RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
YVE & LEM TIKUS


__ADS_3

Daniel menoleh ke samping untuk beberapa detik.


“Vee, ayolah! Kamu satu-satunya yang bisa kuandalkan saat ini. Aku tahu kamu berbakat dan presentasimu pasti akan membuat mereka terkesan nantinya. Pak Didik dan beberapa orang kantor juga akan datang ke tempat meeting. Please, bantu aku ya?” Daniel memohon.


Ini bukanlah pilihan yang mudah baginya.


Vee mulai memejamkan mata sembari menghela nafas panjang.


Dia tidak ingin mengecewakan perusahaan yang selama ini menghidupinya.


Jika dia tidak professional di sini, takutnya justru akan menghancurkan karirnya.


“Baiklah. Tapi aku tidak bisa lembur di luar rumah saat malam. Putriku masih belum menyesuaikan diri dengan tempat ini. Aku belum tega meninggalkannya sendirian di rumah!”


Daniel justru malah senang mendapatkan kesempatan untuk ke rumah Vee sampai malam.


“Tak masalah, kita lembur di tempatmu saja.”


Daniel tidak bisa menyembunyikan kegirangannya.


Vee mencibir mengernyit kembali membuang muka setelah melihat tingkah konyol Daniel.


Seperti biasa, Yve langsung berlari ke arah mamanya begitu turun dari mobil.


Vee jongkok untuk membuka pelukan.


“Sayangku!” Vee gemas.


Kali ini Yve tampak tidak seantusias biasanya.


Senyumnya tidak di perlihatkan.


Pandangannya melihat ke arah mobil yang membawa boneka besar di atasnya.


Daniel melambai dari dalam mobil tersenyum ramah.


Yve mencibir menatap sinis, tanpa membalas lambaian Daniel


“Apa mama bersama lem tikus itu?” desis Yve dengan ekspresi ketidaksukaannya.



“Haiz dia benar-benar mirip ibunya!” gumam Daniel menelan rasa malu karena di acuhkan Yve.


“Oh, masih mengingatnya?” tanya Vee menatap wajah putrinya.


“Tentu saja!” mencibir, “Cihh!”


“Dia boss di kantor baru mama.”


Mengernyit, “Pria seperti itu?”


“Shh, ayo masuk!” Vee berdiri menggandeng Yve.


“Naik mobil itu?”


Mengangguk.


“Ayo jalan kaki saja!” ajak Yve.


“Mama masih ada pekerjaan setelah ini. Jadi lem tikus itu akan ikut ke rumah!”


“Apa?”


“Dia membelikan boneka itu untukmu!”


“Cihh!” lagi-lagi Yve mencibir menyilangkan tangan di perut.



“Ayolah sayang, mama tidak mau kehilangan pekerjaan!” bujuk Vee lembut.


“Baiklah untuk kali ini!”


Vee tersenyum kembali menggandeng putrinya.


“Duduk di belakang!” Yve menarik tangan mamanya.


“Eh…” Daniel kecewa saat putri Vee menariknya untuk duduk di bangku belakang.

__ADS_1


“Apa!” protes Yve galak.


Vee menarik lembut lengan Yve sambil mengedipkan mata.


“Haiz! Galak sekali. Bagai pinang dibelah dua!” gumam Daniel.


“Cihh!” cibir Yve melirik tajam.


Yve dan Vee masuk di bangku belakang.


Daniel mulai menjalankan mobilnya.


“Heh Om! Jangan pikir, dengan menyogok boneka, aku akan menyukaimu!” Yve defensive.


Daniel mendengus melirik kebelakang, “Wuah, dia menarik sekali!”


Vee tersenyum sipu menutup mulut putrinya dengan lembut.



Yve menyingkirkan tangan mamanya dan kembali melirik tajam sembari mencibir ke Daniel.


“Jangan khawatir, aku tidak mengambilnya ke dalam hati. Lagian sudah terbiasa dengan hal seperti itu dulu saat pertama mengenalmu.” Daniel tersenyum lapang.


“Benar-benar lem tikus!” desis Yve.


Vee kembali menutup mulut putrinya, “Shh!”


Daniel mengernyit menelan ludah, melirik Yve yang masih melotot padanya melalui kaca spion atas.


 


***



Yve terus menatap tajam menyilangkan perut duduk mengawasi Daniel dirumahnya.


Daniel salah tingkah dibuatnya.


Vee sedang mandi saat ini.


“Mau es krim?” Daniel mencoba meluluhkan hati Yve.


“Emmb, Burger?” masih mencoba berusaha.


“Berlemak!” jawab Yve singkat.


Daniel nyengir menggaruk kepala, “Ayam? Spaghetti? Pizza?”


“Om mau mendekati mamaku ya?” tanya Yve sengak.


Daniel tersenyum sipu salah tingkah, “Apakah boleh?”


“Tidak!” sahut Yve sangat cepat.


Daniel mendengus mendengarnya, “Aku ini orang baik loh. Coba deh mengenal om!”


“Tidak tertarik!” sahut Yve lebih cepat bahkan sebelum Daniel menyelesaikan bicaranya.


Daniel memegang dadanya, “Ouch, menyakitkan sekali!” berakting seolah kesakitan.


Yve mengernyit melihat tingkah Daniel.


Vee keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuk.


Daniel tersenyum kagum melihat Vee.


“Oh, apa kalian sudah berteman dengan baik?” tanya Vee melihat keduanya.


Yve membalikan badan menoleh ke mamanya sambil tersenyum ramah, “Tentu saja!” sambil mengelus boneka barunya yang sangat besar.



Daniel melirik ke arah Yve mengernyit.


Yve melotot mengintimidasi kepada Daniel lalu detik berikutnya kembali tersenyum menatap ibunya.


“Dia bilang akan memberikanku handphone terbaru agar aku bisa bermain banyak permainan game.” Yve tersenyum riang.

__ADS_1


Vee menatap tajam Daniel yang tampak terperangah menganga menatap Yve.



Yve menjulurkan lidah kepada Daniel lalu tersenyum palsu, “Om ini baik sekali!”


“Pak Daniel!” pekik Vee dengan dengus amarah.


Yve cekikikan beringsut menyembunyikan diri di balik beruang besar.


“Hya! Bukan! Bukan seperti itu!” salah tingkah.


“Dia masih delapan tahun dan kenapa menjanjikan handphone gaming? Tidak boleh!” tegas Vee.


Yve kembali menoleh ke mamanya, “Yaaah, kenapa begitu Ma! Tapi tidak apa-apa jika handphone tidak boleh. Om ini masih menjanjikan PS 5 juga!”


“Hya! Pak Daniel!” Vee semakin memekik mengepalkan tangan dan menghentakannya kesal.



Yve cekikikan puas sekali sambil menyembunyikan wajahnya.


“Hya!” Daniel Menatap Yve.


Vee melempar Daniel dengan handuknya, “Jangan berteriak di depan putriku!”


Yve menoleh ke mamanya seolah mewek, “Mama jangan memarahi Om ini. Yve yang nakal.”


“Lihat betapa polosnya putriku itu. Tidak tahu malu sekali berteriak di depan anak-anak!” Vee bertolak pinggang.


Daniel merengek, “Aaaaa, serba salah!”


Daniel kembali duduk di lantai menaruh kepalanya ke meja sambil manyun.


Yve menepuk-nepuk pundak Daniel, “Mamaku memang selalu galak seperti itu. Sabar Om.” Menghibur Daniel.


Daniel kembali merengek seolah menangis melihat Yve dengan aktingnya itu.


Vee mengambil handuknya lagi lalu kembali masuk ke dalam kamar untuk menyimpan handuknya.


Begitu Vee masuk. Yve kembali angkuh menatap Daniel.


“Hya, sekecil ini, siapa yang mengajarimu akting!” Daniel mengangkat kepalanya menatap Yve.


“Jangan harap bisa mendekati mamaku dengan mudah!” mencibir.


Daniel kembali merengek menyandarkan kepala ke meja, “Satu saja sulit dan sekarang tambah satu lagi! Keduanya sulit ditaklukkan!” gumamnya merengek.


Yve tersenyum puas melihatnya.


***


Setelah orang kantor mengirim laptop dan file yang Daniel butuhkan ke rumah Vee. Mereka segera mulai bekerja merevisi dan mempelajari tentang apa yang akan dipresentasikannya besok.


Meski Yve mengantuk, dia menahan kantuknya itu untuk tetap mengawasi Daniel.


Yve tidak memberi kesempatan saat Daniel hendak mencuri-curi kesempatan dekat dengan Vee.


Yve pasti akan melempar kepala Daniel dengan kacang, menendang pelan punggung Daniel dan memukul Daniel dengan tutup toples, ketika Daniel ketahuan dengan sengaja mendekat ke arah mamanya.


Vee hanya tersenyum setiap kali Daniel kesal karena gagal mencuri kesempatan.


Vee memahami maksud gerakan Daniel yang berusaha menyentuhnya dan tidak memarahi Yve karena ulahnya.


Justru Vee merasa terbantu dengan kehadiran Yve yang begitu protektif terhadapnya.


Pak Didik benar.


Mereka berdua memang terlihat cocok satu sama lain.


Bertengkar dan berebut seperti seumuran.


Lalu kembali baikan.


Vee melihat, Yve memang cukup terhibur dengan kehadiran Daniel malam itu.



Meski konyol dan kekanakan, sepertinya Daniel tahu dan paham bagaimana cara menghadapi anak-anak.

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))>' '<((((<...


__ADS_2