak membawa apa-apa untuk kamu,” ucap Caesar menunduk sedih memain-mainkan jemarinya sendiri.
“Ah jadi karena itu!” desis Daniel.
Mendengar ucapan Caesar, membuat Yve tersenyum gemas, “Astaga! Tidak apa-apa kok! Kamu mau menjenguk ke sini saja, aku sudah senang!”
Pintu terbuka.
Semua orang yang ada di dalam langsung melihat ke arah pintu.
Vee dan Yazza tampak terdiam begitu melihat siapa yang sekarang ada di kamar rawat putri mereka.
Begitu pula Daniel yang langsung tidak bisa berkata-kata ketika melihat Vee lagi setelah sekian lama tidak bersua.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...