
Melihat tatapan mata Yve membuat Daniel tidak tega untuk menolak permohonan nya.
Dengan senyum tulus Daniel akhirnya mengangguk, “Baiklah! Tapi ingat dengan janjimu itu! Mulai sekarang kamu harus bersikap baik kepadaku!”
Yve mengangguk tersenyum lebar, “He'umb,” dia tampak gembira sekarang, “Aku janji!”
Begitu keceriaan di wajah Yve kembali menghiasi, membuat Daniel tersenyum lega ketika melihatnya. Dia senang jika Yve juga senang.
Bu Risma tampak sedih menatap Daniel.
Mungkin hanya dia yang saat ini bisa memahami situasi putranya dalam menghadapi masalah percintaannya.
Dia tahu resikonya ketika Daniel menyetujui permintaan Yve. Itu artinya, dia harus kembali dekat dengan Tisya.
Putranya itu harus kembali memaksakan hatinya untuk berpura-pura baik di hadapan keluarga Nirwana untuk waktu yang lebih lama lagi mulai dari sekarang.
Meskipun mamanya tahu ini sangat berat bagi Daniel, tapi dia cukup bangga karena Daniel sama sekali tidak keberatan melakukan ini hanya demi Yve.
Bahkan putranya langsung menyetujui tanpa peduli jika dia harus mengorbankan perasaannya lagi.
Pak Fauzan tersenyum lega saat melihat Yve tersenyum begitu riangnya, “Nah itu memang ide bagus kan? Kakek juga akan membantu merahasiakan ini … jadi mulai sekarang, kamu tidak usah bersedih lagi ya?” bujuknya mengelus rambut kepala Yve.
Yve turun dari tempat dia duduk dan langsung memeluk Daniel, “Terima kasih lem tikus!”
Mendapat pelukan dan perlakuan hangat dari Yve seperti ini membuat Daniel merasa terharu sampai ke dalam hati.
Selama ini Yve selalu ketus dan paling tidak suka jika Daniel menyentuhnya.
Pria itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca mengelus punggung Yve.
“Jangan khawatir! Kamu akan selalu bisa mengandalkan aku!” tegas Daniel meyakinkan.
“Ingat! Jangan memberitahukan ini kepada mama dan papaku!”
“Aku janji! Apapun yang terjadi … aku pasti akan selalu ada untuk Yve!”
Yve cekikikan, “Sungguh deh … itu sangat menggelikan! Jangan lagi berkata seperti itu,” berusaha melepaskan diri.
Daniel menahan, memeluk makin erat, “Karena kamu tikus kecil dan aku lem tikusnya, aku pasti akan tetap menempel padamu!”
“Hya … aku tidak bisa bernafas!” Yve masih cekikikan.
Masih tidak mengijinkan Yve lepas, “Bukankah kamu berjanji akan bersikap baik? Hya … biarkan aku memelukmu lebih lama lagi!” ucap Daniel gemas.
“Tidak itu menggelikan! Hehehe,” cekikikan berusaha mendorong Daniel.
Pak Fauzan tersenyum sambil mengelus bahu istrinya.
Bu Risma ikut senang melihat pemandangan itu.
...***...
Berliana tampak salah tingkah dan merasa canggung berada di rumah Yazza.
Seikat bunga sudah dia genggam dengan keringat dingin.
“Heh … siapa yang mengijinkan dia masuk?” kek Gio menegur lirih pada para pembantu di dapur.
__ADS_1
Bi Imah menunduk, “Nyonya Vee sendiri yang langsung menyuruh saya menjemput non Berli di depan!”
“Vee?” kek Gio menyipitkan mata.
Wanita itu turun dari tangga lantai dua, dia tersenyum melihat ke arah Berli.
Kek Gio menatap pak Karno, “Bukankah kamu bilang jika wanita ini sudah tidak tinggal lagi di apartemen Vee dan bahkan sudah bekerja di G Corporation?”
Mengangguk, “Benar tuan besar! Nona ini sudah kembali tinggal bersama pak Gerry dan bahkan sekarang pak Gerry menempatkannya sebagai sekretaris pribadinya!”
“Ckkk! Sebenarnya apa yang ada dipikiran Vee! Kenapa dia gemar sekali mendekati orang-orang yang berbahaya!”
Berli tampak lega melihat Vee, dia segera berdiri menyambut, “Woah … sudah tidak terlihat seperti orang sakit!” godanya cengengesan.
Vee tersenyum pongah, “Tentu saja! Aku ini terbuat dari baja,” melihat bunga di tangan Berli, “Apa itu untuk aku?”
Tersenyum canggung, “Aku tidak tahu bunga apa yang kamu sukai. Apa ini bisa diterima?” memberikan pada Vee.
“Tentu saja! Aku menyukai semua bunga kok … eh iya, silahkan duduk lagi!” Vee menerima sembari mempersilahkan tamunya untuk duduk kembali.
Tersenyum malu-malu, “Terima kasih.”
“Haiz … kenapa masih canggung sih! Tidak perlu repot-repot membawakan aku buah tangan deh,” Vee mengamati bunga di tangannya, “Jujur, ini cantik sekali!”
Memainkan kedua tangannya di atas pahaa, “Emb … maaf ya! Aku tidak menjenguk dan menemanimu lagi setelah hari itu!”
Vee balas tersenyum ramah, “Tidak apa-apa kok! Bagaimana sekarang? Katanya kamu sudah kembali bersama Gerry saat ini?”
Tersenyum muram, “Sejak tinggal sendiri … entah kenapa aku merasa lebih nyaman saja!”
“Maksud kamu?” Vee menyipitkan mata melihat Berli yang terlihat tidak senang.
“Tunggu! Kamu sekarang bekerja di kantor Gerry?” tanya Vee.
Mengangguk, “Tapi dia tidak benar-benar sedang memperkerjakan aku. Semua tugasku di kerjakan oleh orang lain!”
“Kok bisa begitu?”
Tersenyum meringis, “Kamu tahu sendiri jika aku ini tidak bisa apa-apa kan?”
“Lalu … kenapa memperkerjakan kamu?”
“Untuk membuat mas Ganny percaya jika aku sudah berubah dan tidak hanya bisa menghambur-hamburkan uang!”
“Well, itu bagus juga sih! Kenapa kamu tidak belajar menjalankan pekerjaanmu? Pak Ganny dan Gerry pasti akan lebih menyukaimu!”
Berli kembali menunduk, “Vee!” panggilnya.
“Ya?”
“Sekarang aku sudah kembali bersama Gerry, dan kamu juga tahu jika suamimu dan Gerry itu tidak akur kan?”
“Memangnya kenapa?”
“Apa aku masih bisa berteman denganmu?”
“Hya … kenapa tidak? Jangan pedulikan persaingan mereka … selama diantara kita tidak ada lagi kesalahpahaman dan kebencian … sepertinya tidak jadi masalah jika terus berteman!”
Berli langsung tersenyum lega menatap Vee, “Oh iya … aku nyaris lupa!” mengambil kartu akses. “Aku ke sini juga untuk mengembalikan ini! Aku sudah merapikan dan membersihkan apartemen sebelum pergi!”
__ADS_1
Vee menerima kartu akses pintu apartemennya, “Tidak usah serepot itu!”
“Hya … itu tanggung jawabku!” Berli kembali tersenyum cengengesan.
“Aku senang kok jika kamu di sana! Setidaknya apartemen itu tidak kosong!”
“Terima kasih sudah membantu saat aku berada di titik paling sulit,” Berli tersenyum meringis menggaruk kepala, “Tapi tentang uangmu … sepertinya aku belum bisa mengembalikannya! Aku menahan diri untuk tidak meminta-minta lagi pada Gerry!”
Tersenyum geli, “Sudah lupakan saja! Aku senang akhirnya kamu bisa mendapatkan lagi hal yang paling kamu inginkan!”
Ucapan itu justru membuat Berli kembali muram, “Aku tidak tahu … apa aku layak merayakannya atau justru terlanjur nyaman tanpa bergantung padanya!”
Vee tersenyum mengelus lengan Berli, “Wah, semakin dewasa ya sekarang!”
Menoleh, “Hya … mengejekku?” mencibir manyun.
Vee justru tersenyum gemas melihat ekspresi wanita itu, “Kenapa kamu semakin terlihat mirip dengannya sih!” gumam Vee lirih.
“Hah?” Berli menyipitkan mata.
Vee menggelengkan kepala, “Ah tidak! Emb … kebetulan aku sedang berencana membuka restaurant. Bagaiman jika nanti kamu ikut denganku saja untuk mengurus restaurant?”
Berli kembali tersenyum lebar, “Restaurant? Sungguh? Jujur itu juga yang aku inginkan!”
“Kata Leo kamu jadi rajin menonton acara masak sejak tinggal sendiri. Bubur yang terakhir kamu buat sangat enak kok! Aku yakin kamu memang punya bakat!” puji Vee.
Berli manyun menunduk muram, “Tapi apakah Gerry akan mengijinkan aku resign?”
“Dengar … meskipun pada akhirnya wanita akan menjadi istri dari seseorang. Tapi penting juga jika seorang wanita memiliki penghasilan sendiri! Paling tidak itu akan membuatmu merasa memiliki harga diri tersendiri di hadapan keluarga besar suamimu kelak!”
“Woah … kata-katamu itu benar-benar bisa menggetarkan hati!” goda Berli cekikikan.
“Hya … daripada kamu bekerja di kanto tapi tidak ngapa-ngapain. Bukankah lebih baik ikut aku untuk mengejar mimpimu sendiri?”
Menggenggam tangan Vee, “Aku akan memikirkannya!”
Vee tersenyum menganggukkan kepala.
“Aku merasa sangat menyesal pernah berpikir buruk tentangmu!” ucap Berli bangga menatap Vee. “Dari semua teman yang aku miliki … justru orang yang pernah ingin aku celakai-lah yang malah menyelamatkan hidupku!”
Mendengar kalimat Berli tentu membuat Vee ikut senang, “Tidak penting orang itu baik atau jahat! Selama kita masih tidak saling mengenal, kita juga tidak akan bisa menilai kebaikan seseorang! Bukankah balas dendam terbaik itu adalah berbuat baik pada seseorang yang sudah jahat kepadamu?”
Lagi-lagi Berli menggaruk kepalanya, “Aku jadi malu tiap kali mengingatnya,” tersenyum meringis.
“Jika seseorang mau berubah, itu artinya dia masih memiliki hati nurani!”
“Kenapa kita tidak dipertemukan sejak lama sih?” ucap Berli dengan nada menyesal.
Vee jadi membayangkan tentang yang di ucapkan Berli.
“Jika kita dipertemukan sejak lama, mungkin aku akan sangat pusing memikirkan kalian berdua!”
“Berdua?”
Vee tersenyum sedih menundukkan kepala mengingat tentang Yunna.
Melihat perubahan ekspresi wajah Vee, membuat Berli jadi tampak merasa bersalah.
Dengan lembut wanita itu kembali menggenggam tangan Vee, “Maaf! Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?”
...-@,@- To Be Continue -@,@-...
__ADS_1
...>))))> ' ' <((((<...