RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
MENCARI ALIBI


__ADS_3

“Tuan? Ada yang salah?” tanya si pembawa acara wanita saat melihat Yazza terdiam.


Menggeleng, “Tidak!”


"Apakah mungkin dia wanita itu lagi?"


"Kenapa waktu selalu terasa sangat lamban setiap kali aku melihatnya."


"Bahkan setelah sekian lama, aku masih sangat mengingat tatapan itu."



Vee tidak menyangka jika apartemen yang dia tinggali ternyata adalah salah satu asset milik Yazza.


Dan parahnya dari sekian banyak tempat, kenapa yang dia pilih justru di bawah kendali pria yang paling dia benci itu.


“Kenapa aku melewatkan hal sepenting ini! Bagaimana bisa tempat ini dipegang penuh oleh Teratai Putih?”


“Tunggu! Teratai Putih?” gumam Vee lirih.


Bergegas dia mengambil iPad kantor untuk melihat jadwal meeting Daniel.


Vee tercengang melihat akan ada jadwal pertemuan Daniel dengan perusahaan Teratai Putih.


Yve mengingat kembali tentang perubahan sikap mamanya setelah melihat pria tadi.



Dia melongokkan kepala keluar jendela.


Gadis kecil itu melihat kerumunan orang-orang tadi berada di dekat kolam.


“Siapa sebenarnya paman itu? Kenapa mama terlihat sangat tidak menyukainya?”


Memegang dadanya.


“Hangat dan nyaman.”


Entah kenapa, Yve merasa sangat dekat dan mengenalnya meski baru pertama melihatnya.


“Tidak biasanya mama bersikap begitu!”


Kembali mengamati kegiatan orang-orang yang tengah syuting di bawah sana.


Yang Yve tahu, hanya ada satu orang yang sangat di benci mamanya.


Mengingat hal itu, Yve semakin penasaran. Dia sangat ingin tahu dan ingin mengenal pria itu.


 



***



“Pak Ardi!” Yazza memanggil datar sambil melihat keluar jendela saat mobil melaju di gelap malam jalanan kota.


“Ya tuan?” melihat atasannya melalui spion atas sambil menyetir.


“Wanita itu muncul lagi!”


“Dalam memori tuan?” tanyanya menyipitkan mata.


“Kali ini aku melihatnya dalam dunia nyata lagi. Dia masih seperti dulu!” menghadap ke depan.


“Bukankah aneh dia ada dimana-mana?” Yazza menyipitkan mata.


“Mungkin hanya mirip memiliki ekspresi seperti itu?”


Menggeleng, “Aku sangat yakin dia orang yang sama!” menghela nafas panjang.


“Dia sedang memata-matai atau apa?" tampak frustasi.


"Suruhan Gerry?” tanyanya ragu kepada dirinya sendiri.


“Dimana tuan melihatnya kali ini? Perlu saya melanjutkan untuk mencari tahu?”


“Dia bersama anak kecil masuk ke dalam apartemen tadi.”


“Serahkan kepada saya tuan! Saya akan memulai kembali mencari tahu tentangnya.”


“Ya, kita pernah gagal selama bertahun-tahun. Bahkan ‘Bayangan’ saja tidak bisa menemukannya!”


Kembali menoleh ke samping.


Menatap kosong ke luar jendela.


 


***



Vee melamun sambil memainkan bolpoin di mejanya.

__ADS_1


Daniel masuk membawa buket bunga yang sangat besar hingga menutupi tubuhnya.


Dia pun tampak kesusahan membawanya.


Bukan Daniel namanya jika tidak selalu menarik perhatian banyak orang di kantor.


Vee mengernyit melihatnya, “ Astaga! Dia berulah lagi!”


“Pagi sekertaris!” sapa Daniel menaruh buket bunga di dekat Vee.



“Karena kemarin belum memberikan hadian sambutan, jadi aku membawakannya hari ini!” tersenyum bangga.


Vee langsung berdiri, bergegas menutup pintu karena malu.


Orang-orang di depan melongok mencoba mengintip kedalam.


“Pak Daniel apa-apaan sih!” gerutu Vee.


“Hadiah sambutan!” Daniel menciumi aroma bunganya.


“Harumnya seperti Vee!”


Vee kembali mengernyit bergidik kembali ke tempat duduknya.


“Aku juga punya hadian untuk putrimu. Masih di mobil.” Daniel menarik lengan Vee.


“Sini deh!”


“Pak!” Vee terpaksa mengikuti.


Mereka berdiri di dekat jendela kaca.


Daniel menunjuk ke bawah, ada boneka beruang raksasa berwarna pink di atas mobil berwarna putih.



“Pak Daniel!” sentak Vee.


Dia merasa sangat malu kepada orang-orang kantor.


Bunga dan boneka yang sungguh menarik banyak perhatian pastinya.


“Kenapa galak lagi?” Daniel sedikit mundur.


“Seluruh kantor akan mulai bergosip!” protes Vee.


“Memangnya kenapa?” cuek.


“Ckk!” Vee kesal. “Saya ini ibu satu anak. Dan bapak adalah seorang pria lajang dengan pangkat tinggi. Siapa yang akan mendapat lebih banyak cibiran nantinya?”


“Hya!”


Vee menghentakan kakinya kesal.


Membalikan badan, melangkah kembali ke meja kerjanya.


“Kenapa marah! Niatku baik kan?” Daniel bertanya sok polos.


“Terserah bapak saja!” Sentak Vee.


Bersorak, “Yes, artinya diterima!”


Vee makin kesal melempar buku tebal ke arah Daniel.


“Jangan membuat keputusan sendiri! Aku sedang kesal!”


Daniel menciut dan terdiam seketika.


“Sedang datang bulan?” gumamanya mengangkat bahu sambil berjalan mengendap ke meja kerjanya.


“Dasar freak!” gerutu Vee membuang muka.


Buukkk!


Sebuah buku jatuh ke lantai.


Vee langsung melirik ke arah Daniel.


“Sorry!”



Daniel salah tingkah tersenyum mengernyit mengambil bukunya dan kembali merapikannya ke meja.


“Ckk, padahal aku bossnya di sini!” gerutu Daniel yang takut dan ciut melihat Vee yang sedang meliriknya tajam.


***



Pak Ardi masuk ke ruangan Yazza.


Menyerahkan jadwal kegiatan Yazza dan melaporkan beberapa masalah perusahaan.

__ADS_1


Begitu semua laporannya selesai ada satu hal lagi yang perlu dilaporkan kepada Yazza.


“Saya sudah mengumpulkan data-data pemilik apartment Teratai Putih yang memiliki anak sekitar usia delapan sampai sepuluh tahun.”


Yazza menoleh antusias.


Memberikan file, “Ini data diri mereka.”


Tidak sabar lagi, Yazza bergegas memeriksanya.


Membuka lembar demi lembar melihat identitas diri dan profil picture orang-orang yang sudah membeli apartment di sana.


“Karena saya masih menyimpan sketsa wajah yang tuan berikan dahulu, saya sudah menyaring dan mengambil beberapa yang ada kemungkinan kemiripan.”


Yazza berhenti membalik kertas. Dia menarik satu lembar dan memperhatikannya dengan seksama.


“Vee Lesyanna?”


Pak Ardi berdiri melongok melihat kertas yang tuannya pegang,


“Apakah anda sudah menemukannya?”


“Hanya tinggal berdua dengan putrinya? Tapi tidak ada data diri tentang suaminya. Seorang ibu tunggal?”


Yazza menerawang jauh menatap langit biru yang terlihat jelas dari dalam kantornya.


“Sudah bercerai? Atau ditinggalkan?” pak Ardi ikut menerawang.


Memberikan kertas kepada pak Ardi.


“Pria brengseek mana yang membuatnya begitu menderita untuk mengurus putrinya sendirian!” gumam Yazza menghela nafas panjang.


“Saya akan segera mencari tahu lebih dalam lagi tentangnya!”


 


***


Ada hal yang Vee ingin bahas dengan Daniel.


Tapi dia sedikit tidak enak hati membicarakannya di kantor.


Jika tiba-tiba dia bertanya tentang Teratai Putih, takutnya malah akan menimbulkan kecurigaan.


Jadi, ketika Daniel menawarkan akan mengantar Vee pulang, kali ini Vee setuju dengan alasan, dia tidak bisa membawa boneka itu untuk diberikan kepada putrinya.


Daniel menyetir dengan bahagia sekali.


“Jadi mau menjemput putrimu dahulu?” tanyanya riang.


Tersenyum, “Ya, dekat kok dengan apartemen kami.”


“Kamu tinggal dimana sih?”


“Teratai Putih.” Seolah teringat sesuatu, “Eh, bukankah anda ada pertemuan dengan mereka besok?”


“Astaga benar!” Daniel menepuk jidatnya. “Sepertinya kita harus lembur mempersiapkan beberapa file presentasi.”


“Hah?”


“Jangan khawatir, aku sudah mempersiapkan sejak lama. Hanya perlu di rapikan sedikit. Dan karena besok kamu akan membantu mempresentasikannya, jadi kita harus mempelajarinya bersama!”


Vee menggaruk kepalanya, “Em, bisa tidak jika jangan saya yang ikut pertemuan itu?”


“Jangan bercanda. Kamu kan sekertarisku!” kedengarannya Daniel serius kali ini.


“Emm, takutnya aku terlalu gugup.”


Terkekeh, “Hahaha! Itu tidak mungkin. Aku sangat mengenalmu. Memangnya siapa yang kamu takuti di dunia ini?”


“Cihh! Teratai Putih bukannya perusahaan besar? Hanya tidak ingin membuat masalah dan mengacau di depan semua orang nantinya!” Vee masih mencoba mencari alasan yang tepat.


“Akan bertemu dengan top pebisnis muda, adalah sebuah kebanggaan bagiku. Aku tidak sabar sekali menemui pak Yazza! Dia sungguh pria yang sangat hebat sekali!”


Tangan Vee mengepal saat Daniel mulai memuji pria yang dia benci.


Seketika ekspresinya kembali berubah.


“Kamu tahu orang itu? Dia selalu muncul di majalah-majalah bisnis dan berita bisnis global!” bangga sekali Daniel menceritakannya.


Vee langsung membuang muka acuh.


Dia tidak ingin menunjukan kekesalannya kepada Daniel sebenarnya.


Tapi sulit sekali menahan diri untuk tidak menunjukan kebenciannya terhadap Yazza.


Daniel menyadari perubahan sikap Vee,



“Apa aku salah bicara?” Daniel merasa bersalah.


“Apa aku boleh ijin besok?” ucap Vee dengan nada dingin.


Berbalik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Daniel.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))>' '<((((<...


__ADS_2