
02:24
Truk bak tertutup melaju di jalanan yang sudah sangat sepi.
Sebuah bangunan yang jaraknya lumayan jauh dari bangunan lain menjadi tempat tujuan mereka.
Krematorium.
Dua orang petugas membantu menurunkan peti.
“Barang dari bos!” ucap pengemudi.
“Wow! Siapa yang tidak beruntung ini?” tanya petugas kremasi.
“Sudah jangan banyak tanya. Cari aman saja kita!” ikut membantu menurunkan peti.
Mengangkat bahu, “Sebaiknya cepat kita selesaikan!”
...***...
Tasya begitu gelisah memegang handphone.
“Kamu kenapa lagi sayang?” tanya Ganny.
“Mr. X tidak bisa dihubungi!” menatap Tisya, “Bagaimana?”
Tisya menghela nafas panjang, “Nomornya mati sejak kemarin siang!”
“Mas, adik kamu tidak pulang loh! Kamu tidak khawatir?” tanya Tasya.
“Ahh, paling juga lagi sama wanita di suatu tempat!” Ganny santai.
Tapi Tasya sama sekali tidak bisa tenang memikirkannya.
Terlebih kemarin mereka bertemu dengan pak Rudi di restaurant Jepang.
Hanya ada dua kemungkinan jika pak Rudi mengundang orang luar ke tempat itu.
Pertama, mereka yang melakukan kesalahan dan kedua, orang-orang yang akan mendapat tugas berbahaya.
“Sudahlah, dia juga sudah besar! Atau mungkin dia pulang kerumahnya?” Ganny mencoba menenangkan istrinya.
“Lalu kenapa dengan Mr.X? Terakhir mereka berdua pergi bersama!” Tasya menaruh handphonenya.
“Kak, biar Tisya yang mencari tahu. Habis ini Tisya langsung ke rumah Gerry!”
“Nah … biar Tisya yang mengeceknya.”
Menghela nafas panjang, “Kalau Mr. X ada di sana, suruh segera menemui ku! Aku mau menyuruhnya mengurus pekerjaan di luar kota!”
“Oke!”
“Eh, iya! Bagaimana dengan Daniel?” tanya Ganny.
Tisya tersenyum, “Kemarin sudah telponan … nanti kita akan bertemu untuk mulai mencari furniture!”
“Bagus itu! Hahaha,” Ganny terkekeh pelan.
Tisya menunduk tersipu.
Tasya tampak menyipitkan mata memperhatikan tingkah adiknya.
__ADS_1
...***...
Hirza melihat Hans di meja makan seorang diri.
“Di mana Xean?” tanya Hirza sembari duduk.
“Nggak tahu tuh, katanya ngambek sama mas bro! Nggak mau keluar kamar dia! Emang mas bro habis marahin dia lagi?” tanya Hans.
Menghempaskan nafas, “Huh! Dia minta diajak ketemu Vee!”
Terkekeh, “Hahaha! Jadi dia masih berpikir jika nona Vee itu memang ibunya?”
“Dia makin tidak suka mas Rudi deh! Gara-gara waktu itu kita bilang tidak boleh membicarakan pada siapapun tentang Vee, terutama kepada pamannya! Xean pikir, pamannya lah yang memisahkan dia dengan ibunya. Makanya dia masih berpikir jika Vee itu ibunya kerena kita sering diam-diam mengawasi Vee!”
“Ya … sepertinya lebih baik begitu! Kita hanya perlu menunggu dia cukup dewasa untuk bisa mengerti tentang semua ini!”
Hirza menatap ke arah luar jendela, “Dia akan marah, atau tidak bisa menerima kenyataan nantinya?”
“Kalau aku jadi dia sih, begitu tahu jika ibu kandungku di rumah sakit jiwa … pasti aku sangat sedih dan malu!”
Tersenyum sedih, “Itu sebabnya lebih baik aku tidak menceritakan tentang ibu kandungnya!”
“Eh iya mas! Tentang proyek pembangunan rumah sakit baru bagaimana?”
Tersenyum mendengus, “Yazza pasti sangat kesal sekarang ini!”
“Apa rencana kita berhasil?”
Mengangguk, “Setelah melewati drama yang mengerikan selama pertemuanku dengan mas Rudi kemarin, akhirnya beliau memutuskan memilih Teratai Putih untuk menandatangani kontrak pembangunan mega proyek kita!”
“Padahal terlihat sekali jika Teratai Putih tidak serius dalam menerapkan konsep yang mereka buat dalam presentasi sebelumnya!” Hans tersenyum mencibir, “Normalnya, perusahaan manapun pasti akan sangat bangga mendapat keberuntungan bekerjasama dengan Paradise. Bukankah Teratai Putih terlalu sombong dan angkuh?”
Tersenyum sinis, “Kita lihat … seberapa jauh dia berusaha menghindar?”
“Cih … pertanyaannya, apa dia bisa menghindari kita?” cibir Hans menertawakan Yazza.
“Ckk! Tapi aku mau ikut mas!”
“Hya! Kamu lupa dengan apa yang terakhir kali kamu lakukan padanya?” tanya Hirza tegas.
“Pelemparan botol?” Hans menebak.
“Yang mana lagi memangnya? Dia sudah tahu tentang kita, itu sebabnya dia malas berurusan dengan kita!”
Tersenyum mencemooh, “Tapi dia tidak bisa apa-apa kan?”
“Hya, jangan besar kepala! Semakin berat di bagian atas, akan semakin sulit badanmu untuk menopang. Pada akhirnya … kamu bisa tersungkur jatuh karena ketidakseimbangan!”
“Hya! Kenapa mas tidak mendaftar jadi motivator saja sih?” ejek Hans.
Menjatuhkan sendok di piring, menatap Hans datar dan tajam.
Hans mendongak menciut, “Haiz bercanda!”
“Kamu itu kalau dinasehati selalu saja seperti ini!”
Cengengesan, “Iya maaf! Aku paham kok! Dan semua ajaran yang mas bro berikan, tidak akan mungkin aku abaikan begitu saja! Itu sebabnya aku menjadi sehebat sekarang!”
Tersenyum kembali mengambil sendok, “Masih saja membanggakan diri sendiri!”
“Oh ya mas, bagaimana kelanjutan atas tindakan mas Rudi terhadap wanita itu?”
“Seperti yang aku takutkan … memang harus memakan korban nyawa!” ucap Hirza datar tanpa menoleh ke arah Hans.
Hans mengangkat bahu, “Yah … hukum ‘Surga’!” ucapnya cuek.
__ADS_1
...***...
Vee melihat seperti ada yang tidak beres dari Yazza.
Tidak biasanya pria itu tampak tidak bersemangat.
Tatapannya tampak kosong saat mengenakan dasi di depan cermin.
“Kamu kenapa sih?” tanya Vee sembari duduk mengenakan sepatu.
“Males ngantor!” jawab Yazza lemas.
Terkekeh, “Hahaha! Sepertinya aku harus memeriksakan telingaku ke THT!”
Memutar badan, duduk di sebelah Vee, “Ada kecoa masuk kedalamnya?” Yazza mengambil sepatunya.
Masih cekikikan, “Lagian aneh banget! Sakit parah saja masih maksa mau masuk kantor. Sekarang sehat gini, malah malas!” duduk menegakan badan.
“Hari ini ada klien penting yang harus aku temui. Tapi aku malas sekali bertatap muka dengannya! Ada proyek besar di depan mata, tapi aku tidak bahagia,” ucap Yazza enggan memikirkan tentang pertemuannya dengan Hirza.
“Ah … jadi ini alasan kenapa kamu terlihat gundah gulana semalaman?”
Vee menyilangkan kaki, menyandar di depan cermin besar yang menempel di dinding.
“Memangnya kenapa? Untungnya tidak sesuai?”
“Bukan masalah itu! Kalau untung sih, sudah pasti untung besar! Karena proyek ini bukan main-main. Orang-orangnya yang tidak aku suka! Sayang sekali aku tidak bisa menolak proyek ini!”
“Hya, dalam bisnis itu, kadang harus mengesampingkan persoalan pribadi. Yang perlu dilihat adalah untung dan rugi. Kalau rugi tinggalkan … kalau untung banyak ambil saja!”
Menyipitkan mata menatap Vee, “Tapi aku akan lebih sering bertemu dengan orang yang tidak aku suka!”
“Hya, lihatlah aku sebagai contohnya! Kamu adalah orang yang paling aku benci di dunia ini, dan aku tidak keberatan bisnis jual diri denganmu kan? Meski resikonya, harus bertemu dan melayani mu setiap saat! Well … aku masih bertahan karena yang aku pikirkan hanyalah keuntungannya! Dengan terus menjual diriku padamu, aku bisa membahagiakan Yve!”
Yazza mencibir membuang muka, “Apa tidak ada perumpamaan lain? Itu sih kamu sedang menyindirku!”
Manyun, “Emang itu kenyataan … selama masih menguntungkan … why not?”
Tersenyum mencibir, “Meskipun kalimat mu tidak enak didengar … tapi sepertinya kamu benar!”
“Tentu saja!” menyombongkan diri.
Yazza melirik mencibir mencemooh, “Langsung besar kepala!”
Vee hanya mencibir menjulurkan lidah sambil berdiri.
“Oh ya! Ada yang ingin aku sampaikan padamu!” mendongak untuk bisa menatap wajah Vee.
Berdiri di hadapan Yazza yang masih duduk, “Apa?”
“Nasehati putrimu supaya tidak sembarangan masuk ke kamar ini!”
Menyipitkan mata, “Sembarangan masuk masuk kamar ini? Yve masuk ke sini tanpa ijin?”
Mengangguk.
Keningnya semakin mengkerut, “Itu tidak mungkin! Aku paham sekali tentang dia! Selama ini dia selalu merasa sungkan dan takut jika harus masuk ke kamarku tanpa ijin. Padahal kita tinggal bersama loh!”
Menyipitkan mata, “Dia juga memakai parfum mu dan bahkan bermain-main di bak mandi!”
Vee membuang muka dengan alis yang bertautan, “Itu lebih tidak masuk akal! Yve tidak mungkin selancang itu!”
“Kalau bukan Yve, siapa lagi?” Yazza mengernyitkan dahi masih bertahan pada posisinya.
Menatap Yazza, “Aku akan berbicara dengannya malam nanti!”
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...