RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
BLACKOUT


__ADS_3

Leo memperhatikan ekspresi Vee begitu mendengar celetukan Gerry.


“Jadi ragu dengan keaslian kabar yang beredar di majalah hari ini!” cibir Gerry sekali lagi.


“Mungkin tuan Yazza masih terjebak dalam kemacetan!” Leo mencoba membuat Vee agar tidak terpengaruh omongan Gerry.


“Cuih!” Gerry kembali duduk ke posisi semulanya.


Membelakangi Vee.


Dengan santai Leo duduk di sebelah klien yang akan dia bela.


“Salam kenal nona, saya Leo!” mengulurkan tangan.


Vee tersenyum balas menyalami Leo, “Vee … terima kasih sudah datang!”


“Nona Vee tidak perlu khawatir, saya akan membantu anda!” desis Leo percaya diri.


Mr. X datang memasuki ruangan.


Semua orang menoleh ke arahnya.


Melihat kedatangan Mr. X, membuat Leo menyipitkan mata penasaran.


Kenapa dia turun langsung?


Gumam Leo dalam hati.


Gerry tampak terkejut melihat kedatangan Mr. X.


“Kenapa kamu ke sini?” desis Gerry menoleh ke belakang.


“Saya yang dikirim untuk membela nona Berli,” jawab mr.X sembari memberi hormat untuk semua orang di dalam kantor.


“Oh … jadi anda pengacaranya nona Berli?” tanya bu Dinda.


“Benar,” jawab Mr. X lagi.


Gerry tersenyum sinis, “Apa yang Tasya rencanakan!” gumamnya lirih berbicara pada dirinya sendiri.


“Silahkan duduk,” bu Dinda berdiri, “saya ke toilet sebentar!”


Semua orang mengangguk hormat begitu bu Dinda berjalan keluar dari ruang BAP.



Mr. X duduk santai di sebelah Gerry.


“Setelah ini, kalian tidak perlu menjawab apapun tanpa persetujuan saya!” tegas Mr. X dengan mendesis mendekatkan kepala ke Gerry dan Berli.


“Aku pikir … dia tidak akan peduli,” cibir Gerry.


Berli menyipitkan mata, “Apa yang kamu bicarakan sayang?” tanya Berli polos..


Melirik tajam, “Jangan banyak tanya, dan jangan banyak bicara lagi! Kamu sudah membuat masalah yang cukup besar hari ini!”


Berli menunduk menciut, “Maafkan aku,” setengah mewek.


“Saya akan menyelesaikan semua ini dan membuat anda terbebas dari tuduhan. Tapi, mohon kerjasamanya untuk tidak sembarangan memberikan pernyataan,” ucap Mr. X menatap Berli.


“Dengar itu!” sahut Gerry membentak lirih kekasihnya.


Berli mengangguk masih dengan tatapan sendu dan bibir kelu.


Notifikasi pesan masuk membuat Vee bergegas melihat ke layar handphone yang dia pegang.



Pesan dari pak Didik.


Tersenyum lega, “Pak Didik dari White Purple juga akan membawa pengacara,” desis Vee, “mereka sudah hampir sampai!”


“Itu lebih bagus, kita bisa punya dua pengacara,” balas Leo menjawab.


“White Purple akan menuntut dan membuat laporan tentang teror yang dialami para petugas pengiriman.”


Melirik ke arah para preman, “Target utama kita adalah menjebloskan mereka ke dalam penjara!”

__ADS_1


“Bagaimana dengan wanita itu?” Vee masih berbisik melirik Berli.


Leo menoleh sedikit, melihat Mr.X, “Takutnya, akan tidak mudah!”


Yazza datang menabrak pintu kaca.


Semua mata langsung tertuju padanya.


Tidak seperti biasanya, Yazza terlihat seperti orang linglung yang tidak sadar sepenuhnya.


Gerry tampak mencibir membuang muka melihat kedatangan Yazza.


“Maaf!” Yazza masuk ke dalam, “Saya terlambat!” berpegang pada pintu sambil terengah.


Vee segera berdiri menghampiri Yazza, “Hya … kenapa lama sekali?” bentaknya kesal.


Merengkuh wajah Vee, “Apa kamu baik-baik saja? Ada yang terluka?” melihat wanita di hadapannya, “Tanganmu berdarah?” mengangkat tangan kanan Vee.


Nafasnya masih berantakan.


Melepas sapu tangan, “Tidak apa-apa … ini darah mereka!” menunjuk ketiga preman yang terikat.


Yazza melihat ketiga preman yang tampak babak belur tidak karuan.


Mengernyit menatap Vee lagi, “Kamu sungguh melawan mereka sendirian?” merapikan rambut Vee yang berantakan.


Melihat Yazza begitu khawatir pada Vee, membuat Berli semakin panas hati.


Gerry tampak mengepalkan tangan geram melihat ke arah Yazza.


“Kenapa … sudah mulai takut padaku?” cibir Vee.


Yazza tersenyum sembari memejamkan mata, menahan sesuatu.


Vee memperhatikan tampilan Yazza yang begitu berantakan, “Habis lari marathon?” ejek Vee setengah tersenyum melihat rambut Yazza yang lepek dengan keringat di seluruh badan.


Yazza kembali tersenyum mencibir membuka mata.


Tidak sengaja dia melihat robekan di lengan baju Vee.


Segera dia menarik lengan kiri wanita itu, “Kamu terluka!” menunduk untuk memperhatikan dengan jelas luka Vee.


Hanya tidak ingin melihat orang lain mengkhawatirkannya.


Kali ini, Vee yang tidak sengaja melihat ke belakang kerah leher kemeja putih Yazza.


Dia terdiam menyipitkan mata begitu sadar ada noda darah di sana.


“Tunggu!” memegang kepala belakang Yazza.


“Shhh ….”


Yazza mengernyit tipis, mencengkram lengan Vee.


Tangan Vee mulai gemetaran.


Getir kegelisahan menyeruak memenuhi relung hati.


Darah sungguhan!


Melihat lekat ke arah Yazza, “Bagaimana bisa kamu terluka seperti ini?”


Leo berdiri ikut mendekat, “Apa tuan baik-baik saja?”


Sebenarnya, Yazza memang sudah memaksakan diri sampai sejauh ini.


Bahkan pandangannya sempat buram beberapa kali, hingga membuatnya hendak terhuyung jatuh.


Itu sebabnya dia sampai menabrak pintu kaca karena serasa sudah tidak kuat melangkah lebih jauh lagi.


“Kita ke klinik dulu!” Vee memegang lengan Yazza.


Vee baru sadar jika Yazza terlihat seperti orang setengah sadar.


“Nona … kami juga terluka … bawa kami ke klinik juga!” pria berambut merah memohon.


Vee mencibir kesal melirik ke arah mereka.

__ADS_1


“Nona … kamu menghajar kami sampai seperti ini, kenapa baru terlihat ketakutan seperti itu begitu melihat darah di tanganmu?” cibir pria bertato.


“Hya … mau aku pukuli lagi?” Vee makin geram.


Yazza menahan lengan Vee.


Merengkuh wajahnya dengan kedua tangan.


Dengan tatapan sendu Vee terdiam menatap mata Yazza.


Yazza tersenyum mengelus wajah Vee, “Peri kecilku,” desisnya lirih, “yang penting sudah melihatmu baik-baik saja … itu sudah cukup!”


Perlahan senyum di wajah Yazza memudar.


Tubuh Yazza terhuyung ke depan.


Vee segera menangkap ke dalam dekapannya.



“Yazza! Hya … jangan menakuti aku!” meninggikan nada.


Yazza terkulai lemas tidak sadarkan diri menyandarkan kepala di bahu Vee.


“Astaga!” dengan sigap Leo memegang kedua lengan Yazza.


“Yazza jangan bercanda!” Vee juga masih menahan tubuh Yazza.


Leo segera membantu memapah Yazza, “Nona … tuan Yazza sungguhan pingsan!”


Berli berdiri tampak panik melihat Yazza.


“Dia pasti berpura-pura!” cibir Gerry.


Bu Dinda masuk ke ruangan.


Terkejut melihat yang terjadi, “Ada apa ini?”


“Bu, dia terluka … saya harus membawanya ke IGD dengan segera!” Vee panik.


Pak Didik dan pengacara White Purple yang baru datang, tampak ikut terkejut melihat keributan yang terjadi.


“Pak Yazza kenapa?” mendekat.


“Pak Didik … bagaimana ini? Yazza terluka dan pingsan … saya harus membawanya ke rumah sakit!” air mata Vee mulai berjatuhan.


“Nona Vee … tapi kami masih butuh kesaksian anda di sini!” bu Dinda tampak bingung.


“Vee … biar aku yang membawa pak Yazza ke rumah sakit … percaya padaku!” pak Didik mengelus punggung Vee.


“Tapi pak …-”


“Sudah … jangan membantah! Kasihan pak Yazza,” sela pak Didik.


“Saya bantu sampai ke depan!” Leo masih memapah Yazza.


Vee memegang lengan bu Dinda, “Bu … saya mau mengantarnya sampai ke depan terlebih dahulu!”


Bu Dinda mengelus lengan Vee dengan senyuman menenangkan, “Boleh!” mengangguk lembut.


Mereka bergegas menggotong Yazza ke luar dari kantor kepolisian untuk menuju ke rumah sakit.


Bahkan ketika mobil pak Didik sudah melaju, Vee masih berdiri mematung melihat ke jalanan sampai mobil benar-benar tidak terlihat lagi.


Leo menyentuh bahu Vee, “Nona … kita selesaikan dengan cepat … setelah itu anda bisa segera menyusul tuan Yazza!”


“Apa yang terjadi padanya!” masih tidak mau beranjak.


“Tuan Yazza pasti akan baik-baik saja … jangan khawatir!”


“Aku sama sekali tidak mengkhawatirkannya!” Vee mengepalkan tangan, memejamkan mata.



Perlahan air matanya kembali menuruni pipi.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2