
Vee melihat jam.
Dia masih harus menemui kek Gio malam ini juga.
“Emb … mbak Dania! Karena Berli di sini, mbak temani Berli ya? Kami akan pergi bertiga saja,” melihat ke arah Yve, “Sayang sudah siap bertemu kakek buyut?”
Mengangguk antusias, “Tentu saja!”
“Kalau begitu mama juga bersiap dulu!” berdiri, “Maaf ya Berli, kami harus pergi makan malam di luar!”
“Terima kasih ya, sudah mau menampung aku di sini!” Berli tersenyum menatap Vee.
“Anggap rumah sendiri. Jika kamu lapar dan ingin makan sesuatu, ambil saja di kulkas!” pesan Vee.
Berli mengangguk senang.
Handphone Yazza berdering.
Sontak semua orang yang di sana menoleh kerah Yazza.
Vee sempat memperhatikan beberapa detik sebelum akhirnya berjalan acuh menuju kamar utama.
“Ma! Aku mau bantu mama memilih pakaian!” Yve berlari ke arah mamanya.
Tersenyum, “Makasih sayang,” menggandeng Yve.
“Ya hallo?” Yazza menyipitkan mata, “ada apa pak Ardi?”
Orang kepercayaannya itu langsung menceritakan tentang kabar yang baru saja dia dapatkan dari madam Lia.
Yazza mengerutkan kening mendengarkan perkataan pak Ardi sembari berjalan menuju pintu keluar.
Dania tampak fokus memperhatikan punggung Yazza dengan senyuman terpesona.
Berli tidak sengaja melihat ke arah Dania.
Bahkan setelah Yazza sudah keluar dari pintu apartemen, Dania masih senyum-senyum sendiri.
Berli mengernyit jijik melihat gadis itu.
Sadar jika Berli menatapnya, Dania langsung menoleh dengan tatapan tajam mengerikan seolah mengintimidasinya.
Berli membuang muka, salah tingkah dan ketakutan.
Gila!
Freak banget sih orang ini!
Berli menggeser duduknya, sedikit menjauhi Dania.
...***...
Vee memangku Yve di dalam mobil, “Udah hampir kelas tiga, masih manja banget deh!” menciumi punggung bahu putrinya.
Cengengesan, “Yve sangat bahagia saat ini!”
“Karena mau bertemu dengan kakek buyut?” tebak Vee.
Mengangguk, “Ada hal lain yang membuat Yve sangat senang.”
“Apa?” tanya Vee penasaran.
__ADS_1
“Kan tadi sebelum latihan karate kita semua disuruh cardio dulu untuk pemanasan, masak pas lari diputaran kedua Caesar sudah menyerah dan minta untuk istirahat!” Yve cekikikan menertawakan.
“Tuh kan, apa mama bilang! Caesar itu tidak terlihat seperti memiliki kemampuan fisik yang bagus,” Vee terkekeh pelan.
“Namanya juga pertama kalinya. Nanti lama-kelamaan pasti dia juga terbiasa!” Yve mencibir, “Setidaknya dia mempunyai tekad yang cukup kuat untuk terus berlatih!”
“Oh ya? Berarti dia memang bersungguh-sungguh dong?”
“Dalam pelajaran sih dia paling pintar, tapi dalam bidang olahraga … dia sungguh payah!” Yve kembali menertawakan.
“Dia anak laki-laki! Nanti kalau sudah besar dan dia lebih kuat dari Yve, jangan nangis ya kalau Caesar balas mengejek Yve!” goda mamanya.
“Dih, mana mungkin dia bisa mengalahkan Yve!”
“Dih, anak mama sombong sekali! Hahaha,” Vee terkekeh.
“Yve!” panggil Yazza yang sedari tadi diam mendengarkan.
“Ya pa?” menoleh menatap papanya.
“Papa mau kamu menjauhi Caesar! Jangan lagi berteman dengannya!” tegas Yazza.
Mendengar kalimat Yazza, Vee langsung menoleh menatap penuh kegelisahan.
Seketika senyum di wajah Yve pudar.
“Tapi kenapa pa?”
“Jangan banyak bertanya. Papa tidak suka kamu berteman dengannya! Jika papa sampai tahu, kamu masih berteman dengannya. Papa akan memindahkan kamu ke sekolah lain!”
Yve langsung mewek menangis menyembunyikan wajahnya memeluk Vee.
Yazza menatap tajam ke arah Vee kali ini.
“Seekor kucing memang selalu berusaha untuk menutupi kotorannya!”
Sepertinya dia sudah ketahuan.
Vee tidak bisa berkata apapun, dia hanya mengelus punggung Yve untuk menenangkannya.
Dia tahu, setelah ini Yazza pasti akan kembali menyalahkannya.
...***...
Keluarga Daniel merasa sangat senang bisa satu meja makan dengan keluarga Nirwana.
Tasya sudah menyiapkan acara makan melam mewah untuk malam ini.
Daniel merasa tidak tenang dan tidak nyaman berada diantara mereka.
Pak Fauzan terkekeh menatap Ganny, “Hahaha, pak Ganny benar-benar memiliki selera yang luar biasa dalam design interior. Rumah anda bagus sekali!” puji pak Fauzan.
Tersenyum, “Apa pak Fauzan mengenali sebagian besar perabotan di sini?”
Melihat ke sekeliling, “Eh, sepertinya memang tidak asing! Hahaha,” kembali terkekeh.
“Sejak lama istri saya memang paling menyukai furniture dari White Purple. Bahkan sampai furniture untuk kantor kami selalu memilih White Purple juga,” Ganny menatap istrinya.
“Kebetulan kami sedang membangun rumah baru untuk adik saya, Tisya!” menatap adiknya, “Mungkin kami akan membutuhkan banyak barang dari White Purple,” tersenyum menatap pak Fauzan dan bu Risma bergantian.
“Wah, jika rumah baru untuk adik bu Tasya, sudah pasti akan menjadi proyek besar!” bu Risma menatap Tisya.
“Adik saya punya selera yang cukup rumit dan unik. Takutnya jika mencari furniture secara mendadak, tidak akan mendapatkan yang sesuai dengan keinginannya!” Tasya menatap bu Risma.
__ADS_1
“Oh ya? Jadi yang bagaimana yang bu Tisya mau? Simple, modern, atau klasik? Daniel pasti akan membantu anda!” bu Risma mengelus bahu lengan Daniel.
Tisya tersenyum penuh sopan santun ke arahnya, “Kebetulan saya menyukai gaya vintage. Maka dari itu, lebih baik membicarakan tentang hal ini secara langsung kepada pemilik White Purple.”
“Ah, jadi acara makan malam ini untuk membicarakan tentang ini ya pak Ganny?” tanya pak Fauzan tersenyum menatap Ganny.
“Itu sebenarnya hanya hal kedua. Ada hal yang lebih penting dari pembahasan furniture rumah baru itu,” Ganny menatap Daniel.
Menyipitkan mata, “Apa itu pak?” tanya pak Fauzan.
Bahkan Gerry yang ikut makan malam di sana juga ikut penasaran menatap kakaknya.
“Jadi kemarin sepulang dari meeting, adik ipar saya bercerita jika dia sangat terkesan dengan pak Daniel. Jarang sekali adik saya memuji seseorang seperti itu. Saya dengar, pak Daniel belum memiliki kekasih, bagaiman jika pak Daniel mencoba mengenal adik ipar saya. Tisya,” Ganny tersenyum menatap adik iparnya.
Gerry langsung menyipitkan mata menatap Tisya.
Baik bu Risma, pak Fauzan ataupun Daniel sendiri, cukup terkejut dengan arah pembicaraan ini.
“Benar, adik saya jarang terlihat tertarik dengan seseorang! Jika dia memuji pak Daniel seperti mendewakannya, itu artinya pak Daniel memang sangat menarik,” Tasya menatap Daniel.
Daniel melihat kedua orang tuanya yang tampak tidak bisa berkata-kata.
Mereka takut jika Daniel salah bicara dan membuat masalah.
Menolak secara langsung juga akan terkesan tidak sopan.
“Sepertinya bu Tisya terlalu memuji, saya masih banyak sekali kekurangan!” Daniel tersenyum merendah.
“Itu tidak mungkin! Nama Daniel mulai cukup dikenal di kalangan pebisnis,” Ganny memuji.
“Emb, bagaimana menurut bu Risma?” Tasya menatap ibu Daniel dengan senyum ramah.
Bu Risma melihat ke arah Tisya.
Dengan senyum sipu, Tisya menunduk malu-malu.
Tisya sangat cantik, lemah lembut, sopan dan memiliki reputasi yang baik.
Sepertinya Daniel akan bahagia jika bersamanya.
Mungkin Tuhan memang mengirim Tisya untuk membantu Daniel agar bisa melupakan Vee.
Bu Risma bergumam dalam hati.
Dengan senyuman bu Risma menatap Daniel, “Kebetulan sekali Daniel memang belum mempunyai kekasih. Dia selalu sibuk mengurusi bisnis ayahnya. Saya sih setuju saja jika keduanya mau memulai mengenal satu sama lain.”
“Ma!” Daniel menyipitkan mata mendesis menatap mamanya.
“Jadi, bagaimana dengan Daniel sendiri?” Ganny tersenyum menatap Daniel.
Bu Risma menendang pelan kaki Daniel, berisyarat agar Daniel tidak menyinggung keluarga ini.
Daniel menghempaskan nafas dalam diam.
Kenapa jadi begini!
Mereka mengundang kami dan tiba-tiba membahas tentang ini.
Jelas mereka tahu, kami akan tidak enak hati jika menolak.
Ini tidak adil!
Apa yang harus aku katakan sekarang?
Bagaimana dengan Vee!
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...