
“Eh, kenapa malah pada diam?" bu Tania menatap Yve, "Kamu boleh pulang sekarang dan bersiap-siaplah! Ayahmu sudah meminta ijin.” Tersenyum mengusap kepala Yve gemas.
Yve mengangguk.
Yazza dan Yve pamit meninggalkan sekolah.
Didalam mobil, Yve hanya terdiam menatap Yazza, membuatnya jadi salah tingkah dan merasa semakin canggung.
“Ibu gurumu mungkin tadi hanya salah paham!” Yazza nyengir sambil menyetir dengan gugup.
“Apa nama anda Yazza?” tanya Yve menyelidik.
Menyipitkan mata, “Mamamu memberitahumu?”
“Anda sudah pernah bertemu mama jauh sebelum ini?”
Semakin tidak paham, “I...ya!” jawabnya ragu.
“Jadi, ini alasan kenapa kodenya adalah mesin ekskavator?” Yve masih datar melihat Yazza
Mengernyitkan dahi, “Hah?”
“Sekarang Yve tahu! Kenapa mama selalu marah dan menyuruh Yve tidak berbicara pada anda!”
“Tunggu, aku semakin tidak mengerti?” Yazza kebingungan dengan cecaran kalimat Yve
“Anda sudah menghancurkan mama!”
“Apa yang sedang kamu bicarakan?” menyipitkan mata.
Mereka sudah sampai di depan apartemen.
Tapi keduanya tidak beranjak turun.
“Kenapa anda tidak pernah mencari mama setelah mama pergi menghilang?” Yve terus saja mengajukan pertanyaan.
“Aku mencarinya bertahun-tahun. Tunggu!” melihat Yve, “Bagaimana kamu tahu tentang ini?”
“Mama memang tidak pernah mengatakan secara langsung. Tapi Yve tahu, Mama tidak ingin jika anda menemukan kami.”
“Mamamu tahu jika aku mencarinya?” memegang kepalanya frustasi. “Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
“Mama sangat marah dan kami memulai hidup baru di tempat lain. Mama juga membesarkanku seorang diri dengan kerja kerasnya! Apa anda tidak merasa bersalah sedikitpun?”
Deg!
Ada sesuatu yang sepertinya mengenai dadaa Yazza.
Sakit, tetapi tidak ada benda keras yang menghantamnya.
“Tunggu! Sungguh aku tidak paham!”
“Di akta kelahiran dan data diri Yve, nama papaku adalah Yazza!”
“What?” terperangah seolah lupa untuk bernafas.
“Setiap kali Yve bertanya tentang papa, mama akan sangat marah. Dan kemarin om Daniel bilang, mama sangat membenci anda. Selama yang aku tahu, mama hanya membenci seseorang. Yaitu papaku, papa Yazza!”
Yazza tersentak terdiam mematung tanpa bisa berkata-kata lagi.
"Apa aku membuat kesalahan lain yang tidak pernah aku sadari?"
Tiba-tiba ada bayangan yang terlintas di kepala Yazza.
Dia memeluk Vee dan menciumnya di dalam mobil.
Saat itu, Vee terlihat begitu marah dan menamparnya.
Dan Yazza tidak mengingat apa-apa lagi setelahnya.
__ADS_1
Yazza menoleh melihat Yve, "Apakah aku sungguh melakukan hal itu? Gadis kecil ini putriku? Apakah ini yang membuat Vee begitu membenciku?"
“Apakah aku memang sudah menghancurkan hidupnya?” gumam Yazza lirih mencengkram erat kemudi.
“Ya!” sahut Yve tegas.
“Mama sudah menyebut jika anda ini mesin ekskavator yang jahat!”
Yazza terdiam.
Yve menghempaskan nafas panjang, perlahan tangan mungilnya menyentuh lengan Yazza.
Ada getaran aneh di dalam hati Yazza.
“Mama sudah banyak menderita sendirian selama ini. Jangan pernah tinggalkan mama lagi!” tatapan sendu Yve terlihat begitu polos dan mendalam.
Saat ini, hanya perasaan sesak dan penyesalan di dalam hati Yazza.
“Boleh aku lihat akta kelahiranmu?”
Mengangguk.
Mereka berdua naik keatas.
Yazza mencoba mengingat dan menghitung perkiraan kejadian pertama dia melihat Vee dan tahun kelahiran Yve di akta yang sudah dia pegang.
Sangat sesuai dengan kenyataan.
“Aku sudah menyiakan waktu yang sangat lama. Kenapa aku tidak serius mencarinya! Dan pria yang sudah membuatnya menderita, bukan orang lain! Melainkan, justru diriku sendiri!”
Yazza menoleh melihat Yve, “Berkemaslah!” tersenyum mengelus pipi Yve.
Yve tersenyum dan langsung berlari kedalam kamar.
Yazza menelpon pak Ardi dengan wajah lemas.
“Ya tuan? Saya akan membawa nona Vee ke bandara dalam dua jam ke depan. Beliau sedang membereskan ruang kerja anda saat ini!”
“Pak Ardi. Apa aku pernah membuat kesalahan lain yang tidak kusadari?” tanya Yazza lemas.
“Saya baru saja menerima kenyataan yang sungguh mengejutkan. Bahkan saya sendiri masih tidak percaya.”
“Apa yang terjadi?” tanya pak Ardi dengan wajah serius.
Yazza mulai menceritakan kepada pak Ardi.
*
*
*
“Apa?” terkejut mendengar cerita Yazza.
“Mengejutkan bukan?” mendengus tersenyum, “Aku mengejar sesuatu yang seharusnya sudah kudapatkan sejak lama!”
“Tapi nona Vee tidak pernah menuntut!”
“Mungkin dia sangat kesal dan marah. Aku ingat sekilas kejadian saat aku memaksa menciumnya. Dan aku juga ingat dia marah lalu menamparku!”
“Jadi nona Vee menjadi sekeras ini karena hal itu?”
“Aku sudah melakukan kesalahan yang begitu besar. Pantas saja dia begitu membenciku!” tersenyum mendengus, “Aku bersumpah, aku tidak akan melepaskannya lagi kali ini!”
“Em, tuan saya harus menutup panggilan. Nona Vee mendekat.” pak Ardi melihat Vee yang berjalan ke arahnya.
“Hmmm! Baiklah!”
Yazza kembali menghela nafas panjang menurunkan ponselnya.
Dia menoleh ke arah kamar Yve
__ADS_1
Anak kecil itu tampak gembira sekali. Begitu bersemangat untuk berkemas.
Yazza tersenyum menghampiri, “Punya pakaian renang? Kita akan ke Bali!”
“Wuah, sungguh!” bersorak gembira meloncat-loncat dengan riang, “Ke pantai lagi! Mama pasti sangat senang!”
“Apakah mama mu sesuka itu dengan pantai?”
“Ya! Mama lahir di pesisir dan tinggal lama di sana sebelumnya. Kata kakek Mail, mama adalah gadis yang sangat luar biasa. Pelaut wanita yang sangat dihormati!”
Yazza tersenyum geli mendengar cerita itu, “Sungguh?”
“Ya, mama adalah wanita perkasa!”
“Itu sebabnya, karakternya sangat mirip dengan lautan!” pasang surut sesuai keadaan alam.
Melihat Yazza, “Aku tidak melihat mama berkemas pagi ini?”
“Ah benar. Ayo kita bantu mama berkemas!”
Yve tersenyum mengangguk, “Aku akan memilihkan pakaian yang cantik untuk mama!”
Mereka masuk ke kamar Vee.
Yazza sempat salah tingkah saat melihat tumpukan bra dan ****** ***** Vee.
“Apa mama sudah memaafkan anda?” tanya Yve tiba-tiba.
Yazza langsung menaruh dalaman Vee ke koper, “Ahh… be…lum!”
“Lalu? Kenapa mau diajak liburan?”
Yazza duduk muram, “Sebenarnya, mamamu belum tahu tentang ini. Aku yakin, dia pasti akan sangat marah nanti. Makanya, aku datang ke sekolah untuk menjemputmu terlebih dahulu!” melihat Yve, “Maaf!”
Yve menghela nafas panjang, “Sudah kuduga mama akan sangat keras kepala!” tersenyum, “Jangan khawatir, aku akan membantu membuat mama memaafkan papa!”
“Pa…pa?” mendengar gadis itu memanggilnya papa, membuatnya merasa canggung dan salah tingkah kembali.
Yazza tersenyum.
“Apa tidak boleh?” Yve muram.
Menggeleng, “Tidak, aku menyukainya!” menggaruk lengannya yang tidak gatal. “ Emm! Maksudnya papa menyukainya!” tersenyum tipis.
Yve langsung berlari memeluk Yazza.
Dengan canggung Yazza balas memeluk Yve.
***
Vee merasa sedikit lega belum melihat Yazza sejauh ini.
Sampai pak Ardi menghampirinya dan mengajaknya pergi menyusul Yazza.
“Bandara?” Vee menyipitkan mata, “Jadi dia akan pergi!” tersenyum puas.
Pak Ardi hanya tersenyum kecil.
Vee berjalan begitu bersemangat di belakang pak Ardi yang membawa dua koper besar.
Dia pikir, dia aka terbebas dari Yazza.
Tapi, kebahagian yang ditunjukan Vee seketika lenyap saat dia melihat putrinya melambai sambil melompat-lompat riang memakai pakaian santai dan topi pantai.
Madam Lia memegang dua koper.
Kopernya dan juga koper Yve.
“Apa-apaan ini!” protesnya langsung berjalan cepat mendekat.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))>' '<((((<...