RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
GENGSI


__ADS_3


Pak Fauzan mengakhiri telepon dari pak Didik.


Bu Risma yang masih sangat khawatir berjalan mondar-mandir tidak tenang.


“Ma …-” pak Fauzan memegang bahu istrinya.


“Bagaimana, apa pak Didik menyelesaikan masalah pengiriman itu?” sahut istrinya memotong.


“Pengacara pak Yazza dan Vee yang sudah membereskan segalanya.”


Menyipitkan mata, “Jadi bukan pak Yazza yang menyuruh para preman itu?”


Menggeleng, “Hari ini mereka berencana menculik dan mencelakai Vee.”


“Apa?” terkejut menatap suaminya, “Lalu apakah Vee baik-baik saja?”


“Vee berhasil menghajar dan menaklukan para preman itu seorang diri. Vee hanya mengalami luka sedikit saja di lengannya.”


Semakin khawatir, “Mama akan meneleponnya!”


“Jangan ma!” larang suaminya.


“Kenapa … mama takut jika Vee kenapa-napa!”


“Dia menemani pak Yazza di rumah sakit saat ini,” menunduk muram.


“Pak Yazza di rumah sakit?” memegang kepalanya, “Apa lagi ini maksudnya?”


“Pak Yazza terluka saat sampai di kantor polisi, pak Didik yang membawa beliau ke rumah sakit … sekarang Vee masih menemani pak Yazza yang belum sadarkan diri.”


“Tapi Vee sendiri juga terluka!”


“Jika dia saja mampu mengalahkan para preman, mungkin luka yang dia alami itu memang tidak seberapa baginya!” menghempaskan nafas panjang, “Yang papa takutkan … Vee juga akan memiliki banyak musuh setelah ini.”


“Maksud papa?” bu Risma menyipitkan mata.


“Pak Yazza seorang pebisnis besar, tentu dia banyak pesaing! Papa dengar, salah satunya adalah para preman itu.”


“Hah?”


“Yeah … mereka ingin menjatuhkan Yazza melalui Vee, teror kemarin salah satunya!”


Menutup mulut dengan kedua tangannya, “Astaga!”


Pak Fauzan menatap istrinya.


Mereka belum terlalu lama mengenal Vee.


Melihat bu Risma begitu mengkhawatirkan Vee, tentu membuatnya bertanya-tanya.


“Vee benar! Sepertinya dia memang berada dalam posisi yang sulit untuk saat ini!” memegang kedua tangan suaminya, “Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu Vee … kasihan sekali anak itu pa!”


Melihat ke arah tangga menuju lantai dua, “Pertama, kita harus membantu menguatkan putra kita terlebih dahulu!”


“Mama akan bicara padanya nanti!” mengelus lengan suaminya, “Percaya pada mama!”


Tersenyum mengangguk, membelai mesra wajah istrinya.


...***...



Perlahan mata Yazza membuka.


Kepalanya serasa sakit sekali, ia hendak menyentuh kening.


Saat itulah dia sadar tangannya di infuse.


Ada kepala seseorang yang tengah menunduk menyembunyikan wajah di samping tubuhnya.


Rasanya masih sedikit linglung.

__ADS_1


Ia mencoba mengingat apa yang sudah terjadi.


Terakhir yang dia ingat, dia tengah berada di kantor polisi.


Yazza kembali melihat ke bawah.


Lalu tersenyum penuh kelegaan.


Dengan tangan yang terikat selang infuse dan jarum, dia menyentuh kepala yang ada di dekatnya.


Vee terkejut membuka mata, sedikit mendongak.


Begitu melihat Yazza sudah terbangun, Vee pun langsung menegakkan tubuhnya kembali duduk.


Sepertinya dia ketiduran.


Jam tujuh malam sekarang.


“Air liur mu turun sampai membanjiri lantai!” ejek Yazza setengah tersenyum.


“Hya … apa kamu mau mendapatkan jahitan kepala di bagian yang lain?” mengusap wajahnya.


“Cih! Hanya bercanda … galak sekali!” menghela nafas panjang.


Vee melihat gelas berisi air di atas meja, “Emm, mau … mi … num?” cukup canggung meski hanya ingin menawarkan minum saja.


Melihat tampilan Vee, “Hya! Kenapa masih terlihat begitu lusuh?” langsung melihat ke arah lengan Vee.


Buru-buru Vee segera menutupi, mencoba menyembunyikan.


“Hya! Kenapa tidak segera diobati! Bagaimana jika terinfeksi!” Yazza berusaha duduk.


Vee langsung sigap membantu.


Melirik, “Jangan membuatku terlihat lemah!” cibir Yazza meski tidak menolak bantuan Vee.


“Cih!” mencibir, “Lagian bagaimana bisa sampai seperti ini?” kembali duduk begitu Yazza sudah duduk tegak.


“Aku juga tidak tahu jika para pelajar itu rusuh di jalan yang hendak aku lewati.”


“Karena aku harus segera sampai di kantor polisi! Tidak ada pilihan lain selain nekad … siapa sangka malah terkena lemparan botol kaca!” jawab Yazza mengelus perban di kepala.


“Hya … apa bedanya kamu dan para remaja yang tawuran itu?” dengus Vee.


“Kenapa malah memarahiku? Jelas aku berbeda dari mereka!” memicingkan mata melirik Vee.


“Beda dari mana? Sama-sama nekad dan tidak bisa berpikir panjang! Setidaknya pikirkan tentang dirimu sendiri juga!” sentak Vee kesal.


“Hya … harusnya aku yang berkata begitu! Bagaimana bisa kamu melawan tiga preman seorang diri!” Yazza tidak mau kalah.


“Memangnya kenapa … toh mereka kalah! Lagipula sepuluh orang juga akan aku lawan jika itu perlu!” ucap Vee pongah.


Mendengus mencibir, “Cih … sombong sekali!”


Vee mencibirkan bibir membuang muka.


“Hya … jangan berkelahi lagi!” ucap Yazza menegaskan.


“Hya … harusnya kamu berterima kasih padaku! Bukankah kamu bilang mereka sering menganggu kamu juga!” Vee mulai kesal.


“Terima kasih!” ucap Yazza ketus membuang muka.


“Sama-sama!” jawab Vee ikut membuang muka, menyilangkan tangan di perut.


Keduanya terdiam untuk beberapa detik.


“Cih!” dengus Yazza kembali menoleh ke arah Vee, “Gara-gara kamu, aku harus membubarkan meeting penting!”


“Siapa suruh!” acuh masih tidak melihat Yazza.


Melotot jengkel, “Hya … aku khawatir sekali padamu!”


“Itu kebodohan dalam hidupmu! Aku tidak butuh dikhawatirkan olehmu!” cibir Vee sok cuek.

__ADS_1


Balik mencibir melihat pakaian Vee.


“Lalu apa bedanya dengan dirimu?” tersenyum pongah.


Melihat dirinya sendiri, “Apa!”


“Bahkan kamu tidak mengganti pakaian sejak tadi ‘kan? Tidak mencuci muka ataupun merapikan rambut … dan lihat itu … lukamu saja tidak diobati!” cibir Yazza sambil memperhatikan penampilan Vee.


“Bukan ... ya … itu … em!” Vee tidak bisa menjawab dengan benar.


Salah tingkah menggaruk lehernya yang tidak gatal.


Yazza tersenyum mencibir, “Menjadi begitu bodoh karena mengkhawatirkan seseorang?”


“Hya … siapa yang mengkhawatirkan kamu!” bantah Vee berdiri bertolak pinggang.


“Aku tidak bilang jika kamu mengkhawatirkan aku … jadi benar, kamu memang khawatir padaku?” tersenyum geli.


Semakin salah tingkah, “Hy … hya! Bukan begitu!”


“Lalu kenapa masih tidak mengurus diri sendiri? Setidaknya pikirkan juga tentang dirimu sendiri!” Yazza membalikan kata-kata Vee.


“Haiz!” Vee mendengus semakin kesal.


Tersenyum merasa menang, “Cepat mandi sana! Biar aku bantu mengobati luka itu setelah di bersihkan!”


“Aku tidak mandi karena tidak punya pakaian ganti! Jangan terlalu percaya diri … siapa juga yang mengkhawatirkan kamu!” Vee membuang muka sok acuh.


Tersenyum, lalu melihat lurus ke arah balik punggung Vee.


“Oh … tidak ada pakaian ganti ya?”


Vee ikut menoleh ke belakang.


“Ckkk!” bahu dan tangannya turun.


Melihat apa yang ada di atas meja dekat sofa membuatnya menjadi sangat malu.



“Lalu apa itu yang di sana? Kurasa itu tas kantong belanjaan brand pakaian! Nah … di sebelahnya itu kotak p3k deh!” Yazza sengaja memperjelas menunjuk satu per satu.


“Ya itu … aku tidak tahu!” Vee mencoba membela diri, “Mana kutahu jika ada barang-barang itu di sana!”


“Oh … jadi bukan karena terlalu panik sampai ketiduran dan tidak peduli pada diri sendiri?” ucap Yazza santai, mengangguk-anggukan kepala untuk mengejek.


“Tentu saja tidak! Berapa kali harus aku tegaskan … siapa juga yang mengkhawatirkan kamu!” Vee berjalan ke belakang.


Yazza mendengus tersenyum melihat Vee.


Di dalam tas belanjaan besar, terdapat juga perlengkapan mandi.


Termasuk handuk dan sandal jepit.


Pak Ardi memang tidak setengah-setengah mempersiapkan semua keperluan yang dia butuhkan.


“Aku akan mandi sekarang!” membalikan badan menenteng kantong belanjaan berwana coklat dengan ukuran lumayan besar besar.


“Kenapa harus meminta ijin dariku terlebih dahulu? Mau memancing supaya aku ikut?” goda Yazza.


“Hya! Benar-benar mau menambah luka jahitan di kepalamu ha?” sentak Vee melotot tajam.


Mencibir, “Kenapa masih saja marah, padahal sudah pernah mandi bareng.”


Memicingkan mata, “Sudah terbaring sakit masih tidak tahu diri!” gerutu Vee berjalan acuh menuju toilet.


Yazza memejamkan mata, meringis kesakitan memegang kepalanya.



“Aww!”


...-@,@- To Be Continue -@,@-...

__ADS_1


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2