
Tasya adalah kakak ipar Gerry.
Putri pertama dari dua bersaudara yang berasal dari keluarga terpandang.
Dia menikah dengan Ganny, kakak semata wayang Gerry.
Mereka memiliki dua anak, satu perempuan dan satu laki-laki.
Tapi, putra pertama Tasya bukanlah anak kandung dari suaminya, melainkan justru anak biologis Gerry.
Tasya dan Gerry berkenalan di sebuah bar sewaktu masih single.
Keduanya sama-sama seorang yang tidak bisa setia pada satu orang.
Dan hari itu menjadi one night stand bagi keduanya untuk pertamakali.
Tasya cukup tertarik dengan pesona Gerry, kelembutan dan sikap manisnya kepada perempuan sungguh terkesan sangat lain dari yang lain.
Sampai pada akhirnya, dia meminta ayahnya untuk melirik perusahaan G Corporation.
Tentu saja dengan tujuan untuk mendekati Gerry.
Seiring waktu berjalan, kerjasama keduanya memang berjalan dengan mulus.
Diam-diam Tasya dan Gerry sering sekali keluar untuk bersenang-senang bersama.
Tasya hamil, tapi dia tidak ingin menikah dengan pria seperti Gerry. Pria yang suka main-main dan tidak bisa hidup hanya dengan satu wanita saja.
Bagi Tasya, pernikahan adalah hal yang penting. Terlebih dia bukanlah dari keluarga biasa.
Menikahi Gerry sama saja menghancurkan nama baik keluarga besarnya. Itu sebabnya dia memutuskan untuk menargetkan pria lain untuk menjadi suaminya.
Yeah, Ganny adalah orang yang tepat menurutnya.
Berbeda dari Gerry, kakaknya itu jauh lebih pendiam dan tidak neko-neko.
Tasya mulai mendekati Ganny, bahkan dia menjebak pria itu untuk tidur bersama.
Satu bulan setelahnya, barulah dia bilang dia hamil kepada Ganny.
Karena dia merasa melakukan kesalahan, Ganny akhirnya bersedia bertanggung jawab.
Pria malang itu tidak pernah tahu … kenyataan jika Tasya sudah hamil keturunan adik kandungnya sendiri.
Bahkan sampai detik ini.
Gerry sempat marah dan memprotes dengan apa yang Tasya lakukan padanya.
Kenapa wanita itu justru memilih Ganny! Kakak kandungnya.
Selain harus kehilangan wanita sempurna seperti Tasya, dia juga harus kehilangan kesempatan menguasai harta kekayaan yang dimiliki Tasya.
Perusahaan Nirwana adalah perusahaan raksasa yang bahkan lebih besar dari Teratai Putih dan G Corporation.
Itu sebabnya Gerry juga tidak akan berani menyinggung ataupun melawan kehendak Tasya.
Sekali saja dia membuat kesalahan, Tasya bisa saja membuat perusahaannya dalam krisis besar.
Meski terlihat begitu tenang dan anggun, Tasya bukalah wanita yang mudah di hadapi.
Yeah … di balik sikap lemah lembutnya, ada suatu hal yang lebih besar dan mengerikan berada dalam genggaman Tasya.
Membuatnya menjadi semakin disegani.
Strom, salah satu kelompok mafia yang cukup di kenal di dunia bisnis.
Setelah ayahnya meninggal, Tasya di beri tanggung jawab besar untuk mengambil alih kelompok.
Hanya dalam beberapa tahun setelah Strom di bawah kendalinya, kelompok itu semakin memuncak.
__ADS_1
Tapi sayangnya, akhir-akhir ini Tasya lebih memilih menarik diri dan jarang turun tangan secara langsung untuk memimpin.
Banyak kelompok-kelompok lain yang mempertanyakan, akan tetapi wanita itu terlalu tenang dan sulit di baca.
Ketenangan itulah yang paling menakutkan.
Tidak tahu apa yang direncanakan dan tidak tahu kapan dia menyerang.
Karena kedatangan ‘badai’ bisa saja merugikan banyak orang.
...***...
Daniel melihat Vee yang hanya memainkan makanan di piring.
Dia sangat yakin, Vee pasti sedang memikirkan masalah yang sangat berat.
Kenapa perasaanya semakin gelisah tiap melihat kegelisahan Vee.
Hati kecilnya selalu saja mengatakan, Vee mungkin saja akan meninggalkannya lagi.
“Tidak … tidak boleh!” Daniel menggeleng.
Vee mendongak menyipitkan mata melihat Daniel, “Apanya yang tidak boleh?”
Salah tingkah menggaruk kepalanya, “Ah … itu ada lalat tadi!”
Celingukan, “Mana mungkin di tempat sebagus ini ada lalat!”
Tersenyum meringis, “Hei … itu makananmu masih utuh! Di makan dong … panjang amat doanya!” sengaja mengalihkan pembicaraan.
“Cih … saya sudah kenyang!” mendorong piring.
“Hya … belum kamu sentuh sama sekali!”
“Sudah ishh!”
“Hanya kamu berantakan saja itu!” Daniel menunjuk mencibirkan bibir.
“Kalau begitu aku akan memaksamu untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padamu!”
Menyipitkan mata, “Sejak kapan pak Daniel menjadi posesif seperti ini?“
“Memangnya kenapa?” seolah meninggikan nada.
Vee justru tersenyum, “Sungguh tidak cocok!”
Daniel kembali nyengir menggaruk kepalanya, “Tampang innocent dan setampan ini tentu tidak bisa menjadi galak ya!”
“Cuih!” Vee mencibir tersenyum membuang muka.
“Hei … lihat! Aku berhasil menghiburmu lagi!”
“Tidak lucu sama sekali!” Vee seolah cuek.
“Lihat … lihat … itu bibirnya naik … nah iya naik sedikit … nah!” goda Daniel.
Vee tidak tahan lagi, dia terkekeh sekarang, “Apaan sih!”
Setidaknya Vee kembali tersenyum kembali untuk saat ini.
Sudah cukup membuat Daniel merasa lega, ikut tersenyum bersama.
...***...
Mobil team dari salah satu majalah bisnis ternama baru saja tiba di depan kantor Yazza.
Pak Ardi menyambut kedatangan para crew majalah.
Mempersilahkan juga mengawal menuju ruangan Yazza.
__ADS_1
“Pak Yazza yakin mau mempublikasikan ini?” tanya jurnalis wanita saat mereka berada di dalam lift.
Mengangguk, “Karena jika tidak seperti ini caranya, malah akan menimbulkan masalah yang lebih besar nantinya!” pak Ardi santai.
“Begitu anda memberitahu secara singkat tentang berita ini, saya sangat tidak sabar untuk datang!”
Tersenyum, “Tapi saya mohon … jangan dilebih-lebihkan, juga jangan di buat seolah tuan saya salah sepenuhnya!”
Balas tersenyum, “Berita ini pasti akan sangat heboh nantinya!”
Pak Ardi mengangguk-anggukkan kepala.
“Anda jangan khawatir, saya bisa membuat seolah ini adalah cerita yang mengharukan dan bukanlah sebuah aib yang akan menimbulkan hujatan!”
“Yeah … itu yang kami mau!”
...***...
Hans yang masih berseragam menghampiri kakak angkatnya ke kantor Paradise.
“Sudah pulang atau bolos?” tanya pria yang masih fokus menatap layar laptop begitu tahu jika Hans yang masuk ke ruangan kerjanya.
“Haiz … lihat jam berapa ini! Tentu saja sudah pulang!”
“Kenapa tidak menjemput Xean?”
“Memangnya bocah itu tidak bilang pada mas kalau dia ada ekstra musik di sekolahnya hari ini?”
Mendongak menyipitkan mata menatap Hans, “Dia tidak bilang!”
Tersenyum mencibir duduk di ujung meja kerja kakak angkatnya, “Sepertinya dia masih marah karena rencana pindah sekolah itu!”
“Cih … itu tugasmu untuk membujuknya!”
Menoleh ke laptop, “Mas sibuk sekali … kenapa malah menonton CCTV!”
Menghela nafas panjang, “Seperti yang sudah kita duga … kurasa besok drama itu akan menghebohkan dunia perbisnisan!”
Menyipitkan mata, “Maksud mas?”
Tersenyum sinis, “Suruh seseorang untuk menghubungi pemilik Bintang Bisnis Publishing, suruh dia untuk menemui aku sore ini juga!”
Hans semakin tidak mengerti, “Bintang Bisnis? Tumben mas mau di lihat publik!”
“Jangan sembarangan menyimpulkan dan jalankan saja tugas dariku!”
Mengangkat bahu acuh, “Oke … baiklah! Itu sangat mudah!”
“Ingat untuk berhati-hati dan jangan sampai mas Rudi tahu tentang ini!”
...***...
Sebentar lagi, jam kantor usai.
Pak Didik mendatangi Vee dengan buru-buru.
“Vee apa kamu sibuk?”
Daniel mendongak melihat ke arah meja kerja Vee.
“Tidak kok, ada apa pak?” Vee menyipitkan mata.
“Pak Daniel bagaimana?” pak Didik menatap Daniel kali ini.
Menggeleng, “Kenapa … ada acara makan malam?”
“Ckkk! Ini masalah serius!” pak Didik bertolak pinggang.
“Ada apa pak? Kenapa panik sekali?” Vee penasaran.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))>' '<((((<...