
Hujan turun cukup deras malam ini.
Tidak banyak orang di cafe ketika Tisya dan Hirza bertemu di sana.
Dengan wajah angkuhnya, Tisya duduk menyilangkan paha tanpa melihat ke arah Hirza.
Hans datang membawa sepotong kue untuk dirinya sendiri, “Wah … respon kakak ini ternyata cepat juga ya!” duduk santai di sebelah kakak angkatnya.
“Kalian sedang berusaha menjebak aku lagi, atau apa kali ini?” tanya Tisya sinis melirik ke meja Xean dan Ozzy yang berada cukup jauh dari meja tempat mereka duduk.
Hans terkekeh pelan, “Hehehe … kenapa kakak bilang seperti itu?”
“Yang terakhir kali itu, kalian sudah benar-benar menempatkan kami dalam bahaya!” mencibir, “Cih … kenapa kalian suka sekali mengusikku!”
Hirza hanya tersenyum mendengus menyilangkan tangan di perut sembari menyandar santai ke kursinya.
Matanya melirik ke luar jendela.
Mobil Cadillac hitam terparkir di dekat jalanan.
Hirza kembali tersenyum sinis, menatap ke arah Tisya.
Hans mengambil garpu kecil, “Pertama, kakak yang sudah datang dan mengusik kedamaian kami. Kedua, kami tidak mau dituduh macam-macam. Dan ketiga, kami mengirim video pacar kakak dengan maksud baik! Kenapa masih saja disalah artikan?”
Tisya mendengus tersenyum, “Saya ke sini bukan karena saya takut dengan ancaman Shadow! Mereka tidak akan bisa menyakiti Daniel! Saya ke sini justru sangat penasaran … kenapa kalian memata-matai kekasih saya? Apakah salah satu dari kalian begitu terobsesi pada saya?”
Hans tersenyum, “Kakak memang cantik! Tapi aku tidak suka wanita yang lebih tua dariku,” mendengus memakan potongan kue.
Hirza tersenyum masih tidak berubah dari posisi sebelumnya, “Sepertinya anda ini cukup percaya diri juga ya?”
Tisya kembali mendengus membuang muka, “Tentu saja!”
“Saya beritahu sesuatu kepadamu! Bayangan akan semakin terlihat sangat jelas ketika cahayanya terang. Karena kita berada ditempat yang lebih tinggi, apa yang tidak bisa kami lihat? Bukankah seharusnya teori ini sudah cukup menjelaskan rasa penasaranmu itu?”
Tisya menatap Hirza mendengus tersenyum, “Singkatnya … anda ingin saya menyimpulkan bahwa kalian memang tahu segalanya?”
“Tepat sekali!” jawab Hans santai sembari mengunyah.
“Sebelum membahas tentang pacarmu itu, ada sesuatu yang harus kami sampaikan!”
Tisya menyipitkan mata menatap Hirza penuh tanda tanya.
“Shadow sudah menemukan bukti jika kalian terlibat dalam kasus teror bom itu!”
“Apa? Itu tidak mungkin!” sahut Tisya membelalakkan mata terkejut.
“Oh … jadi kakak anda tidak memberitahukannya? Padahal aku sudah mengirim sebuah video ke kakak anda loh!” ucap Hans sengaja mengompori.
Ekspresi wajah Tisya tampak semakin kusut mendengar pernyataan itu.
“Apa kalian sedang mencoba mengadu domba antara aku dan kakakku?” tanya Tisya menyipitkan mata.
Hirza justru terkekeh pelan, “Kamu sudah membuat masalah besar … sepertinya kakakmu pun mulai bersikap hati-hati di hadapanmu!”
Wanita itu menggeleng tidak percaya, “Jangan berbohong!”
“Tanyakan saja pada pemimpin pengganti Strom yang baru!” cibir Hans.
Meski tidak terlihat, tapi kedua tangan Tisya mulai mengepal di bawah meja.
“Well … semua orang memiliki bayangan, dan sulit untuk menyembunyikannya! Cerdiknya … mereka langsung meminta sebuah pertemuan pribadi dengan para petinggi Paradise! Kami bisa apa saat mereka mengadu dalam pertemuan itu?” Hirza mengangkat kedua tangannya seolah pasrah.
__ADS_1
Dengan rahang mengeras, Tisya kembali menggelengkan kepalanya.
“Bukankah anda sudah berjanji jika kita akan baik-baik saja? Atau jangan-jangan … kalian memang sangat ingin menjebak dan menjatuhkan kami?”
Hans tersenyum menaruh garpu, “Kami tidak pernah ingkar janji!”
“Lalu apa maksud dari semua ini?”
“Bukti yang mereka temukan sangat minim. Dan polisi tidak akan bisa menguatkan tuduhan hanya karena pita merah kalian. Kami tidak mengenakan pita itu dalam acara … bukankah kami sudah membantu kalian?” jawab Hans santai.
Pemuda itu duduk setengah membungkuk.
“Jika kita ikut mengenakan pita itu … mungkin akan lain hasilnya! Tapi karena hanya keluarga Nirwana saja yang mengenakan pita itu … bisa saja polisi akan menduga jika kalian memang kompak mengenakan pita merah dalam acara tersebut! Simpel bukan?” lanjut Hans menerangkan.
Tisya menghempaskan nafas lega, bahunya sedikit turun.
“Ada satu kejutan lain!” ucap Hirza santai.
“Kejutan?” alis Tisya kembali bertautan.
“Shadow mengumumkan jika ketua baru mereka adalah Yazza!”
“Apa!” pekik Tisya meninggikan nada.
Beberapa orang yang ada di lokasi tampak menoleh menatap ke arah mereka.
Termasuk Ozzy dan Xean.
Hirza tersenyum tipis tanpa kata-kata.
Mengetahui jika suaranya sudah menarik banyak perhatian, tentu membuat Tisya tampak salah tingkah.
Xean mencibir menatap ke arah meja papanya.
“Cuih … katanya kita akan makan malam di restaurant Italy? Kenapa malah ke cafe?” melirik Tisya, “Tante itu siapa, terlihat genit!” cibir Xean sinis.
“Bagaimana jika tante itu jadi mama baru kamu?” goda Ozzy.
“Nggak!” tegas Xean menatap sinis.
“Kenapa? Tante itu terlihat cantik dan lemah lembut!”
“Aku maunya cuma tante V …-“
Tangan Ozzy langsung membekap mulut Xean, “Shhh … shhh … shhh!”
Xean mencoba menyingkirkan, “Ish … rese deh kayak mas Hans!”
Ozzy melirik ke luar jendela, dia membungkuk, mendekatkan kepala condong ke Xean, “Jangan lihat! Di arah jam 9 … sepertinya ada temannya pak Rudi! Kamu tahukan peraturannya?” desis Ozzy.
Xean melirik tanpa memiringkan kepala, “Eh … mobil itu lagi?”
“Lagi?”
“Baru-baru ini, aku sering melihat mobil itu di lingkungan sekolahku!”
Ozzy kembali duduk tegak sembari menaruh jari tangan di dagunya, “Hmm!”
“Haiz … dia mengawasi aku ya?” tebak Xean.
“Lebih tepatnya kita!” jawab Ozzy santai.
__ADS_1
Xean kembali melihat ke arah meja papanya, “Ahh … aku mengerti sekarang! Apa ini seharusnya pertemuan rahasia?”
Ozzy mengangguk-anggukkan kepala.
“Cuih! Lagi-lagi papa menggunakan kita sebagai alat untuk menutupi kecurigaan!”
Ozzy tersenyum menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Ini urusan penting! Demi tante kesayanganmu … kami harus menemui tante itu!” menoleh sedikit ke arah meja Hirza, “Papamu membutuhkan peran kehadiran kita bersamanya sebagai framing agar tujuan utamanya tidak ketahuan orang yang ada di luar itu!”
Ozzy kembali menatap Xean, “Kamu paham kan?”
Xean mengangguk-angguk kembali menikmati sepotong kue di piring kecil yang ada di hadapannya.
“Aku bisa di andalkan,” ucapnya datar seolah tidak terjadi apa-apa.
“Anak pintar,” Ozzy ikut kembali menikmati hidangan di hadapannya.
Begitu memastikan orang-orang tidak lagi memperhatikan, Tisya kembali memberanikan diri menatap Hirza.
“Setahuku, Yazza tidak pernah tahu jika dia memiliki kuasa di Shadow! Kenapa tiba-tiba jadi begini?”
“Kejadian terror bom itu membuat dia bangun dari tidurnya! Terlebih istrinya terluka saat itu! Sepertinya orang-orang yang selalu melindunginya juga tidak akan tinggal diam,” jawab Hirza datar.
“Bukankah itu artinya mereka sudah memiliki rencana? Apa kalian juga tahu?” tanya Tisya semakin penasaran.
“Dalam pertemuan dengan para tetua Paradise, mereka meminta kami untuk memberi peringatan kepada kalian! Well … karena itu adalah misi dari saya, kalian tidak perlu khawatir tentang peringatan itu! Cukup kalian ingat kata-kataku ini! Kalian tidak akan bisa dengan mudah lagi, jika hendak berurusan dengan Yazza!”
Tangan Tisya mengepal dengan rahang yang mengeras.
“Karena Yazza sudah resmi masuk ke dalam lingkup kita, kalian tidak bisa menyerang Yazza secara terang-terangan! Dan sekarang masalahnya … pacarmu tengah berurusan dengan Yazza! Apa kamu masih tidak khawatir?” ucap Hirza dengan nada mengintimidasi.
“Ahh … satu lagi! Jangan pura-pura tidak tahu … kamu sudah tahu kan kalau pacarmu itu mempunyai hubungan gelap dengan istri Yazza?”
Mata Tisya seketika membulat menatap Hirza dengan nafas tercekat.
Hirza kembali tersenyum sinis melihat ekspresi Tisya.
“Pertama, kamu tidak akan sanggup melawan Yazza karena dia adalah orang yang kamu cintai. Dan kedua, kamu juga tidak akan mungkin tinggal diam ketika kekasihmu dalam bahaya! Yah … memang awalnya kamu tidak menyukainya! Tapi sepertinya … kamu jauh lebih peduli padanya sekarang,” cibir Hirza terus mencecar Tisya untuk menyudutkan wanita itu.
“Bagaiman bisa anda tahu tentang ini semua?” geram Tisya.
“Sudah aku bilang … tempatku berada jauh lebih tinggi! Memangnya apa yang tidak bisa aku ketahui?” ucap Hirza tersenyum pongah.
“Sebenarnya apa maksud dan tujuan anda kali ini?”
Hans tersenyum, “Sepertinya kakak ini cukup peka juga ya!”
Wanita itu menatap sinis ke arah Hans, “Kita memang tidak boleh menilai orang dari sampulnya saja!”
“Yeah, begitulah!” ucap Hans sama pongahnya.
“Jadi … apa kamu masih bisa berkata kamu bisa melawan Shadow? Well … setelah tahu jika Yazza adalah ketuanya sekarang?”
“Katakan! Apa yang harus saya lakukan untuk membuat Daniel aman?” tanya Tisya mengatupkan bibir geram.
“Seperti biasa … barter jasa!”
Tisya tampak menyipitkan mata, bersiap mendengarkan perintah dari Hirza.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1