
Yazza duduk santai membaca majalah di ruang tunggu VVIP.
Vee merebut majalah Yazza dan melemparkannya ke meja, “Apa maksud bapak dengan semua ini!” Vee marah-marah.
Yazza santai melihat Yve, berisyarat mata kepada gadis kecil itu.
Yve langsung mendekat memegang tangan mamanya, “Kita akan pergi liburan ke Bali Ma!” antusias.
Ternganga membelalakkan mata, "What?"
Yazza tersenyum pongah dalam diamnya.
“Yve! Sudah mama bilang. Jangan bicara dengan orang asing!” sentak Vee.
Muram melihat mamanya, “Yve sangat ingin sekali pergi ke Bali!”
Melihat kesedihan Yve, Vee langsung terdiam.
Dia menghela nafas panjang lalu jongkok dihadapan Yve, “Sayang, kita bisa pergi sendiri lain waktu.”
Yve mengusap lembut wajah mamanya, “Ma! Yve tahu, mama pasti sangat marah. Tapi Yve mau liburan bersama mama dan papa!”
“Papa!” pekik Vee menatap tajam Yve.
Yve tampak menciut.
“Kenapa mama tidak memberitahuku tentang papa Yazza?”
Bola mata Vee bergeser kesamping, melirik tajam ke arah Yazza.
“Terkejut? Aku juga sama,” Yazza tersenyum mencibir, masih duduk santai.
Vee mengepalkan tangannya geram. Mendengus seperti banteng yang siap menyeruduk.
“Ma, sudah lama sekali Yve ingin menemui papa. Dan sekarang papa sudah bersama Yve, aku nggak mau jauh dari papa lagi!”
Melihat mata polos Yve, membuat Vee begitu sedih.
Ditambah lagi, dia teringat dengan pembicaraannya dengan bu Tania.
Ini hanyalah persoalan ego orang dewasa.
Jangan sampai perasaan anak yang harus dikorbankan.
“Pak Yazza bisa bicara berdua?” nadanya berusaha di ucapkan dengan sebiasa mungkin.
Yazza mengangkat bahu berdiri santai.
Vee berdiri, Yve langsung menarik tangan mamanya, “Jangan memarahi papa! Nanti papa pergi lagi! Yve nggak mau! Yve sedih,” merengek dengan bibir kelu.
Vee mengelus pipi putrinya dengan lembut.
“Aku hanya tidak ingin melihatmu terus-menerus muram seperti ini Nak!”
Meski hanya berpura-pura di depan putrinya, senyum Vee terlihat begitu tulus saat ke empat mata mereka terpaut.
“Mama tidak akan memarahinya!” ucap Vee lembut.
Yve tersenyum, mengusap sudut matanya, “Janji?”
Mengangguk tersenyum meyakinkan.
Jemari Vee mengusap air mata di pipi Yve.
“Terima kasih Ma!” Yve tersenyum menatap Yazza yang juga ikut tersenyum kepadanya.
__ADS_1
Wajah malaikat Vee seketika berubah saat dia melirik Yazza.
Senyumnya sirna.
Tanpa banyak kata, dia mendahului melangkah menjauh.
Ujung koridor bandara.
Tidak banyak orang di sana.
Vee membalikan badan menyilangkan tangan menatap Yazza, “Bagaimana anda bisa sembarangan mengaku sebagai ayahnya!” tegas Vee.
“Aku juga tidak tahu, sampai wali kelasnya berkata jika aku adalah ayahnya. Dan saat melihat akta kelahiran Yve. Bukankah di sana ada nama Yazza?”
“Anda pikir, di dunia ini hanya anda yang bernama Yazza?”
“Gadis itu memanggilku papa, dan aku tidak menyangkal!”
“Seharunya anda bilang tidak!” sentak Vee.
Menyipitkan mata, “Kenapa kamu terus menutupinya?”
Deg!
Ada sentakan dahsyat di dada Vee.
Dia takut jika kejadian dulu terulang kembali.
“Dia putri kita! Kenapa tidak datang padaku dan kita bisa membesarkannya bersama!”
Vee terperangah sesak mendengarnya.
“Apa?”
Pertama, Yazza berkata Yve anak mereka berdua. Dan kedua, dia meminta Vee mendatangi Yazza.
“Apa anda sudah tidak waras?” Vee kesal.
Jelas-jelas Yunna mendatanginya dan yang terjadi, Yunna sampai harus kehilangan nyawa dan Yve nyaris dilenyapkan juga.
“Kamu yang sudah tidak waras!” sentak Yazza.
Vee menciut, “Bagaimana bisa anda berpikir dia anak kita, sementara kita tidak pernah saling bicara!”
Yazza menghempaskan nafas, “Baiklah, aku minta maaf! Itu memang kesalahanku. Aku sangat mabuk malam itu dan tidak mengingat apa-apa. Tapi aku sangat ingat saat memaksa menciummu di dalam mobil waktu itu!”
“Apa!” lagi-lagi Vee dibuat kesal bukan main.
"Dia sudah benar-benar tidak waras. Dia mengingat kejadian itu tapi tidak ingat dengan siapa dia tidur?"
“Jadi anda pikir, terjadi sesuatu diantara kita?”
“Vee, aku tahu kamu pasti sangat marah. Aku sungguh menyesal,” memegang kedua tangan Vee, “Kita mulai lagi dari awal. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama!”
Vee menghentakkan penuh amarah, “Apa yang harus dimulai ketika memang tidak pernah ada yang dimulai sejak awal!”
“Aku tidak akan menyalahkanmu karena tidak mau mengakuiku. Tapi, dengan tidak menyadari kesalahanku dan membiarkanmu menderita sendirian, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri,” sesal Yazza.
Entah kenapa, Vee melihat Yazza begitu menyesal dan merasa bersalah karena hal ini.
“Lalu kenapa dia berusaha menyingkirkan Yunna?”
Tidak!
__ADS_1
Vee tidak boleh menyinggung tentang Yunna dihadapannya.
“Berapa banyak gadis yang sudah anda rusak?”
Menggeleng, “Aku bukan tipe yang suka bermain-main! Hanya saja sungguh, waktu itu aku mabuk berat.”
Vee menyipitkan mata, “Jika ada wanita lain yang datang pada anda dan meminta pertanggung jawaban. Apakah anda juga akan seperti ini?”
Menggeleng, “Sejak kejadian itu, di kepalaku terus saja muncul bayanganmu. Tatapan mata penuh amarah itu dan juga kekesalan dari wajahmu.”
Menunduk dengan wajah lesu.
“Bertahun-tahun aku memikirkan dan mencoba mencari tahu tentang siapa sebenarnya dirimu. Sampai pada akhirnya, aku benar-benar kehilangan jejak tentangmu! Sekarang kamu muncul lagi, tidak sendirian! Tapi bersama anak kita!”
“Anak kita?” ulang Vee dengan pandangan yang sudah kabur karena selaput air mata
Bibirnya kelu.
Air matanya menetes perlahan.
Mengambil sapu tangan di sakunya, “Maaf karena membiarkanmu sendirian dalam penderitaan selama ini," mengusap pipi Vee.
Dengan sigap, Vee langsung menghentakkan.
“Yve bukan putri kita! Jadi jangan sembarangan mengklaimnya!”
“Kalau begitu kenapa tidak test DNA saja?”
Deg!
Lagi-lagi Vee harus merasakan sentakan menyakitkan di dadanya.
Jelas hasilnya akan positif karena pada kenyataannya, Yve adalah anak kandung Yazza.
Melihat ekspresi Vee, Yazza tahu jika Vee hanya sedang berusaha menolak kenyataan.
“Vee, aku sungguh sudah pernah berusaha mencarimu. Tanyakan kepada pak Ardi jika tidak percaya. Tapi aku mohon, jangan lagi menutup-nutupi tentang anak kita.”
Vee membalikan badan. Menunduk memegang kepalanya yang semakin pusing.
Mendengus tersenyum mencibir pada dirinya sendiri, “Semudah itu mengatakan anak kita?” gumamnya lirih.
“Sementara Yunna, dia harus mengorbankan nyawa untuk mendapatkan haknya agar diakui.”
“Yeah, ini adalah kesalahanku!”
Suara Yazza terdengar semakin sendu.
“Asal kamu tahu! Sejak malam itu, tatapan matamu sudah berhasil menutup pintu hatiku kepada siapapun. Dan hanya ketika berpapasan denganmu lagi, ruang kosong itu baru terasa penuh dan sesak kembali!”
Mengernyitkan dahi tanpa menoleh ke belakang.
“Apa yang dia bicarakan! Menutup hatinya?”
Itu adalah kalimat yang paling menyakitkan dari yang pernah dia dengar.
“Harga diriku, reputasi ku dan nama baikku. Aku menjaganya mati-matian dengan harapan tidak akan memiliki cacat sedikitpun saat harus berhadapan denganmu nantinya. Tapi butuh waktu selama ini untuk kembali bertemu denganmu. Entah sudah berapa banyak wanita yang sakit hati karena penolakan dariku.”
"Apa-apaan ini?"
“Aku tidak bisa menerima wanita lain, selain dirimu!” pungkasnya menegaskan.
“Kenapa malah jadi begini?”
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))>' '<((((<...