RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
GAGAL MENGHASUT


__ADS_3


Pak Ardi sudah menunggu di depan pintu.


Yazza mendekat, “Pesanan Ku sudah dibawa?”


Memberikan tas bingkisan kecil, “Sudah tinggal pakai.”


Vee menyipitkan mata.


Sepertinya handphone baru?


Batin Vee.


Melihat ke arah Yve, “Mana handphone lamamu?” menyodorkan tas kecil tadi, “Ganti dengan yang ini!”


Yve yang masih ketakutan bersembunyi menggandeng Vee erat.


“Yve tidak membawanya semalam,” ucapnya lirih.


“Ambil ini cepat!” sentak Yazza.


Vee melotot menarik dengan kasar bingkisan kecil itu, “Biasa saja nada bicaranya!” geram Vee.


Yazza cuek mengabaikan Vee, kembali menatap Yve, “Begitu sampai apartemen, berikan ponsel lamamu!”


Yve mengangguk dengan bibir kelu.


“Jangan menangis terus! Berisik!” berjalan mendahului menuju mobil.


Vee mengelus kepala Yve, “Sayang, kita naik taksi saja bagaimana?” desis Vee.


Yve menggeleng, “Nanti papa tambah marah. Kalau papa ninggalin Yve lagi bagaimana?”


Astaga!


Bahkan Yve masih saja berpikir seperti itu.


Yazza memang sungguh keterlaluan.


Putrinya ini sangat menyayanginya dan takut kehilangannya.


Dan dia justru malah kembali sekasar itu!


Membuat kesal saja!


Gumam Vee dalam hati.


Mengelus kepala Yve, “Kalau begitu kita menurut saja semua kata papa untuk saat ini. Yve jangan takut, mama pasti akan membela Yve!”


Mengangguk, “Kalau Yve jadi anak baik dan penurut, papa pasti tidak akan marah seperti ini lagi!” mendongak menatap mamanya.


Vee tersenyum haru menatap putrinya.


...***...



Handphone Tisya berdering, dia tersenyum begitu melihat ke layar.


“Hallo?”


Daniel melihat ke arah gerbang, “Aku sudah ada di depan!”


“Ah, oke! Aku akan segera turun. Tunggu sebentar.”


“Hmm. Okay.”


Daniel mengakhiri panggilan.


Tak lama setelahnya Tisya datang. Tanpa disuruh, dia langsung masuk ke dalam mobil.


“Hi, pagi,” sapanya tersenyum membenahkan sabuk pengaman.

__ADS_1


“Emph, pagi!”


Tersenyum mendengus, “Masih canggung ya?”


Menggaruk kepalanya, “Sedikit.”


“Jadi, akan lebih nyaman memanggilmu dengan sebutan apa? Mas Daniel rasanya juga kurang pantas. Aku lebih tua beberapa tahun darimu,” Tisya menatap Daniel penuh kelembutan.


“Emm, terserah sih. Tapi, apa boleh aku memohon sesuatu?” mulai menjalankan mobilnya.


“Hmph? Apa itu?” menyipitkan mata.


“Aku tidak terlalu suka mengekspos hubungan pribadi di publik. Bisakah kita tetap berhubungan tanpa banyak di ketahui oleh orang? Paling tidak untuk sementara ini.”


Memicingkan mata menatap Daniel, “Apa ada hati yang sedang kamu jaga perasaannya?”


Salah tingkah, “Emm, t-tidak! Bukan begitu, maksudku jalani saja pelan-pelan. Biar tidak terlalu heboh di awal!”


Tisya tersenyum.


Tentu saja dia tidak ingin Vee tahu!


Tisya bergumam dalam hati.


Tenang saja, aku juga tidak akan bermain secepat itu


Semakin lama dia tahu, akan semakin sakit juga yang akan dia rasakan!


Daniel melihat Tisya yang terdiam, “Ah maaf! Apa aku menyinggung kamu?”


Tersenyum lebar, “Tidak! Aku juga sama sepertimu, tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian.” Menatap Daniel, “Seharusnya jika tidak ingin terlihat mencolok, tidak perlu menjemput seperti ini.”


Terkekeh salah tingkah, “Hahaha maaf! Benar juga!”


Tersenyum, “Tidak perlu mengantar jemput aku kok. Aku ada pengawal.”


“Apa itu tidak apa-apa?”


“Jangan khawatir, sudah terbiasa seperti itu. Dan memang lebih nyaman jika tidak terlalu menarik perhatian banyak orang.”


“Kenapa meminta maaf!”


“Aku pasti membuatmu malu hari ini!” Daniel cengingisan.


Terkekeh pelan, “Kamu bisa saja.”


Tisya mengulurkan tangannya ke wajah Daniel.


Daniel terkejut terperangah tidak bisa banyak bergerak.


Jemari Tisya menyentuh rahang pipi bawah matanya, “Ada bulu mata jatuh!” tersenyum, “Kata orang, itu artinya ada yang sedang merindukan kamu!”


Daniel tersenyum salah tingkah, “Ah … emm hanya mitos!” cengengesan tidak berani menoleh ke arah Tisya lagi.


Tisya tersenyum gemas melihat tingkah Daniel.


...***...



Berli sedang bersantai menonton Tv saat Vee datang.


“Eh, kok pagi-pagi sekali datangnya?” tanya Berli.


Yazza mengernyit melihat tingkah Berli, “Kamu pikir, kamu bos di sini?” langsung menuju ke arah pantry.


Berli manyun menunduk sedih.


Vee mendengus melirik Yazza kesal, “Ber, Dania mana?”


Menoleh ke kamar Yve, lalu menatap Vee, “Eh, orang itu freak banget deh!” desis Berli.


Menyipitkan mata, “Freak gimana?”

__ADS_1


Berli menaruh jarinya di bibir, “Shhhh jangan keras-keras!”


“Yve! Cepat ambil handphone mu dan berikan padaku!” Yazza membuat kopi untuk dirinya sendiri.


Mendongak menatap mamanya, Vee tersenyum mengangguk mengisyaratkan agar Yve menurut.


“Baik pa!” segera berlari ke arah kamarnya.


Melihat jam, “Sekalian ganti seragam. Mama juga akan berganti baju.”


Berli mengangkat bahu kembali menonton acara Tv.


Vee menghela nafas panjang berjalan menuju kamar.


Melihat Yazza sedang sendirian, Berli merasa ada kesempatan untuk menjatuhkan Vee di hadapan Yazza.


Segera dia menyingkirkan selimut dan berjalan menuju pantry.


Yazza membalikan badan membuang muka begitu Berli mendekat.


“Ih, kamu kenapa sih!” Berli duduk di kursi dengan santai.


“Pergilah dan jangan dekat-dekat denganku!” usir Yazza.


“Eh, kurasa pacar barumu itu tengah menyembunyikan sesuatu deh!”


Yazza berhenti menyeruput kopi, sedikit menoleh ke belakang.


“Jadi, kemarin lusa itu aku bertemu Vee di acara ulang tahun keponakan Gerry. Vee ngobrol dekat sekali dengan mamanya Ceasar, bahkan mereka bilang, karena anak mereka berteman dekat, mungkin mereka juga bisa berteman dengan baik. Cihh, tapi justru kemarin dia memintaku merahasiakan itu darimu. Lalu aku ingat, kan kamu tidak akur dengan mereka, dan Vee sengaja tidak mau memberitahukanmu tentang kedekatannya dengan mbak Tasya.” Berli langsung nerocos.


Yazza mendengus tersenyum, “Maksud kamu mengatakan ini padaku apa?”


“Ya … kan takutnya wanitamu itu memang punya niat buruk padamu. Dia bisa saja sengaja mendekatimu untuk membantu mereka menjatuhkan kamu. Dengan dekat denganmu dia bisa dengan mudah mencuri informasi darimu kan?”


Yazza membalikan badan menatap Berli tersenyum sinis.


Berli menyipitkan mata, sedikit ngeri dengan sikap Yazza kali ini.


“Dengar! Kamu di sini karena Vee yang bersikeras untuk menolong. Tidakkah kamu merasa malu karena sudah menjelekan penolongmu seperti ini?”


“A-aku hanya berniat baik padamu! Aku memberitahukan padamu supaya kamu berhati-hati padanya!” masih berusaha menghasut.


“Pertama, Vee bukanlah dirimu. Dia tidak akan menusuk aku dari belakang lalu bersembunyi dalam dekapan musuh. Kedua, bukan dia yang mengejarku! Aku yang berusaha untuk mendapatkannya!”


Berli jadi bungkam salah tingkah.


“Sebaiknya kamu introspeksi diri sebelum menjatuhkan nama baik orang. Jika aku memberitahu pada Vee kalau kamu sudah memberinya tuduhan palsu, apa dia masih akan membiarkanmu tetap tinggal di apartemennya?”


Alisnya bertautan menatap Yazza terkejut dan memohon, “Yazza, aku cuma mau membantumu. Jika memang itu tuduhan palsu, kenapa coba dia berusaha merahasiakan itu padamu?”


“Aku sudah tahu semuanya! Jangan sok baik dan memanfaatkan keadaan untuk menjatuhkannya lagi! Kamu dengan segala tipu daya licikmu tidak akan mampu membuat nama Vee jelek dimataku. Jadi, urusi saja urusanmu sendiri dan berhenti mengganggu kami!” Yazza meletakan cangkir kopi berjalan meninggalkan Berli.


Yve keluar dari kamar, diikuti Dania.


“Mana handphonenya?” Yazza mengulurkan tangan.


Memberikan pada Yazza, “Belum di charge semalaman. Mati sekarang.”


“Hmm! Tidak masalah. Dalam handphone baru kamu sudah ada kontak mama Vee. Coba panggil ke handphonenya supaya nomor baru kamu bisa disimpan!”


Mengambil handphone barunya, “Baik pa!”


Dania tersenyum menyapa Yazza.


Yazza melihat, tapi dia sama sekali tidak menggubris.


“Bilang mamamu. Akan aku tunggu di bawah!” membalikan badan berjalan menuju pintu keluar.


Dania terus melihat Yazza tanpa mengedipkan mata.


Berli yang melihat mengernyit jijik, “Dia lebih mirip seorang psikopat ketimbang pengasuh!” geming Berli lirih.


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2