RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
DENDAM DARI PESISIR


__ADS_3

KANTOR PEGADAIAN PT. GADAI BAYANG


MARKAS SHADOW


“Namanya Logan,” ucap Vee yakin begitu mengingat salah seorang dari dua pria yang mengejarnya.


“Dia anak seorang juragan di Pesisir. Sejak lama dia sudah menganggap aku sebagai penghalang hidupnya!”


“Dia iri karena aku adalah keistimewaan ayahnya … dan dia marah karena sempat aku hajar habis-habisan karena melecehkan temanku!”


“Orang gila ini lebih bodoh dari seekor keledai sekalipun!”


“Temanku sedang hamil besar dan dia memaksa, bahkan menggilir nya dengan teman-temannya. Sungguh tidak punya otak!” pungkas Vee geram yang kembali teringat tentang perlakuan Logan kepada Yunna.


“Dia dari Pesisir?” tanya Mr. Bald menyipitkan mata.


“Yeah … yang satunya aku tidak pernah melihat pria itu sebelumnya. Entah orang baru atau apa, aku tidak tahu,” dengan santai Vee mengangkat bahu menatap Mr. Bald.


“Tapi kenapa kamu bilang kalau dua orang ini mengejar mu?” tanya Mr. Bald masih penasaran.


“Seperti yang sudah aku katakana tadi … dia selalu menyimpan dendam dan kebencian yang besar terhadapku!” jawab Vee masih bersikap santai.


“Tunggu … sepertinya itu mobil Jeep Strom!” Icha melihat rekaman CCTV jalanan dengan seksama.


“Apa? Strom lagi?” geram Yazza kesal.


Mr. Bald mencoba menerawang, memikirkan tentang masa lalu.


“Hmph … jika tidak salah ingat, pak Edi memang pernah memegang Dermaga. Tapi karena Dermaga adalah wilayah paling jauh … akhirnya dia menunjuk seseorang untuk memegang wilayah. Setelah itu … aku tidak tahu lagi! Apakah kelompok di Dermaga masih berinduk pada Strom, atau mereka sudah melupakan orang yang membuatnya hidup di Dermaga,” terang Mr. Bald.


“Sejak pak Edi meninggal, kepengurusan memang menjadi tidak jelas dan lebih tertutup! Kurasa Tasya memang sangat berbakat merubah image. Strom menjadi lebih kuat dengan seiring waktu … hanya ketika dia mulai memutuskan menjauhkan diri dari Strom … mulai banyak lagi masalah yang menghampiri,” Icha menyahut.


“Kenapa Strom tidak terlalu peduli pada Dermaga? Bukankah Dermaga adalah tempat yang menjanjikan?” tanya Yazza polos.


“Aku dengar … Dermaga justru menghasilkan penghasilan paling sedikit! Entah pengurusnya tidak kompeten atau memang ada kekuatan yang lebih besar yang menguasai tempat tersebut!” jawab Mr. Bald menerawang.


Serentak, Yazza dan pak Ardi menoleh ke arah Vee.


Begitu sadar semua orang ikut melihat ke arahnya, Vee jadi kikuk sendiri.


“A … apa?” tanyanya salah tingkah balas melihat ke semua orang.


Mr. Bald terkekeh, “Hahaha … jadi … kekuatan besar itu ternyata ada di sini?”

__ADS_1


Vee berdiri bertolak pinggang, “Hya! Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Strom … Tasya … penguasa wilayah … heh … Kalian ini sebenarnya apa sih?”


Ups!


Semua orang tampak terdiam saling bertukar pandang satu sama lain.


Yazza langsung memegang keningnya dengan sebelah tangan, menunduk membuang muka melirik ke arah pak Ardi.


“Sial … aku lupa jika dia di sini! Kenapa kita semua bisa kelepasan?” desis Yazza mengernyit menatap tajam pak Ardi.


Pak Ardi menggaruk kepala, sesekali melirik Vee ikut salah tingkah.


“Yazza! Sampai kapan aku harus berpura-pura bodoh? Apa aku harus terus-menerus menutup mata dan menutup telinga seperti ini?”


Icha menatap Mr. Bald, berisyarat untuk membantu Yazza dari desakan istrinya itu.


Pria botak itu mengangkat bahu dan hanya menggeleng tipis. Dia sendiri juga tidak tahu harus mengatakan apa.


Merasa sudah tidak ada jalan lain, Icha menghempaskan nafas lalu berdiri dengan santai menatap ke arah Vee, “Emb … bukankah kita ada kesepakatan?”


Yazza langsung mendongak melihat ke arah istrinya.


“Kesepakatan?” ulang Yazza menyipitkan mata.


Justru dengan sikap yang Vee tunjukkan, membuat Yazza semakin curiga menyipitkan mata menatap istrinya.


...***...


KEMBALI KE RESTAURANT ITALY


Daniel ijin ke toilet untuk mengabari ke kedua orang tuanya tentang tawaran proyek dari Paradise.


Dia masih tidak menyangka, Paradise akan memilih White Purple untuk menyediakan segala macam kebutuhan furniture untu Rumah Sakit baru yang sedang di dalam pembangunan mega proyek Paradise.


Bagaimanapun juga, ini berkat koneksi Tisya.


Seperti yang sudah dia akui, bekerja sama dengan Paradise adalah impian bagi seluruh pebisnis di kota ini.


Selain White Purple, pasti banyak perusahan furniture besar lain yang sudah mengajukan diri untuk menjadi mitra Paradise. Dan kini kesempatan itu justru datang pada dirinya tanpa harus bersusah payah.


Pria itu mulai memikirkan bagaimana caranya untuk berterima kasih dan menghargai jasa Tisya kali ini.


Karena dia memang awam dengan urusan perasaan, jelas dia kebingungan harus melakukan apa.

__ADS_1


“Kurasa pilihan terakhir harus bertanya pada pak Didik!” gumamnya di depan cermin besar di dalam toilet.


Tanpa pikir panjang lagi, dia segera mengambil handphone untuk menelepon pak Didik.


Sementara itu, Tisya, Hans dan Hirza melanjutkan pembicaraan di dalam VIP room restaurant.


“Terima kasih karena anda sudah menepati janji anda!” Tisya tersenyum lega.


“Kalian berhasil membuat mas Rudi sampai datang memarahiku … itu artinya kalian berhasil!”


Mendengar pujian yang di ucapkan Hirza justru membuat Tisya menunduk cemas, “Kakakku akan sangat marah jika tahu aku terlibat dalam masalah pak Joko ini!”


“Selalu ada bayaran untuk menebus sesuatu!” Hirza tersenyum sinis, “kurasa kalian harus mulai berhati-hati dengan mas Rudi!”


Tatapannya semakin tidak tenang, “Tapi anda yakin bukan? Daniel akan aman?”


“Dengan menyatukan mereka dalam satu proyek … tentu akan membuat Yazza lebih berhati-hati dengan tindakannya!”


“Masalahnya … dia dan Yazza sepertinya sehabis berdebat! Adik anda menelepon di waktu yang tidak tepat, saya dan Daniel masih di tempat anak Yazza dirawat tadi itu!”


Hirza menyipitkan mata, “Kalian ke sana?”


“Ya … Daniel cukup dekat dengan anak Yazza,” Tisya mendengus membuang muka, “Dia baru kehilangan salah satu anggota keluarganya … tapi sayang sekali … akan ada keluarga baru di kehidupannya!”


Hirza menahan nafas, menatap Tisya tajam.


Hans yang banyak terdiam jadi ikut penasaran, “Keluarga baru? Maksud kakak ini apa?” tanyanya mewakili pertanyaan hati Hirza.


“Tentu saja istri yang baru dia nikahi itu sudah hamil!” Tisya mencibir kesal, “Cuih! Bukankah dari awal sudah mencurigakan karena mereka ingin buru-buru menikah?”


Hirza melakukan gerakan yang bahkan tidak dia sadari.


Lengannya menyenggol gelas wine hingga jatuh ke lantai.


PYARRR!


“Aa …!” pria itu tampak salah tingkah, “ahh … maaf!” Hirza langsung membuang muka menatap lukisan dinding sembari mengepalkan tangan di bawah meja.


Tisya melihat ke bawah, lalu menyipitkan mata saat melihat ekspresi Hirza yang terlihat berubah, raut wajahnya muram dan tampak tidak bersemangat.


Kenapa tiba-tiba pak Hirza terlihat gusar dan tidak tenang?


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2