RUINED MY SELF "DEMI YVE"

RUINED MY SELF "DEMI YVE"
PUPUS


__ADS_3


Meski Daniel sudah pernah curiga dan menebak tentang hal ini sebelumnya, mengetahui bahwa kenyataannya memang seperti yang dia pikirkan, tetap saja masih membuatnya sangat terkejut.


“Nak, kami hanya tidak ingin jika kamu menyinggung pak Yazza!” pak Fauzan mengelus punggung Daniel.


Semakin erat Daniel mencengkram punggung kursi.


“Semoga kamu ingat kejadian pengiriman semalam … mungkin saja, itu adalah sebuah tanda peringatan!”


Bu Risma menyipitkan mata, “Maksud papa apa? Jadi, masalah pengiriman semalam memang bukan masalah yang biasa?”


Pak Fauzan keceplosan, tidak seharusnya dia membahas di hadapan istrinya.


Pertanyaan bu Risma tentu membuat pak Fauzan semakin pusing.


Daniel menggelengkan kepalanya, linglung.


“Aku tidak enak badan! Sepertinya aku tidak bisa ke kantor hari ini!” menarik diri lalu berbalik.


Dengan langkah gontai, Daniel berjalan kembali ke arah tangga.



“Daniel!” bu Risma hendak mengejar.


Pak Fauzan menahan lengan istrinya, “Biarkan dia menenangkan diri dulu!”


“Bagaiman jika dia kenapa-napa?” khawatir.


“Dia cukup dewasa … yang dia butuhkan saat ini memang menyendiri!” pak Fauzan sangat mengenali karakter putranya.


“Kenapa Tuhan menghukum kisah percintaan putra kita sampai seperti ini sih!”


“Huss! Mama jangan berkata seperti itu! Mungkin ini memang cobaan takdir dalam hidupnya.”


“Kasihan sekali pa! Putra kita yang malang!” menyandar di bahu suaminya.


Menepuk-nepuk lengan istrinya, “Kita masih selalu akan ada untuknya! Daniel tidak sendirian!” ikut sedih meski mencoba menguatkan diri.


“Lalu, apa yang sebenarnya terjadi dengan masalah pengiriman itu pa?” bu Risma masih penasaran.


“Sepertinya memang ada yang ingin menyabotase pengiriman … ada kelompok preman yang menyembunyikan truk dan menyekap para petugas pengirimannya.”


“Astaga! Lalu bagaimana?”


“Kita akan menyelidiki. Mama jangan terlalu memusingkan hal ini!”


“Laporkan saja ke polisi!”


Menggeleng, “Kita tidak punya cukup bukti untuk membuat laporan. Takutnya malah hanya menyiakan waktu.”


“Apakah benar perkataan papa tadi? Peringatan dari pak Yazza untuk Daniel?” semakin dipikir membuat bu Risma semakin khawatir.


“Kita juga tidak boleh menyimpulkan terlalu cepat … kita sudah bekerja sama dengan Teratai Putih. Lagipula, pak Yazza bukan orang yang sebodoh itu untuk melakukan sesuatu!”


Bu Risma menarik diri, menghempaskan nafas panjang, “Kenapa cobaannya datang bersamaan seperti ini!”


“Papa tidak akan membiarkan Daniel kesusahan sendirian. Mama tenang saja!” kembali mengelus punggung istrinya.


Bu Risma mengangguk, menatap penuh kesedihan ke arah tangga.


...***...



Gerry melempar majalah ke lantai.


Dia bertolak pinggang penuh kekesalan.


“Percuma aku mengumpulkan bukti jika pada akhirnya dia sendiri yang mengungkapkan boroknya!”


Tasya santai menyuapi Cessa, “Dia cukup cerdas memilih cara playing victim seperti ini! Wanitanya selamat, dan dia tidak akan dihujat oleh kolega-koleganya!”


“Putri kandung yang sudah lama hilang? Apa dia sudah hilang akal sehat?” mendengus mencibir.


Caesar yang sudah menenteng tasnya, berjalan mendekat.


Dia melihat ada buku majalah di atas lantai.

__ADS_1


“Eh, ini kan teman Caesar!” mengambil majalah.


Gerry dan Tasya langsung menoleh ke arah Caesar.


“Temanmu?” Gerry berdiri tegak menatap Caesar.


“Iya yang kemarin aku ke sana!” melihat foto Yazza, “Apa ini papa yang Yve maksud?”


Jongkok memegang kedua lengan Caesar, “Ceritakan pada om Gerry tentang temanmu itu!” Gerry tersenyum sok polos.


“Dia dan papanya tidak pernah bertemu sebelumnya. Tapi mereka bertemu kembali baru-baru ini … temanku bilang, mereka akan mulai tinggal bersama lagi!” jawab Caesar tersenyum santai.


“Oh, jadi dia benar putri kandung dari papanya yang sudah lama tidak bertemu ini?” tanya Gerry menyelidik.


“Tentu saja! Yve sangat senang sekali bisa bertemu kembali dengan papanya.”


Gerry kembali berdiri, tersenyum sengit menatap ke taman.


“Mengubah aib masa lalu menjadi kisah romantis? Ckk ... ckk ... ckkk! Sungguh pria yang licik!”


Caesar mengangkat bahu, dengan cuek berjalan ke arah meja makan.


“Memangnya apa yang Yazza katakan kepada para paparazi ini?” Tasya menyimak meski masih fokus menyuapi putri keduanya.


“Dia melakukan kesalahan yang membuatnya berpisah dengan wanita yang sangat dia cintai,” terang Gerry.


“Dia mencari keberadaan wanita itu selama bertahun-tahun dan baru dipertemukan kembali beberapa waktu yang lalu,” lanjutnya mencibir tersenyum.


“Dan yang paling dramatis, dia baru tahu jika ternyata dia mempunyai seorang putri … karena sudah bertemu kembali, Yazza akan bertanggung jawab atas kesalahannya dan memulai semua dari awal lagi!” pungkas Gerry membalikan badan menatap Tasya.


“Wow, memang terdengar sangat manis sekali!” cibir Tasya tanpa membalas tatapan mata Gerry.


“Pencitraan!” Gerry mendengus.


“Kenapa tidak mencari informasi lebih dalam tentang wanitanya?”


Gerry tampak berpikir begitu mendengar saran Tasya.


“Ma … Caesar bareng om Gerry nanti?” tanya Caesar sambil mengunyah roti untuk sarapan.


“Iya sayang!” jawab Tasya penuh kelembutan.


...***...



Bola matanya tampak memutari seluruh sudut ruangan, celingukan mencari Yazza.


Orang itu benar-benar tidak terlihat sejak semalam.


Tidak biasanya semudah itu mengusir Yazza.


Apakah dia kesal dan benar-benar marah, atau merasa bersalah karena tuduhan dariku?


Vee bertanya dalam hati.


“Tidak penting memikirkan pria gila itu!” gumamnya berjalan menuju kamar Yve.


Tok ... tok ... tok!


“Yve sayang … sudah bangun?”


Membuka pintu, “Sudah dong! Lihat … sudah rapi juga!” berpose manis.


Tersenyum melihat putrinya yang sudah memakai seragam, “Semalam tidur awal ya?”


“Paman Didik menemani sampai papa pulang. Setelah itu barulah Yve tertidur …,” melihat sekeliling, “eh … papa mana?”


Mengangkat bahu, “Mungkin sudah berangkat kerja!”


“Mama pasti memarahi papa lagi ya? Sampai papa harus pergi secepat ini!” selidik Yve menyipitkan mata curiga.


Jangan sampai Yve tahu, jika dia memang mengusir Yazza.


“Ah … tidak! Mungkin memang ada hal penting yang harus papa Yazza selesaikan!” Vee berjalan menuju pantry.


Mengikuti mamanya, “Mama tidak ada rencana untuk pindah ke kantor papa?”


Menggeleng, “Lebih menyenangkan di kantor mama yang sekarang!” tersenyum membalikan piring.

__ADS_1


“Cih! Tapi akan lebih sering bertemu lem tikus!” duduk di sebelah mamanya.


Menyipitkan mata, “Memangnya kenapa? Lem tikus baik kok!”


“Yve tidak suka kalau mama sering menemuinya!” cibir Yve mengoleskan selai ke roti.


Menyipitkan mata, “Apa papa menghasut sesuatu?”


“Kenapa menuduh papa! Justru Yve kasihan sama papa!”


“Kenapa begitu?” Vee kembali berdiri, hendak membuatkan susu untuk Yve.


“Waktu itu saat di Bali … papa melihat mama sedang menelepon seseorang. Mama terlihat bahagia sekali, dan itu membuat papa menjadi sedih!” memicingkan mata menatap Vee, “Mama menelepon lem tikus saat itu kan?”


Jadi, si bodooh Yazza memperlihatkan sifat sok polosnya untuk memanipulasi perasaan Yve.


Benar-benar seekor ular yang licik.


“Mama jangan terlalu dekat dengan lem tikus ya?” Yve memohon, “Kan sekarang sudah ada papa!”


Ve menghela nafas panjang, mengangguk tersenyum dalam kepalsuan.


Dia tidak bisa menjawab apa-apa.


Mendebat putrinya, tentu akan membuat anak itu kecewa.


Yve akan sedih jika dia menolak kehadiran Yazza secara terang-terangan.


“Maaf ya … mama tidak masak hari ini!”


Yve meringis cengingisan menggaruk kepalanya, “Yve yang harus minta maaf … kemarin Yve dan Caesar memaksa paman Didik bermain masak-masakan bersama … eum … sampai menghabiskan bahan makanan deh!”


Tersenyum menaruh susu di hadapan Yve, “Memang sudah waktunya berbelanja lagi kok!”


“Bagaimana kalau nanti malam? Yve mau ikut membantu berbelanja!”


Tersenyum gemas, “Unch … putri kesayangan mama, terima kasih!” mencubit pelan kedua pipi Yve.


Manyun mencibir, “Ma! Sudah Yve bilang, Yve bukan anak TK lagi!”


Terkekeh pelan, “Hahaha! Tapi putri mama selalu terlihat menggemaskan!”


Tersenyum gemas mengangkat bahu sembari menggigit rotinya.


“Eh iya ... mama belum pernah bertemu secara langsung dengan Caesar! Apa dia benar-benar teman yang baik?”


“Sangat baik! Dia paling baik di antara semua orang di kelas. Bahkan sering membantu Yve dalam pelajaran. Dia sungguh sangat cerdas dalam pembelajaran!” Yve antusias menceritakan tentang Caesar.


“Maaf kemarin mama ada urusan mendadak. Jadi tidak bisa menemui Caesar deh! Lain kali ajak main lagi saja ke sini!”


Mengangguk tersenyum lalu meneguk susunya.


Vee tersenyum gemas menatap Yve penuh kasih sayang.



...***...



Vee memasuki kantor White Purple.


Lagi-lagi setiap orang yang dia lewati, melihat ke arahnya.


Bedanya, kali ini mereka tampak memicingkan mata, sembari berbisik nyinyir.


Ulah apa lagi yang Daniel ciptakan!


Batinnya.


Sepertinya, Vee mulai terbiasa dengan gosip di kantor ini.


“Vee!” pak Didik menghadang langkahnya, “Ikut aku!”


Deg!


Rasanya Vee masih tidak berani menemui pak Didik.


Atau jangan-jangan, sikap semua orang karena berkaitan dengan kenyataan yang sudah di ketahui pak Didik?

__ADS_1


...-@,@- To Be Continue -@,@-...


...>))))> ' ' <((((<...


__ADS_2