
Bandara.
Yve tengah bersama kek Gio yang membawakan banyak oleh-oleh.
Mereka duduk jauh dari Vee dan Yazza.
“Eyang buyut tidak ikut kami?” tanya Yve polos.
Kek Gio tersenyum, “Di kota papamu, kakek selalu merasa tidak sebebas ketika berada di sini! Bagaimana jika kalian saja yang menetap di sini?”
Menghela nafas panjang, “Mama sepertinya sangat menyukai pekerjaannya!”
“Ah benar! Aku baru tahu kalau mamamu tidak satu kantor dengan papa Yazza.”
Tersenyum, “Itu tidak masalah! Kata papa, sehabis ini kita akan tinggal bersama!”
Menatap Yve, “Kamu senang?”
“Tentu saja!” tersenyum antusias.
“Kalau begitu, bujuk mamamu supaya mau menikah dengan papa Yazza! Setelah mereka menikah, kalian bisa bebas tinggal satu rumah!”
“Benarkah begitu?”
Kek Gio tersenyum gemas, “Tentu saja!”
“Kalau begitu aku akan membuat mama dan papa kembali bersama!”
Terkekeh gemas, “Hahaha … anak pintar!”
“Mama memang galak! Tapi mama tidak akan galak lagi kalau Yve sudah menangis!”
“Eh … anak ini … hya! Pasti mama Vee yang sudah mengajarimu untuk memanfaatkan kelemahan ‘kan?”
Tersenyum gemas menutup bibir mungilnya dengan kedua tangan, “Aku hanya meniru mama yang akan pura-pura mengalah saat menghadapi tante-tante galak, setelah tante itu pergi karena kasihan … mama akan memaki dan mencibir di belakangnya!”
Terkekeh, “Hahaha … ya! Begitulah mamamu!” mengelus rambut Yve, “Sebenarnya, mana mau dia semudah itu mengalah!”
Mengangguk, “Kakek Mail bilang, mama paling suka berkelahi dulunya!”
Mencoba mengingat, “Ah, pria pelaut dari pesisir itu?”
Yve mengangguk, “Yah … terakhir bertemu, saat aku masih TK, setelah itu kami hanya berbincang melalui panggilan video!”
Menyipitkan mata, “Apa benar kalian meninggalkan pesisir hanya karena papa Yazza?”
Yve menggeleng, melihat ke arah mamanya.
“Mamamu sangat mencintai tanah kelahirannya. Bahkan saat aku berniat mengadopsinya, dia menolak dan lebih memilih tetap tinggal di pesisir.”
Kali ini Yve melihat Yazza.
Mereka memang masih harus menunggu jam penerbangan pesawat jet pribadi.
“Yve juga tidak mengerti. Sebenarnya mama yang jahat karena meninggalkan papa, atau papa Yazza yang tidak mau mencari kami!”
Kek Gio menyipitkan mata dengan alis yang bertautan menatap gadis kecil itu.
“Melihat papa begitu baik dan menyayangi kami, aku jadi semakin yakin jika mama yang sebenarnya tidak suka dengan papa Yazza!”
Kek Gio menghela nafas panjang.
Kali ini pandangannya tertuju kepada Vee dan Yazza di dekat pintu ruang tunggu VIP.
...***...
Handphone Vee berdering.
Yazza menyipitkan mata melirik Vee yang tersenyum melihat ke layar handphone.
Vee mundur ke tempat yang lebih sepi untuk menjawab panggilan.
__ADS_1
“Ya pak Daniel?” jawab Vee sok datar.
“Haiz! Sudah kubilang … jangan terlalu formal!”
Mendengus tersenyum, “Sebentar lagi saya akan naik pesawat! Jika tidak ada kepentingan tidak usah menelepon!”
“Hya! Ini sangat penting!”
“Apa?” tanya Vee dengan senyum tipis.
“Aku akan segera kehabisan nafas karena terlalu merindukan seseorang! Jadi cepatlah kembali!”
“Hya! Sudah kubilang, jika tidak penting tidak usah menelepon!” protes wanita itu meski bibirnya terangkat ke atas.
“Ini sangat penting! Karena Vee adalah separuh nyawaku!” Daniel tersenyum gemas pada diri sendiri.
“Akan kututup panggilannya!”
“Hya … hya! Jangan … cih!” Daniel mencibir.
Vee terkekeh sekarang.
“Puas?”
“Ya!”
“Kenapa bawahan begitu kurang ajar kepada bosnya!” cibir Daniel.
Tiba-tiba, Vee kembali teringat kejadian beberapa hari ini.
Meskipun semua orang tahu dia adalah seorang janda, tapi pada kenyataanya tidaklah seperti itu.
Semakin dipikirkan semakin membuat Vee merasa tidak memiliki keberanian untuk menghadapi Daniel kedepannya.
“Vee?” Daniel menyadari ada sesuatu yang tidak beres begitu wanita yang dia telepon tiba-tiba terdiam, “Kamu baik-baik saja?”
“Pak Daniel ….” panggil Vee dengan nada datar.
“Ya?”
Daniel menyipitkan mata, dadanya terasa sesak bahkan sebelum Vee mengatakan hal itu.
“Apa itu?” tanya Daniel dengan nada rendah.
“Saya juga tidak tahu, bagaimana dan darimana saya menceritakannya.”
“Vee, apa kamu dalam kesulitan?” tanya Daniel.
Vee melihat tiga wanita yang kemarin sempat berpapasan dengannya.
Ketiga wanita itu tampak berbisik melihat ke arahnya.
Dengan senyum licik, mereka berjalan mendekat.
“Pak Daniel, saya tutup dahulu ….”
“Vee ….”
Belum sempat Daniel menyelesaikan bicaranya, panggilan sudah ditutup.
Daniel semakin bertanya-tanya dan dia semakin yakin, pasti memang ada hal berat yang Vee alami saat ini.
“Lihat siapa ini!” Berliana mencibir sambil melihat Vee, menyilangkan tangannya di perut dengan gaya angkuhnya.
Yazza yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhan, sangat terkejut melihat Berliana mendekati Vee.
Segera Yazza beranjak hendak menghampiri mereka.
“Ternyata hanya seorang janda beranak satu yang mencoba merubah nasib dengan menggoda pria kaya!” mencibir, “Cuih … tidak tahu malu!”
Vee menyipitkan mata menatap Berliana.
“Bahkan sudah mengajari putrinya untuk menjilat Yazza hingga anak itu sudah memanggil Yazza dengan sebutan ‘papa’. Hya … sadar diri dong! Kalian belum menikah!”
__ADS_1
Cibiran dan caci maki seperti ini sudah tidak mengejutkan lagi bagi Vee. Tapi masalahnya, kenapa tiba-tiba mereka menyerangnya?
Bahkan Vee sama sekali tidak pernah mengenal mereka.
Kenapa ketiga wanita ini tampak begitu membencinya?
Rasanya Vee tidak pernah membuat kesalahan ataupun menyinggung mereka sebelum ini.
“Sebaiknya urus saja hubunganmu sendiri dengan pacar yang kau banggakan itu!” Yazza menarik Vee ke dalam rangkulannya.
Berliana dan kedua temannya mundur satu langkah.
Terlihat raut ketakutan di wajah mereka.
“Heh ... apa sudah tidak ada wanita lain yang lebih baik? Atau hanya sebatas ini saja daya tarikmu?” mencibir membuang muka, “Hanya mampu memikat seorang janda!”
Melihat gadis itu terlihat kesal, sepertinya Vee mulai menyadari masalahnya.
Antara cemburu dan gengsi untuk mengakuinya.
Sudah pasti wanita itu sangat menyukai Yazza.
Vee hanya tersenyum sinis, sengaja tidak menyingkirkan lengan Yazza dari pundaknya.
Berliana menunjuk wajah Vee, “Yo … kalian lihat! Apa dia sedang mengejekku?”
Kedua teman Berli hanya diam tidak berani menjawab karena tatapan tajam Yazza yang terlihat sangat mengerikan.
“Sebaiknya kamu cepat-cepat pulang dan pastikan jika pacarmu tidak berselingkuh di belakangmu!”
Berli menatap Yazza tajam dengan kepalan tangan geram.
“Jangan sembarangan bicara! Gerry tidak mungkin berselingkuh! Dia seratus kali lipat, jauh lebih baik darimu!”
Yazza tersenyum mencibir, “Cuih … bahkan ini sudah bertahun-tahun. Jika dia serius denganmu, bukankah kalian seharusnya sudah menikah?”
“Diam kau!” Berli terlihat semakin berapi-api.
Yazza kembali tersenyum mencibir membuang muka.
“Setidaknya seleraku tidak serendah dirimu!” Berli menyilangkan tangan mencoba mencari kelemahan Yazza, “Gerry bilang, waktu itu dia pernah melihat kalian bersama. Dan setelah dicari tahu, ternyata wanita ini hanyalah seorang ibu tunggal. Cuih … memungut bekas orang?” cibirnya tajam.
Yazza hanya tersenyum, “Wow, dia kepo sekali dengan kehidupku. Oh iya … apa kamu bertanya padanya, di mana dia melihat kami dan bersama siapa dia saat itu?”
Berliana menjadi terdiam salah tingkah.
Dia memang tidak menanyakan sampai hal itu.
Dan dia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri sekarang.
Apa yang sebenarnya dimaksud oleh Yazza ini?
Gumam Berli dalam hati.
“Dari ekspresi yang kamu tunjukkan, sepertinya kamu tidak tahu dan tidak curiga sama sekali bukan?” Yazza mencibir, “Setelah ini, sebaiknya bertanya padanya …,” menerawang, “ah, tidak! Selidiki saja diam-diam!” Yazza menggunakan nada ejekan di akhir kalimat.
“Hya! Apa yang kau bicarakan!” sentak Berliana.
Yazza menggandeng Vee, “Ayo sayang, pesawat kita sudah siap!” tersenyum mesra menatap Vee.
“Dasar janda murahan! Tidak tahu malu!” tegas Berli meluapkan kekesalan kepada Vee kali ini.
Yazza menatap Berli tajam.
Geram sekali dia mendengar kalimat yang terucap dari bibir Berliana.
Tangannya terangkat hendak menampar mantan kekasihnya itu.
Refleks Berli mundur menutup mata ketakutan.
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...
__ADS_1