RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
SEMANIS PERMEN


__ADS_3


Dua mobil jemputan sudah menunggu di depan bandara.


Pak Ardi dan madam Lia berada di mobil yang berbeda dengan Yazza, Vee dan Yve.


Gadis kecil itu begitu senang memainkan boneka hadiah dari kakek buyutnya.


Vee mengangkat kedua tangannya ke atas.


“Hoamz!” meregangkan otot sambil menguap.


Yazza menoleh, “Tutup mulutmu saat menguap!”


Melirik tajam, “Cih … jangan merusak mood ku!”


Menyipitkan mata, “Mood?”


“Besok adalah hari yang paling aku tunggu-tunggu! Genap tujuh hari … dan itu artinya, hari berikutnya aku bebas!” tersenyum menghempaskan nafas lega menatap ke luar jendela.


“Cih!” Yazza mencibir jengkel membuang muka.


“Bebas kemana?” tanya Yve polos.


Tersenyum mengelus poni putrinya, “Bebas dari diktator!”


“Apa itu?” menatap penasaran.


“Hya … kenapa kamu selalu mengajari sesuatu yang belum saatnya kepada putri kita!” protes Yazza.


“Dia putriku!”


“Aku papanya!”


“Cih!” Vee membuang muka.


Yve yang berada di antara keduanya menghela nafas panjang, “Pak supir, Yve mau turun di sini saja!”


“Sayang!” Vee menatap putrinya menyipitkan mata, “Kenapa begitu?”


“Yve sedih jika melihat kalian bertengkar. Lebih baik Yve turun dan tidak melihat mama!”


Yazza tersenyum mendengus membuang muka melihat ke luar jendela.


Vee menatap kesal, menarik nafas panjang lalu tersenyum, “Kita tidak bertengkar … hanya berdebat sedikit. Yve juga sering berdebat dengan teman Yve ‘kan? Tapi, kalian tidak bertengkar dan kembali bermain bersama lagi setelahnya.”


Mengangguk tersenyum, “Ah benar! Yve dan Caesar sesekali akan berdebat lalu baikan lagi.”


“Nah … itu yang terjadi kepada mama dan papa.”


“Wah, dia benar-benar wanita yang pandai berbicara!” sindir Yazza tanpa menolehkan wajah.


Vee mendengus kesal hanya bisa menahan diri.


“Apa papa sedang memuji mama?” Yve memainkan rambut mamanya.


Tersenyum mengangguk, “Tentu saja! Papamu sudah mengakui jika mama ini pandai!”


“Manuver yang sempurna!” desis Yazza tersenyum mengejek.


“Hya … bisa … haiz!” Vee tidak akan bisa melawan pria ini selama ada Yve di dekatnya.


Menyipitkan mata, “Kenapa mama terlihat kesal lagi? Bukankah papa sudah memuji mama? Seharusnya mama berterima kasih kepada papa!” tegas Yve.


Menatap Yazza dengan senyuman, “Terima kasih papanya Yve!”


Yazza tersenyum mencibir mengambil sesuatu dari sakunya.


“Ah, permen ini manis sekali!” dengan sengaja kembali menyindir Vee sembari mengupas permen.



“Yve juga mau!” mendekat ke papanya.


Memberikan permen yang sudah dikupas untuk Yve, “Jangan banyak-banyak. Nanti giginya rusak!” melihat ke arah Vee, “Terlalu lama mengkonsumsi yang manis-manis ternyata mengerikan juga!”


Vee mengepalkan tangan, berisyarat seolah hendak memukul ketika Yve tidak menghadap ke arahnya.


Yazza tersenyum pongah karena berhasil membuat Vee kesal.

__ADS_1


Yve mengangguk sembari mengunyah, “Permen ini benar-benar manis!”


“Mama Vee lebih manis,” Yazza kembali melirik Vee untuk mengejeknya.


Wanita itu hanya mencibirkan bibir lalu membuang muka.


“Kita akan pulang kemana?” tanya Yve.


“Apartemen!”


“Rumah papa!”


Jawab Vee dan Yazza bersamaan.


Keduanya langsung beradu pandang.


“Jangan sembarangan memutuskan!” tegas Vee.


“Aku sudah menyuruh orang untuk menyiapkan kamar Yve. Bahkan, aku juga sudah berencana untuk membuatkan taman bermain di rumah!”


“Itu tidak perlu! Kita tidak akan pernah tinggal di sana!”


“Kita keluarga! Sudah seharusnya tinggal satu atap!”


“Yve akan tinggal di rumah madam Lia saja!” Yve kembali merajuk untuk menengahi.


Vee dan Yazza terdiam.


Keduanya menarik nafas panjang dan saling membuang muka.


“Jadi kita akan pulang ke mana?” tanya Yve lagi.


“Sayang, kita akan pulang ke apartemen. Jika kamu mau ikut papa, mama tidak apa-apa. Tapi mama akan tetap pulang ke apartemen dahulu. Soalnya, banyak yang harus dibereskan!”


Yve menatap papanya, “Apa papa setuju?”


“Tidak masalah!” sengaja melirik Yve menggoda, “Tapi, bukankah hanya dua kamar. Lalu papa tidur di mana?”


“Tentu saja sama mama!” jawab Yve polos.


“Siapa bilang anda akan tinggal bersama kami!” protes Vee.


Vee terdiam, menahan nafas menatap Yazza.


Tersenyum, “Kelima kalinya ternyata akan terjadi di apartemen!” Yazza menyandarkan punggung santai menatap ke depan.


Vee semakin geram dan kesal menatap Yazza, “Diktator!”


Meski pada akhirnya, Yazza hanya menggoda untuk menakuti Vee saja.


Karena dia memang harus kembali ke rumahnya terlebih dahulu.


Yve meminta agar ayahnya bisa tinggal bersama.


Tapi sebelum dia benar-benar mengumumkan ke publik tentang Vee dan Yve, Yazza masih tidak bisa sembarangan tinggal bersama dengan mereka.


Banyak pesaing bisnis yang menginginkan kehancurannya.


Takutnya, itu akan berimbas kepada Vee.


Dia sudah terlalu banyak menderita dengan cibiran orang selama ini.


Terlebih Berliana sudah bertemu dengannya, sudah pasti Gerry pun tidak akan tinggal diam dan akan terus mencari peluang untuk membuat Yazza jatuh.



“Papa sungguh mau pulang?” tanya Yve saat mereka sudah ada di dalam apartemen.


“Papa juga masih harus menyelesaikan pekerjaan. Jadi papa harus pulang dulu ke rumah!” tersenyum mengusap rambut putrinya.


Menunduk sedih, “Apa ini yang dimaksud eyang buyut?”


“Hah? Eyang buyut berkata apa padamu?” tanya Yazza.


“Eyang buyut bilang, kita baru akan bisa bebas tinggal bersama setelah papa dan mama menikah kembali!”


“Hya … dasar kakek tua itu!” cibir Vee bertolak pinggang kesal mengingat kek Gio.


“Hya! Itu kakekku!” protes Yazza.

__ADS_1


Vee mencibir, “Memangnya kenapa? Aku sering memanggilnya ‘kakek tua’ saja, beliau tidak marah kok!”


Kali ini Yazza tidak bisa mendebat. Dia hanya menghempaskan nafas menatap dalam diam.


“Jadi kapan mama dan papa akan menikah?” Yve menata Vee dan Yazza secara bergantian.


“Yve sayang, eyang buyut memberikan banyak kerang ‘kan? Mama mau lihat dong!”


Yve segera turun dari sofa, “Yve juga penasaran mau melihat!” tersenyum antusias menuju tumpukan kardus.


Yazza tersenyum menata Vee, “Melarikan diri dengan mudah!” ejeknya menyindir.


Vee menjulurkan lidah, membalikan badan berjalan mengikuti putrinya.


Yazza berdiri, “Kalian beristirahatlah setelah ini. Papa pulang dulu.”


Yve tersenyum melambai, “Hati-hati papa!” kembali fokus membuka kardus.


Vee hanya melihat tanpa ekspresi dan tanpa sepatah katapun bahkan setelah bayangan Yazza hilang di balik pintu.


...***...



“Tuan, ada yang ingin saya bicarakan!”


Pak Ardi tampak serius sembari menyambut Yazza yang baru turun dari mobil.


Menyipitkan mata, “Baru juga sampai! Hal sepenting apa memangnya?”


“Saya tidak tahu, ini akan bermanfaat atau tidak. Tapi sepertinya saya merasa, harus menyampaikan kepada anda!”


“Pak Ardi bahkan langsung ke sini dan tidak pulang ke rumah anda. Tentu saja itu adalah hal yang sangat penting bukan?” berjalan menuju pintu rumahnya.


Membawakan koper Yazza, “Sebenarnya ini berkaitan dengan nona Yve.”


“Yve?” ulang Yazza, “Kenapa dengan putriku?”


Menghela nafas panjang, “Karena sedari kemarin anda bersama nyonya Vee, saya jadi tidak berani mengganggu anda.”


Menyipitkan mata, “Kenapa berputar-putar? Saya jadi semakin penasaran!”


Keduanya duduk di ruang tamu.



Pak Ardi menceritakan apa yang pernah di sampaikan madam Lia tentang Yve sebelumnya.


Yazza tampak diam menopang kepalanya, “Apa pak Ardi masih bisa menghubungi Shadow?”


“Tuan Yazza tampaknya langsung bimbang mendengar pernyataan madam Lia?” justru pak Ardi yang bingung karena Yazza tampak langsung percaya.


“Pak Ardi … Vee sungguh seperti lautan yang masih menyimpan banyak sekali misteri,” suaranya begitu sendu kali ini.


Alisnya bertautan, “Maksud tuan?”


“Saya tidak tahu, saya ini terlalu bodoh atau terlalu mudah percaya dengan apa yang dia katakan …,” Yazza berdiri menghela nafas panjang, “besok kita akan pergi ke pesisir! Dan juga, minta preman-preman itu ikut bersama!”


Pak Ardi semakin tidak memahami.


Dia hanya mengangguk meski keningnya mengkerut, seakan masih ada hal yang ingin dia ketahui.


Datang bulan?


Kenapa hanya saat itu saja!


Apa aku benar-benar melakukan kesalahan saat ini?


Dengan gontai, dia berjalan menaiki tangga.



Pandangannya kosong dengan langkah lemas.


Pertanyaan-pertanyaan mulai memenuhi hati dan pikiran.


Vee … siapa dirimu yang sebenarnya!


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2