
Pagi ini cukup cerah.
Berli membawakan dasi untuk Gerry.
Dia masih terlihat ciut di dekat Gerry, “Kamu sungguh tidak mau mengajak aku ke acara lelang ini?”
Melirik tajam, “Kamu sedang dihukum! Jangan pergi kemana-mana dan tetap di rumah saja jika masih mau tinggal di sini!”
Menunduk, “Baiklah!”
Tersenyum sengit, “Yazza masih dirawat saat ini … dia pasti tidak akan hadir … aku pasti akan memenangkan lahan itu!”
“Wah … selamat sayang! Kita akan menertawakan pria itu setelah ini!”
Mengelus kepala Berli, “Akan aku pastikan dia akan semakin parah dan tidak bisa bangun dari ranjang rumah sakit!”
Berli tersenyum memeluk pinggang Gerry, “Kamu memang yang terbaik!”
Tersenyum mencibir melihat bayangan dirinya sendiri di depan cermin.
...***...
Vee masih memegang handphone saat kembali masuk ke ruang rawat Yazza.
Memicingkan mata, “Habis menelepon siapa?” tanya Yazza sengit.
“Pak Didik … meminta ijin lagi!” menutup pintu.
“Ah … masih tidak tega meninggalkan aku?”
“ Cih! Pak Didik bilang, masih banyak wartawan yang mencariku … aku malas menghadapi mereka!”
Mencemooh, “Jangan menghindar … hadapi satu kali dan buat mereka puas dengan jawaban darimu … mereka tidak akan terus-menerus mengejar setelahnya!”
Kemabli duduk di sofa, “Lalu apa yang harus aku katakan?”
“Jika kamu membenarkan, mereka akan segera berhenti mencari tahu. Jika kamu menyangkal, justru mereka akan semakin mencarimu!”
“Shhh … hebat sekali masalah yang kamu limpahkan kepadaku!” cibir Vee sarkas.
Pak Ardi mengetuk pintu lalu langsung masuk tanpa menunggu dipersilahkan.
“Pagi tuan, nyonya!” menunduk hormat.
Laptop dan beberapa file ada di tangan.
Yazza menyipitkan mata, “Wah … cukup kreatif sekali membawa pekerjaan ke sini! Sudah kubilang aku akan keluar dari rumah sakit hari ini!”
Belum sempat pak Ardi menjawab sepatah katapun, pintu kembali di ketuk.
Dokter dan tiga perawat memasuki ruangan.
Yazza melirik Vee, berisyarat agar membantu berbohong.
Vee tersenyum mencibir berdiri menyambut dokter.
“Pagi sekali dok datangnya!” Vee mendekat.
“Iya dong … semangat pagi!”
Dokter pria yang sudah beruban itu terkekeh renyah menatap papan nama pasien.
“Pak Yazza Gionio,” melihat catatan dari perawat, “jadi bagaimana … ada keluhan sakit kepala atau lainnya? Hasil CT scan menunjukan tidak ada masalah yang serius!”
__ADS_1
Vee menunduk sedih, “Dok … dia tidak tidur semalaman … katanya kepalanya sakit sekali! Terutama di bagian jahitan … apa dia akan baik-baik saja?”
Yazza melotot memprotes.
Vee terlihat polos seolah sangat khawatir dengan keadaan Yazza.
Pak Ardi cengengesan sembari duduk di sofa.
“Nyeri karena habis dijahit memang wajar. Sepertinya pak Yazza harus banyak beristirahat dulu untuk sementara waktu!” sambil menyuntikan obat ke infuse.
Vee mengangguk, “Saya setuju!”
Yazza terkekeh cengengesan, “Dia hanya bercanda dok! Saya sudah baik-baik saja!”
“Lihat dok! Dia selalu berkata seperti itu karena terlalu memikirkan pekerjaan!”
Terkekeh, “Memang seperti itu kalau seorang pengusaha … sudah jangan membantah! Saya belum mengijinkan pulang! Istirahat saja dulu,” dokter menatap Yazza.
Yazza hanya memejamkan mata menarik nafas panjang.
“Nah, dengar apa kata dokter! Terima kasih ya dok!” Vee mengelus punggung Yazza.
Yazza mencoba menyingkirkan tangan Vee dengan gerakan bahunya.
Kesal.
Kembali terkekeh, “Hahaha! Kalau begitu kami lanjut ke pasien yang lain dulu!’
Vee mengangguk berterima kasih memberi hormat.
Rombongan dokter dan perawat meninggalkan ruang rawat.
Vee cengengesan menyilangkan tangan di perut menatap Yazza pongah.
“Pak Yazza pasti sangat senang sekali bukan? Akhirnya liburan lagi!” ejek Vee sengaja mengolok-olok.
Menyentuh tangan yang di infuse.
Dengan sigap Vee menahan.
Pak Ardi langsung berdiri terkejut.
“Hya … jika kamu memaksa melepas, aku akan menghadapi media saat ini juga dan mengatakan jika kamu mengarang semua cerita itu!” tegas Vee mengancam.
Yazza mendengus menghentakkan tangan Vee.
Urung melepas infusnya.
“Sudah kubilang … aku banyak pekerjaan yang harus aku urus! Aku tidak bisa terus-menerus menunda … acara hari ini sangat penting!” Yazza kesal.
“Aku sudah meminta pak Ardi membawakan segala sesuatunya! Jadi jangan memaksakan diri!” tegas Vee lagi.
“Acara lelang tanah hari ini aku tidak boleh dilewatkan! Jika sampai Gerry yang mendapatkan lahan itu, kami akan sangat rugi! Lokasi lahan itu sangat strategis dan menjanjikan jika dijadikan area perumahan!”
“Tuan!” pak Ardi menyela, “Nyonya Vee sudah menelepon saya subuh tadi … katanya, beliau yang akan datang mewakili tuan Yazza!”
Vee membuang muka saat Yazza menoleh menatap ke arahnya.
“Benarkah itu?” tanya Yazza.
Vee memilih berdiam tidak menjawab.
“Benar tuan!” pak Ardi yang kembali menyahut, “Nyonya Vee juga meminta saya menyiapkan segala sesuatu yang harus anda kerjakan untuk dibawa ke sini … nyonya Vee berniat menyelesaikan semuanya!”
Menyipitkan mata, “Memangnya kamu pernah ikut acara lelang?”
__ADS_1
“Tentu saja!” menyilangkan tangan di perut.
“Yakin? Kamu sungguh bisa melakukannya?”
“Aku sudah sejak kecil ikut lelang!”
Mengernyitkan dahi, “Tunggu … lelang apa yang kamu maksud?”
“Lelang ikan,” jawab Vee santai, “di pasar ikan dekat dermaga!”
“Hya!” sentak Yazza setengah melotot tajam.
Vee sok polos membuang muka, menggaruk kepalanya meski tidak gatal.
“Acara kali ini bukan untuk main-main! Akan banyak pengusaha besar yang mengincar lahan itu juga!”
“Ya santai saja! Lagipula pak Ardi akan datang bersamaku kan?” mengernyit mencibirkan bibir.
Yazza memegang kening, “Astaga!”
“Hya … tidak percaya sekali padaku sih!”
“Bagaimana bisa percaya! Lelang ikan?” Yazza kembali memegangi kepalanya.
“Beri aku kesempatan … aku akan memenangkan lelang kali ini!”
“Pak Ardi … anda lebih baik pergi sendiri!” Yazza mengabaikan Vee.
“Hya!” sentak Vee kesal.
“Emb … tuan! Nyonya Vee sangat cerdas dan mudah memahami situasi … sepertinya saya juga percaya, nyonya Vee pasti bisa mewakili anda!”
“Hya! Pak Ardi sekarang anda di pihaknya?”
“Dengan kehadiran nyonya Vee atas nama anda, bukankah ini akan menjadi jawaban bagi publik yang masih mempertanyakan kebenaran dari kabar yang anda umumkan?”
Yazza menyipitkan mata menatap pak Ardi.
“Sekali dayung dua pulau terlampaui … rekan bisnis anda akan berpikir jika anda bersungguh-sungguh menyesal atas skandal masa lalu dengan memberikan kepercayaan kepada nyonya Vee dalam acara penting. Di sisi lain, anda menunjukan kepada semua orang jika nyonya Vee memang layak diperjuangkan … mereka akan semakin melihat jika anda adalah seorang yang sangat baik dalam memilih pasangan hidup!”
“Hya, kenapa malah jadi memanfaatkan niat baikku?” protes Vee.
“Shhh … tapi bagaimana jika dia justru berbuat onar dan mempermalukan dirinya sendiri di depan semua orang?” Yazza hanya khawatir jika Vee malah justru akan mendapat banyak cibiran.
Terlebih Yazza tidak bersamanya.
Siapa nanti yang akan membela jika orang-orang memicingkan mata kepada Vee.
“Aku bukan orang yang tidak bisa memposisikan diriku sendiri di depan umum … kamu pikir aku akan mempermalukan diriku sendiri dengan menjadi badut di sana?”
Yazza terdiam menghela nafas panjang.
“Percayalah aku pasti tidak akan mempermalukan namamu di sana!” Vee cukup percaya diri.
“Kenapa kamu begitu ingin membantuku?” tanya Yazza datar.
Tersenyum sengit menyilangkan tangan di perut, “Tentu saja ini tidak gratis … aku akan meminta hadiah begitu aku berhasil!”
Mendengus mencemooh, “Sudah kuduga … pasti ada niat terselubung!”
“Mana ada hal yang cuma-cuma di dunia ini! Kecuali udara,” cibir Vee.
“Kali ini apa lagi yang kamu inginkan?”
__ADS_1
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
...>))))> ' ' <((((<...