
Vee berjalan menenteng tas tangan ke luar melewati lobby.
“Dia pikir aku tahanan! Aku mau ke kopi shop saja,” gumam Vee mencibir menoleh ke belakang.
Di samping kiri, sepertinya ada tiga orang wartawan.
Vee santai membalikan badan membelakangi mereka.
“Apa sebaiknya kita ikut yang lain ke kantor White Purple saja?” kata seorang wanita.
Dia satu-satunya wanita di antara dua orang lainnya.
“Betul juga! Wanita rahasia ini kan bekerja di White Purple!” jawab rekannya sesama wartawan.
“Di sana pasti sangat ramai sekali orang yang ingin meliput dan mencari kebenaran tentang berita heboh hari ini!” pria yang lain bertolak pinggang sedikit frustasi.
Gawat!
Apakah benar di White Purple banyak wartawan?
Lagipula dia hanya seorang Yazza, bukan artis!
Kenapa banyak yang kepo terhadap hidupnya sih!
Cibir Vee dalam hati sembari menguping diam-diam.
Resepsionis pria melihat Vee yang berdiri di depan pintu utama lobby kantor Teratai Putih.
“Eh … itu bukannya calon istri pak Yazza?” bisik pria itu kepada wanita disebelahnya.
Melihat ke depan, “Iya … tadi dia datang kemari buru-buru sekali!” melihat jam, “Pak Yazza sedang meeting saat ini, mungkin dia hendak pulang.”
“Ahh benar ... aku harus mengantar makanan ringan nanti ke ruang meeting,“ kembali melihat ke depan, “pilihan pak Yazza memang terlihat sesuai karakternya!”
Resepsionis wanita memperhatikan, “Bahkan dari belakang dan dengan jarak sejauh ini, aku masih bisa merasakan auranya yang begitu berkarakter. Brave banget deh kesannya!”
Tersenyum, “Udah emang paling serasi banget deh sama pak bos kita,” melihat ke depan lobby, “lihat itu … bahkan nona ini terlihat begitu santai mengelabuhi para wartawan!”
Terkekeh pelan, “Hahaha … sungguh sangat mirip dengan sikap dingin pak Yazza! Dia tahu kapan harus tenang dalam menghadapi situasi sulit!”
“Tidak seperti mantan pacar pak Yazza yang dulu itu bukan?” mencibir.
“Haiz … aku belum bekerja di sini! Tapi gosip yang beredar, mantan pak Yazza sebelumnya itu … sekarang pacarnya pak Gerry ‘kan?”
“Oh iya … betul memang wanita itu! Di mata kami semua yang sudah lama bekerja di sini … mantan pak Yazza yang dulu selalu sok ngatur-ngatur … sombong deh pokonya! Jadi benalu saja!”
“Sungguh? Bagus dong jika benalu itu pindah ke kantor rival! Hahaha,” terkekeh.
Resepsionis pria ikut terkekeh, “Hahaha … benalu nya diambil dan bunga anggrek yang indah sekarang justru tumbuh di sini!”
Tersenyum menutup mulut, “Hust! Sudah-sudah … jangan bergosip lagi!” gadis itu menepuk pelan lengan rekannya.
Si pria tersenyum menggeleng berdecak kembali melihat ke arah Vee.
Mobil van hitam berhenti di hadapan Vee.
Vee mundur selangkah.
Ia pikir, mungkin saja itu tamunya Yazza.
Seorang pria memakai kemeja hitam turun dari pintu tengah.
Menunduk hormat ke arah Vee, “Nyonya Gionio?”
Vee menyipitkan mata, dia belum menikah resmi dengan Yazza.
Kenapa sudah memanggilnya begitu.
“Tuan Yazza meminta kami untuk menjaga dan mengantarkan anda!” ucapnya sopan.
__ADS_1
Aku tidak memberitahu Yazza jika aku akan pergi!
Apa maksudnya menjaga dan mengantar?
Gumam Vee dalam hati.
Tiga wartawan tadi saling berbisik sebelum akhirnya memutuskan untuk mendekat.
Upsss!
Ketahuan deh!
Vee mengernyit kembali bergumam pada dirinya sendiri.
“Wah, manis sekali! Apakah Yazza menyewa bodyguard untuk aku?” Vee tersipu melirik ke belakang lalu melongok melihat ke dalam mobil.
Pria itu kembali tersenyum menunduk hormat, “Tentu saja … tuan Yazza pasti sangat menyayangi anda!”
“Apakah anda ‘peri kecilnya’ pak Yazza Gionio?” tanya wartawan wanita.
Pria berkemeja hitam mundur menoleh celingukan ke arah mobilnya.
Vee menyipitkan mata, melihat pria berkemeja hitam yang justru hendak kabur.
“Mbak! Mengenai berita yang beredar, apa benar kalian sudah saling mengenal sejak lama?”
“Jadi apakah benar, putri kalian berdua sudah berusia delapan tahun?”
“Apa alasan anda menghilang selama ini?”
Vee tersenyum berjalan menuju mobil van, “Saya harus kembali ke kantor White Purple!” dalihnya untuk mengelabuhi wartawan.
Vee menarik lengan pria tadi sembari melihat ke depan, “Eh … ada orang lainnya ya di dalam mobil?”
“Benar nyonya! Kita bertiga,” jawab pria itu.
“Urus para wartawan itu dulu!” Vee berbisik kepada pria yang mengaku sebagai suruhan Yazza.
Tampak kebingungan, “Emb … baiklah!”
Vee memanfaatkan kesempatan untuk mencari tahu, mengetuk jendela pintu depan mobil van sambil melambai menyapa.
Pria di dalam menurunkan jendelanya, tersenyum memberi salam hormat.
Ah … sudah kuduga!
Pantas saja!
Cibir Vee dalam hati.
Vee tersenyum hangat, “Kalian tidak perlu repot-repot seperti ini untuk menuruti Yazza!” tersipu sok manja.
“Kami hanya ditugaskan!” pria berambut merah di hadapannya menjawab.
“Ah benar!” Vee buru-buru masuk ke dalam mobil, lewat pintu tengah, “Tadi aku pamit pulang … aku kira dia cuek … ternyata dia menyuruh orang mengantarku!” memutar bola mata, untuk memperhatikan seluruh isi dalam mobil.
“Kami akan mengantar nyonya dengan selamat!” pria dengan tato di lengan menoleh, masih sambil memegang setir.
Pria yang sempat menghalau wartawan, berhasil kembali naik ke dalam mobil.
Menutup pintu, duduk di sebelah Vee.
“Huft! Untung kalian datang tepat waktu … para wartawan itu membuatku nyaris tidak berani ke luar!”
Terkekeh, “Hahaha … tentu saja anda akan di cari banyak wartawan setelah kemunculan berita menghebohkan tentang anda!”
Masih melihat-lihat isi mobil, “Kenapa mobilnya seperti angkot?” dengan gerakan natural, Vee membuka tasnya.
Sisi belakang memang sangat lapang.
Hanya ada bangku panjang menghadap ke pintu samping, tepat di belakang bangku pengemudi.
__ADS_1
“Ahh … itu agar terasa lebih nyaman dan terkesan leluasa saja,” jawab pria bertato sambil memasukan gigi perseneling.
Vee tersenyum riang mengambil sapu tangan milik Yazza di dalam tasnya, “Sudah lama … semoga tidak kaku!” gumamnya lirih.
Jendela depan kembali dinaikan, mobil mulai melaju di jalanan.
“Apa nyonya?” pria di sebelahnya bertanya.
“Ah tidak!” Vee membalut sapu tangan ke telapak tangan.
“Kenapa dengan tangan anda nyonya?” tanya pria itu lagi.
Tersenyum, “Tadi tergores pisau saat mengupas buah!” dalih Vee, mengikatkan sapu tangan dengan erat.
Vee melirik ke samping tanpa menolehkan kepala,
Oke ….
Bius di sebelah kiri.
Belati di atas spion tengah, dan pistol di bawah dashboard.
Menyipitkan mata.
Wow … ada tongkat baseball juga di bawah kaki si pengemudi?
Gumam Vee dalam hati.
Sebisa mungkin bersikap tenang.
“Ah … tergores,” pria disebelah Vee seolah merespon.
Diam-diam dia menuangkan cairan obat bius ke handuk kecil di tangannya.
“Haizzz!!!” Vee membuat semua orang yang di sana menoleh terkejut ke arahnya.
“Kenapa lagi nyonya?” tanya pria dengan cat rambut merah.
“Aku terlalu kenyang!” melepas sabuk dari rok pinggangnya, “Biar longgar sedikit,” tersenyum meringis.
Ketiganya yang tadi berwajah tegang kembali tersenyum, lalu saling tatap satu sama lain untuk memberikan kode.
...***...
Resepsionis pria membawakan camilan ke ruang rapat.
Pak Ardi berdiri mendekat, “Eh … kemari!”
Dia mendekat, “Iya pak?”
“Di ruang pak Yazza ada nyonya Vee … pergi ke sana dan tanyakan apa dia membutuhkan sesuatu,” perintah pak Ardi.
Menyipitkan mata, “Tapi sepertinya beliau tadi keluar dijemput oleh tiga pria berpakaian hitam.”
“Apa?” pak Ardi terkejut langsung menoleh ke arah Yazza.
Semua orang yang di sana termasuk Yazza, menoleh ke arah pak Ardi.
Pak Ardi menunduk meminta maaf kepada Yazza dan semua orang.
Mengajak resepsionis keluar ruangan.
“Katakan … seperti apa mereka?” desis pak Ardi.
Mengingat, “Yang paling jelas sih … ada seorang yang duduk di depan dengan cat rambut yang begitu mencolok!”
“Warna merah?” tebak pak Ardi.
“Ya … benar!” tersenyum.
Pak Ardi memegang kepalanya, “Astaga … ini gawat!”
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...