
Hans menemui kakak angkatnya saat pria itu tengah bersantai menonton Tv.
“Sore mas!”
Menoleh, “Sepertinya, ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?” tebaknya.
“Yeah!” duduk di sebelah kakak angkatnya.
“Apa ada informasi penting?”
“Pria itu sudah mempersiapkan acara makan malam. Sepertinya dia membawa seseorang dari pesisir. Pria tua yang cukup dekat dengan nona Vee.”
Melihat ke sekeliling dengan panik, “Siapa?”
“Pelaut yang sering bersama nona Vee saat di setiap pertandingan!” desisnya.
Menyipitkan mata, “Kenapa aku jadi berpikir, ini bukan sekedar acara makan malam biasa? Yazza membawa seseorang yang begitu penting bagi Vee! Sementara, dia saja tidak berani mendekati pesisir bahkan sengaja menjauhi pelaut itu agar dia tidak terbawa masalah,” menatap kosong layar Tv, “Atau mungkin, pria itu hanya sedang mencoba mencari perhatian?”
Menggeleng, “Mustahil! Mas lupa kalau dia melibatkan Shadow dalam perjalannya ke pesisir hari ini?”
Menaruh tangannya di bibir sembari menopang dagu, “Jangan bilang, dia sudah menemukan kebenarannya?”
“Bahkan jika pria itu sudah tahu sekalipun, bukankah dia harus merahasiakan ini dari Shadow?” tanya Hans.
“Shadow memang tidak akan membiarkan setitik celah itu terus bebas. Takutnya, akan menjadikan ancaman bahaya bagi mereka ke depannya. Mengingat tentang itu, aku sendiri masih penasaran … well, sepertinya Shadow tidak akan berbuat gegabah mengingat siapa yang akan mereka hadapi kali ini!”
“Jadi ini bukan merupakan ancaman bagi nona Vee untuk saat ini?”
“Jangan khawatir! Aku akan turun langsung jika situasinya sudah tidak terkendali.”
Menatap kakak angkatnya dengan senyum antusias, “Mas yakin? Akhirnya mas berniat untuk menemuinya!”
Menghela nafas panjang, “Karena aku sendiri yang sudah membiarkannya melewati jalan ini. Jadi aku sendiri juga yang akan bertanggung jawab kali ini!”
...***...
Vee memperhatikan sikap Yazza yang sedikit aneh.
“Kenapa dingin sekali di sini!” desis Vee menyindir sembari mendekap putrinya.
Mereka sudah di dalam mobil.
Yazza yang mengemudi saat ini.
Pria itu tetap diam dan tidak menunjukan senyuman sedikitpun.
Yve mendongak menatap mamanya, “Mama tidak membawa jaket?”
Menggeleng, “Mama sepertinya duduk di dekat balok es!” sindirnya lagi.
Yazza masih tidak memperdulikan sama sekali.
Jelas itu membuat Vee semakin bertanya-tanya.
Tidak biasanya?
Apa terjadi sesuatu kepada orang ini?
Aneh sekali jika dia tidak balas berdebat denganku!
Batin Vee menyipitkan mata memperhatikan Yazza yang masih fokus melihat ke jalanan.
Yve menarik telapak tangan mamanya, menggosok-gosok lalu di tiup.
Vee tersenyum gemas, “Ah … sayangnya mama! Terima kasih sayang!”
__ADS_1
“Apa ini hangat?”
“Anak mama yang cantik ini memang selalu terasa hangat!” mendekap putrinya makin erat.
Yve tersenyum masih menggenggam tangan mamanya.
...***...
Gedung restaurant bintang lima tampak berkelas dengan design interior juga pencahayaannya.
Mereka bertiga turun dari dalam mobil.
Yazza memberikan kunci mobilnya ke petugas valet yang langsung menyambut mereka.
Yve menggandeng tangan mamanya, melihat ke sekeliling, “Ma! Tempatnya bagus!”
Tersenyum mengangguk.
Vee melihat Yazza yang sudah berjalan mendahului.
“Eh, papa tunggu! Mama cepat!” Yve menarik Vee untuk segera mengikuti ayahnya.
Matanya kembali menyipit, “Kenapa dia menjadi sedingin itu?”
Pak Ardi menyambut di dekat kasir.
“Tuan, tempat kita sudah siap!”
Mengangguk menepuk pundak pak Ardi, lalu berjalan mendahului ke arah privat room untuk tamu VIP.
“Kurasa dia salah makan!” desis Vee memicingkan mata melihat punggung Yazza.
“Mari nyonya!” pak Ardi mempersilahkan Vee untuk mengikutinya.
Vee hanya mengangguk, melangkah menurut tanpa banyak basa-basi.
Menyipitkan mata, “Jadi semakin takut!”
Tersenyum, “Nyonya Vee pasti akan sangat terkejut nantinya!”
Pelayan pria dengan pakaian formal membukakan pintu.
Yazza menoleh, tersenyum sinis melirik Vee, sebelum akhirnya berjalan masuk ke dalam.
Mengernyit menatap Yazza, “Mengerikan sekali!” desisnya.
Vee melangkah memasuki ruangan.
Seketika matanya membelalak tidak percaya melihat seseorang sudah berada di dalam.
Orang itu tersenyum lebar penuh keharuan.
“Anak ikan!” paman Mail menyapa, tersenyum lebar mengangkat sebelah tangan.
“Paman!” Vee mewek langsung berlari memeluk pak Mail.
“Oh … astaga! Hei! Jangan berlebihan!” terkekeh pelan.
Memeluk semakin erat, “Ini tidak berlebihan!” nadanya sendu.
Balas memeluk Vee sembari terkekeh, “Baiklah … baiklah! Apa kamu baik-baik saja?” mengelus-elus punggung Vee.
Mengangguk tanpa melepas pelukan.
“Melihatmu lagi secara langsung, kamu tampak sama sekali tidak berubah!” paman Mail mengingat saat Vee masih hidup di pesisir, “Hanya saja, tidak ada luka memar lagi sekarang!” kembali terkekeh.
__ADS_1
Menangis, “Paman! Vee sangat merindukan paman!”
Yve menyipitkan mata, “Kakek Mail?” Yve langsung antusias mendekat.
Ternyata anak itu cukup pangling dengan paman Mail.
Itu karena mereka hanya bertemu di panggilan video beberapa tahun terakhir.
Keduanya melepas pelukan untuk melihat Yve.
Vee langsung mengusap air mata dari wajahnya.
“Anak ini!” pak Mail menatap Yve menyipitkan mata, “Oh … lihat! Dia semakin tumbuh tinggi! Hahaha!” terkekeh jongkok untuk memeluk Yve.
“Hmph … aku memberinya makan dengan sangat baik! Bagaimana mungkin dia tidak tumbuh dengan sebaik ini!” ucap Vee pongah meski masih dengan suasana haru.
Yve tersenyum lebar balas memeluk paman Mail, “Kakek! Yve senang akhirnya bisa bertemu lagi dengan kakek!”
Terkekeh, “Hahaha! Sepertinya mamamu memang merawat Yve dengan sangat baik!” mengelus punggung anak di hadapannya.
Menarik diri untuk menatap wajah paman Mail, “Tentu saja! Tapi kadang mama masih sering bawel!”
“Hya! Sekarang ada kakek pelaut, kamu baru berani mengadu padanya di hadapan mama?” meski Vee bertolak pinggang seolah marah, tapi bibirnya terangkat ke atas tersenyum gemas.
Yve cekikikan, “Kakek lihat itu?”
Kembali terkekeh dengan lantang, “Hahaha! Kakek sudah tidak heran lagi!”
“Yve sangat senang sekali bisa melihat kakek secara langsung!” mengelus rambut putih paman Mail.
“Kamu terlihat semakin cantik jika dilihat dari jarak sedekat ini!” balas mengelus rambut Yve.
Vee ikut tersenyum senang melihat keduanya, “Bagaimana bisa paman sampai ke sini?”
Mendongak menatap Vee, “Ah … benar!” melihat ke arah Yazza, “Ayah Yve yang menjemput!”
Deg!
“Apa!” bukannya senang, Vee justru merasa gemetar sekarang, “Bagaimana bisa dia menemukan paman!”
“Jadi papa yang membawa kakek kesini?” sela Yve, “Ahh … aku tahu, ini yang papa maksud kejutan bukan? Terima kasih papa!” kembali memeluk gemas kakeknya.
“Hahaha!” pak Mail ikut gemas kembali memeluk mengusap punggung Yve, “Itu benar! Papamu yang mengajak untuk memberikan kejutan kepada kalian!”
Vee berdiri mematung mengepalkan tangan dengan rahang mengeras.
Tapi bagaimana bisa dia membawa paman Mail kesini?
Paman Mail sangat tahu jika aku tidak ingin ayah Yve tahu tentang masa laluku.
Tapi kenapa mereka terlihat dekat?
Apa saja yang sudah mereka bicarakan sebelum ini?
Yazza pasti sudah menggunakan trik memanipulasi lagi!
Yazza berjalan mendekat dengan santai.
Kepalanya condong ke belakang telinga Vee, “Seorang wanita yang ternyata masih perawan, mengaku sudah memiliki putri?” bisik Yazza lirih dengan nada mengintimidasi.
Kata-kata itu mampu melumpuhkan seluruh syaraf, membuat aliran darah Vee berjalan tidak normal.
Jantungnya berdegup cepat, dengan lirikan tajam dia menatap pria di sebelahnya.
“Pak Yazza! Mari kita bicara berdua!”
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...