RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
SALAH PILIH TEMAN


__ADS_3


KEJADIAN SEBELUM PENANGKAPAN BERLIANA


*


*


*


Amel, Ellen dan Berli masuk ke gallery berlian dalam Mall.


Seorang langsung menyambut dan mengawal mereka menuju etalase kaca yang memajang berbagai jenis berlian.


Mulai dari cincin, gelang, kalung dan aksesories lain seperti bross dan berlian murni.


“Silahkan kak, yang ini keluaran terbaru!” SPG wanita yang berada di dalam konter menunjukan.


Amel tampak menata Ellen dengan isyarat mata.


Ellen mengangguk tipis sembari menata SPG yang lain.


“Emb, kak … boleh temani saya melihat yang di sebelah sana?” Ellen menunjuk di bagian sisi lain yang jauh dari Amel dan Berli.


“Tentu saja! Mari silahkan!” dengan ramah SPG wanita yang lainnya mengawal Ellen menjauhi dua temannya.


Amel tersenyum lalu menunjuk ke koleksi keluaran terbaru, “Kak, lihat ini semua boleh?”


Mengangguk, “Tentu saja kak!”


Mulai mengeluarkan satu per satu.


“Wuih, indah sekali!” Berli kagum melihat salah satu kalung.


Haiz! Kenapa mas Ganny membekukan semua kartu kreditku sih!


Aku jadi tidak bisa memiliki yang ini!


Batin Berli muram masih sambil melihat kalung yang dia pegang di tangannya.


“Kamu suka yang itu ya Ber?” tanya Amel sembari tersenyum manis.


Mengangguk, “Tapi lain kali saja!” kembali menaruh di kotak.


Amel tersenyum, lalu melihat ke koleksi cincin.


“Eh, kak … boleh tolong ambilkan cincin yang itu?” menunjuk cincin yang agak jauh.


Tersenyum ramah, “Baik kak!”


Berli ikut melongok melihat ke arah SPG yang tengah berhati-hati mengeluarkan cincin dari dalam etalase kaca.


Dia penasaran dengan model cincin yang Amel ingin lihat.


Di saat itulah, Amel langsung meraih dua kalung.


Satu langsung dia sembunyikan di tasnya dan satunya lagi dia selipkan ke tas Berli.


Tentu kalung itu adalah kalung yang sempat Berli pegang sebelumnya.


“Yang ini kan kak?” SPG menunjukan cincin yang Amel tunjuk.


Mendekat, “Ah iya!” melihat dengan seksama, “Aku mau beli ini dong kak!”


Ellen membalikan badan, “Eh, sudah menemukan yang kamu suka Mel?”


“Yang ini mau langsung aku beli. Bagus banget, takut nggak bisa tidur!” Amel membuka tasnya.


Huh!


Andai saja aku terlahir dari keluarga kaya!


Tidak perlu bergantung ada laki-laki yang bahkan masih tidak peduli padaku sampai saat ini!


Batin Berli sedikit iri melihat Amel yang tampak langsung ingin membeli perhiasan mahal tanpa banyak berpikir.

__ADS_1


Amel pura-pura sibuk mencari dompet, tapi sebenarnya dia sedang menyembunyikan kalung yang dia ambil ke gulungan kertas bekas struck belanja.


“Aduh, kebiasaan nih! Banyak banget struk belanja yang tidak penting!” tersenyum ke SPG, “Bentar ya kak! Maaf,” seolah merasa bersalah.


“Iya kak!” tersenyum ramah.


“Berli, tolong buang sampah ini ke tempat samah di depan sana ya?” menatap mengiba, “Aku harus mengurus pembayaran!” memberikan gulungan kertas ke Berli.


Cih! Beraninya menyuruhku!


Jika aku tidak berniat meminjam uang padanya, males banget deh!


Gumam Berli menggerutu dalam hati.


“Tolong deh Ber!” Amel kembali memohon.


Tersenyum palsu, “Iya oke!”


Amel dan Ellen saling tatap tersenyum dengan makna lain.


“Jadi berapa kak?” Amel membawa dompetnya ke meja kasir.


Berli keluar untuk membuang sampah di depan toko.



Alarm berbunyi, membuat Berli celingukan terkejut.


Satpam dan penjaga keamanan langsung mendekat.


“Astaga! Ya ampun!” Amel pura-pura terkejut.


Orang-orang mulai berkerumun dan bergunjing tentang Berli.


“Mbak! Bisa saya periksa tasnya?” tanya salah seorang penjaga keamanan Mall masih dengan nada sopan.


“Apa-apaan ini? Saya tidak mencuri apa-apa! Kenapa berbunyi?” Malu dan dan salah tingkah.


SPG menatap Amel dan Ellen curiga.


“Emb, kami juga bersedia di periksa kok!” lanjut Amel mengajukan diri agar tidak di curigai.


“Mel, Len! Aku tidak mencuri!” Berli menatap meminta tolong.


“Kalau begitu ijinkan kami memeriksa tas mbak bertiga!”


Amel dan Ellen tampak kooperatif langsung menyerahkan tas mereka.


SPG langsung memeriksa tas Amel dan Ellen.


Gawat!


Kalau ketahuan aku tidak punya uang sepeserpun di dompet, bisa-bisa aku makin malu!


Gumam Berli dalam hati.


“Mbak!” Satpam mencoba menarik tas Berli yang masih di tahan.


“Jangan! Saya tidak mencuri!” Berli menjatuhkan gulungan kertas yang langsung menggelinding keluar.


Amel tampak memperhatikan dengan seksama, kemana gulungan itu berada.


“Jika mbak tidak bisa bekerja sama! Kami akan memaksa!” penjaga keamanan mulai tegas.


“Berli! Kami tahu kamu sedang kesulitan materi! Tapi jangan mencuri juga dong!” Amel menatap kesal.


“Jangan bawa-bawa kami juga! Kan kami malu! Kami tidak tahu apa-apa tapi jadi ikut di curigai kan?”


Dua SPG wanita saling tatap lalu menganggukkan kepala.


“Dua kakak ini aman!” tegas SPG.


Berli mulai mewek dengan mata yang berkaca-kaca, “Mana mungkin aku mencuri!”


“Iya makanya biar kami periksa supaya kami tahu!” Satpam menarik paksa kali ini.

__ADS_1


Berli kalah, dia yang ketakutan karena di bentak jadi menciut meneteskan air mata.


“Nah ini apa?” Satpam menemukan kalung dalam tas Berli.


Membelalakkan mata, “Bukan! Bukan saya!”


Amel dan Ellen seolah terkejut.


“Astaga!” menutup mulut dengan kedua tangan.


“Nah! Kalung itu yang sempat di incar kakak itu! Kakak itu pasti memang mencurinya!” tegas Spg.


“Mel! Gimana ini! Tolong aku!” rengek Berli.


“Sudah! Mbak ikut kami dulu ke kantor!” satpam menarik paksa Berli.


“Amel! Ellen!” Berli menoleh sambil dipaksa berjalan menuju kantor keamanan Mall.


“Iya … iya! Kami nanti akan menyusul setelah dari toilet!” Amel mengangguk seolah menguatkan Berli sembari berjalan menuju penjaga keamanan yang lain.


“Aku tidak mencuri!” Sentak Berli berusaha melepaskan tangannya.


“Diam! Sudah jelas salah! Masih saja tidak mau mengaku!” sentak Satpam.


Amel menarik lengan Ellen mendekat, “Emb, pak! Dia dari dulu memang suka begitu! Apa kami masih perlu diperiksa?”


“Karena mbak berdua bersih, sepertinya tidak perlu di periksa lagi,” menggeleng berdecak melihat ke arah Berli, “Ckckck! Sebaiknya mbak berdua ini tidak usah lagi berteman dengan orang seperti itu!”


Mengangguk sedih, “Kami hanya kasihan padanya! Kami kesini mau mengajak dia makan karena dia bilang dia sedang kesulitan dalam keuangan. Eh … siapa sangka dia malah membuat kami dalam masalah!”


“Ya sudah! Kami akan memeriksa teman mbak dulu, kalau mbak mau ikut boleh!”


Amel menatap Ellen, “Sepertinya kami mau pulang saja! Kami sudah cukup malu dengan ulah teman kami!”


Mengangguk, “Lain kali hati-hati memilih teman mbak! Banyak yang lebih baik kok! Jangan salah pilih teman deh pokoknya!”


Mengangguk, “Kalau begitu terimakasih ya pak! Semoga teman kami juga dapat efek jera dari kejadian ini!”


Diam-diam Ellen mengambil gulungan kertas di lantai.


Amel melirik, begitu memastikan gulungan itu sudah aman, dia kembali menatap penjaga keamanan dan Spg.


“Sekali lagi kami memohon maaf atas kekacauan ini! Kami permisi dulu!”


“Kami juga minta maaf kak! Kami sempat mencurigai kakak berdua?” ucap Spg tulus.


Amel dan Ellen tersenyum, “Tidak masalah!”


...***...


KEMBALI KE KANTOR KEAMANAN MALL


*


*


*



Leo tersenyum puas menunjukan rekaman CCTV yang menunjukan bukti jika Berli memang tidak bersalah.


“Mereka berdua memang cerdik memilih sudut yang sulit di jangkau CCTV! Untung saja masih ada pantulan cermin yang bisa menangkap dengan jelas kejadian yang sebenarnya!”


Baik SPG, kepala keamanan Mall, dan Satpam tampak saling tatap salah tingkah.


Tampang sangar yang sebelumnya mereka tunjukan tiba-tiba berubah menciut ketakutan.


Berli berdiri pongah menyilangkan tangan di perut tepat di samping Leo.


Dengan tatapan sinis, dia tersenyum penuh kemenangan.


“Jadi ... bagaimana kalian akan meminta maaf kepada klien saya?” Leo tersenyum dingin menatap tajam kepala keamanan.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2