
Vee memilih setelan jas biru dongker dan kemeja putih bergaris.
Langsung dilemparkan ke Yazza dengan sedikit menolehkan kepalanya.
Dengan sigap Yazza menangkap, “Dasi, jam tangan dan sepatu juga yang sesuai!”
Vee menghela nafas panjang.
Tanpa banyak berkomentar langsung bergeser ke tempat penyimpanan dasi yang tersusun rapi di dalam laci.
Vee asal mengambil dan kembali melempar ke Yazza.
“Cari yang lain! Ini tidak bagus!”
“Apa menjadi asisten sampai harus melayani sedatail ini?” protes Vee.
“Jika tidak mau melakukannya itu hak kamu. Dan hak-ku juga menolak kontrak dengan White Purple!”
Vee kembali menghela nafas panjang, ia harus menahan diri.
Perkara dasi tidak akan selesai jika terus mendebatnya.
Ia kembali melihat dengan teliti dan memilihkan yang sesuai dengan setelan jas tadi.
Saat dia membalikan badan untuk memberikan dasi, Vee tidak sengaja melihat Yazza sedang memakai celananya.
“Hya! Kenapa berganti pakaian disini!” protes Vee menutup mata.
“Kurasa ini tempatku biasa untuk mengganti pakaian!”
“Setidaknya tunggu sampai aku keluar!”
“Seperti tidak pernah melihat tubuh pria saja!” gumam Yazza lirih.
“Cihh!” Vee menyerempet Yazza dan segera keluar ruangan.
Membanting pintu menutupnya dari luar.
“Memang tidak pernah!” gerutunya kesal menoleh ke pintu di belakang punggungnya.
Yazza terkekeh pelan puas membuat Vee kesal.
Dengan segera, dia melanjutkan berganti pakaian.
Seluruh asisten rumah tangga dan pekerja di rumah Yazza tampak kepo diam-diam mengintip dari balik pilar.
Untuk pertama setelah sekian lama, ada wanita yang satu meja dengan tuannya lagi.
Vee merasa risih diawasi seperti itu.
Yazza tampak acuh dan cuek tetap melanjutkan makan.
Vee sama sekali tidak menyentuh makanannya.
Ia jengkel dan kesal.
Kenapa harus berada di sini bersama orang yang paling dia benci.
Ia duduk dengan sangat tidak nyaman.
Meski Yazza menyadari sikap Vee. Dia tidak mengambil hati dan hanya membiarkannya bertingkah semaunya.
Pak Ardi datang memberi salam hormat.
“Pagi tuan. Nona!”
"Apakah setiap hari harus seformal itu?" cibir Vee dalam hati.
Sepertinya pak Ardi tidak terkejut melihat Vee sudah berada di sana.
Tidak mau ambil pusing, Vee hanya tersenyum sengit dan kembali membuang muka.
***
__ADS_1
Daniel sangat mengkhawatirkan Vee.
Dia hendak menelpon tapi ragu.
Takutnya malah akan mengganggu pekerjaannya di sana.
Yazza orang yang sangat temperamen.
Jika ada yang melakukan kesalahan sedikit saja, pasti dia akan marah-marah. Sementara Vee juga tipe yang keras kepala.
Akan sulit jika keduanya terlibat dalam perdebatan. Tidak tahu siapa yang akan mengalah dan siapa yang akan menang.
Vee duduk menghadap ke jendela melihat ke jalanan.
Sementara itu Yazza santai membaca laporan dan pak Ardi menyetir di depan.
“Tuan, subuh tadi ada kecelakaan beruntun di tol. Mungkin nanti akan sedikit terhambat macet karena evakuasi.” Pak Ardi melihat GPS.
“Tol?” Vee menyahut terkejut, “Sepertinya tidak perlu melewati tol untuk ke kantor kalian!”
“Siapa yang bilang kita akan ke kantor hari ini.” Yazza masih fokus membaca.
Menyipitkan mata, “Apa? Lalu kemana?”
Vee mengkhawatirkan jika dia pulang terlambat, bagaimana nanti dengan putrinya.
“Sidak di kantor cabang Bandung.”
“Jam berapa kita akan kembali sampai di sini?” Vee makin khawatir.
“Tergantung berapa banyak masalah yang akan kami temukan di sana nantinya.” Pak Ardi menanggapi.
“Memikirkan putrimu?" tanya Yazza santai.
Vee menatap tajam ke arahnya.
Dia tidak ingin Yazza membahas tentang putrinya.
“Bukan urusan anda!” tegas Vee.
"Orang kantor akan menjemputnya nanti." Lanjut Yazza datar.
“Lalu bagaimana jika kita pulang larut?” pak Ardi menoleh sebentar.
Vee berpikir, “Aku akan meminta tolong pak Didik!”
Yazza mencibir, “Jangan khawatir, aku sudah menyuruh seseorang mengawasi putrimu. Dia mungkin sudah berada di sekitar sekolah untuk menjaganya.”
Melotot tajam, bagaimana bisa sudah direncanakan seperti itu!
“Saya tidak meminta anda untuk ikut campur tentang anak saya!” tegas Vee.
Yazza menoleh.
Matanya menyipit ketika melihat Vee benar-benar marah.
“Aku hanya membantu mengatasi masalahmu! Tidak bisakah hanya berterima kasih tanpa harus marah seperti itu?” jelas saja Yazza merasa usahanya tidak dihargai.
“Saya sendiri yang membesarkan putriku! Dan saya tidak mau anda ikut campur mengurusnya!” geram Vee.
Yazza justru semakin tidak mengerti.
Kenapa Vee menjadi sensitive tentang ini?
“Justru aku akan semakin salah jika membawa ibunya pergi tanpa memikirkan putrinya. Kenapa malah marah!”
Sebaik apapun niat orang yang kita anggap jahat. Sudah pasti akan selalu terlihat buruk di mata kita.
Dari sudut pandang Yazza, hal itu sepertinya normal-normal saja.
Hanya hati dan perasaan Vee yang memang belum bisa memaafkan niat buruk Yazza yang ingin menyingkirkan Yve.
Vee memejamkan mata membuang muka.
Ia menarik nafas panjang dan menghempaskannya.
Tangannya menggenggam erat pegangan tasnya, “Maafkan saya!” desah Vee berat.
Jangan sampai Yazza semakin curiga dengan sikapnya ini.
Yazza diam memperhatikan sikap Vee yang begitu defensive.
__ADS_1
"Kenapa wanita ini penuh sekali dengan tanda tanya dalam hidupnya!" Yazza menyipitkan mata, masih melihat Vee yang mencoba menenangkan diri.
***
Yve menelepon mamanya, saat Vee sudah memasuki Bandung.
“Ya, hallo sayang?” Vee menyapa penuh kelembutan.
Yazza melirik memperhatikan.
Yve melirik seorang wanita paruh baya di sebelahnya, “Ma, mama mengirim seseorang untuk mengawasiku?”
“Ah, benar.”
Yve menghela nafas panjang, “Mama pergi keluar kota?”
“Iya, tapi mama akan pulang kok. Hanya saja sedikit terlambat mungkin.”
“Ah…! Yve bisa kok pulang ke rumah Caesar. Tidak perlu repot mengirim orang.”
Vee melirik Yazza.
Yazza langsung membuang muka.
“Sebenarnya bukan mama yang meminta.”
“Lem tikus?”
Vee tersenyum, “Bukan si lem tikus.”
“Lalu?”
“Em sandinya?” Vee tersenyum meminta Yve memainkan kode khusus mereka berdua.
Yve menyipitkan mata lalu berdehem membusungkan dada, “Kode?”
Vee tampak berfikir, “Emmbb, mesin ekskavator?”
“Huh?” Yve terkejut dan tidak mengerti.
“Mama ceritakan setelah pulang ya sayang!”
“Oke! Mama berhutang padaku!”
Tersenyum, “Tentu saja.”
“Kalau begitu, Yve tutup panggilannya. Yve sayaaaaang sekali sama mama!”
“Mama juga!”
“Love you mama!”
“Love you too sayang!”
Vee kembali menyimpan handphonenya setelah usai menelepon.
“Putrimu sepertinya sangat cerdas.”
Vee kembali melirik Yazza tajam, “Ini untuk pertama dan terakhir. Jangan lagi mencampuri yang berkaitan dengan putri saya!”
Yazza mencibir tersenyum, “Memangnya apa yang pernah kulakukan padanya. Sampai kamu segitunya tidak ingin aku ikut campur!”
Dengan geram Vee menatap Yazza tajam.
"Apa yang pernah dia lakukan? Tentu saja dia pernah berniat menghilangkan nyawa Yve sewaktu masih bayi."
Dan bagi Vee, itu sudah di luar batas.
Bagaimana bisa dia membiarkan Yazza mendekati Yve lagi!
Apa yang akan terjadi jika Yazza tahu, putrinya yang hendak dilenyapkan ternyata masih hidup!
Bukannya membuang muka atau memalingkan wajah, Yazza justru makin mendalami tatapan tajam Vee.
Semakin kacau dan berantakan dalam hatinya, semakin dia tidak ingin lepas dan justru ingin mencari sebuah titik terang di sana.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))>' '<((((<...
__ADS_1