RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
MASIH BERHARAP


__ADS_3

Bayangan seseorang terlihat berjalan melewati koridor luar dilihat melalui jendela.


Dania bergegas mundur kembali ke sofa.


Dengan tenang dan hati-hati dia kembali memangku kepala Yve, menyandar punggung sofa lalu memejamkan mata.


Kembali pura-pura terlelap.


Yazza kembali masuk membawa cup kopi yang asapnya masih tampak mengebul. Sesekali dia meniup lalu menyeruputnya.



Sekilas memang terlihat tidak ada yang mencurigakan, sampai akhirnya Yazza menyadari jika darah Vee naik ke selang infuse.


Dia meletakkan cup kopi ke meja dan bergegas mendekat.


Dengan sedikit pencahayaan dari lampu meja, dia bisa melihat memang ada yang tidak beres dengan infuse di tangan Vee.


“Ini kenapa?” melihat ke arah cairan yang menggantung, “Masih ada isinya kok,” Yazza segera menekan tombol untuk memanggil suster jaga.


Yazza menyalakan lampu, seketika ruangan menjadi terang benderang.



Yve tampak menggeliat merubah posisi tidurnya dan kembali terlelap.


Dania juga tampak masih terlelap dalam kepura-puraan.


Siaalaan … kenapa pak Yazza datang lagi secepat itu sih!


Sedikit lagi saja!


Seharusnya aku bisa dengan mudah menyingkirkan ibu Vee!


Dania menggerutu kesal dalam hati.


Tak selang berapa lama, Suster datang.


“Ada yang bisa saya bantu pak?” tanya suster ramah.


“Ini kenapa darahnya naik begini ya Sus? Apakah baik-baik saja, tadi tidak begini loh!”


Suster mempercepat tetesan cairan, “Tidak apa-apa pak, nanti turun sendiri lagi kok!”


“Tidak perlu diganti?”


Menggeleng, “Tidak pak, jangan khawatir!” tersenyum ramah kembali menormalkan tetesan cairan begitu darah di selang mulai memudar.


“Apakah normal jika dia belum bangun juga sampai sekarang?”


Melihat jam tangan, “Tadi selesai operasi sekitar jam sebelas ya? Misalkan besok pagi masih belum juga terbangun … anda bisa langsung melaporkan ke kami.”


Mengangguk-anggukkan kepala, “Terima kasih Sus!”


Tersenyum, “Kalau begitu saya kembali dulu pak!”


Yazza mengangguk, meski kepalanya menoleh menatap wajah Vee.


“Permisi!” Suster kembali melangkah keluar.


Yazza menoleh ke arah Dania dan Yve kali ini.

__ADS_1


Aneh banget!


Bukankah darah akan naik jika Vee banyak gerak?


Jika tidak ada pemicu … rasanya tidak mungkin begini deh!


Gumam Yazza dalam hati.


***


Daniel tidak bisa tidur.



Sudah hampir jam tiga sekarang, dan dia masih duduk di dekat kolam.


Bu Risma yang hendak turun mengambil minum melihat Daniel sendirian di sana. Tidak biasanya putra semata wayangnya seperti itu.


Tentu tingkah Daniel membuatnya menyipitkan mata penasaran sembari berjalan mendekat hendak menghampiri.


Menggeser pintu kaca, “Belum tidur?”


Daniel menggeleng.


Bu Risma menghempaskan nafas panjang, ikut duduk di sebelah Daniel, “Masih kepikiran tentang keadaan Vee?”


Mengangguk, “Yeah … emb … Ma, boleh Daniel bicara sesuatu?”


“Hmph? Apa sayang?” menatap putranya.


“Daniel mau jujur sama Mama?”


“Daniel nggak bisa terus bohong seperti ini!”


“Maksud kamu apa sih, mama nggak ngerti deh?”


“Daniel nggak pernah benar-benar suka sama Tisya!”


Bu Risma membuang muka menghela nafas panjang, “Mama tahu itu! Tapi mama terus pura-pura untuk mengabaikannya … mama harap, perasaan kalian akan timbul seiring waktu!”


“Semakin ke sini, Daniel semakin merasa tertekan!” pria itu memainkan kakinya di dalam air.


Sebagai seorag ibu, tentu dia sangat memahami perasaan anaknya.


Bu Risma tampak menunduk sedih mengingat posisi dan kasta keluarganya jika dibandingkan dengan keluarga Nirwana.


“Apa kamu tidak bisa menolak Tisya karena takut menyinggung keluarganya?” tanya ibu Daniel memastikan.


Daniel mengangguk, masih menatap kakinya yang terendam air, “Terlebih pak Ganny langsung yang memintaku untuk menjaga adik iparnya!”


“Tapi bukankah Tisya tidak kurang satu hal pun? Gadis itu sangat sempurna, baik, sopan dan cantik,” bu Risma menatap kosong lurus ke depan.


“Sebenarnya … ada satu kebohongan lagi yang mungkin akan membuat mama sangat marah kepada Daniel!”


Kali ini bu Risma menoleh, mengerutkan kening menatap Daniel dengan tatapan penuh tanda tanya.


“Aku dan Vee sudah berkomitmen untuk menjalin hubungan diam-diam tanpa sepengetahuan orang lain!”


“Daniel!” bu Risma meninggikan nada.


Pria itu menundukkan kepala semakin dalam, “Tapi saat ini … sepertinya Vee marah karena aku diam-diam juga menyembunyikan hubungan dengan Tisya!”

__ADS_1


“Daniel! Kamu sudah benar-benar gila? Vee itu istrinya pak Yazza!”


“Aku tahu! Itu sebabnya kita bermain di belakang pak Yazza!”


Bu Risma semakin tegang mendengar pengakuan anaknya.


Dia memejamkan mata, mencoba menahan diri, “Kamu tahu tidak … apa akibatnya jika berurusan dengan pak Yazza? Mama dan papa sudah berulangkali mengingatkan padamu … pak Yazza itu mempunyai temperament yang buruk. Seharusnya kamu mendengarkan mama, kenapa kamu bodoh sekali sih!”


“Satu hal lagi!” Daniel menyahut, “Vee belum pernah melahirkan atau bahkan memiliki seorang anak sebelumnya!”


“A … apa maksud mu?” semakin mengerutkan kening, “Daniel … mama rasa kamu sedang tidak sehat!”


“Ma …,” menatap mamanya, “Yve bukan putri kandung Vee!”


“Apa yang kamu bicarakan!” sentak mamanya.


“Yve memang putri pak Yazza, tapi dia bukan putri kandung Vee. Ibu kandung Yve sudah meninggal dan Vee menggantikan posisi ibu kandung Yve! Itu kenyataannya!”


Bu Risma merasa linglung, kepalanya terasa sakit.


Dengan sebelah tangan dia memegang keningnya, “Mama tahu kamu patah hati … tapi jangan sembarangan bicara seperti itu!” tegur bu Risma.


“Orang terdekat Vee yang menceritakan kebenarannya! Beliau bilang … Yve adalah putri haram sahabatnya dengan pak Yazza. Demi menutupi identitas Yve, Vee mengorbankan dirinya untuk menikahi pak Yazza … dia hanya tidak mau jika Yve tahu kalau Vee bukanlah ibu kandungnya.”


“Itu tidak masuk akal! Lalu kenapa pak Yazza mengumumkan ke publik jika Vee adalah kesalahan masa lalunya? “


“Karena pak Yazza menyukai Vee!” Daniel meninggikan nada, “Bukankah Vee pernah bilang jika dia bertahan dengan pak Yazza … itu hanya demi kebahagian Yve! Bagaimana mungkin Vee tega merusak senyum Yve dengan mengatakan yang sebenarnya? Semakin dipikir … bukankah rasanya semakin tidak adil untuk Vee?”


Bu Risma memegang kening dengan kedua tangannya, “Entahlah! Mama pusing!”


“Ma! Bolehkah aku mengakhiri hubungan dengan Tisya?” tanya Daniel lirih.


Bu Risma kembali mendongak menatap Daniel membelalakkan mata, “Daniel! Kamu mau membuat mama stress ya? Bagaimana kamu menjelaskan kepada keluarga Nirwana? Keluarganya akan berpikir jika kamu mempermainkannya!”


“Tapi Daniel tidak bisa berpura-pura lagi ma! Daniel tidak pernah ada rasa untuknya!”


Wanita paruh baya itu menghempaskan nafas panjang menunduk menutup wajah dengan kedua tangan, “Kalau begitu … buat supaya dia yang menjauhi mu!”


Menyipitkan mata, “Maksud mama?”


“Jika dia ilfill padamu … mungkin saja dia akan berpikir ulang untuk terus melanjutkan hubungan denganmu!”


“Jadi mama tidak keberatan jika aku mengakhiri hubungan ini?”


Mengelus punggung putranya dengan sebelah tangan, “Mama tidak mau kamu menjalani segala sesuatu dalam tekanan. Terlebih urusan hati! Mereka menginginkan pernikahan, tapi jika kamu saja tidak memiliki cinta … bagaimana kalian akan bertahan menjalani hidup bersama? Apapun itu, asalkan kamu bahagia … mama tidak akan terlalu banyak menuntut. Hanya saja … mama mohon … hentikan hubungan gila mu ini dengan Vee! Mama nggak mau kamu terlibat masalah dengan pak Yazza!”


Dengan berat hati Daniel menundukkan kepala, “Mengingat sikap Vee ketika di resepsi, aku pikir Vee tidak mau lagi menemui ku! Sepertinya … itu juga yang menjadi alasan dasar bagi Vee resign dari White Purple!”


“Resign? Kenapa tidak ada yang memberitahukan pada mama?” bu Risma terkejut mendengarnya.


“Karena Daniel masih berharap, Vee akan kembali lagi,” menunduk pilu dalam kesedihannya.


“Daniel!” bu Risma iba mengelus punggung putra semata wayangnya.


*Sebenarnya mama juga masih berharap, Vee bisa hidup berdampingan denganmu!


Andaikan saja ... jika pak Yazza tidak ada*!


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...

__ADS_1


__ADS_2