
Strom memang kelompok mafia saingan Shadow.
Keduanya berada di bawah kendali Paradise, kelompok yang menduduki puncak kekuasaan.
Meskipun masih berada dalam satu atap yang sama, mereka masih saja tidak benar-benar akur.
Tidak ada yang tahu dengan pasti, siapa sebenarnya pemimpin dari seluruh kelompok-kelompok mafia yang menduduki jabatan paling atas.
Mereka hanya mendengar, nama Rudi yang sepertinya sangat ditakuti.
Kabarnya, dia sangat berkuasa hingga bisa mengontrol keseimbangan seluruh kelompok mafia di kota.
Tapi semua orang di dunia gelap ini sangat percaya, masih ada orang lain di atas Rudi.
Dan dialah pemimpin yang sebenarnya.
Pemimpin ini selalu mengawasi dengan sangat baik, agar para kelompok gangster dan mafia tidak melewati batas hingga menimbulkan kekacauan.
Terutama antara kelompok satu dengan kelompok lainnya.
Pada akhirnya, mereka memang tidak saling menyerang secara terang-terangan.
Perang dingin yang sudah berlangsung sejak lama, membuat Strom dan Shadow selalu kucing-kucingan secara diam-diam.
Jika sampai pemimpin tahu, tentu saja yang akan mendapat teguran adalah ketua kelompok mafia masing-masing.
Yazza dan Mr. Bald berdiri di belakang 3 hacker yang fokus menatap layar laptop.
“Jadi … anda akan segera menikah?” tanya Mr. Bald.
Tersenyum kecut, "Bahkan kabar yang seharusnya jadi kebahagiaan, justru dimanfaatkan untuk menjatuhkan saya!"
"Anda tidak perlu cemas, kami selalu ada dibelakang anda!"
“Pengawas cctv di apartemen Teratai Putih melapor, ada dua pria yang di curigai sebagai anggota Strom. Dan saya tahu, Gerry memang tidak akan tinggal diam untuk mencari kelemahan saya. Calon istri saya ini cukup tidak biasa … tapi tetap saja … saya ragu … bagaimana jika dia tidak akan baik-baik saja?”
“Strom saat ini dipegang oleh rubah betina yang cukup memusingkan!” menghela nafas panjang, “Aku dengar … adik perempuannya akan segera kembali dari luar negeri … dia lebih heboh dan dikenal sebagai pencipta badai sejati!”
Yazza hanya mencibir acuh.
“Kita masih tidak pernah tahu … sebenarnya anak pertamanya itu … putra dari siapa!” Mr. Bald terkekeh, “Iparnya … atau suaminya?”
“Sepertinya memang ada skandal yang ditutupi!” komentar Yazza datar.
“Mr. Bald … saya menemukan sesuatu!” salah seorang menoleh kebelakang.
Yazza dan Mr. Bald segera mendekat.
“Itu benar mereka!” Mr. Bald tersenyum mencemooh, “Badai di hari yang cerah?”
Yazza menyipitkan mata, memperhatikan dengan seksama.
Dari rekaman CCTV, tronton White Purple di hadang sekelompok preman yang mengancam menggunakan senjata.
Preman itu masuk ke bangku pengemudi dan mengambil alih kendali.
“Lacak di mana mereka membawa mobil itu!” Mr. Bald kembali menghisap cerutunya.
__ADS_1
...***...
Restaurant Jepang.
Hans mengantarkan tamu kakak angkatnya sampai ke pintu keluar privat room yang mereka pesan.
Sekali lagi pria berjas itu menunduk hormat kepada pria yang masih duduk santai lesehan di dekat meja jamuan.
Selanjutnya, para geisha yang membimbingnya meninggalkan area restaurant.
Hans kembali mendekat, duduk di sebelah kakaknya.
Tinggal mereka berdua sekarang.
Meneguk teh, “Ahh … skenario drama yang indah!”
Menghela nafas, “Mas yakin tidak apa-apa?”
Mereka usai membicarakan tentang wawancara yang Yazza lakukan siang tadi.
Pemilik Bintang Bisnis menceritakan segalanya tentang apa yang akan mereka terbitkan esok hari.
“Selama itu tidak merugikan nama baik Vee … seharusnya tidak menjadi masalah!” memejamkan mata, kembali meneguk teh.
Mengambil handphone, “Selalu saja sok tegar dan kuat!” cibir Hans.
Tersenyum, “Ayo pulang!” hendak berdiri.
“Tunggu!” membelalakkan mata melihat layar handphone.
Kembali duduk, “Kenapa?”
Menyipitkan mata, “Jangan membuatku kebingungan!”
Hans menatap kakak angkatnya, “Temanku melaporkan jika nona Vee sedang dalam masalah!”
“Hah?” terkejut, “Masalah apa?”
“Ada yang mencoba menyabotase truck pengiriman White Purple. Nirwana sebagai konsumen akan segera menuntut jika pengiriman itu tidak sampai tepat pada waktunya!”
“Apa!” mengernyit dengan tatapan tajam, “Sabotase?”
“Strom sepertinya dalang di balik semua ini!”
“Tunggu!” menyela, “Strom … sulit di pahami! Strom dan Nirwana memiliki satu pemimpin yang sama!”
Menyipitkan mata, “Bukankah Strom tidak akan pernah mencari masalah jika itu berkaitan dengan induk bisnis mereka? Mana mungkin mereka akan sedekat itu melibatkan Nirwana kedalam masalah!”
Tampak berpikir, “Atau … ada yang menyewa jasa Strom untuk membuat White Purple bermasalah dengan Nirwana?”
“White Purple tidak pernah memiliki musuh, kenapa harus ditargetkan?” bantah Hans, “Aku justru curiga dengan G Corporation … bukankah dia bahkan menyewa orang untuk memata-matai nona Vee?”
Menatap adiknya, “Itu benar!”
Geram, “Sudah aku bilang bukan? Nona Vee akan terlibat masalah jika bersama orang itu!”
“Hans! Tenanglah!” tegas kakak angkatnya.
“Bagaimana aku bisa tenang? Pemilik G Corporation adalah musuh utama Yazza … orang itu akan melakukan apapun untuk mencelakai Yazza, dan sekarang mas lihat … bukan White Purple tujuan mereka … tapi nona Vee!”
__ADS_1
Merenung, “Jangan banyak bicara! Selesaikan masalah ini … jangan membuat Vee berada dalam masalah!”
“Sepertinya Yazza juga sudah bertindak!” ucap Hans acuh.
Menyipitkan mata menatap adiknya.
“Dia mendatangi markas Shadow!” nada yang Hans tunjukkan menggambarkan betapa tidak sukanya dia terhadap Yazza.
Menghela nafas lega, “Kalau begitu … kita tidak perlu bertindak. Cukup diam dan awasi saja!”
“Mas … kenapa sih ada orang yang begitu santai seperti dirimu?” tanya Hans sarkasme.
Menunduk memainkan gelas teh kecil, “Shadow mempunyai ‘bayangan mata’, apa yang perlu di khawatirkan lagi?”
Menghela nafas membuang muka, “Sudahlah … aku pusing dengan pemikiran mas!”
“Suruh temanmu mengawasi saja perkembangannya!” berusaha berdiri dari duduknya, “Jangan sampai bayangan mereka tertangkap kamera pengawas jalanan!” merapikan jas, “Bayangan mata jauh lebih mengerikan ketimbang mas Rudi!”
Hans kembali menghela nafas, masih tidak beranjak.
...***...
Bel pintu berbunyi.
Yve dan pak Didik saling bertukar pandang.
“Eh … mama Vee sudah pulang?” pak Didik menyipitkan mata.
Yve menggeleng, “Tidak tahu!” tapi dia langsung beranjak, “Biar aku periksa!” dengan lincah berlari ke arah pintu.
Pak Didik berdiri melongok menatap ke depan.
Pintu dibuka, Yazza berdiri diam di sana.
“Pak Yazza!” pak Didik tampak terkejut, langsung berdiri memberi salah hormat.
“Papa pulang!” langsung memeluk Yazza.
Belum juga reda dari keterkejutan sebelumnya, mendengar Yve memanggil Yazza dengan sebutan ‘papa’ dan melihat Yve begitu dekat dengan Yazza tentu membuatnya semakin tidak bisa bernafas.
“Papa?” ulang pak Didik lirih dengan mata yang menyipit sayu.
Astaga!
Jadi dugaan itu benar adanya?
Apa yang akan terjadi pada Daniel jika dia tahu tentang ini!
Anak itu pasti akan uring-uringan lagi!
Pak Didik tidak tega membayangkan kesedihan Daniel.
Yazza menyingkirkan Yve dengan gerakan halus, dia menghela nafas panjang menatap pak Didik.
“Saya tahu pasti anda memiliki banyak pertanyaan saat ini!” berjalan mendekat.
Yve menyipitkan mata menutup pintu.
“Saya akan menjelaskan semuanya … tapi sebelum itu, ada yang harus anda lakukan terlebih dahulu!”
Pak Didik mengernyit menyipitkan mata.
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))>' '<((((<...