
Vee sudah menunggu di ruang direktur pemasaran.
Pintu terbuka.
“Pak Didik!” Vee berdiri terkejut melihat mantan atasannya tampak memasuki ruangan.
“Vee, lama tidak jumpa!" Terkekeh sambil masuk keruangan. "Padahal kamu sedang bersinar waktu itu. Tapi kenapa tiba-tiba mengundurkan diri? Eh, silahkan duduk dulu!” Pak Didik mempersilahkan Vee duduk dengan gerakan tangan.
“Jadi aku akan kembali menjadi bawahan bapak?” tanya Vee tersenyum antusias sembari duduk.
Menggeleng, “Kamu akan langsung naik posisi.”
“Hah?” menyipitkan mata.
“Yeah!” tersenyum. “Menjadi sekertaris CEO kita!”
“Sekertaris? Naik jabatan dari mananya?”
“Justru itu! Kamu akan jadi tangan kanan yang mengatur segala hal tentang orang paling penting kedua, setelah presdir di kantor ini loh!”
“Tapi sepertinya bukan bidang saya!”
“Gajinya lebih tinggi. Pekerjaannya jauh lebih mudah.”
“Gaji lebih tinggi?” kelihatannya Vee langsung tertarik begitu mendengarnya.
Mengangguk, “Tidak keberatan bukan?”
“Tentu saja tidak! Shhhh! Tapi, kenapa tiba-tiba berubah?”
“Kebetulan sekertaris CEO yang sebelumnya sedikit bermasalah dan dipecat.”
“Ah, saya mengerti!” mengangguk-anggukkan kepala.
“Ya sudah, langsung ku antar menemui beliau saja bagaimana?” pak Didik yang lebih tidak sabar sepertinya.
“Em, boleh.”
Pak Didik dan Vee kembali berdiri.
“Jadi, seperti apa CEO kita ini?” mengusap-usap lengannya yang tidak gatal.
“Maksudku karakteristiknya.” Lanjut Vee ragu-ragu.
Keduanya berjalan santai menuju ruang kerja CEO White Purple.
“Dia masih sangat muda. Sedikit menyebalkan kadang-kadang!”
“Saya jadi gugup!” merapikan rambutnya.
“Dia putra tunggal presdir loh!” desis pak Didik menegaskan.
“Hah?” Vee semakin merasa tidak percaya diri.
“Belum menikah juga!”
“Ah, sudah pasti anak manja yang tiba-tiba masuk untuk memimpin kan? Biasanya yang begitu akan sok berkuasa!”
Terkekeh pelan, “Hahaha! Tidak juga sih! Dia berusaha keras untuk mencapai posisi ini.”
Menyipitkan mata, “Maksud anda dia tidak langsung di angkat jadi CEO?”
“Tentu saja tidak!”
“Shhh! Jadi penasaran.” Menyilangkan tangan di depan perutnya.
“Satu pesanku! Harap bersabar menghadapinya. Dan, mungkin kamu harus lebih tegas sesekali kepadanya!”
“Maksudnya?” alisnya bertautan menatap pak Didik spekulatif.
Kenapa Vee harus lebih tegas kepada atasannya?
Pak Didik hanya meringis tersenyum sembari terus berjalan.
***
Vee menarik nafas panjang saat di depan pintu ruang kerja bossnya.
__ADS_1
Tok...tok..tok!
Pak Didik mengetuk pintu.
Daniel merapikan pakaian dan rambutnya, lalu berdiri berdehem bersiap menyambut kedatangan calon sekertaris barunya.
Pintu dibuka oleh pak Didik dari luar ruangan.
Vee tersenyum berterimakasih sambil melangkah ke dalam.
“What!!!”
Vee terperangah terkejut melihat Daniel yang tersenyum lebar melambai manja kearahnya.
Vee kembali mundur keluar ruangan untuk melihat tulisan yang tertempel di pintu.
CEO.
Dia tidak salah masuk ruangan kan?
“Putra tunggal presdir?”
Apa benar?
“Pak Didik yakin dia orang yang tepat?” tanya Vee polos.
Pak Didik tersenyum mengangkat bahu, berisyarat dengan kepala kepada Vee untuk segera masuk.
“Pak boleh tidak saya jadi manager pemasaran saja?” Vee mengernyit.
“Kalau tidak mau bekerja di sini juga tidak apa-apa. Buat surat resign saja!” Daniel duduk santai mengeraskan suara.
Vee tersenyum lebar penuh kepalsuan ke arah Daniel, “Jadi sekertaris juga tidak apa-apa kok!”
Daniel tersenyum pongah merasa menang.
Vee meringis melihat ke arah pak Didik.
“Aku sudah berpesan kepadamu!” goda pak Didik mengejek Vee.
Melihat Daniel, “Saya kembali dulu. Selanjutnya terserah saja.” Semakin mengolok-olok Vee dengan sengaja.
Vee menahan lengan pak Didik, “Selamatkan saya pak!” terdengar merengek seperti anak-anak yang minta balon tapi tidak dibelikan.
Karena mereka masih di ambang pintu, orang-orang melihat ke arah mereka.
Lagi-lagi pak Didik merasa malu menjadi pusat perhatian.
“Memohon saja pada atasan barumu!” pak Didik nyengir sambil melepaskan diri dari Vee.
“Semangat!” desisnya, sebelum akhirnya pergi dengan menutup wajahnya lagi dengan sebelah tangan.
Semua orang tampak menatap aneh ke arah pak Didik.
“Wanitanya juga sama saja. Pandai mempermalukan orang!” gerutunya lirih sembari berjalan cepat melewati para karyawan.
Vee nyengir ke semua orang.
Menunduk hormat memberi salam sebelum akhirnya masuk dan menutup pintu dari dalam.
“Hi!” Daniel memutar-mutar kursi yang dia duduki.
“Masih saja kekanakan!” gumam Vee dalam hati.
Daniel terlihat cengingisan sok imut.
“Pagi pak. Mohon kerjasamanya!”
“Haiz, jangan terlalu formal jika hanya berdua.” Berhenti memutar kursinya lalu menatap Vee gemas.
Vee melihat sekeliling, “Bagaimana jika saya langsung ke meja kerja saya di depan tadi?” pamit Vee canggung.
"Eh tunggu!" cegah Daniel.
Daniel segera menelepon satpam.
__ADS_1
“Pak Soleh, suruh beberapa orang untuk segera memindahkan meja kerja sekertaris agar menjadi satu ruangan denganku. Cepat!”
Vee membuang muka mengernyit kesal, “Dasar pria freak!” gerutunya.
Daniel tersenyum, “Tempat kerjamu akan segera diatur. Kesini dulu!”
Vee dengan langkah kesal berjalan mendekat dan duduk di hadapan Daniel.
Seperti yang biasa dia lakukan. Daniel menopang dagu tersenyum melihati Vee.
“Pak, bisa tidak, jangan seperti itu?” Vee merasa risih.
“Kenapa?” Daniel masih tersenyum melihati Vee. “Mau menenggelamkanku ke lautan? Aku masih sangat ingat kata-kata yang sering kamu katakan itu.”
“Ckkk! Kalau saja bukan bossku, sudah benar-benar aku tenggelamkan!” gumam Vee.
Daniel terkekeh pelan, “Aku mendengarnya.”
Meringis palsu, “Maaf pak!”
“Jadi, waktu itu setiap kali kamu bilang kamu punya kekasih. Itu tidak bohong? Apa kamu resign waktu itu karena hendak menikah? Ckkk, tahu begitu aku dahulu yang langsung menikahimu!”
“Pak!” Vee menahan nafas memejamkan mata.
“Ya?” jawab Daniel santai masih tidak berpaling menatap Vee menoang kepala.
“Ini hari pertama saya. Jadi apa yang harus saya kerjakan?” tanya Vee berusaha bersabar sembari tersenyum.
“Pertama, menjadi istriku, kedua hidup bersamaku dan ketiga menjadi miliku!”
“Hya!” sentak Vee membuat Daniel terkejut mundur menegakkan duduk.
“Mengagetkanku saja!” protes Daniel mengelus dadanya.
Vee kembali tersenyum, “Pak ini jam kantor! Serius deh!”
Mencibir, “Kenapa menjadi mirip sekali seperti pak Didik!” menyodorkan iPad. “Disini ada jadwal kegiatan yang harus kulakukan. Dan mulai sekarang kamu yang mengambil alih tugas itu. Mengatur jadwalku.”
Tersenyum, “Siap pak!” Vee menerima iPad dan langsung memeriksa jadwalnya.
Daniel kembali menopang dagunya tersenyum menatap Vee yang sedang serius membaca.
Tok...tok..tok!
Pintu diketuk, “Permisi!”
“Ya!” Vee berdiri.
Pak Soleh membawa meja panjang bersama satpam lainnya.
Dia tampak terkejut melihat Vee, “Loh, bukankah nona ini?” melihat Daniel yang masih tersenyum memperhatikan Vee.
“Hemm! Pantas saja!” dia berdehem, “Ehem! Pak Daniel, ini ditaruh di mana? Ruangan bapak sudah penuh barang-barang.” Lanjut pak soleh menggoda.
“Singkirkan saja yang tidak penting!” masih tetap pada posisinya.
“Pak bisa tidak, agar tidak menyusahkan orang?” Vee merasa tidak enak hati dengan para satpam dan beberapa pekerja.
“Shhh, duduk saja! Mereka sedang mengatur meja kerjamu.” Daniel mengabaikan semua orang.
“Nona lupa dengan saya ya?” tanya pak Soleh.
“Justru saya pikir pak Soleh yang akan melupakan saya.”
“Bagaimana saya lupa. Setiap hari pak Daniel berulah dan membuntuti nona sampai seluruh karyawan tahu. Bahkan sampai tidak ada yang berani mendekati nona!” pak Soleh terkekeh.
"Sepertinya pak Soleh masih bersikap sama seperti saat Daniel menjadi karyawan. Jadi, meskipun sudah menjadi CEO, mereka masih menganggap Daniel seperti dulu? Yang mudah akrab dengan orang, suka bercanda dan bersikap baik kesemua." Batin Vee mencibir tersenyum.
"Memang masih saja seperti Daniel yang ku kenal!"
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))>' '<((((<...
__ADS_1