
Dalam ruang pertemuan Vee masih tidak merubah tatapan matanya yang penuh amarah.
Selama rapat berlangsung, Yazza tidak terlalu memperhatikan yang orang-orang perbincangkan.
Dia terus memikirkan makna di balik tatapan Vee terhadapnya.
Jujur saja, ini pertama kalinya dia merasa begitu tidak nyaman dengan tatapan orang lain, tetapi dia tidak bisa memprotes atau memarahi orang itu
“Vee, giliranmu untuk presentasi.” Desis pak Didik.
Vee menghela nafas panjang memejamkan mata sebelum berdiri maju ke depan.
Yazza menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi untuk melihat Vee dengan lebih santai.
Lebih tepatnya membuat dirinya sendiri kembali ke kondisi stabilnya.
“Apa sebenarnya yang dimiliki wanita itu? Aku tidak pernah segelisah ini sebelumnya!” menyipitkan mata ragu-ragu.
Semua orang tampak berbisik dan membicarakan ekspresi Vee yang tampak tidak baik-baik saja.
“Dia kenapa?” bisik pak Fauzan kepada Daniel.
“Tidak biasanya dia seperti itu. Meski dia judes, tapi dia tidak mungkin tidak professional.” balas Daniel berbisik kepada ayahnya untuk membela Vee.
Vee hanya berdiri diam mengepalkan tangan erat dengan rahang mengeras.
“Lakukan sesuatu!” desis pak Fauzan kepada putranya.
Daniel kembali melihat ke arah Yazza.
Cukup aneh karena Yazza sama sekali tidak peduli dengan suasana canggung ini.
Vee terdiam dan pikiran Yazza sepertinya juga tidak berada di sana, meski matanya fokus melihat ke arah Vee.
Daniel berdiri, “Em, maaf dia adalah sekretaris baru di kantor. Mungkin dia gugup.”
Daniel mendekat memegang bahu Vee.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Daniel menatap khawatir.
Melihat perlakuan Daniel kepada Vee, Yazza langsung duduk tegak menatap mengerutkan kening.
Ada ketidakrelaan dalam hatinya.
Vee memejamkan mata, dia mengingat perkataan pak Didik.
Segera Ia menghirup nafas panjang dan menghempaskannya.
“Maafkan aku!” desis Vee berbisik di dekat Daniel.
“Kamu bisa melanjutkan?” masih memegang bahu Vee.
Tersenyum mengangguk menatap Daniel.
“Dia tersenyum kepada orang lain dan menatapku seperti itu?” Yazza mengepalkan tangan geram.
“Kalau tidak sanggup, biar aku saja!” Daniel masih mengkhawatirkan Vee.
Melirik menatap Yazza, “Kenapa dia menatapku seperti itu? Aku tidak boleh membuatnya curiga!”
Menurunkan lengan Daniel, “Karena ini sangat penting bagimu, aku akan melanjutkan!”
“Kamu yakin?”
Mengangguk tersenyum hangat.
“Kalau begitu semangat kamu pasti bisa!” Daniel ikut tersenyum menyemangati Vee lalu kembali ke tempat duduknya.
Memejamkan mata, menarik nafas sekali lagi. “Aku pasti bisa!”
Kali ini dia menjadi semakin yakin dan lebih berani.
__ADS_1
Vee tersenyum kepada semua orang, “Maaf semua. Saya cukup tegang dan gugup berdiri di sini. Baru tiga hari saya bekerja di kantor pusat dan langsung di percaya untuk melakukan presentasi.”
“Secepat itu dia berubah sikap setelah bicara dengan bossnya?” Yazza merasa semakin kesal sendiri.
Vee kembali tersenyum mencoba mencairkan suasana, “Saya takut akan mengacaukan presentasi. Sekali lagi saya meminta maaf.” Ucap Vee tanpa keraguan.
Menatap Yazza sebentar lalu membuang muka.
“Wuah, baru berbicara seperti itu, suasana seisi ruangan langsung berubah! Hya dia punya aura kewibawaan yang kuat sekali!” desis pak Fauzan berbisik kepada Daniel.
Daniel tersenyum bangga, “Sudah kubilang, dia itu memang sangat mengagumkan!”
Vee memulai presentasinya.
Beberapa pemilik saham di perusahaan Teratai Putih cukup terkesan dan mempertimbangkan ide-ide yang diusung White Purple.
Pembawaan Vee dalam menyampaikan setiap detail materi sangat memukau. Dia seolah mampu menyihir perhatian semua orang yang melihatnya.
Meski Yazza terlihat memperhatikan, dia sama sekali tidak bisa fokus.
Dia hanya memperhatikan Vee tanpa bisa mencerna sedikitpun yang Vee sampaikan.
“Bahkan dia mampu mengacaukan segalanya!” Yazza memejamkan mata memegang kepalanya.
“Tuan!” desis pak Ardi.
Yazza duduk menegakkan badan menurunkan tangannya.
“Kenapa anda terlihat kebingungan? Semua orang tampak terkesan dengan presentasi nona itu.” Lanjut pak Ardi berbisik.
Bagaimanapun juga, Yazza lah yang berhak memutuskan mereka akan bekerja sama atau tidak.
“Pak Ardi! Bilang kepada mereka kita akan mempertimbangkan terlebih dahulu.”
Menyipitkan mata, “Tidak langsung memutuskan di sini?”
Menggeleng, “Aku sama sekali tidak bisa konsentrasi dibuatnya!” melirik ke arah Vee yang tampak sedang mendapat banyak pujian dari orang-orang.
***
Pertemuan usai.
Teratai Putih akan mempertimbangkan terlebih dahulu.
Begitu evaluasi mereka selesai, mereka akan menghubungi White Purple untuk memberitahukan hasilnya.
Vee membasuh mukanya dengan air di dalam kamar mandi.
“Akhirnya hari ini selesai juga!”
Dia menghela nafas panjang sambil melihat bayangannya di cermin.
Rasanya, dia tidak berguna karena tidak bisa menghajar pria itu selagi dia menemui dihadapannya.
“Seharusnya aku menghajarnya! Tapi aku tidak sanggup melakukannya. Kenapa gerakanku menjadi terbatas tiap melihatnya!”
Vee kembali memejamkan mata.
Memikirkan tentang Yve.
Jika dia gegabah dan tidak menahan diri, takutnya mereka akan dalam bahaya.
Yazza akan mencari kebenaran dan kembali mengancam keselamatan putrinya.
“Aku harus lebih bisa menahan emosiku!”
Vee keluar dari toilet.
Dia hendak berjalan kembali ke lobby.
__ADS_1
“Nona!” panggil Yazza yang menyandar di tembok, depan toilet.
Dia sengaja menunggu Vee sedari tadi.
Vee sempat berhenti karena terkejut.
Degub jantungnya kian tidak menentu.
Vee menoleh sedikit lalu kembali melangkah.
“Nona tunggu!” Yazza menahan lengan Vee.
Vee mencoba menghentakan tapi Yazza menahannya.
Vee menatap tajam Yazza, “Lepas!” tegasnya.
“Kenapa kamu selalu seperti ini kepadaku?”
“Karena aku ingin!” nadanya ketus.
Menyipitkan mata, “Aku tidak tahu kamu sadar atau tidak. Atau memang sengaja mempunyai maksud tertentu, tapi kita sudah beberapa kali berpapasan. Dan tatapanmu itu terhadapku berbeda saat kamu menatap orang lain!”
“Itu karena saya membenci anda!” bentak Vee geram.
“Wanita ini cukup to the point!” Yazza menyipitkan mata, semakin penasaran dibuatnya.
“Membenci? Tapi kenapa?”
Rasanya Yazza tidak pernah punya salah kepada wanita ini.
“Apa harus ada alasan untuk membenci seseorang?” tegas Vee.
“Tentu saja! Itu sangat membuatku tidak nyaman!”
Daniel yang hendak mencari Vee, tidak sengaja dia melihatnya sedang berbicara kepada seseorang.
Daniel yang tadinya hendak mendekat, langsung mengurungkan niat.
Dia mundur dan bersembunyi untuk menguping.
Menghentakkan tangannya, “Kalau begitu cari saja sendiri alasannya!” tegas Vee kasar.
Mempererat genggamannya, “Lalu kenapa kamu selalu muncul dalam mimpi di setiap malamku selama ini?”
Vee terdiam menyipitkan mata.
Daniel tercengang mendengarnya.
“Sebaiknya anda berkonsultasi pada psikiater. Mungkin saja anda sudah tidak waras!” Vee menarik paksa tangannya.
Meski menyakiti lengannya sendiri, paling tidak, bisa lepas dari Yazza adalah pilihan yang lebih baik.
Yazza terdiam menatap Vee.
Vee menatap tajam menghela nafas mencoba menahan air mata.
Dengan kesal dia kembali berbalik dan melangkah menjauh.
“Jika itu yang kamu inginkan. Oke! Aku memang ingin mencari tahu!”
Yazza mengepalkan tangan geram masih tidak beranjak.
Daniel bersembunyi saat Vee melewatinya.
Dengan penuh pertanyaan yang membuatnya gelisah, Daniel diam-diam juga meninggalkan lokasi itu.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))>' '<((((<...