RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
BONEKA BERTALENTA


__ADS_3

Begitu keluar dari rumah sakit, Yazza langsung pergi ke kantor Teratai Putih.


Sudah cukup siang sebenarnya, bahkan nyaris jam istirahat.


Mr. Bald menelepon dan berkata sudah menunggu.


Itu yang membuat Yazza dan pak Ardi bergegas hendak menemui beliau.


Orang terpenting di Shadow itu sudah duduk di ruang kerja Yazza ketika mereka baru masuk.



Icha yang juga tangan kanan Mr. Bald turut serta menemani bosnya.


Keduanya berdiri menyambut, menunduk hormat kepada Yazza.


“Ah … maaf karena mengganggu waktu istirahat anda,” ucap Mr. Bald tampak sungkan.


“Lagipula saya sudah terlalu lama beristirahat,” berjalan mendekat, “silahkan duduk kembali!” Yazza juga ikut duduk.


Icha dan Mr. Bald kembali duduk.


“Jadi, apa yang membuat anda sampai harus datang langsung menemui saya?” tanya Yazza.


Mr. Bald menoleh kearah Icha tanpa kata-kata.


Icha tersenyum mengangguk, menyodorkan beberapa lembar foto dan sebuah sketsa wajah.


Yazza menyipitkan mata mengambil foto-foto itu.


Pak Ardi yang penasaran langsung mendekat, ikut melihat dengan seksama.


“Karena resolusi jarak kamera cukup jauh, jadi foto-foto itu menjadi kabur dan tidak jelas. Tapi kami menemukan beberapa part yang cukup mencurigakan,” terang Icha sembari membuka file video dalam laptop.


“Segerombolan anak SMA?” mengambil sketsa wajah, “Kenapa aku merasa dia tidak asing?” pak Ardi menyipitkan mata.


“Tunggu … yang memakai jaket kulit ini ada di mana-mana?” tanya Yazza.


“Yeah … dan itu sebabnya dia yang kami gambarkan dalam sketsa … untuk memperjelas!”


“Apa dia si penumpang gelap itu?” tanya pak Ardi.


Mr. Bald menggeleng, “Dia memang anak SMA yang bersekolah di salah satu sekolah yang saat itu melakukan tawuran!”


Pak Ardi dan Yazza semakin tidak mengerti.


Apa yang sebenarnya diinginkan anak SMA ini?


Batin Yazza menyipitkan mata penuh tanda tanya.


Kali ini Yazza melihat tiga foto yang paling jelas.


Foto pertama, anak SMA yang mengenakan jaket kulit tampak keluar dari mobil bersama salah seorang temannya.


Foto kedua adalah foto anak SMA berjaket kulit yang berada tepat di belakang Yazza saat melewati gang sempit.

__ADS_1


Foto ketiga, zoom yang di fokuskan ke tangan anak itu. Botol kaca ada dalam genggamannya.


“Dia sengaja mengikutiku?” desis Yazza lirih.


Tidak diragukan lagi, anak ini pasti memiliki keterkaitan dengan kejadian ketika tawuran terjadi.


“Saya langsung menyuruh orang untuk mencari tahu semua detail saat kejadian. Mulai dari menyelidiki mobil yang ada kameranya sampai CCTV rumah warga … cukup sulit dan butuh waktu untuk mengumpulkan dan menyusun alur cerita tentang anak ini!” Mr. Bald kembali menatap Icha.


Icha yang memahami maksud dari tuannya langsung memutar laptop untuk diperlihatkan ke Yazza.


“Saya sudah mengurutkan rekaman CCTV dan rekaman kamera mobil untuk menyimpulkan motif anak ini. Mulai dari lokasi titik pertama dia muncul sampai berada di lokasi tawuran,” terang Icha menjelaskan.


Yazza mulai memperhatikan.


“Video awal adalah rekaman CCTV yang kami lihat waktu itu. Masih cukup jelas dan memang sangat menarik untuk ditonton! Lihat bagaimana calon istri anda berkelahi dengan ketiga Preman elite Strom,” Mr. Bald tersenyum.


“Ini van yang membawa Vee kan?” tanya Yazza.


Mengangguk, “Fokus perhatikan mobil hitam di belakangnya! Mobil itu bahkan tidak memakai plat kendaraan,” Mr. Bald duduk menyandar santai di hadapan Yazza.


Mobil mewah berwarna hitam tampak mengikuti Van yang menculik Vee waktu itu.


Begitu Van di depannya tampak oling mereka memperlambat laju kendaraan.


Mereka berhenti cukup jauh di tempat yang susah di jangkau CCTV.


Dan tidak lama setelahnya, van itu menabrak pembatas jalan.


“Bahkan pengemudi ini paham akurasi dan mengantisipasi dengan sangat baik,” cibir Yazza.


Meski Mr. Bald tidak melihat laptop, dia sudah sangat hafal dari hasil analisa sebelumnya.


“Anak berjaket kulit itu juga ada di sana!” pak Ardi menunjuk layar.


“Sungguh terlihat kecil sekali dari sudut pandang ini!” Yazza sampai harus mendekatkan wajah.


Rekaman CCTV menunjukan saat Vee menghajar para preman di dalam mobil van.


Jauh dibelakang Van, terekam mobil hitam yang mengikuti sedari tadi.


Lima anak turun tampak diam mengawasi dari kejauhan.


“Mereka semua memakai seragam SMA … tunggu! Bukankah Itu balok kayu yang mereka pegang?” tanya Yazza mengernyitkan kening..


“Tawuran berada di titik tak jauh dari lokasi … apakah anda tidak curiga? Jalanan di sana begitu kosong dan di titik lain … bahkan macet sangat parah!”


“Ya … kami juga terjebak dalam kemacetan itu!” sahut pak Ardi.


Yazza menggeleng pelan, “Sungguh … aku yakin ini bukan gaya Strom! Bagaimana bisa eksekusi perencanaan anak ini begitu mulus … bahkan nyaris sempurna!”


“Begitu calon istri anda membawa Van menuju kantor polisi, mobil hitam itu kembali ke area tawuran. Kami mengikuti jejaknya … mereka tidak turut serta dalam kekacauan, tapi hanya memantau dan bersantai di dekat mobil.“ Icha tersenyum sinis, “Ada hal yang menarik setelah itu!”


Yazza menyipitkan mata, “Wait … itu mobilku ‘kan?”


Terlihat dalam rekaman, mobil Yazza baru saja melaju melewati gerombolan anak-anak itu.

__ADS_1


Tak selang berapa lama, mereka berlima bergegas naik ke dalam mobil dan mulai mengikuti.


“Mereka berada di situ sengaja menungguku atau bagaimana?” tanya Yazza.


“Jika di slow motion dan di zoom, sepertinya itu sebuah ketidaksengajaan yang justru menarik perhatian mereka!” Icha menjelaskan.


“Bukankah itu artinya, bukan aku tujuan utama mereka?”


“Hahaha … saya tahu anda adalah orang cerdas! Ada beberapa kesimpulan yang bahkan saya sendiri tidak berani beberkan … tapi, saya yakin anda juga berpikir sama!”


Yazza terdiam menyandarkan punggung ke sofa.


“Tuan, apa anda memikirkan sesuatu?” tanya pak Adri kepada tuannya.


“Mereka mengikuti mobil Van sejak awal, dan mereka bahkan sudah memegang senjata balok kayu … jika memang mereka dari Strom … bagaimana bisa mereka tidak membantu ketika Strom di kalahkan? Mereka justru pergi dan bersantai sampai saat kita melintas!”


Pak Ardi mengernyitkan dahi, menatap Mr. Bald penuh tanda tanya.


Yang di katakana Yazza cukup masuk akal.


Menghempaskan nafas panjang, “Ini semakin memusingkan!” Yazza menunduk memegang kepala dengan dua tangan.


“Mereka mengikuti anda … begitu anda turun dari mobil, dua anak juga ikut turun … salah satunya berlari terlebih dahulu melewati gang lain. Anak yang berjaket kulit diam-diam mengikuti anda. Keduanya sudah memegang botol kaca,” Icha kembali menerangkan.


“Intinya ini bukan kecelakaan biasa. Tapi sudah direncanakan,” Mr. Bald menatap Yazza.


“Karena jarak CCTV dan rekaman yang kami dapatkan berbeda-beda dan cukup random … gambarnya memang seperti itu adanya! Ada yang tampak sangat jauh dan buram … ada juga beberapa bagian yang cukup jelas. Tapi anehnya, setiap kali di dekat lokasi kamera yang dekat, anak ini cukup cerdas untuk tidak menunjukan wajahnya!” Icha tersenyum mencibir, “Seolah dia sudah tahu … di mana saja titik lokasi CCTV di area tersebut!”


“Maksudnya … anak ini professional?” tanya pak Ardi.


“Anak ini hanya anak SMA. Tidak mungkin jika dia tidak memiliki tuannya,” jawab Icha dengan nada datar.


“Ahh … benar … dia masih sangat muda. Pasti ada motif lain … sepertinya memang hanya kaki tangan!” pak Ardi ikut menyimpulkan.


“Dia adalah boneka yang bertalenta. Takutnya … orang yang mengendalikan dia adalah professional yang sebenarnya!”


Mr. Bald mengeluarkan kertas dan kartu nama dari dalam saku.


“Ini akan mengejutkan kalian semua!”


Menaruh di meja.


“Dari sketsa yang pak Ardi pegang, kami mulai mencari tahu dan menemukan identitas anak ini,” Mr. Bald kembali menyandarkan punggungnya ke sofa.


Dengan ragu, Yazza meraih kertas dan kartu nama yang Mr. Bald tunjukan.


Hanya melihat dari ekspresi Mr. Bald, mereka sudah bisa menebak.


Sepertinya bukanlah hal yang baik.


“Hanshen?” desis Yazza, mengernyitkan dahi.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2