RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
FAILED MISSION


__ADS_3

Di luar semua orang masih berdiri penasaran.


Polisi langsung berdatangan, membentuk garis batas pertahanan.



Tak selang beberapa lama tim gegana dan densus 88 tiba di lokasi.


Daniel terkejut melihat Yazza keluar menggendong Vee yang tidak sadarkan diri.


“Vee!” Daniel panik hendak mendekat.


Pak Fauzan menahan, “Jangan ikut campur dulu!” desisnya sambil melihat ke arah keluarga Nirwana.


Tisya sepertinya memahami gelagat Daniel yang terlihat panik dan gelisah begitu melihat Vee.


“Daniel, aku takut!” Tisya langsung menggelayuti lengan Daniel.


Pria itu mati gaya seketika.


Dia ingin mendatangi Vee tapi dia tidak bisa pergi begitu saja untuk saat ini.


Tisya sudah menahan lengannya, dan keluarga Tisya di dekat mereka. Mana mungkin Daniel bertindak gegabah dan menyinggung keluarga Nirwana.


“Mama!” Yve melepaskan genggaman tangan bu Risma langsung berlari ke depan.


“Yve!” bu Risma hendak mengejar.


Hans maju menggandeng Xean, “Biar saya saja yang menemani Yve!”


Pak Fauzan menahan lengan istrinya, “Sudah … kita tenang saja dulu. Ini bukan kasus teror biasa, ada bom di dalam. Jika kita terlihat ikut campur, kita juga akan diintrogasi nanti!”


“Tapi kita kan nggak salah pa! Kasihan Yve,” melihat Hans, “Anak itu siapa? Memangnya dia kenal Yve?”


Tisya kali ini melingkarkan tangan ke belakang punggung bu Risma, “Tante tenang saja, dia adik pak Hirza Paradise. Yve mengenalnya dengan sangat baik kok!”


Menghempaskan nafas lega melihat ke arah Yve, “Kalau begitu syukurlah!”


Polisi berusaha menghalangi Yve untuk melewati garis polisi yang sudah dipasang.



“Emb, pak … maaf!” Hans menarik lengan Yve yang menangis histeris melihat ke arah mamanya.


“Mas Hans mamaku kenapa?” deru Yve bertanya disela isak tangisnya.


Xean mengelus punggung anak itu, “Adik Yve tenang dulu,” melihat kedatangan ambulance. “Mereka pasti mau ke rumah sakit! Kita langsung menyusul saja ya?” melihat papanya, “Itu papaku sudah mau ke sini!”


Yve melihat papa dan mamanya masuk ke dalam mobil ambulance.


Kek Gio celingukan, “Dimana Yve?” tanyanya pada pak Karno dan pak Ardi.


Keduanya ikut mencari di sela keramaian.


Pak Ardi yang akhirnya pertama melihat Yve bersama Hans.


“Di sana tuan!”


Menyipitkan mata, “Bukankah itu keluarga pak Hirza?”


Mengangguk.


“Eh cepat bawa dia ke sini!” kek Gio panik.


“Tenang tuan, nona Yve akan baik-baik saja!” melihat ke arah Dania, “Cepat susul Yve!” perintah pak Ardi.


Pengasuh Yve menganggukkan kepala dengan santai, “Baik pak!”


Yazza duduk di samping Vee yang langsung ditangani beberapa perawat di dalam mobil ambulance.


Pria itu tampak sangat khawatir menggenggam erat tangan Vee, “Kenapa sih kamu selalu membuatku takut dan panik seperti ini? Sudah kubilang … jangan gegabah,” desisnya sembari menciumi punggung tangan istrinya.

__ADS_1


“Tekan lukanya agar darahnya tidak terus keluar!” salah seorang perawat menyuruh rekannya sembari memasang oksigen.


“Baik!”


...***...


Dania menghampiri ke tempat Hans berdiri.


“Mbak Dania!” Yve berlari langsung mendekap pengasuhnya.


“Eyang buyut sudah menunggu di sana! Ayo ikut mbak,” ajak Dania sambil tersenyum manja menatap Hirza.


Gadis itu mengangguk mengisak tangis, “Mama akan baik-baik saja kan?”


“Kita ke sana dulu ya!” Dania mengelus rambut Yve.


Lagi-lagi gadis kecil itu hanya menganggukkan kepala.


“Emb, permisi!” pamit Dania dengan nada sok manis.


Hans mengangguk masih menggandeng Xean.


“Pa kita juga akan ikut tante Vee kan?” tanya Xean begitu Dania dan Yve berjalan menjauh.


Hirza menggeleng.


“Pa!” protes Xean menyilangkan tangan di perut dengan wajah masam.


“Mas! Mas yakin?” Hans ikut memprotes.


“Sebaiknya kita jangan terlalu ikut campur! Jika terlihat lebih mencolok lagi, Nirwana pasti akan curiga kembali,” Hirza melihat ke arah ambulance.


“Lalu bagaimana dengan nona Vee?” tanya Hans.


“Dia terkena luka tembak di lengan kanannya.”


“Tante Vee tertembak?” Xean kaget.


Menggeleng, “Jangan sekarang!” melihat ke mobil ambulance yang mulai berjalan, “Tidak perlu terburu-buru. Itu adalah mobil ambulance rumah sakit kita!”


Hans melihat ke arah yang sama, “Ah benar!” sedikit lega.


“Pa! Ayo susul sekarang saja!” desak Xean.


“Percuma … sampai di sana kita juga tidak diijinkan masuk ke ruang ICU nak!” mengelus bahu Xean.


“Jadi gimana dong pa!” Xean tampak menatap muram.


“Tunggu dulu … setidaknya sampai tante Vee sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap!”


Melihat ke arah mobil yang sudah sangat jauh, “Semoga tante Vee baik-baik saja!”


Mobil pak Ardi menyusul mengikuti ambulance. Kek Gio, pak Karno, Yve dan Dania ikut di dalamnya.


Icha dan Mr. Bald tinggal di lokasi untuk memantau keadaan.


“Icha, segera telepon orang-orang kita! Suruh mereka untuk segera mengaktifkan ‘Bayangan Mata’!”


“Baik tuan!” Icha segera mengambil handphonenya.


Mr. Bald menghempaskan nafas panjang, bertolak pinggang melihat ke depan.


“Ini sudah bukan lagi teror kecil! Tuan besar harus segera mengambil keputusan!” berdecak menggelengkan kepala.


Tim gegana berhasil mengevakuasi seluruh tamu dan staff hotel.


Tim penjinak bom mulai bekerja untuk berusaha menjinakkan bom


Sementara kepolisian membantu mengatur kerumunan, mereka meminta orang-orang mundur dengan jarak tertentu untuk menghindari segala resiko buruk yang mungkin saja bisa terjadi jika tim gagal dalam tugasnya.


Mr. X berdiri di belakang Tasya dan Gerry.

__ADS_1


“Lagi-lagi istri pak Yazza ini berhasil menggagalkan rencana!” ucap Mr. X sedikit kesal.


“Ternyata pilihan Yazza memang tidak sembarangan! Pantas saja pasukan elit kita dikalahkannya dengan begitu mudah waktu itu,” geming Tasya lirih.


Gerry mencibir, “Sekarang aku mengerti … kenapa Yazza selalu mencarinya selama bertahun-tahun demi wanita itu! Yang tadinya kita semua pikir dia masih berharap pada mantannya, ternyata kita salah! Berli tidak ada apa-apanya dibandingkan oleh nya! Jika Yazza move on secepat itu … wajar saja sih!”


Tasya melihat ke sekeliling, “Di mana wanita itu sekarang?”


Mendengus, “Cih! Dia sudah lari paling dahulu sejak melihat bom tadi!”


“Kamu sungguh mau mengajaknya kembali?” tanya Tasya sedikit cemburu.


“Terpaksa harus begitu! G Corporation baru saja mau merangkak untuk bangkit, wanita itu banyak membawa rahasia. Jika dia terus berada di pihak musuh, takutnya akan ada informasi yang bocor!”


“Kenapa tidak menyingkirkannya saja? Mas mu sangat tidak menyukainya,” ucap Tasya kecut.


Tersenyum, “Jika ingin menyingkirkannya, aku harus kembali mendekatinya terlebih dahulu! Jika dia mati setelah orang-orang tahu kita habis putus, bukankah akan terlalu mencolok?”


Tasya membuang muka, “Cukup masuk akal … tapi ingat kat mas Ganny, wanita itu sungguh tidak ada gunanya. Benalu! Lebih cepat disingkirkan, lebih baik!”


Tersenyum sinis, “Tenang saja!”


Tanpa di sengaja, Mr. X melihat Berli tengah bersama Leo.


Tangan kanan Tasya itu mengernyitkan dahi menyipitkan mata, “Bukankah itu pacar anda yang sedang bersama pengacara andalan Shadow?”


Sontak Gerry dan Tasya langsung menoleh ke arah Mr. X melihat.


Gerry mengepalkan tangan geram melihat Berli tampak menggelayuti lengan pria lain.



“Dasar wanita itu!” geram Gerry


Tasya menahan lengan adik iparnya saat pria itu hendak menghampiri kekasihnya.


“Jangan membuat keributan! Pria itu salah satu orang kepercayaan Shadow! Jika kamu sembarangan mencari masalah … bisa-bisa Strom akan benar—benar hancur! Terlebih keluarga Paradise juga masih di sini,” Tasya sedikit melirik melihat keberadaan Hirza.


“Tapi kenapa dia malah bergandengan dengan pria lain?” geram Gerry menatap tajam Leo.


“Kita tidak tahu ceritanya. Situasinya tiba-tiba kacau … bisa saja wanita itu ketakutan dan sembarangan menempel ke pria lain!”


Gerry menghela nafas panjang, masih dengan tangan mengepal dia membuang muka mencoba menenangkan diri.


Tasya benar, dia tidak boleh sembarangan bertindak. Terlebih dia menanggung beban yang sangat berat saat ini.


Yeah, nasib Strom ada di tangannya. Jika Strom hancur, perusahaannya juga akan semakin terpuruk.


...***...


Paman Mail celingukan di tengah keramaian.


Begitu melihat Daniel, ia langsung memfokuskan pandangan ke sana.


Dengan yakin, dia melangkah mendekat.


Paman Mail mengendap, menarik lengan Daniel dari belakang.


Pria itu terkejut langsung menoleh ke belakang.


Tatapan paman Mail seketika membuat kakinya terasa lemas tak berdaya.


Saat ini dia berada di tengah keluarganya.


Bagaimana jika dia ketahuan kalau dia pernah berlibur bersama Vee waktu itu.


“Aa … anda …!”


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2